NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Keesokan harinya, Arunika menjalani rutinitasnya seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda secara mendalam. Matahari yang bersinar terik di atas gedung universitas tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Di mata teman-temannya, ia masihlah Arunika yang tekun dan sederhana. Namun, di balik kacamatanya, ia memikul beban rahasia yang menyesakkan: ia kini berstatus sebagai calon istri dosennya sendiri.

​Arunika berjalan menyusuri koridor kampus menuju ruang kuliah. Setiap langkahnya terasa canggung, seolah-olah semua orang bisa membaca apa yang terjadi semalam. Saat ia memasuki ruang kelas, jantungnya berdegup kencang.

​Di depan kelas, berdiri sosok pria dengan kemeja hitam yang rapi dan tatapan yang setajam biasanya. Abimana Permana. Pria itu tengah sibuk memeriksa tumpukan makalah tanpa memedulikan mahasiswa yang mulai mengisi kursi.

​Arunika memilih kursi di barisan tengah, mencoba sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian. Ia membuka buku catatannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak lama kemudian, suara bariton yang dingin itu menggema di seluruh ruangan.

​"Selamat pagi semuanya. Mari kita mulai perkuliahan hari ini." ucap Abimana datar.

​Tatapannya menyapu seluruh kelas, dan untuk sekian detik, mata mereka bertemu. Arunika segera mengalihkan pandangannya, namun ia bisa merasakan hawa dingin yang sama seperti saat mereka berada di balkon semalam. Baginya, Abimana saat ini bukan sekadar dosen yang memberikan materi, melainkan pria yang telah memvonisnya sebagai "orang asing" di masa depan mereka nanti.

​Kelas berakhir dengan suasana yang masih terasa kaku. Arunika sengaja melambatkan gerakannya, menunggu hingga sebagian besar mahasiswa keluar dari ruangan. Ia menarik napas panjang, menggenggam makalahnya erat, lalu melangkah menuju meja dosen di depan.

​Abimana masih di sana, sibuk merapikan laptopnya. Saat Arunika sampai di depan meja, pria itu hanya meliriknya sekilas melalui sudut mata, sangat formal, seolah mereka tidak pernah duduk satu meja makan semalam.

​"Ini tugas saya, Pak." ucap Arunika pelan sembari meletakkan makalahnya.

​"Letakkan saja di sana." jawab Abimana singkat tanpa menatapnya.

​Tepat saat Arunika hendak berbalik, pintu kelas yang sudah sepi itu terbuka lebar. Seorang wanita cantik dengan pakaian modis dan aroma parfum yang sangat mahal masuk dengan langkah anggun. Senyumnya mengembang lebar saat melihat Abimana.

​"Abi! Kamu masih lama? Aku sudah menunggumu di parkiran." seru wanita itu dengan nada manja yang sangat akrab.

​Arunika terpaku. Abi? Panggilan itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. Selama ini, ia pikir Abimana hanya pria dingin yang tidak tersentuh, namun ternyata, ada sisi hangat yang pria itu berikan pada orang lain—orang yang bukan dirinya.

​"Hampir selesai, Claudia." jawab Abimana. Suaranya memang tetap datar, namun ada nada yang jauh lebih lembut dibandingkan saat ia bicara pada Arunika.

​Wanita bernama Claudia itu mendekat, lalu tanpa ragu merangkul lengan Abimana. Matanya kemudian beralih pada Arunika yang masih berdiri mematung. "Oh, ada mahasiswa? Maaf ya, aku mengganggu waktunya?" tanya Claudia dengan senyum ramah yang justru membuat Arunika merasa semakin terhina.

​Abimana hanya melirik Arunika dengan tatapan kosong. "Bukan apa-apa. Kamu boleh pergi, Arunika." usirnya halus, namun sangat tajam bagi perasaan Arunika.

​Arunika mengangguk kaku, jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Ia segera membalikkan badan dan melangkah keluar kelas secepat yang ia bisa. Di koridor yang sepi, ia bersandar pada dinding, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Kata-kata Abimana semalam kembali terngiang: Pernikahan ini hanya status... jangan berharap apa pun.

​Kini ia mengerti. Bukan hanya hatinya yang tidak diinginkan, tapi memang sudah ada nama lain yang mengisi ruang di hati calon suaminya itu.

​Arunika mempercepat langkahnya, setengah berlari menyusuri lorong kampus yang mulai lengang. Dadanya bergemuruh hebat, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang mendidih di balik balutan rasa sesak.

​"Gila!" desisnya tajam saat sudah sampai di area taman yang sepi. "Kalau memang dia memiliki kekasih, kenapa tidak bilang sejak awal kepada orang tuanya?"

​Ia mengepalkan tinju hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi Arunika, ini bukan lagi sekadar perjodohan paksa, melainkan penghinaan terhadap martabatnya sebagai seorang perempuan. Abimana menyeretnya ke dalam sebuah sandiwara pernikahan yang konyol, sementara pria itu dengan bebas membiarkan wanita lain merangkul lengannya di depan mata calon istrinya sendiri.

