Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA YANG TERKUNCI kDI BALIK LAYAR
Ding… ding… bunyi nada dering chat yang menusuk kedalaman malam, memecah heningnya kamar yang baru saja siap merangkul kedamaian tidur. Murni sudah menggeser bantal ke bawah dagu, matanya mulai terasa berat seperti dibalut kapas yang basah, setiap seratnya menarik perlahan ke alam mimpi yang mengundang. Jendela sebelah kasur masih menyisakan celah sempit, sinar bulan pucat merayapi permukaan meja kayu bekas, menyinari foto kecil yang terpajang—wajah dia dan Khem yang tertawa, rambutnya tertiup angin saat berjalan di tepi pantai tahun lalu.
“Kabarmu oke Murn?”
Kata-kata itu muncul di layar dengan huruf-huruf putih yang seolah menyilaukan mata. Lilu—nama yang sudah lama tidak muncul dalam percakapan dekat, hanya tinggal bayangan sosok wanita dengan senyum lebar rekan kerja Khem di pabrik besi dan baja. Sekarang, pabrik makanan ringan tempat Murni bekerja masih berdiri tegak berdampingan dengan pabrik besi dan baja,yang dulu jadi saksi banyak cerita, pagar besi yang mengelapisi kedua kompleks hanya sebagai batas yang tipis, namun cukup menjauhkan dua dunia yang pernah bersentuhan. Kadang kala, saat angin berhembus dari arah timur, Murni bisa menangkap bau besi hangat yang masih tersisa, dan terkadang melihat sosok yang mirip Lilu sedang melintas di jalan raya depan, mereka hanya bisa mengangkat tangan dari kejauhan, senyum yang tidak pernah sampai ke hati.
“Kamu dah balikan lagi dengan Khem? Ada yang mau aku beritahu kamu buka link videonya, maaf baru beritahu kamu sekarang… sebagai sahabat terbaik… dulu waktu semasa kerja Khem sering video call dg cewek tesebut.. itulah nona cewek yang di simpan oleh Khem di belakang kamu… dan mereka bertetangga di kampungnya… maaf ya Murn, aku terlambat memberitahu kamu…”
Murni meraih ponselnya dengan jari yang sedikit gemetar, layarnya menyala terang menerangi wajahnya yang tiba-tiba menjadi sejuk seperti batu di dasar sungai. Jantungnya berdebar dengan irama yang tidak teratur, setiap denyutnya seperti mengguyur batu bata dengan ombak kasar. Dia menekan tombol link dengan hati yang penuh keraguan—layar kemudian beralih ke rekaman video call yang sudah lama diambil, warna gambar sedikit pudar seperti kenangan yang ingin dilupakan.
Di dalam video, suara Khem terdengar jelas, meskipun ada derau latar belakang mesin yang berputar-putar. Wajahnya yang dulu selalu penuh canda saat menghadap Murni, kini tampak lembut dengan ekspresi yang asing—matanya memperhatikan sosok wanita lain di sisi lain layar, rambutnya diikat rapi, wajahnya lembut dengan senyum yang hangat. “Sudah makan belum, Nona?” suara Khem terdengar lembut, berbeda dengan nada yang biasa dia gunakan saat berbicara dengan rekan kerja. “Besok aku akan pulang kampung, bisa kita ketemu di warung teh nenek seperti dulu ya?”
Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk perlahan ke dalam hati Murni. Dia melihat bagaimana tangan Khem secara tidak sengaja menyentuh layar, seolah ingin menyentuh wajah wanita itu. Latar belakang kamar di mana Khem berada pun tak asing—itu adalah kamar kos Khem yang dulu ,bantal yang sama, selimut dengan pola bunga mawar yang pernah dia jahit sendiri masih terpampang di sudut kasur.
Malam itu seolah menjadi lebih panjang, seperti jalan tanah yang tak berujung di tengah hutan malam. Cahaya bulan yang dulu dianggap indah kini hanya menjadi saksi bisu atas keheningan yang menusuk tulang. Murni menatap langit-langit kamar, mata mulai terasa panas dengan air mata yang menahan diri untuk tidak mengalir. Dia mengingat semua momen bersama Khem—saat mereka berbagi nasi bungkus di kantin pabrik saat listrik padam, saat Khem mengantarnya pulang dengan sepeda motor yang selalu mengeluarkan suara kresek-kresek, saat mereka berjanji akan membangun rumah kecil di tepi sungai yang sama dengan kampung halaman mereka.
