"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Aku Bukannya Peduli
Keenan menghentikan langkahnya kala suara Clara memanggilnya. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Clara yang menatapnya.
“Ada apa?“ tanya Keenan dengan nada dingin.
Clara turun dari ranjang dan langsung menarik tangan Keenan. Keenan langsung terkesiap dengan tarikan yang tiba-tiba itu.
“Hei, kenapa kau tiba-tiba menarikku sih?“ protes Keenan
Bukannya menjawab, justru Clara mendorong tubuh Keenan untuk duduk di sofa. Sedangkan dirinya beranjak ke arah meja riasnya dan mengambil kotak obat di sana. Setelah mendapatkan kotak obat itu, Clara berjalan kembali menuju Keenan dan duduk di samping pria itu.
“Buka bajumu,” ucap Clara
Keenan melebarkan matanya atas perkataan Clara itu. “A-Apa?! Bu-Buka baju?! Tapi, untuk apa?“ tanya Keenan dengan tatapan heran.
Clara menghela napas kasar. Dia tak ada waktu lagi untuk mendengar komentar pria itu. Dengan cepat ia melepaskan kemeja pria itu hingga membuat kacing-kacing kemeja itu berserakan.
“H-Hei, kenapa kau melakukan ini, Clara?! Ka-Kalau kau ingin melakukannya, ki-kita bisa pelan-pelan, okey. Ke-Kenapa kau jadi agresif begini?!“ tanya Keenan yang sungguh terkejut karena mengira Clara ingin melakukan hal ‘itu’ dengannya.
Kemeja itu dilempar sembarang arah oleh Clara. Keenan masih ingin melihat apa yang ingin dilakukan oleh Clara.
Clara menariknl lengan Keenan hingga membuat pria itu meringis kesakitan karena lengan yang ditarik itu adalah lengannya yang terluka.
“Sakit bukan? Kenapa tak langsung diobati?“ protes Clara dengan alisnya yang terlihat menukik.
Keenan terpaku dengan perkataan Clara. Ia berpikir Clara ingin....
Akhhh! Sial! Dia benar-benar malu berpikir jika Clara ingin melakukan hal ‘itu’ dengannya.
“I-Itu, ini tak sengaja....“
“Ini bekas luka sayatan benda tajam bukan? Dari kelihatannya, ini dari pisau kan?“ duga Clara melihat luka Keenan.
Keenan tertegun mendengar hal itu. Bagaimana bisa Clara sangat tahu sampai sedetail itu?
“Kenapa kau tau?“ tanya Keenan
“Hmm, bisa dibilang karena aku sering menonton film bergenre thriller. Makanya aku tau,” jawab Clara
Clara membuka kotak obat dan mulai mengobati luka Keenan. Keenan meringis pelan kala luka itu terkena oleh obat merah. Ia melihat bagaimana Clara begitu telaten mengobati lukanya itu. Membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Membuat senyuman tak sadar nampak di wajah tampannya itu.
Clara meraih perban dan mulai memperban luka yang sudah ia obati itu.
“Nah, sudah selesai. Dengan begini, lukamu tak akan infeksi,” ucap Clara yang membersihkan bekas yang berserakan.
“Te-Terima kasih,” ucap Keenan dengan nada agak gugup.
“Sama-sama!“ balas Clara yang beranjak untuk menaruh kotak obat itu di tempat asal.
“Kenapa kau bersikap perhatian gini denganku? Bukankah kau mau kita hanya mengurusi urusan masing-masing?“ tanya Keenan
Clara membalikkan tubuhnya menghadap Keenan.
“Aku bukannya perhatian. Aku tak bisa melihat orang terluka di dekatku. Jika itu bukan dirimu pun, aku tetap akan menolong orang itu. Jadi jangan menganggap aku perhatian. Seperti katamu tadi juga, jika kau terluka seperti ini, pastinya Papa dan Mama akan khawatir,” lapar Clara
Keenan menundukkan sedikit kepalanya. Ia tersenyum miris. Kenapa rasanya ia tak rela mendengar jawaban seperti itu dari mulut Clara? Rasanya saat ia sudah terbang tinggi, ia dijatuhkan ke dasar tanah dengan keras.
Keenan bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Clara. Sontak Clara menundukkan wajahnya karena tak ingin melihat Keenan yang bertelanjang dada di hadapannya. Karena hal itu cukup tak menyehatkan detak jantungnya.
Keenan mengangkat dagu Clara hingga wanita itu menatap tepat ke arah wajahnya. Bisa dibilang jika Clara saat ini sangat gugup ditatap seperti itu. Tapi ia tak mau menunjukkan hal itu.
Keenan memiringkan wajahnya. “Thank you for the medical service. I quite like the way of service,” bisik Keenan tepat di telinga Clara.
Clara melebarkan matanya atas apa yang dikatakan oleh Keenan. Keenan menjauhkan wajahnya. Tanpa disangka oleh Clara ketika Keenan tiba-tiba mencium pelan pipinya.
“For your service,” ucap Keenan seraya berlalu dari hadapan Clara.
