NovelToon NovelToon
SECERCAH CINTA UNTUK ALENA

SECERCAH CINTA UNTUK ALENA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ibnu Muhammad

Alena adalah wanita yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Parasnya yang cantik, kulitnya yang putih membuat laki-laki jatuh hati padanya. Tetapi karena kesombongannya, membuat Alena dijauhi laki-laki. Saat dia menemukan laki-laki pilihannya, ternyata laki-laki itu berselingkuh. Alena memergoki laki-laki tersebut akhirnya dia kecewa dan saat dia keluar menaiki mobilnya dengan melaju yang kencang, dia mengalami kecelakaan yang membuatnya harus diamputasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibnu Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - MODE SERIUS

Gubrak…!

Suara Nuria yang terjatuh dari tangga rumah Fatimah karena dia terburu-buru dan tidak memperhatikan anak tangga yang ia pijak.

Dari kejadian tersebut, Nuria akhirnya terjungkal dan membuat tangannya memar karena benturan dengan besi.

“Ah, lu Nuria ribet banget sih jadi betina! Jalan mulus kayak begini saja bisa-bisanya jatuh.” Teriak Alena melihat Nuria yang terjungkal di depan rumahnya Fatimah

“Hahahaha mampus lu Nuria!” Fatimah ketawa melihat temannya terjungkal di depan rumahnya karena kurang hati-hati turun dari tangga

“Udahlah biarin saja dia, kita tinggalkan saja ke mobil!” Alena mengajak Fatimah segera masuk ke dalam mobil Alena

“Ih, kalian jahat banget sih sama gue, bukanya nolongin dulu kek, malah langsung ditinggal! Sedihnya gue dicampakan. Mana si Fatimah ngetawain gue lagi bangke emang.” Jawab Nuria.

Nuria kemudian bangkit dari tempat terjatuhnya tanpa dibantu oleh teman-temannya. Dia kemudian lari menuju teman-temannya karena takut di tinggal ke kampus bareng.

“Hai, bukain pintu mobilnya!” Ucap Nuria sambil menggedor-gedor mobil Alena dari luar 

Ssttt……

Alena membuka pintu mobilnya untuk Nuria yang masih diluar mobil.

Saat pintu mobil sudah dibuka, Nuria kemudian langsung bergegas masuk kedalam duduk bersama Fatimah.

“Udah sana masuk, teriak-teriak sudah kayak dihutan saja lu!” Jawab Alena judes karena masih dendam sama Nuria

“Nah, gitu dong Alena lu harus galak sama Nuria biar kapok dia!” Fatimah terus memanas-manasi Alena agar terus berantem

“Halah berisik lu Fatimah!” Sahut Nuria sambil melihat tangannya yang memar akibat terjatuh dari tangga tadi

“Udah belum nih, mau berangkat ke kampus apa mau adu mulut dulu di dalam mobil gue?” Tanya Alena sambil menceramahi teman-temannya di dalam mobil

“Ya berangkat ke kampus dong Alena sayang.” Jawab Nuria sambil senyum-senyum

“Iya, ayo kita segera meluncur ke kampus Alena.” Balas Fatimah

“Oke deh kalau begitu, berang-berang makan coklat, berangkat!” Jawab Alena.

Alena dan kedua temannya kemudian berangkat ke kampus bersama menggunakan mobilnya yang sudah siap di depan rumahnya Fatimah.

Hari ini jalan menuju kampus terasa lancar dan udara terasa sejuk sekali. Tak perlu menunggu lama untuk menuju kampus karena di perjalanan sangat landai. Beberapa menit pun mereka sudah sampai di depan kampus tercintanya dan segera parkir di parkiran.

“Akhirnya sampai juga kita di kampus?” Ucap Alena sambil memarkirkan mobilnya

“Hem….bau apa ini!” Ucap Nuria sambil hidungnya mengendus kearah Fatimah

“Anjir bau bangke, lu kentut ya Nuria?” Ucap Alena menuduh Nuria

“Sorry ye, bukan gue. Tuh liat Fatimah mukanya tiba-tiba aneh!” Sahut Nuria menunjuk muka Fatimah yang berubah seperti menahan beban hidup

“Oh, lu yang kentut di dalam mobil gue ya Fatimah!” Ucap Alena jengkel

“Hehehe iya Alena sorry ya, gue mules banget perut gue sudah diujung nih mau meledak.” Jawab Fatimah sambil menahan perutnya yang mau buang air besar

“Ah, lu gimana sih, ngomong kenapa kalau lagi mau berak kan tadi bisa berhenti dulu di rest area, udah sana berak dulu kita tunggu disini!” Balas Alena menyuruh Fatimah segera buang air besar ke toilet kampus.

“Huh, dasar betina aneh lu!” Ucap Nuria sambil mendorong Fatimah keluar dari mobilnya Alena.