“Mengapa harus sekarang?” bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar, jari-jari masih erat menggenggam ponsel seperti memegang bukti yang ingin dia tolak ke dalam kedalaman tanah. Dia melihat kembali nama Lilu di layar chat—“sebagai sahabat terbaik” tulisannya, namun bagi Murni, kata itu kini seperti duri yang tumbuh dari dalam hati. Apakah semua yang terjadi selama ini hanya sebuah permainan? Ataukah Khem benar-benar menyembunyikan sesuatu yang begitu dalam, hingga bahkan temannya sendiri merasa perlu untuk memberitahukan dengan cara yang terlambat?
Di luar jendela, suara cicak mulai berkumandang, menyatu dengan hembusan angin yang menggoyangkan daun pohon jambu di halaman belakang. Murni meraih selimut dan membungkus tubuhnya erat-erat, seolah ingin melindungi diri dari kebenaran yang mulai muncul seperti kabut pagi yang menghalangi pandangan. Video call itu masih berjalan di layar ponselnya, suara Khem yang lembut masih terdengar berkali-kali, dan di sudut layar, nama wanita itu tertera jelas—“Nona Sri”, dengan catatan kecil di bawahnya: “Tetangga masa kecil”.
Murni menekan tombol jeda dengan tangan yang sudah tidak lagi gemetar. Dia meletakkan ponsel di sisi kasur, lalu menutup mata dengan erat. Namun bayangan dari video itu tetap menghiasi setiap sudut dalam pikirannya—wajah Khem yang lembut, senyum wanita itu yang hangat, dan kata-kata tentang kampung dan warung teh nenek yang menjadi bagian dari masa lalu yang tidak pernah dia ketahui.
Hingga akhirnya, air mata yang sudah lama menahan diri pun mulai mengalir perlahan, merembes melalui celah jari-jari yang menutupi wajahnya. Malam itu, dia merasakan bagaimana hati yang dulu penuh dengan harapan, mulai seperti pasir yang perlahan-lahan tersapu oleh ombak, meninggalkan bekas kosong yang dalam dan menyakitkan. Dan di kejauhan, suara mesin pabrik besi dan baja mulai berputar kembali, seperti nyanyian bisu yang menyertai setiap rasa sakit yang baru saja tumbuh di dalam dirinya…
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Setelah jeda yang panjang, layar ponsel kembali berkedip—ada pesan baru dari Lilu. Murni menatapnya dengan mata yang masih merah, jari-jari yang dingin menyentuh layar:
“Murn, maaf aku tidak bisa bilang lebih awal. Aku sudah berhenti kerja dari pabrik besi dan baja setahun lalu… suamiku adalah anak bos perusahaan itu, kita menikah dalam acara tertutup dan sudah keluar negara tiga bulan yang lalu. Baru sempat aku periksa chat lama dan menemukan rekaman ini. Aku tidak bisa tinggal diam melihat sahabatku terluka begitu saja… padahal dulu kamu dan Khem adalah pasangan yang selalu membuat kami semua merasa bahagia.”
Kata-kata itu seperti angin sepoi-sepoi yang menyentuh permukaan danau yang bergelombang. Murni membaca ulang setiap kalimatnya—Lilu yang dulu selalu ramai dengan cerita di kantin pabrik, kini sudah menjadi istri seseorang yang membawa dia jauh dari negeri ini. Acara pernikahan tertutup, tidak ada satu pun kabar yang sampai ke telinga mereka yang dulu bekerja sebagai pekerja biasa di pabrik. Hanya tinggal bekas jejak kaki di tanah pabrik yang sudah mulai tertutup debu, dan cerita-cerita yang terjebak di antara mesin-mesin yang terus berputar.
Murni melihat ke arah rak buku di sudut kamar—di sana ada kotak kecil berisi surat-surat yang pernah dia tulis untuk Khem, sebagian belum terkirim. Ia mengingat bagaimana Lilu dulu sering membantu mengirimkan makanan saat Khem bekerja lembur, bagaimana mereka berdua sering bercanda tentang “cinta yang tumbuh di antara besi dan tepung gandum”. Sekarang, semua itu hanya tinggal kenangan yang seperti kain lama yang sudah mulai pudar warnanya.
