Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Receh
Selamat membaca, semoga terhibur 🌸
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
Seperti biasanya, setelah menutup toko, Jeevan akan meminta Aleena membeli makanan untuk makan malam. Jeevan menghentikan mobilnya di tempat yang berbeda setiap harinya. Mengubah menu makan yang ingin dinikmati.
"Tuan Jee, apa Anda tidak pernah makan di luar?" tanya Aleena karena Jeevan selalu meminta dibelikan makanan untuk dibawa pulang.
"Pernah."
Jawaban singkat Jeevan membuat Aleena berpikir, mengapa Jeevan selalu memintanya membeli makanan untuk dibawa pulang? Apakah Jeevan malu jika makan bersamanya di luar?
Aleena memperhatikan penampilannya. Sepertinya tidak ada yang salah. Sekelebat, sebuah asumsi bertengger dalam benak Aleena.
Mungkin Tuan Jee malu makan di tempat umum bersamaku karena aku terlalu jelek. Dia juga sering menyebutku gadis dekil. Atau mungkin aku perlu merubah penampilan?
Sayangnya, apa yang ada dalam benak Aleena, sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Jeevan. Jeevan menyuruh Aleena membeli makanan siap saji karena tidak ingin gadis itu terlalu capek. Jeevan tidak tega jika setelah bekerja seharian, Aleena masih harus memasak lagi untuknya.
Jeevan tidak ingin makan di luar juga bukan karena malu akan penampilan Aleena. Dia mempunya dua alasan. Pertama, Jeevan memang tidak suka suasana yang terlalu ramai ketika makan. Alasan ke dua, yang sebenarnya adalah alasan inti dari sikap Jeevan, dia ingin bisa makan berdua dengan Aleena tanpa ada yang mengganggu. Jeevan ingin memperhatikan Aleena dengan lebih leluasa. Tentu hal tersebut hanya bisa dia lakukan di rumah, bukan di tempat umum.
"Tuan Jee, uang kembalian dari membeli makanan ini, apa boleh aku gunakan?" Aleena kembali memecah kesunyian suasana di dalam mobil.
"Hanya uang receh, memang bisa digunakan untuk apa?" Jeevan tak melihat ekspresi penuh harap Aleena, dia berkonsentrasi mengemudikan mobil. Melawati jalanan yang ramai di akhir pekan.
"Tuan, aku mengumpulkannya setiap hari. Sekarang sudah lumayan banyak. Apa aku ... boleh membeli pakaian dengan uang itu?" tanya Aleena disertai keraguan.
Kali ini Jeevan melirik Aleena dalam sejurus pandangan. Baju yang digunakan Aleena saat ini adalah pakaian yang dibelikannya dari butik. Harganya setara dengan gaji yang diberikannya pada Ryan.
Gadis ini apa benar-benar bodoh dan tidak tahu harga barang yang dia gunakan? Baju seperti apa yang mau dia beli dengan uang receh? Jeevan membatin.
"Baju seperti apa yang dapat kau beli dengan uang receh?"
"Tuan Jee, jumlah uang kembalian yang aku kumpulkan sudah lebih dari cukup untuk membeli sebuah baju. Tuan masih ingat tempatku membeli baju usai mencuri uang di pasar dulu itu? Di sana harga baju cukup murah," papar Aleena.
Jeevan tidak menyahut lagi. Dia terpaku dengan pemikiran polos Aleena. Gadis yang berada di dekatnya ini sungguh sederhana. Dia tidak seperti gadis-gadis lain pada umumnya, yang menyukai barang-barang mewah.
Pembicaraan tentang uang receh terhenti. Aleena tidak mendapat kepastian. Apakah dia boleh menggunakan uang itu atau tidak. Membuat Aleena gusar menerjemahkan sikap Jeevan.
Sesampai di rumah, Aleena langsung menghidangkan makanan yang telah dibeli untuk Jeevan. Jeevan tampak menikmati makanan tersebut. Berbeda dengan Aleena yang tidak berselera. Dia tampak malas.
"Apa kau tidak menyukai makanan ini?" lontar Jeevan yang menyadari wajah Aleena yang cemberut.
"Makanan ini enak Tuan, saya suka. Hanya saja saya tidak berselera saat ini."
"Kenapa? Karena uang receh dan baju?" tukas Jeevan.
Aleena tercengang dengan mata berkaca. Dengan mudahnya pikiran Aleena dibaca Jeevan. Sebuah hal sepele, tapi mampu mengacaukan suasana hatinya.
Jeevan meletakkan sendok dan garpu di tangannya. Tidak lagi meneruskan acara makan malamnya meski perutnya masih lapar. Jeevan lalu berdiri seraya menatap Aleena.
"Gunakan saja uang itu sesukamu. Bereskan meja makan ini. Setelah itu, pergilah ke gudang di belakang. Di sana ada banyak box, ambil saja jika kamu suka." Jeevan langsung meninggalkan Aleena usai berujar.
Aleena tidak mengerti dengan dengan box yang dimaksud Jeevan. Namun suasana hatinya telah berubah girang. Dalam pikirannya, esok hari dia bisa membeli baju yang dia inginkan.
"Tuan Jee yang baik, terima kasih ..." teriak Aleena.
Jeevan tak menjawab. Dia sudah menaiki tangga. Hendak ke kamarnya. Sementara itu, perut Aleena mendadak terasa lapar. Dia pun segera melahap makanan di depannya dengan cepat.
