Dijual oleh ibu tiri ke pada seorang duda kaya berumur 40 tahun tidak serta merta membuat Citara bahagia.
Kekejaman pria beranak dua itu menjadikan Citara sebagai pelampiasan hasratnya.
Sampai sebuah fakta mengejutkan diketahui oleh Citara. Jika, pria yang dinikahinya bukan pria biasa.
Sisi gelap dari pria itu membuat Citara menjulukinya dengan sebutan Monster Salju. Pemarah, dingin, misterius dan mengerikan.
Akankah Citara mampu meluluhkah hati ayah dan anak itu? Simak kisahnya hanya di "Pelampiasan Hasrat Suami Kejam "
Author : Kacan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHSK 18
Malam telah tiba. Seperti yang dikatakan oleh Varen jika hari ini ia akan membawa Citara ke sebuah tempat yang akan membuat wanita itu tidak berani kabur lagi.
Saat ini Varen sudah siap dengan pakaiannya yang rapi seperti biasa, tentu lagi-lagi kemeja hitam yang menjadi outfit pria berumur 40 tahun itu.
Varen masuk ke dalam kamar Citara tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu melangkah masuk, ia tidak mendapati keberadaan Citara di tempat tidur.
Pria dengan julukan monster salju itu menduga jika Citara berada di dalam walk in closet.
Seperti dugaan pria itu, Citara memang sedang berada di walk in closet dalam keadaan setengah naked.
"Kau mencoba menggodaku rupanya," kata Varen yang mengagetkan Citara.
Wanita itu terkejut, dengan reflek Citara menyilangkan tangan di depan dada untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan segitiga dan kacamata penutup asetnya.
"Tidak, Tuan. Saya tidak sedang menggoda." Kepala Citara menggeleng kuat.
Jantung Citara berpacu semakin cepat saat Varen semakin mendekat dan menipiskan jarak di antara mereka.
"Cih! Wanita memang munafik," cibir Varen diiringi decihan.
Citara tidak perduli dikatakan munafik oleh suaminya, yang terpenting baginya saat ini adalah tidak dijamah oleh Monster Salju yang amarahnya selalu meledak meletup.
"Pakai baju yang tertutup, jangan tunjukan tubuh ini pada siapa pun. Hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya!" ucap Varen penuh penekan.
Glek!
Citara menelan salivanya dengan susah payah, seperti ada yang mengganjal di tengah tenggorokannya.
Apalagi tubuh Varen semakin menghimpit tubuhnya yang membuat dada Citara menepel di dada kekar Monster Salju itu.
"T-tapi semua yang ada di dalam lemari ini baju terbuka, Tuan." Citara berkata dengan mata terpejam kuat. Ia bahkan menahan napas karena tidak ada jarak di antara dirinya dengan Varen.
Tangan Varen menarik pinggang ramping Citara sehingga membuat tubuh mereka kian menempel.
Varen mengusap punggung mulus Citara dengan gerakan menggoda.
Tubuh Citara merinding dibuatnya, kaki wanita itu terasa lemas saat tiba-tiba Varen mere-mas aset belakangnya berulang kali.
"Hentikan, Tuan." Citara menekan dada Varen, berusaha mendorong tubuh tegap dan tinggi itu.
Namun, kekuatan Varen tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh Citara.
Hal yang paling dibenci oleh Citara adalah lagi-lagi ia hanya bisa pasrah diperlakukan sesuka hati oleh Monster Salju yang menempel di tubuhnya.
Memasrahkan diri saat tangan kekar berurat itu menjelajah ke sana dan ke mari, mempermainkan titik sensitif yang ia punya.
"Aku sudah membeli pakaian tertutup untukmu, periksa lemari yang satunya," ucap Varen setelah puas memainkan inti tubuh istrinya.
Kaki Citara terasa seperti jelly yang bergetar kala digerakkan.
"Cepat! Jangan membuatku menunggu!" tuntut pria itu.
Kepala Citara mengangguk patuh, walau dalam hati ia ingin berteriak kencang dan memaki pria yang merupakan suaminya. Apa pria itu tidak sadar jika perbuatannya lagi yang membuat semua jadi lebih lama.
Namun, Citara hanya mampu mengatakan itu dalam hati, ia tidak berani mengeluarkan isi hatinya di depan Monster Salju yang tidak ounya hati itu.
