Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akrab kan Diri
tok tok tok
"ya, silahkan masuk" sahut Dedi
Kemudian masuklah Angga sambil tertunduk malu membungkuk memberi rasa hormat pada atasannya.
"apa Anda memanggil saya?" tanya Angga
"ah, iya benar" Dedi beranjak dari kursi kerjanya lalu kembali duduk di Sofa ruangannya, "silahkan duduk!"
"terimakasih Pak" Angga pun duduk dengan tengang
"saya suka dengan kinerja Anda diperusahaan ini, berkat Anda saham perusahaan bisa meningkat pesat selama beberapa tahun ini" puji Dedi sambil menuangkan anggur pada gelas milik Angga.
"terimakasih pujiannya, Pak! suatu kehormatan besar bisa berbincang langsung dengan Anda"
Angga kemudian mengambil Anggur yang di tuangkan oleh Dedi lalu Ia meneguknya susah payah.
Dedi pun menyeringai, jelas sekali bahwa pria didepannya baru kali ini meneguk anggur. hanya karena atasannya repot repot menuangkan anggur untuknya, jadi Ia tidak mungkin menolaknya.
"saya ingin mengakrabkan diri dengan Anda" ucap Dedi menyeringai
Sontak Angga langsung tersedak, karena tak menyangka atasannya akan seramah ini dan ingin akrab dengan dirinya yang biasa.
"terimakasih banyak Pak, Anda baik hati sekali hingga mau mengakrabkan diri dengan saya yang buka apa apa"
"tolonglah jangan sungkan! saya kan lebih muda dari Anda. bagaimana jika Anda panggil saya Adik saja?" pinta Dedi dengan senyum tipisnya
"sungguh Pak, saya akan merasa kurang ajar sekali jika memanggil atasan saya dengan sebutan Adik"
"tidak masalah, toh saya yang meminta"
"baiklah, A...adik" sahutnya Gelagapan.
Dedi tertawa menahan benci, ingin sekali Ia menghajar pria yang dihadapannya karena sudah merebut cinta pertamanya juga malah sering membuat wanita yang dikasihinya menangis.
Sinar kebencian terlintas dimatanya, tapi Ia tak ingin tunjukan karena Ia memiliki rencana yang akan membuat Angga memilih meninggalkan istrinya.
"Adik tidur minum anggur juga?" tanya Angga
"cih" decihan dan sunggingan bibir Dedi tak tertahan keluar begitu saja, hingga Angga merasa gugup dan bersalah karena menanyai atasannya tanpa sopan.
tapi kemudian Dedi memberikan senyuman lebar palsunya membuat Angga kembali tenang, "saya tidak suka minuman berakohol" sahutnya
"Ah, iya" Angga mengangguk menelaah serta merasa begitu canggung.
"minggu depan ikut saya mengunjungi anak perusahaan diluar kota, mungkin hanya beberapa hari saja juga ditemani oleh asisten pribadi saya!"
"wah terimakasih pak, eh Dik, saya akan memenuhi perintah Adik. ini adalah suatu kehormatan besar bagi saya langsung mendapat perintah dari Adik Dedi" Angga lagi lagi membungkuk memberi hormat
"ini semua karena kinerja Anda yang luar biasa, Anda terkenal sangat loyal pada perusahaan", ucap Dedi yang mendapat anggukan kecil dari Angga, "jadi, mungkin nanti saya akan meminta Anda untuk memimpin perusahaan cabang yang lain"
Deg
"apa Adik meminta saya untuk pindah keluar kota?" tanya Angga tak percaya
"perusahaan cabang kita diluar kota kan jauh lebih besar daripada perusahaan cabang ini, dan dengan kemampuan Anda. saya yakin dapat memimpin perusahaan dengan baik"
Sungguh hal ini yang ditunggu tunggu Angga selama ini, tetapi beda hal untuk sekarang karena istrinya semalam bisa pergi dari rumahnya, dan itu memberi efek kecemasan bagi Angga bagaimana kalau dia akan tinggal berjauhan dengan istrinya.
"baik Dik, terimakasih" sahut Angga kemudian lalu undur diri.
Setelah Angga keluar dari ruangannya, Dedi tertawa geli dan sangat kesal melihat orang yang Ia benci selama ini berada didepannya, Ia juga mampu menebak ekspresi Angga yang keberatan kalau Ia harus pindah keluar kota, tentu Ia tidak ingin jauh dari istrinya.
