Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.
Darrel berpikir keras. Dia akan melindungi apa yang sudah dirintisnya dengan sekuat tenaga. "Sepertinya nggak papa jika aku merepotkannya sekali lagi untuk membantuku," batinnya.
"Kenapa, Bang?" tanya Zeya penasaran.
"Nggak apa-apa," jawab Darrel yang membuat Zeya mengernyit heran.
Darrel segera meraih ponselnya dan mencari nomor telepon temannya yang selama ini selalu membantunya dalam menangani masalah hukum. Setelah beberapa saat, dia menemukan nomor yang tepat lalu melakukan panggilan.
"Halo, Rel. Ada masalah apalagi kamu sama Nancy?" tanya seseorang dari balik telepon seluler.
"Halo, Ky. Aku butuh bantuanmu, tapi bukan masalah dengan Nancy. Saat ini aku sedang...." Darrel lantas menceritakan masalah yang sedang dihadapinya secara gamblang.
"Oke, kirimkan semua dokumen dan bukti yang kamu punya, agar aku bisa mengambil langkah yang tepat untuk membantumu," kata Lucky
"Baiklah nanti aku kirim file-nya lewat email ke kamu," jawab Darrel sambil tersenyum lega. "Terima kasih, sekali lagi, Ky."
"Siapa dia, Bang?" tanya Zeya yang dari tadi memperhatikan Darrel menelepon.
"Lucky Kurniawan, teman Abang. Daniel juga kenal sama dia. Dulu dia sering main ke rumah," jawab Darrel.
Zeya mengerutkan kening. "Daniel kenal? Bukannya Daniel nggak pernah ikut campur urusan Abang setelah..." Zeya menggantungkan kalimatnya, tidak ingin membuat Darrel teringat masa lalu yang pahit.
Darrel menghela napas. "Iya, Abang tahu maksudmu. Tapi Lucky ini teman baik Abang dan Darren. Dia selalu ada untuk kami, dan selalu membantu jika ada masalah yang terjadi."
"Abang yakin si Lucky ini bisa dipercaya?" tanya Zeya dengan nada khawatir.
"Abang yakin, Ze. Lucky ini pengacara yang handal dan dia selalu menepati janjinya," jawab Darrel meyakinkan. "Sekarang, kita fokus saja untuk mengumpulkan semua dokumen dan bukti yang dibutuhkan. Kita harus mempersiapkannya sebaik mungkin."
Darrel dan Zeya lantas kembali fokus pada laptop di depannya. Mereka mulai mengumpulkan semua dokumen yang relevan: proposal bisnis, email ancaman hukum, bukti peretasan, dan lain-lain. Mereka bekerja sama dengan cermat dan teliti, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat.
Setelah beberapa jam, keduanya berhasil mengumpulkan semua dokumen yang dibutuhkan. Darrel lalu mengirimkan semua file tersebut ke email Lucky.
"Oke, semua sudah terkirim," kata Darrel sambil meregangkan badannya yang terasa pegal. "Sekarang kita tinggal menunggu kabar dari Lucky."
"Semoga dia bisa membantu," kata Zeya dengan nada cemas.
"Abang yakin dia bisa membantu," jawab Darrel sambil tersenyum. "Lucky itu pengacara yang hebat. Dia selalu tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah."
Darrel kemudian menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Sepertinya abang harus pulang, Ze," ucapnya sambil berdiri.
"Abang tidak makan dulu di sini?" tawar Zeya ikut berdiri.
"Nggak usah, Ze. Kasihan anak-anak kalau abang tinggal terlalu lama." jawab Darrel. "Terima kasih banyak, ya. Nanti kita video call saja kalau misalkan Lucky menghubungi abang untuk membahas masalah ini."
"Sama-sama, Bang," sahut Zeya. Baiklah Ze, akan menunggu."
Darrel lantas berjalan menuju pintu, di saat bersamaan datang Daniel yang baru pulang dari menjemput anak-anak sekolah. Dia tampak terkejut melihat Darrel ada di rumahnya.
"Loh, kok, Abang di sini?" tanyanya dengan pandangan menyelidik lalu beralih pada Zeya.
"Nggak usah curiga," jawab Darrel santai. "Abang sama Zeya sedang membicarakan masalah bisnis. Jadi buang jauh-jauh otak kotormu itu" lanjutnya sambil berbisik di telinga adiknya karena takut terdengar oleh anak-anak.
Selesai berkata Darrel langsung berlalu meninggalkan Daniel yang tertegun dengan ucapan abangnya. Sementara Zeya sendiri hanya tersenyum sambil mengedikkan bahunya.