Karena Fatimah sudah nggak tahan dengan perutnya yang mules, dia kemudian lari menuju toilet kampus.

Sedangkan Alena dan Nuria masih menunggu Fatimah di dalam mobil.

Mata Alena tertuju ke pada tangan Nuria yang memar dan bengkak.

“Tangan lu kenapa Nuria kok merah-merah kayak gitu?” Tanya Alena yang melihat tangan Nuria merah-merah 

“Iya ini tadi jatuh dari tangga rumahnya Fatimah.” Jawab Nuria

“Sini coba gue lihat dulu, waduh ini mah kalau nggak segera di obati bisa-bisa di amputasi tangan lu!” Ucap Alena mengejek temannya itu dengan menakut-nakutinya

“Gila lu! Masak iya sih bisa di amputasi.” Jawab Nuria dengan kagetnya

“Hahahaha nggak lah, gue cuma bercanda tadi, percaya amat sih lu! Nih kasih obat P3K dulu biar cepat sembuh.” Alena mengeluarkan kotak P3K dari dalam dasbor mobilnya

“Terimakasih ya Alena!” Ucap Nuria sambil mengoleskan antiseptik pada pergelangan tangannya tapi dia tidak bisa

“Gimana bisa nggak, sini gue bantuin obatin!” Jawab Alena memegangi pergelangan tangan Nuria yang memar  dan berdarah itu dengan kain kasa dan antiseptik.

Setelah luka lecetnya sudah diobati oleh Alena, pergelangan tangan Nuria saat ini sudah mulai enakan untuk digerakkan.

Mereka berdua saat ini masih di dalam mobil menunggu Fatimah keluar dari buang air besar.

“Eh Alena, liat tuh ibu Bella sudah datang saja dia ya?” Ucap Nuria sambil menunjuk ibu Bella yanv sedang memarkirkan kendaraannya di depan mobilnya Alena

“Oh iya anjir, ayo ngumpet!” Ajak Alena ngumpet dengan menunduk di dalam mobil.

Tok…tok…tok…!

Suara pintu mobil Alena seperti ada yang mengetuk dari luar. Saat Alena melirik ke kaca jendela mobil ternyata yang mengetuk mobilnya adalah Fatimah.

“Ih, kirain ibu Bella yang mengetuk kaca mobil gue, ternyata si kampret!” Ucap Alena dari dalam mobil

Alena dan Nuria kemudian segera turun dari mobilnya dan menuju ke kelas untuk belajar bersama.

Beberapa jam Alena dan teman-temannya belajar di dalam kampus. Saat jam belajar di kampus sudah selesai, mereka bertiga langsung beristirahat di kantin dan mengerjakan tugas dari ibu Bella untuk dikumpulkan nanti sore.

“Akhirnya jam istirahat sudah datang!” Ucap Nuria

“Yuk kita istirahat dulu ke kantin kampus teman-teman!” Ajak Nuria

“Ayo berangkat!” Jawab Alena dan Fatimah kompak.

Mereka bertiga kemudian segera melangkahkan kakinya menuju kantin kampus yang berada di belakang kelasnya.

“Eh, Fatimah kita duduk di sebelah sana saja yuk?” Pinta Alena sambil mengajak teman-temannya duduk dipojok taman kantin agar bisa mengerjakan tugas dari dosen ibu Bella dengan lancar tanpa ada gangguan orang-orang

“Ayo gas!” Jawab Fatimah.

Fatimah dan Alena kemudian menuju taman kantin pojok berdua saja tanpa mereka sadari bahwa Nuria sudah tidak ada bersama mereka.

Saat kaki mereka melangkah ke arah taman, Alena mencari Nuria yang tidak ada di barisannya.

“Nuria kemana ya Fatimah?” Tanya Alena sambil mencari Nuria yang tidak ada disampingnya

“Loh, tadi bukannya dia dibelakang lu ya Alena?” Jawab Fatimah

“Iya tadi dibelakang gue, aneh tuh anak ditinggal sebentar saja sudah hilang.” Ucap Alena heran sambil menggelengkan kepalanya

“Berarti besok lu harus bawa tambang Alena kalau pergi sama dia!” Sahut Fatimah

“Tambang, buat apa?” Jawab Alena singkat

“Iya tambang, buat ngikat Nuria biar tidak ilang-ilangan kalau diajak kemana-mana!” Jawab Fatimah

“Hahahaha ide bagus tuh, ada benarnya juga lu.” Ucap Alena

“Iya sudah kita tunggu saja di meja dulu Alena, takut mejanya di duduki orang lain lagi!” Ajak Fatimah sambil menunjuk meja pilihannya di pojok sendiri

“Oke deh!” Jawab Alena sambil melangkah ke meja tersebut.