"kita lihat saja nanti, kamu masih mempertahankannya atau tidak"
****
Angga hari ini memilih pulang lebih awal, guna memeriksa apakah istrinya, Sefia. sudah pulang kerumah atau tidak.
"Sef, syukurlah kamu sudah pulang" ucap Angga memasuki kamar melihat Sefia merebahkan dirinya diatas kasur.
Sefia malah memilih mengabaikan sapaan suaminya dan melanjutkan membaca buku.
Angga terkejut dengan sikap tak acuh Sefia sekarang ini, karena biasanya saat Angga pulang Sefia langsung menyambutnya dengan senyuman serta membantunya membuka jas dan kemeja kerjanya.
Ia tahu bahwa istrinya saat ini sangat marah besar, tapi Ia juga merasa bahwa perkataannya tak ada yang salah jadi tak harus Ia benarkan, apalagi untuk meminta maaf.
"kamu nginep dimana semalem?" tanya Angga sembari melepas pakaiannya.
"dirumah temen" sahutnya datar masih membaca buku.
Kemudian Angga mendekatkan diri pada Sefia dan mengambil buku yang sedang Ia baca dengan posisi tidur.
"gak baik baca sambil tiduran, nanti matanya rusak" ucap Angga sembari merampas buku yanga sedang dibaca Sefia.
"Oh" sahut Sefia kemudian membalikkan tubuhnya tak ingin berbicara dengan suaminya.
"aku capek" cetusnya berharap Sefia akan menawarinya mandi air hangat untuk meredam tubuhnya
tapi, lagi lagi Sefia bersikap acuh. hingga Angga tak tahan dan mengguncang bahu istrinya.
"apa?" tanya Sefia kesal
"aku mau mandi!" sahut Angga seperti perintah
"ya mandi, mandi saja! apa hubungannya denganku?" jawabnya ketus
"bisa gak kamu siapin air hangat buat aku mandi?" tanya nya memelas, membuat Sefia terenyuh hatinya
Sungguh Ia masih tak tega walau Angga sudah menyakitinya.
"ya udah aku siapin!" Sefia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"sungguh, kenapa aku begitu bodohnya. sadar Sefia sadar. dia sudah tidak mencintaimu, tidak menghargaimu, ingat! yang harus kamu lakukan adalah meminta cerai secepat mungkin" gumamnya kesal pada diri sendiri hingga Ia lupa tidak menyalakan air dingin untuk menetralkan air panas hingga jarinya lupa Ia ceburkan.
"Ough panas panas"
Sefia mengaduh kesakitan dan mencelubkan jemarinya kedalam air dingin agar tak melepuh.
"sial, ini pasti gara gara Dedi sedang mencemburuiku diluar sana"
dan ya tebakannya benar, Dedi sedari tadi mondar mandir memikirkan apa yang sedang dilakukan Sefia dan Suaminya malam ini, karena pikirnya jika pasangan sedang bertengkar kemudian bersatu kembali dan saling memaafkan, maka cinta mereka semakin erat dan mesra.
"gak mungkin kan Sefia memaafkan suaminya lalu memilih untuk meninggalkan ku lagi?" gumam Dedi bertanya pada dirisendiri.
Ia lalu membanting tubuhnya diatas kasur.
"Sial, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal yang tidak tidak. aku kalah besar, karena dia masih suaminya"
"sial, sial, sial" umpatnya pada diri sendiri.
****
Kini hari sudah pagi dan biasa Sefia bangun lebih Awal, Ia memasak untuk dirinya sendiri dan tak lupa membawa bekal untuk makan siang dikantornya.
"semoga dia suka" gumamnya sembari cekikian sendiri
Angga yang sudah bangun dan rapi juga keluar kamar dan menemui meja makan dalam keadaan kosong.
"Sef, sarapanku mana?" teriak Angga memanggil Sefia.
Sefia pun keluar dari ruang dapur, "sarapan saja dikantin ya mas? aku sedang buru buru berangkat kerja takut telat" pamitnya lalu berlalu begitu saja tanpa memperdulikan suami yang sedang memanggilnya.
"padahal jam kantorku lebih pagi darinya, apa dia masih marah ya?"
****
Hallo Hallo
MOHON DUKUNG AUTHOR, dengan cara download NOVELTOON kemudian Vote pakai poin gratis. makasih :*
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..