"Papa Rel, Zayn dan Zoey mana?" tanya si kembar Adzana dan Adzando berbarengan sambil mencium tangan Darrel.
"Maaf ya, Sayang. Zayn dan Zoey tidak ikut ke sini. Mereka ada di rumah," jawab Darrel seraya mengusap lembut pucuk kepala keponakannya.
"Yaaahhh..." Keduanya tampak begitu kecewa.
"Papa Rel, janji. Nanti kalau ke sini lagi akan membawa mereka," janji Darrel. "Papa Rel, pulang dulu, ya. Takut Zayn dan Zoey nyariin. Bye... Zana, Zando."
"Bye...Papa Rel. Hati-hati di jalan," seru Adzana dan Adzando sambil melambaikan tangan.
Darrel menyalakan motornya, kemudian melajukannya meninggalkan rumah adiknya, setelah sebelumnya membunyikan klakson dan membalas melambaikan tangan keponakannya.
Sekitar satu jam perjalanan, Darrel sampai rumah yang langsung disambut oleh Zayn dan Zoey yang berlari dari halaman rumah Bu Murni.
"Papa pulang... Papa pulang," teriak Zayn dan Zoey dengan gembira. Keduanya tampak tidak sabar ingin memeluk sang ayah.
Darrel segera turun dari motornya lalu berjongkok dan merangkul keduanya dalam dekapan sambil menciumi mereka satu persatu.
"Urusan Papa sudah selesai?" tanya Zayn.
"Kok, Papa lama sih, Zoey kan kangen sama Papa," sambung Zoey.
"Maaf ya, Sayang. Tadi papa ke rumah Om Daniel ada urusan mendadak. Jadi maaf, papa tidak mengajak kalian." Darrel mencoba bersikap terbuka pada kedua anaknya.
"Nggak apa-apa, Papa. Kan, kapan-kapan kita bisa ke sana lagi," sahut Zayn dengan bijak.
Darrel lantas membawa Zayn dan Zoey ke rumah Bu Murni. Dia mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu karena telah dibantu menjaga anak-anaknya.
.
Malam harinya, setelah anak-anak tertidur, Darrel menerima telepon dari Lucky.
"Halo, Rel. Aku sudah pelajari semua dokumen yang kamu kirim," kata Lucky "Kasus ini cukup rumit, tapi aku yakin kita bisa memenangkannya."
"Syukurlah," jawab Darrel sambil membuang napas lega. "Lalu, langkah apa yang harus aku lakukan untuk melindungi hak patenku ini?" tanya Darrel kemudian.
"Pertama, kita harus mengajukan gugatan balik atas tuduhan pelanggaran hak cipta. Kita akan membuktikan bahwa KopiKeliling adalah ide orisinalmu," kata Lucky.
"Oke, aku ikut saja apa katamu," jawab Darrel.
"Selain itu, kita juga harus melaporkan tindakan peretasan yang dilakukan oleh pihak kompetitor ke polisi. Ini adalah tindakan kriminal yang tidak bisa dibiarkan," lanjut Lucky.
"Baiklah, aku setuju," jawab Darrel.
"Untuk sementara ini, kamu dan Zeya fokus saja untuk mengembangkan aplikasi KopiKeliling. Biar aku yang urus semua masalah hukumnya," kata Lucky.
"Terima kasih banyak, Ky. Kamu benar-benar bisa diandalkan," kata Darrel tulus.
"Santai saja, Rel. Aku senang bisa membantumu," jawab Lucky.
Darrel menutup telepon dengan perasaan lega dan penuh semangat. Dia merasa tidak sendirian lagi dalam menghadapi masalah ini. Dia memiliki dua orang yang siap membantunya kapan saja. Kemudian Darrel segera menghubungi Zeya.
"Gimana, Bang? Apa kata Lucky?" tanya Zeya penasaran.
"Dia bilang kita punya peluang besar untuk memenangkan kasus ini," jawab Darrel sambil tersenyum meski Zeya tak melihatnya. "Dia akan mengurus semua masalah hukumnya. Kita hanya perlu fokus saja untuk mengembangkan aplikasi KopiKeliling."
Zeya tersenyum lega. "Syukurlah. Abang tenang saja, aku akan pastikan aplikasi KopiKeliling semakin aman dan canggih."
Darrel tersenyum, dia merasa sangat beruntung memiliki Zeya dan Lucky di sisinya. Mereka adalah orang-orang yang tulus dan setia, yang selalu siap membantu tanpa pamrih.