Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga
Nadia hendak menjelaskan lagi, beruntung Fadil tiba tepat waktu. Dan dia mengatakan tentang keadaan Anwar sekarang.
"Kenapa telat sekali? Abang Bagas, sudah menunggu sejak tadi," keluh Safira mengerucut.
"Maaf Safira, karena merepotkanmu. Tapi, saat perjalanan kemari, ban sepeda motor kempes. Alhasil, terpaksa aku cari tukang tempel dulu," terang Fadil.
Dan Safira hanya manggut-manggut.
Nadia dan Hesti langsung ke puskesmas, setelah sebelumnya membawakan beberapa berkas yang mungkin nanti di perlukan. Tak lupa mereka juga membawakan baju dan kain. Karena gak mungkin juga Anwar, terus-terusan memakai pakaian untuk ke sawah disana.
Tiba di puskesmas, Hesti dan Nadia langsung menemui Anwar. Beruntung lelaki itu sudah sadar.
Dan yang membuat Nadia heran, Bagas tak terlihat disana.
Kecewa? Hanya sedikit. Namun, dia mengalihkannya untuk segera pergi mendaftar, ke bagian pendaftaran pasien.
Beberapa saat Bagas kembali, di tangannya juga ada lembaran. Dan usut punya usut, Bagas baru saja kembali dari ruang laboratorium.
Melihat Hesti sudah ada di samping brangkar Anwar, Bagas mendekatinya.
"Karena bu Hesti udah disini, aku izin kembali," ucap Bagas, karena tadi sempat melihat Fadil di kantin.
"Eh, kenapa langsung kembali? Bagaimana dengan suamiku nanti?" tanya Hesti, namun ketika sadar akan ucapannya. Dia buru-buru menutup mulutnya. "Terima kasih," ucapnya kemudian.
Bagas hanya mengangguk, dia langsung berlalu.
Keluar dari igd, dia dan Nadia berpapasan. Jika Nadia menatapnya, Bagas, lebih memilih untuk menunduk.
"Bang," panggil Nadia, berharap Bagas menoleh.
"Sama-sama, aku kembali dulu," balas Bagas mengangkat tangannya. Dia hanya menoleh, sebentar.
"Bahkan aku belum ucapkan terima kasih," lirih Nadia pilu.
✨✨✨
Bagas tiba di rumah. Dia bergegas mandi guna mengantikan pakaiannya.
Setelah selesai, dia keluar dari kamar. Mendapati Safira yang telah menyajikan secangkir kopi untuknya.
"Kamu masih kuat naik turun tangga dik?" tanya Bagas, mengingat kamar mereka diatas rumah panggung.
"Kuat bang, kan setiap malam abang pijitin adik," balas Safira tersenyum lembut.
"Abang berencana ingin membuat kamar lain. Biar kamu gak kelelahan," papar Bagas.
"Jangan dulu bang, karena bentar lagi kita akan buat acara tujuh bulanan. Belum lagi, aku lahiran. Pasti akan menghabiskan banyak uang," larang Safira.
"Hei ... Abang punya banyak uang, bahkan bisa membuat sebuah istana untukmu," kekeh Bagas, menoel hidung Safira.
"Jangan sombong bang, simpan uang itu ... Kita gak tahu, musibah apa yang mungkin Allah siapkan untuk kita," peringat Safira.
Akhirnya Bagas hanya bisa mengangguk. Mau merobohkan rumah panggung pun, rasanya kasihan. Sebab rumah ini sudah berdiri sejak dia masih kecil. Dan ini ialah rumah impian ibunya.
Safira juga menanyakan tentang keadaan pak Anwar. Dan usut punya usut, pak Anwar kekurangan darah, makanya bisa pingsan dibawah terik matahari.
Dan Bagas kembali meminta maaf pada Safira, karena telah mengecewakan istrinya.
"Kita pergi besok ya," ujar Bagas sembari mengelus perut buncit Safira.
✨✨✨
Ruang periksa itu kembali menyambut Safira dengan aroma antiseptik yang samar. Kali ini, langkahnya lebih mantap. Perutnya sudah mulai terlihat membulat, cukup jelas meski tertutup gamis longgar yang dikenakannya.
Bagas berjalan di sampingnya, sesekali melirik perut Safira, lalu tersenyum kecil—senyum yang belakangan ini sering muncul tanpa sadar.
