Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.
follow ig: @rohidbee07
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai Sari Ringgung
Pernah aku berpikir adakah yang lebih indah dari pemandangan pantai Sari Ringgung ini. Aku langsung menuju kepadamu Andira. Entah pikiran apa, yang membuat aku membandingkan ciptaan Tuhan yang berbeda ini menjadi satu pandanganku. Sudut pandanganku tertuju ke alam untuk mewakili keindahan wujudmu. Ritma alam yang indah tergambarkan oleh bibirmu, matamu serta juga rambutmu yang surai hitam memanjang. Menurut orang lain bahkan dirimu pun bertanya-tanya, apa hubungannya keindahan pantai dengan semua anggota tubuhmu. Jawabannya sederhana karena Tuhan selalu menciptakan apa pun di muka bumi ini sama yaitu sama-sama indahnya. Seiring waktu kamu berhenti mencoba memahami mengapa aku orang yang seperti itu. Sebaliknya, kamu tidak sepenuhnya menerima untuk apa yang aku tunjukkan secara konsisten kepadamu dan kamu secara bersamaan mengarahkan perhatianmu pada apa yang sebenarnya penting Andira. Realitas yang menjadi sangat jelas adalah bahwa tidak semua orang bisa paham dengan bahasa cinta.
***
"Woy ... Han. Lu liat Andira kagak? Malah bengong di sini," ucap Ami memecahkan lamunanku di taman kampus.
"Hah, apaan? Gua enggak dengar, Mi."
"Makanya pagi-pagi jangan bengong pe'a! Lu liat Andira kagak?"
"Kagak tuh, Mi. Lah gimana sih 'kan lu temannya. Masak enggak ketemu sih, gua aja dari pagi belum liat pacarlu dan Raka."
"Dihh, apaan sih, Han. Pake bawa Rohid segala, kagak jelas dah."
"Lah faktanya cowok lu dia, Ami. Masak, iya, gua ledekin lu pacarnya Raka bisa salah paham."
"Lah, lagian si Raka itu bukannya udah punya pacar?"
"Kalau belum memangnya kenapa? Mau lu pacarin juga, Ami? Rakus banget, lagian Raka juga Playboy, jadi cocok lu ha-ha."
"Ah makin ngaco lu, Han. Udah ah gua mau ke kantin cari Andira. Kok Andira mau, ya, pacaran sama lu."
"Biarinlah memang gua ganteng, Mi. Makanya, Andira mau sama gua."
"Najis ... Han. Pede amat lu! Gua tuh nyariin Andira mau buat acara gitu sama dia dan anak-anak."
"Acara apaan, siapa yang mau nikahan, Ami?"
"Liburan lah healing gitu, Han. Iya, kali hajatan sunatan lu. Lagiankan kita liburan semesteran, kita liburan bareng sama pacar kita masing-masing dong."
"Ceilah pacar, siap si paling punya pacar ha-ha," kelakarku menggoda Ami.
"Seriusan dikitlah, Han. Lu setuju kagak? Kalau kita liburan, hitung-hitung ngilangin stres selesai ujian semesteran."
"Iya, dah iya maaf, Ami. Gua bercanda tadi! Lah emang rencana mau liburan ke mana?"
"Menurut lu tempat destinasi yang bagus di mana? Lu 'kan tahu tempat-tempat bagus. Lu katanya terkenal anak indie, si paling siluet senja ha-ha," kelakar Ami meroastingku dan menepuk bahuku.
"Iya, enggak begitu juga konsepnya, Ami. Gimana kalau kita ke Gunung?"
"Ah, ogah ribet dan capek naik gunung, Han. Lu gimana sih, udah tahu wanita enggak semua kuat naik Gunung pe'a."
"Lah mana gua tahu, lagian keren pemandangannya, Ami. Lu mah aneh healing enggak mau ribet. Iya, udah ke pasar aja."
"Dih, monoton banget ke pasar, yang lain kenapa, Han!"
"Iya udah dah terserah lu, Mi. Gua sih ada gambaran ke pantai aja gimana?"
"Tumben otak lu encer, Han. Nah, gitu kenapa dari tadi ke Pantai cocok. Jadi mau kapan kita berangkat?"
"Besok lusa aja gimana?"
"O—oke nanti gua ajak Andira dan sepupu gua. Kira-kira Rohid mau kagak, Han"
"Pokoknya beres, Ami. Dia mah ngikut, kalau kawannya ngajak. Jarang banget dia nolak, terus sepupu lu siapa?"
"Rahasia pokoknya dia cewek dan ingat lu udah punya pacar. Gua aduin Andira lu, Han!"
"Sembarangan amat lu, Ami! Nanti, dia salah paham sama gua, kalau sepupu lu cewek, gua bisa ajak Raka. Raka 'kan jomblo, cuma gua enggak begitu percaya sih dia susah ditebak."
"Bercanda gua, Han. Pokoknya beres lu ajak aja si Raka. Iya, udah gua mau cabut! Gua mau cari Andira sekalian ngomongin ini."