“Saat aku pergi, aku pernah teleponan sama Khem hanya sekali ,” tulis Lilu lagi. “Dia bilang masih mencintaimu, tapi ada sesuatu yang membuat dia merasa terikat. Aku tidak tahu apa itu, Murn… tapi rekaman itu aku dapatkan dari salah satu teman kerja yang sekarang masih bertugas mengelola ruang kantor lama. Dia bilang Khem sering menyimpan semua chat dan panggilan dengan cewek itu di folder tersembunyi… sebelum dia meminta untuk menghapusnya semua.”
Malam semakin larut, suara mesin pabrik makanan ringan mulai terdengar lebih keras saat memasuki shift malam. Murni berdiri perlahan, mendekati jendela dan melihat ke arah pabrik besi dan baja yang berdiri sunyi di kejauhan—cahaya hanya menyala di beberapa bagian, seolah menjadi mercusuar yang tidak jelas arahnya. Ia memikirkan Lilu yang kini berada di negara lain, mungkin sedang duduk di balkon rumah besar dengan suaminya, melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dengan hamparan pabrik dan jalan tanah yang mereka kenal.
“Maaf ya, Murn… aku hanya ingin kamu tahu kebenaran sebelum terlambat. Jika ada yang bisa kubantu, meskipun dari jauh, bilang saja padaku.”
Murni menekan tombol balas dengan hati yang penuh keraguan. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah berada jauh di luar negeri bisa membantu menghilangkan rasa sakit yang tumbuh di dalam dirinya? Ia mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya semua. Akhirnya, hanya satu kalimat yang keluar dari ujung jarinya: “Semoga kamu bahagia, Lilu. Terima kasih sudah memberitahuku.”
Setelah mengirim pesan, Murni mematikan layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. Dia kembali ke kasur, menyusup ke bawah selimut dan menutup mata. Namun kali ini, bayangan yang muncul bukan lagi wajah Khem atau wanita itu—melainkan sosok Lilu yang sedang tertawa di tengah kebun bunga di belakang pabrik, membawa keranjang bunga yang diambil dari taman kecil milik perusahaan. Suara tawa itu seolah masih terdengar jelas di telinganya, meskipun kini mereka sudah terpisah oleh lautan dan waktu yang tak terukur…
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Matahari mulai menyelinap melalui celah jendela, menyinari sudut kamar dengan cahaya keemasan yang dulu selalu membuat Murni merasa hangat. Namun hari ini, sinarnya hanya seperti jarum emas yang menusuk perlahan ke dalam kulit, meninggalkan rasa terbakar yang tidak terlihat. Ponselnya masih tergeletak di atas meja, layarnya hitam pekat seperti lubuk hati yang kini penuh dengan kegelapan yang dalam.
“Selama ini… aku hanya permainan saja?” bisik Murni dengan suara yang serak, tangannya meraba-raba ke arah foto kecil di atas meja. Jari-jarinya menyentuh wajah Khem di foto itu—wajah yang dulu ia anggap sebagai pelita dalam kegelapan hari-hari yang penuh dengan debu pabrik dan lelahnya kerja berjam-jam. Ia mengingat bagaimana Khem pernah memberi dia gelang anyaman bambu yang dibuat dengan tangan sendiri, berkata bahwa itu adalah “cincin pertunangan kecil sebelum yang sesungguhnya datang”. Kini, gelang itu masih tergantung di ujung tirai kamar, bergoyang-goyang setiap kali angin masuk, seolah menertawakan kebodohannya yang selama ini tidak menyadari kebenaran yang begitu jelas.
Ding… bunyi pesan lagi muncul. Tapi kali ini bukan dari Lilu—nama Khem muncul di layar dengan foto profil yang sama, wajahnya masih tersenyum seperti biasa. Murni menatapnya dengan mata yang sudah tidak lagi ada harapan, setiap huruf di layar seolah menjadi batu yang menekan dada: “Murn, kamu sudah tahu kan? Aku mau jelasin segalanya…”
Tanpa berpikir panjang, Murni menekan tombol telpon—suara deringnya terdengar seperti suara lonceng yang mengumumkan akhir dari sesuatu yang pernah indah. Dalam beberapa detik, sambungan terhubung. Suara Khem terdengar di ujung sana, terengah-engah seolah baru saja berlari jauh: “Murn… maafkan aku…”
“Jangan bilang maaf,” suara Murni terdengar dingin seperti es yang mencair di musim panas. “Cukup bilang saja—apakah semua yang kita alami itu hanya permainan? Apakah aku hanya boneka yang kamu main-mainkan sambil terus bertemu dengan dia?”