"Silakan berbaring, Bu Safira," ujar dokter sambil mengenakan sarung tangan.
Safira menurut. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang periksa, sementara Bagas berdiri di sisi kepala ranjang, menatapnya penuh perhatian.
Cairan bening kembali dioleskan ke perut Safira. Dingin, namun kali ini Safira hanya tersenyum kecil, sudah terbiasa.
Dokter mulai menggerakkan alat USG perlahan.
"Usia kandungannya sekarang memasuki lima bulan," ujar dokter sambil memperhatikan layar. "Janinnya aktif dan perkembangannya bagus."
Safira menahan napas. Matanya tak berkedip menatap monitor.
"Itu kepalanya, ini tangan, dan ini kakinya," lanjut dokter, menunjuk bagian-bagian kecil yang bergerak samar.
Bagas mendekat tanpa sadar. "Dia ... bergerak ya, Dok?"
Dokter tersenyum. "Iya. Biasanya di usia segini, gerakannya mulai terasa lebih jelas."
Safira refleks meletakkan tangan di perutnya. "Pantas ... akhir-akhir ini sering terasa seperti ada yang menyentuh dari dalam," ucapnya lirih.
"Itu gerakan bayi," jelas dokter. "Dan detak jantungnya juga normal."
Bagas menghela napas panjang, seperti baru saja melepaskan beban yang lama ia simpan. Ia menoleh ke Safira, matanya berbinar.
"Alhamdulillah," ucapnya pelan.
Dokter kembali melanjutkan pemeriksaan, mencatat beberapa hal di berkas medis. "Ibu cukup sehat. Berat badan bayi sesuai usia kandungan. Tetap jaga pola makan, dan jangan terlalu lelah."
Safira mengangguk. "Iya, Dok."
Setelah pemeriksaan selesai, Safira duduk perlahan. Bagas langsung menyodorkan tangan, membantunya bangkit.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang periksa, Safira berhenti sejenak di lorong. Ia menatap hasil USG di tangannya, lalu mengusap perutnya sendiri.
"Bang," panggilnya pelan.
Bagas menoleh.
"Aku masih suka gak percaya ,,, ternyata sejauh ini dia sudah ada," ucap Safira, suaranya bergetar.
Bagas tersenyum, lalu menempelkan telapak tangannya ke perut Safira. "Dan dia tumbuh di tempat yang tepat."
Safira tersenyum sambil mengangguk.
Dari klinik dokter kandungan, Safira meminta Bagas untuk mengantarnya pulang ke rumah ibunya.
Karena entah kenapa, dia tiba ingin memakan makanan yang di suapi langsung dari tangan ibunya.
Tak lupa, di jalan Bagas juga membeli beberapa makanan untuk buah tangan.
"Ini terlalu banyak," keluh Safira menatap jenis makanan ke enam yang Bagas beli.
"Tak apa, nanti bisa ibu berikan pada anak-anak yang sering ke rumah mu kan,"
Belakangan ini, di rumah Safira memang ada dua anak yang sering main.
Mereka ialah anak piatu. Karena ayahnya bekerja sebagai ojek, mau tak mau sering meminta tolong pada Juliana.
Karena dari sekian banyaknya tetangga, hanya Juliana yang mau menjaga mereka dengan bayaran seadanya.
Bahkan kadang bayaran itu tidak sebanding dengan apa yang Juliana keluarkan.
Iya, sehari Juliana biasa di bayar dua puluh ribu. Namun, tak jarang pula Juliana kembali mengantongi uang itu pada mereka.
Sebab Juliana tahu, tak mudah bagi seorang lelaki yang hidup untuk kedua anaknya yang masih balita.
Dan sejak kedatangan mereka juga, Juliana tak lagi merasa kesepian. Apalagi, belakangan ini si bungsu udah mulai kerja di tempat pencucian sepeda motor.
Begitu tiba di rumah ibunya, Safira bergegas masuk. Dia bahkan memilih tak menyapa Malik yang sedang jaga warung.
Dan Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala, karena sang istri mengabaikan Malik yang jelas-jelas memanggilnya.
"Untung kamu adikku ya Safira, kalo nggak, habis kamu," sugut Malik karena diabaikan.
"Ibu ..." teriak Safira memanggil ibunya.
Namun, begitu pintu di buka Safira berteriak dan berlari. Disana, ibunya terlihat tergeletak begitu saja. Sedangkan dua anak yang diasuhnya hanya menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.