"O—oke deh mantap."
Saat hari itu pun kita telah selesai berdiskusi dan sudah mantap untuk berlibur ke destinasi tersebut. Sebenarnya, liburan ke mana pun hanya akan menghilangkan masalah sementara, tetapi setidaknya mampu mengurangi impact negatif di dalam kepalaku dan kawan-kawan kampus. Kita paham sekali menambah imun tubuh diperlukan banyak biaya, untung di saat kawan-kawan mengajak liburan aku masih memiliki uang hasil penjualan bukuku dan setidaknya aku mandiri kali ini tidak meminta dengan orang tua.
Pantai Sari Ringgung merupakan salah satu tempat wisata pantai favorit masyarakat Lampung. Selain lautnya yang masih bersih, lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Kota Bandar Lampung. Jarak dari Kota Bandar Lampung, ke Pantai Sari Ringgung sekitar 14 Kilo—meter, atau bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit melalui jalur darat. Jika aku ingin berkunjung ke sana, kuusahakan untuk tidak mengambil hari libur. Apa lagi pada saat acara tahun baru atau hari libur besar lainnya. Pengalaman orang-orang berkunjung pada saat libur tahun baru, jalannya sangat ramai dan macetnya luar biasa. Saking macetnya, butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke pantai. Akses jalan terbilang sempit, hanya cukup untuk lewat dua mobil berjejer saja. Pada saat padat-padatnya kendaraan, apa lagi mobil sangat sulit untuk menuju pantai tersebut. Hari minggu pun sering sekali ramai. Jika kita mempunyai hari libur di hari sabtu, lebih baik berlibur ke sana di hari sabtu, karena anak-anak belum libur sekolah sehingga jalan tidak akan seramai di hari minggu. Aku cukup takjub dibuatnya, ternyata pulau Sumatera tak kalah indahnya dengan pulau lainnya.
***
Hari itu pun tiba Andira untuk kedua kalinya kita menjadi sepasang kekasih berlibur ke sini. Tentu selama dua tahun kita bersama, kita tidak pernah sering pergi liburan sejauh ini. Kamu pasti tahu aku tidak terlalu cukup memiliki uang waktu itu, sebab aku tidak memiliki penghasilan. Aku tahu itu adalah masa-masa sulitku, aku bahkan rela menabung dulu untuk bisa mengajakmu kencan Andira dan terlihat jelas di matamu terpancar kebahagiaan, kamu sangat menikmati momen ini dan bisa jadi tidak akan terulang kedua kali.
Aku tidak bosan-bosan memandangi wajahmu terutama matamu itu. Andira kamu tahu, berapa banyak menit yang telah kita habiskan selama ini. Jika kamu tidak tahu, sudah jelas aku tidak juga ingin tahu. Karena, memang aku tidak menyukai hitungan-hitungan. Aku sangat membenci sekali pelajaran matematika, menurutku terlalu rumit dan menguras pikiran dan kita terlalu muda untuk bisa memiliki rambut memutih hanya karena sibuk menghitung beberapa menit yang telah kita lewati bersalah..
"Woy ... a—ayo berenang! Pacaran mulu, katanya ke sini mau liburan,"" teriak Ami dari kejauhan mengajak kita lebih dekat ke pantai.
"I—iya nanti gua nyusul, Ami. Bocah bawel amat kaya burung kutilang," sahutku membalas ledekannya.
Aku beranjak dari tempat duduk kita. Aku langsung menarik tanganmu menuju pantai dan mengajakmu berlari. Mengajakmu ke tempat yang kujadikan diksi dalam cerita kita nanti. Aku telah berpartisipasi dalam hidupmu, mewarnai hidupmu dan menjadi kekasih sekaligus teman terbaikmu. Menarik tanganmu sama saja menarik masa depanku lebih cepat, walau kenyataan tidak semudah itu. Aku harus berjuang lagi, sebagai pria yang kamu andalkan dan kamu banggakan. Kenyataannya tidak seperti itu, bahkan mengajakmu ke tempat ini kamu rela menunggu cukup lama untuk merasakannya.
Kamu harus menungguku bertahun-tahun dan aku ingat sekali, waktu itu kamu memberikan kode untukku. Kapan akan mengajakmu ke tempat yang indah dan mendamaikan hati itu. Aku selalu mencoba mengalihkan pembicaraan, aku tidak bisa menjawabnya waktu itu Andira. Maka izinkanlah saat ini aku menjawab semua ini di hari, di mana aku bisa membawamu ke tempat yang kamu selalu impikan dan inginkan. Andira maaf membuatmu menunggu, semoga masih ada banyak rasa sabarmu untukku. Seandainya, kamu tahu aku ingin sekali menyerupai lampu, yang menerangi setiap kegelapanmu. Meskipun, kamu nanti malah memilih mencari sumber cahaya yang lain.
"Sebenarnya, kamu tidaklah secerewet yang kubayangkan selama ini. Kamu hanya takut tidak pernah didengar olehku bukan?"
-Rohid Bachtiar
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?