Usai makan dan beres-beres, Aleena melangkah kaki dengan ringan menuju kamarnya. Siang tadi, Aleena telah mengunduh beberapa video tentang body painting dan memasak. Dia ingin menontonnya.
Ketika hendak membuka pintu kamar, Aleena kembali teringat ucapan Jeevan. Mengambil box di gudang. Aleena pun mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar. Dia berbalik dan berjalan menuju gudang.
Dengan ragu, Aleena menyalahkan lampu gudang. Dia lalu memasuki gudang yang menyeruakkan aroma debu. Semua barang di dalam gudang ditutupi putih. Debu bertebaran di atasnya. Kecuali di sebuah sudut, ada setumpuk barang yang kain penutupnya masih cukup bersih. Sepertinya belum lama di taruh.
Aleena membuka kain penutup tersebut. Di baliknya, Aleena mendapati setumpuk kotak. Ada sebuah tulisan di atas kotak-kotak tersebut. Sebuah merk dagang yang sama dengan baju-baju yang dia pakai. Jumlahnya lumayan banyak.
Sepertinya, ini kotak yang dimaksud Mr. Jee. Ucap Aleena dalam hati.
Mata Aleena sulit berkedip ketika mengetahui isi dari kotak-kotak tersebut. Ternyata isinya gaun-gaun indah. Itu bukanlah kotak kosong. Aleena salah tinggalkan. Berjingkrak, berputar-putar, sesekali berteriak meluapkan rasa gembira sambil menempelkan gaun ke badannya.
"Yang ini indah ... Ini juga indah. Lalu ini juga ...." Aleena kebingungan memilih.
"Tunggu dulu, Tuan Jee hanya tinggal sendirian di rumah ini. Tapi mengapa ada banyak sekali gaun di sini. Seharusnya, semua ini juga bukan baju murahan," gumam Aleena.
Gadis polos itu memandangi kotak-kotak gaun yang berserakan di lantai. Beberapa sudah dia buka. Sebagain yang lain masih menumpuk ditempatnya. Dalam hati, jelas dia menginginkan semua pakaian itu.
"Tuan Jee tadi bilang aku boleh mengambil yang aku suka. Jika aku menyukai semuanya, apa artinya aku boleh mengambil semuanya juga?" Aleena bertanya pada diri sendiri.
"Jadi, kau suka semuanya?" suara Jeevan menggema dari pintu gudang. Rupanya Jeevan sudah berdiri di sana sambil memandangi tingkah bodoh Aleena.
"Tu ... Tuan Jee ... sejak kapan Anda di situ?" Aleena tersipu malu.
"Sejak kau berteriak-teriak dan bertingkah seperti orang gila," jawab Jeevan datar.
Apa? Dia melihat semuanya? Aahhh ... itu sangat memalukan. Aduh, bagaimana ini ... apa yang harus aku katakan padanya? Benak Aleena dikepung kebingungan. Seandainya lampu di gudang cukup terang, tentu akan terlihat wajah merah Aleena yang seperti udang rebus.
"Tuan Jee ... baju-baju ini ... aku ... em ..." Aleena bingung harus mengutarakannya.
"Hanya barang bekas. Ambil saja semua jika kau mau!" Jeevan berbalik hendak pergi.
"Benarkah? Apa itu boleh?" suara Aleena meletup dengan keras. Raut kegembiraan tak dapat disembuhkan dari wajahnya.
"Jika kau berteriak-teriak lagi, aku akan menyumpal mulutmu! Satu lagi, aku tidak suka mengulang kata-kata. Jadi, gunakan telingamu dengan baik saat aku bicara!" tegas Jeevan.
"Baik Mr. Jee ... Terima kasih ..." suara Aleena masih terdengar keras membahana. Dia tidak bermaksud berteriak. Hanya saja, rasa bahagia dalam hatinya membuatnya tanpa sadar berujar lebih keras dari suara normal.
Mendengar suara melengking Aleena, Jeevan langsung menatap gadis yang sedang berbahagia itu lekat. Dia berpura-pura marah. Hal itu membuat Aleena takut dan langsung membungkam mulutnya dengan tangan kiri. Sementara itu, tangan kanannya mengacungkan jari tengah dan telunjuk bersamaan. Kedua jarinya membentuk huruf "v", memberi simbol perdamaian.
"Maaf, Tuan ... tidak akan aku ulangi lagi," ucap Aleena lirih sambil tersenyum nyengir. Dua jarinya masih membentuk huruf "v" hingga Jeevan benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di gudang.
"Dasar gadis dekil tukang rusuh ..." celoteh Jeevan yang hanya bisa didengar dirinya sendiri. Bibirnya mengumbar senyum sepanjang perjalanan dari gudang hingga kamarnya.
Aleena bagaikan mendapat harta karun yang berharga. Mulutnya terus-menerus mengucap syukur atas keberuntungannya. Dia juga tak henti-henti memuji kemurahan hati Jeevan. Rasa bahagia yang meluap dalam hatinya, membuatnya kehilangan rasa lelah. Dengan penuh semangat, dia bolak-balik ke gudang untuk memindahkan semua box baju ke dalam kamarnya.
"Hari ini aku memang sangat beruntung .... Sebagai tanda terima kasih, mungkin aku akan menunjukkan keahlian baruku pada Tuan Jee ...."
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️