Citara berjalan dengan kaki gemetar ke lemari yang satunya, benar yang dikatakan oleh Varen, lemari itu berisi banyak pakain layak di banding dengan isi lemari yang satunya.
Entah kapan pria kejam itu membeli semua pakaian ini, apa mungkin ketika ia tertidur di waktu siang? Pikir Citara.
"Jangan melamun!" sentak Varen.
"I-iya, Tuan." Citara tersadar dan segera mengambil kemeja lengan panjang dengan celana casual yang tanpa disadari oleh wanita itu warna yang dipilihnya senada dengan yang dikenakan oleh Varen.
Citara mengenakan pakaian itu dengan terburu-buru, jangan sampai Monster Salju itu kembali mendesaknya.
Varen bersedekap dada sambil memperhatikan penampilan Citara.
"S-sudah, Tuan." Citara menundukkan kepala seraya mendekat ke arah suaminya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Varen keluar dari ruangan itu, Citara turut mengikuti langkah suaminya yang lebar.
Citara tertinggal beberapa langkah dari suaminya, hal itu disadari oleh Varen.
Varen membalik badannya dan menatap Citara dengan kilatan marah.
"Kenapa kau lambat sekali!" hardik Varen.
Citara terhenyak dibentak secara tiba-tiba. "M-milik saya masih terasa sakit, Tuan." Kepala wanita itu tertunduk takut.
Varen tidak menerima pembelaan diri, ia menarik lengan Citara agar langkah wanita itu seimbang dengan langkahnya.
Citara menggigit bibir—menahan perih di bagian inti tubuhnya, apa pria itu lupa jika miliknya baru saja diobrak-abrik oleh jari pria itu sampai perihnya kembali bertambah dan menyulitkannya untuk berjalan cepat.
"Tuan jangan seperti ini. Sakit sekali." Citara hampir terjatuh dibuat Varen.
Namun, Varen tidak menghiraukan keluhan istrinya, ia tetap saja berjalan dengan langkah lebar melewati beberapa penjaga yang sedang berjaga.
Citara sedikit bernapas lega saat sudah berada di dalam lift, mata Citara menatap lengannya yang masih digenggam kuat oleh suaminya.
"Tuan, saya mohon jangan tarik saya seperti ini." Citara mengiba, berharap Varen mau melepaskan cekalan itu dari tangannya.
"Kau tidak punya hak atas tubuhmu sendiri, tubuh ini milikku jika kau lupa!" Varen berkata dengan sangat tajam.
Kalimat Varen menampar Citara dengan kenyataan jika Varen bisa berbuat sesuka hati pada tubuhnya karena Citara tidak lagi memiliki hak atas tubuhnya sendiri.
Wanita itu terdiam sejenak dan kembali meringis saat pintu lift terbuka, sebab Varen menarik tangannya seiring dengan langkah kaki lebar Monster Salju itu yang menyeretnya untuk ikut.
Sampai di depan pintu utama mansion, terlihat sosok Arya sudah siap sedia menunggu tuannya.
"Panggil supir, malam ini aku akan membawanya ke markas," titah Varen pada Arya.
"Baik, Tuan." Detik itu juga Arya langsung melaksanakan perintah tuannya.
Hanya dalam waktu singkat Arya sudah kembali ke hadapan Varen.
"Mobil sudah siap, Tuan," lapor Arya.
Varen kembali menarik lengan istrinya, membawa wanita itu menuju mobil yang sudah menanti untuk dinaiki.
Sementara itu Arya mengikuti langkah tuan dan nyonya-nya dari belakang.
Supir yang melihat kedatangan sang tuan segera membukakan pintu, baik untuk Varen maupun Citara.
Keduanya masuk dan duduk di kursi tengah, sedangkan Arya duduk di kursi depan bersama supir.
Citara mengusap pergelangan tangannya yang baru terbebas dari cekalan si Monster Salju.
Resah dan gelisah melanda perasaan Citara. Ia ingat saat Varen mengatakan akan membawanya ke markas pada Arya.
Markas apa yang dimaksud oleh Monster itu? Sungguh Citara tidak mengerti.
Disepanjang perjalanan wanita itu hanya bisa berdoa. Kata-kata Varen yang mengatakan jika ia tidak akan lagi berani kabur setelah ini membuat perasaannya tidak tenang.
"Tempat apa yang akan aku datangi," ucap Citara dalam hati.
Bersambung ....
Apa yang akan dilakukan oleh Varen? Untuk apa Varen membawa Citara ke markas?