Alena dan Fatimah kemudian duduk bersama di meja taman pojok berdua sambil menunggu Nuria yang tak kunjung hadir.

Sudah 5 menit Alena dan Fatimah menunggu Nuria tetapi dia tak kunjung datang juga.

“Buset dah nih betina di kampus saja dia bisa hilang, apalagi kalau diajak jalan-jalan ke Kota yang rame bisa berabe nih anak!” Lirih hati Alena

“Iya nih ngerepotin banget jadi anak!” Jawab Fatimah sambil minum jus mangga di mejanya

“Apa gue telpon saja ya dia? Biar kita bisa segera mengerjakan tugas dari ibu Bella” Ucap Alena

“Hemm, iya Alena telfon saja dia, bikin lama saja dia mah!” Jawab Fatimah.

Alena kemudian mencoba mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya. Kemudian, Alena menelpon Nuria.

Kring….kring….kring….!

Suara handphonenya Nuria berbunyi dan Nuria kemudian langsung mengangkat teleponnya.

“Heh, lu dimana kampret!” Teriak Alena di dalam handphonenya

“Sabar Alena gue lagi beli sesuatu dulu nih?” Ucap Nuria

“Ih, jangan lama-lama keburu tugas kita nggak kelar nih!” Jawab Alena ngomel-ngomel di handphonenya

“Iya, ini sebentar lagi kelar kok. Ow iya kalian dimana?” Ucap Nuria

“Gue sama Fatimah di meja paling pojok taman kantin ya, kita tunggu disini!” Jawab Alena

“Oh, iya oke-oke.” Jawab Nuria sambil mematikan handphonenya.

Selang beberapa menit kemudian, Nuria mematikan handphonenya, dia langsung menuju ke kantin dan mencari meja tempat teman-temannya menunggunya.

Nuria terlihat tersenyum dari jauh menuju Alena dan Fatimah yang sudah menunggunya lama di tempat itu.

“Lama banget sih lu Nuria!” Ucap Fatimah dari jauh

“Iya lu dari mana saja sih Nuria, tiba-tiba ngilang saja di belakang gue?” Sahut Alena

“Sorry teman-teman, tadi gue beli seblak dulu. Kebetulan kalian gue beliin nih!” Ucap Nuria sambil membuka bungkusan seblak untuk teman-temannya

“Tumben lu punya duit? Biasanya kan nggak pernah modal.” Ucap Alena

“Iya dong punya, masak iya mau nggak modal terus sih! Apa kata dunia!” Jawab Nuria

“Halah besok-besok juga nggak modal lagi!” Jawab Alena

“Ah…., udah jangan dibahas masalah duit. Mending kalian makan dulu nih seblaknya masih anget!” Ucap Nuria sambil membukakan seblak untuk teman-temannya

“Wah, mantap banget nih! Pas banget gue juga sudah lapar nih?” Ucap Alena dengan wajah bahagia ditraktir seblak oleh Nuria

“Iya Alena, pinter banget deh Nuria kalau masalah makanan mah nomor satu!” Ucap Fatimah sambil ketawa terbahak-bahak

“Hahaha iya dong, ya sudah kita makan dulu biar pas ngerjain tugasnya bisa fokus dan serius!” Pinta Nuria

“Oke deh!” Jawab Fatimah.

Mereka bertiga kemudian makan seblak yang dibeli Nuria sebelum lanjut mengerjakan tugas dari ibu Bella.

Setelah selesai makan seblak, mereka pun segera mengerjakan tugas dari ibu Bella karena nanti sore akan dikumpul tugasnya dan dinilai oleh ibu Bella.

Akhirnya karena keseriusan dan kekompakan mereka, tugas yang diberikan oleh ibu Bella sudah selesai dikerjakan dan saat ini mereka bisa menghela nafas dengan lega.

“Akhirnya selesai juga tugas kita!” Teriak Fatimah dengan wajah yang bahagia

“Iya nih, alhamdulillah padahal tadi aku kira kita nggak bakal bisa menyelesaikan tugas ini, ternyata kalau kita kompak dan serius bisa juga ya!” Ucap Alena

“Iya bener banget itu Alena, intinya kekompakan dan kerjasama.” Sahut Nuria

“Iya bener banget itu.” Jawab Alena.

“Iya sudah yuk masuk ke kelas lagi kita siap-siap belajar lagi.” Alena mengajak Nuria dan Fatimah ke kelas 

“Oke ayo.” Ucap Nuria

“Siap!” Jawab Fatimah.

Mereka bertiga kemudian melangkahkan kakinya menuju kelas untuk mendapatkan materi pelajaran lagi.

Dengan hati yang gembira, Alena akhirnya sudah lega bisa mengerjakan tugas yang diberikan ibu Bella tepat waktu.

                                   *****

1
Ibnu Muhammad
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!