Ada jeda panjang di ujung sana. Hanya terdengar suara napas Khem yang tidak teratur dan derau mesin pabrik yang masih berputar. Kemudian, suaranya muncul lagi, penuh dengan keraguan yang tidak pernah Murni dengar sebelumnya: “Itu tidak seperti itu, Murn… aku memang mencintaimu, tapi… dia adalah tunangan yang sudah ditetapkan keluarga sejak lama. Kita bertetangga di kampung, dan ayahku berhutang budi pada keluarganya. Saat aku bekerja di pabrik besi dan baja, dia sering menghubungiku untuk membicarakan hal itu… aku tidak punya pilihan lain selain menjaga hubungan itu rahasia.”
Murni tertawa pelan, tapi suaranya penuh dengan rasa sakit yang menusuk: “Jadi aku adalah pelarianmu dari kenyataan yang kamu takuti? Aku adalah tempat kamu berlindung saat kamu lelah dengan keterikatan yang kamu tak bisa tolak?” Ia berdiri dan mendekati jendela, melihat ke arah pabrik besi dan baja yang kini mulai ramai dengan aktivitas pagi. Beberapa pekerja sedang berkumpul di depan pintu gerbang, mereka sedang tertawa dan berbagi cerita—seolah dunia masih berjalan dengan normal, sementara dirinya seperti terjebak di dalam kubah kaca yang pecah berantakan.
“Aku pernah berharap kita bisa membangun rumah kecil di tepi sungai,” lanjut Murni dengan suara yang semakin lemah. “Kita akan memiliki kebun sayur dan anak-anak yang bermain di halaman belakang. Kamu bilang itu adalah impianmu yang paling besar. Tapi ternyata, impian itu hanya seperti bunga kertas yang kamu buat dengan tanganmu—cantik dilihat dari jauh, tapi tidak pernah bisa hidup dan bernafas seperti bunga yang sesungguhnya.”
Di ujung telepon, Khem terdengar menangis: “Aku benar-benar mencintaimu, Murn. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri dari perjanjian itu. Aku bahkan sudah mengajukan permohonan untuk pindah kerja ke cabang pabrik di kota lain agar bisa jauh dari semua tekanan… tapi aku takut untuk memberitahumu karena aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalah keluargaku.”
“Kamu tidak pernah mengerti, Khem,” ujar Murni perlahan, matanya menatap kejauhan di mana kabut pagi mulai menghilang. “Ketidakjujuranmu adalah yang paling menyakitkan. Lebih baik kamu bilang padaku sejak awal bahwa aku tidak pernah menjadi pilihan yang sebenarnya, daripada membuatku hidup dalam dongeng yang kamu ciptakan sendiri.” Ia mengambil gelang anyaman bambu dari ujung tirai, melihatnya dengan mata yang sudah kering. Kemudian, dengan hati yang penuh dengan keputusasaan, ia melemparkannya keluar jendela—gelang itu terbang melalui udara seperti seekor burung kecil yang terluka, lalu jatuh ke dalam hamparan rumput liar di halaman belakang.
“Aku tidak bisa lagi seperti ini, Khem,” ucap Murni dengan tegas. “Aku perlu waktu untuk menyembuhkan luka yang kamu berikan. Jangan cari aku lagi.” Sebelum Khem bisa menjawab, ia menutup panggilan dan mematikan ponselnya.
Murni kembali ke kasur dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Di luar, matahari sudah mulai tinggi, menyinari seluruh kota dengan cahaya yang cerah. Tapi di dalam kamar itu, kegelapan masih terasa begitu dalam—seperti lautan yang tak berujung, di mana semua impian dan harapan yang pernah dia miliki mulai tenggelam perlahan-lahan, meninggalkan hanya bekas rasa sakit yang akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk hilang sepenuhnya. Dan di kejauhan, suara mesin pabrik terus berputar dengan ritme yang tidak pernah berubah, seperti nyanyian yang mengingatkannya bahwa dunia tidak akan pernah berhenti berjalan, bahkan ketika hati seseorang sudah hancur berkeping-keping…
...