​"Pengecut." gumamnya lagi, suaranya bergetar karena emosi.

​Arunika menyandarkan punggung pada batang pohon besar di taman itu, menatap langit yang tampak mendung. Logikanya berputar cepat. Jika Abimana punya kekasih, artinya pernikahan ini benar-benar hanya akan menjadi neraka satu arah. Ia tidak boleh hanya diam dan pasrah. Bakti kepada orang tua memang utama, tapi menjadi pelampiasan ego pria seperti Abimana adalah hal lain.

​Air matanya hampir luruh, namun Arunika segera mengusapnya kasar dengan punggung tangan. "Jangan menangis, Nika. Jangan hanya karena pria tidak punya pendirian seperti dia." bisiknya menyemangati diri sendiri.

​Hari ini Arunika hanya memiliki satu jadwal perkuliahan. Namun, satu jam di dalam kelas tadi terasa jauh lebih melelahkan daripada naik gunung sekalipun. Ia memilih untuk langsung pulang. Pikirannya terusik, wajah wanita bernama Claudia itu terus menari-nari di ingatannya, membuat suasana hatinya memburuk hingga ke titik terendah.

​Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa begitu dekat dengan Pak Abimana? Pertanyaan itu terus menghujam kepalanya tanpa ampun.

​Namun, sesampainya di rumah, langkah kaki Arunika seketika terhenti di ambang pintu. Ia tertegun. Di ruang tengah, ibunya dan Ibu Liana tengah larut dalam keriuhan yang menyakitkan untuk dilihat. Di hadapan mereka, sebuah gaun pengantin putih berbahan brokat mewah tampak menjuntai indah, memantulkan cahaya lampu yang berkilauan.

​"Nika! Sini, Sayang! Lihat, ini gaunmu. Cantik sekali, bukan?" seru Saras dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan murni.

​Arunika mematung. Kata-kata yang sudah ia susun di sepanjang jalan untuk memprotes perjodohan ini—tentang kekasih Abimana, tentang harga dirinya yang terluka—seketika tertahan di tenggorokan. Melihat binar bahagia di mata kedua wanita paruh baya itu, kejujuran rasanya menjadi barang yang sangat mahal sekaligus kejam.

​Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan senyum ibunya hanya untuk mengadu bahwa calon suaminya sudah memiliki wanita lain?

​Arunika mengepalkan tangannya di balik tas selempang. Lidahnya mendadak kelu, dan hatinya terasa semakin sempit. Ia terjebak dalam dilema yang tidak memiliki jalan keluar.

​"Ayo, Nika! Tunggu apa lagi? Cobalah, Mama ingin melihat apakah ukurannya pas di tubuhmu." desak Liana dengan senyum yang begitu tulus, seolah ia benar-benar mengharapkan Arunika menjadi menantunya.

​Arunika melangkah maju dengan kaki yang terasa kaku. Saat jemarinya menyentuh kain sutra halus gaun itu, ia justru merasa seperti sedang menyentuh kain kafan bagi masa depannya. Dengan gerakan mekanis, ia membawa gaun itu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

​Beberapa menit kemudian, Arunika keluar. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang anggun meski wajahnya pucat pasi. Di balik kacamata yang masih bertengger di hidungnya, matanya tampak berkaca-kaca.

​"Ya Tuhan, Nika... kamu cantik sekali." bisik Saras, ibunya, dengan suara bergetar karena haru. Beliau mendekat, merapikan kerah gaun itu dengan kasih sayang. "Ibu tidak menyangka putri kecil Ibu akan segera menjadi seorang istri."

​Arunika menatap bayangannya di cermin besar. Ia melihat seorang pengantin yang cantik, namun ia juga melihat seorang wanita yang sedang mengkhianati hatinya sendiri. Bayangan Claudia yang merangkul lengan Abimana kembali melintas, membuat dadanya terasa sesak luar biasa.

​"Tante..." Arunika memulai, suaranya hampir hilang. "Apakah... apakah Pak Abimana juga menginginkan pernikahan ini sepertimu?"

​Liana tertawa kecil, menganggap itu hanya kegugupan calon pengantin. "Abi itu memang kaku, Nika. Tapi dia anak yang penurut. Dia pasti akan belajar mencintaimu, sama seperti kami yang sudah sangat menyukaimu."

​Arunika hanya bisa tersenyum getir. Penurut? batinnya. Abimana bukan penurut, dia hanya sedang menjalankan sandiwara yang sempurna. Di depan orang tua mereka, pria itu adalah putra idaman, namun di belakang mereka, ia adalah hakim yang kejam.

​Arunika menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia harus bertahan. Demi binar bahagia di mata ibunya yang mulai menua, ia akan mengenakan gaun ini, meskipun ia tahu bahwa di hari pernikahannya nanti, ia hanyalah sebuah status tanpa nyawa.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!