Clara memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Keenan. Jantungnya berdegup semakin kencang saat ini.
“Oh ya, aku lupa kasih tau sesuatu,” celetuk Keenan yang membuat Clara langsung menoleh ke arahnya.
“Karena kau sudah merobek kemejaku itu, kau harus menjahitnya kembali yah. Jangan sampai kancingnya berkurang atau kau ganti dengan yang lain. Aku mau besok sudah ada di kamarku,” jelas Keenan kembali berlalu dari hadapan Clara.
Clara melebarkan mulutnya atas apa yang dikatakan oleh Keenan.
“Ba-Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu?! Apa dia tak bisa berterima kasih padaku yang sudah mengobati lukanya?! Dia malah menyuruhku untuk menjahit kemejanya itu. Dia kan pasti punya banyak kemeja di lemarinya. Untuk apa aku menjahitnya. Cih, biarin aja. Lebih aku kembali tidur,” protes Clara yang berjalan ke arah ranjangnya dan menidurkan dirinya di sana.
Sedangkan di lain sisi, tepatnya di kamar Keenan. Terlihat pria itu yang sedang duduk di ranjangnya dan terus melihat ke arah lengannya yang diperban itu. Senyum lebar terbit di wajahnya.
“Dia benar-benar lucu dan cukup polos yah. Bagaimana bisa aku berpikir jika Clara ingin melakukan hal ‘itu’ denganku? Tapi, dia cukup pintar untuk tau jika luka ini adalah luka bekas sayatan pisau. Entah dia benar-benar memperbaiki kemeja itu atau tidak. Aihh, sebaiknya aku tidur saja,” gumam Keenan yang membaringkan tubuhnya di ranjang.
Pintu sebuah kamar terbuka dan terlihat sosok Clara yang memasukinya. Ia berjalan ke arah ranjang dan menaruh sesuatu di sana.
“Nah, aku sudah menyelesaikannya. Dia tak bisa protes lagi padaku,” gumam Clara seraya beranjak keluar dari kamar itu.
Tak lama setelah Clara keluar, terlihat sosok Keenan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Di kepalanya terlihat handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
Langkah Keenan terhenti kala melihat sesuatu di ranjangnya. Ia berjalan ke arah ranjangnya dan melihat sebuah kemeja berwarna biru muda di sana. Senyum tipis terbit di wajahnya.
“Ternyata dia benar-benar menjahitnya. Aku pikir dia tak akan melakukannya dan akan langsung membuangnya. Padahal aku sudah bisa membayangkan akan berdebat dengan wanita itu. Dia bahkan menaruh pengharum di kemejaku ini,” gumam Keenan yang terus menghirup aroma di kemejanya itu.
Ia membawa kemeja itu menuju ruang ganti dan segera bersiap untuk bekerja.
Sedangkan di lantai bawah, terlihat Clara yang sedang membuat sandwich yang biasa ia buat jika sedang malas masak. Bukan tanpa alasan ia malas masak, itu dikarenakan ia harus begadang untuk menjahit kemeja milik Keenan.
Padahal harusnya ia tak usah repot-repot untuk menjahitnya. Kalau perlu, mending ia buang saja kemeja itu. Keenan bukan pria yang akan kekurangan kemeja jika ia membuangnya satu. Tapi, entah mengapa tangannya bergerak untuk menjahit kemeja itu. Bahkan, ia harus teliti untuk mencari kancing-kancing yang bertebaran itu. Sungguh, itu benar-benar merepotkan!
Bukan! Tentu saja Clara tak merasa ia perhatian. Hanya saja ia tak ingin banyak berdebat dengan pria itu.
Suara sepatu pantofel terdengar menuruni tangga. Tentu saja itu adalah Keenan yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
Clara terpaku menatap pria itu. Bukan! Bukan karena ketampanan pria itu, melainkan setelan yang dikenakan pria itu. Bukankah itu adalah kemeja yang baru saja ia jahit? Kenapa Keenan malah mengenakannya langsung? Harusnya dicuci dulu bukan? Walaupun ia sudah menaruh pengharum di sana.
Keenan berjalan mendekati meja makan dan bersitatap dengan Clara yang baru saja menaruh sepiring sandwich di sana. Keenan yang tanpa pikir panjang langsung saja mengambil sandwich itu dan memakannya.
Hal itu membuat Clara langsung memandang terkejut padanya. “Hei, kenapa kau mengambilnya? Itu milikku tau,” protes Clara
“Hm? Aku pikir kau membuatkannya untukku,” timpal Keenan dengan wajah tanpa bersalahnya itu.
“Siapa yang membuatkannya untukmu? Dasar!“ keluh Clara
Keenan tak mendengarkannya. Ia sibuk mengunyah makanan yang dibuat Clara itu. Clara menghela napas kasar. Ia menarik tangan Keenan untuk duduk di kursi.
“Kalau makan itu harus duduk. Kau mau lambungmu jadi sakit karena makan sambil berdiri? Apa kau tak tau juga jika dalam agama Islam dilarang untuk makan sambil berdiri?” protes Clara sambil melipat kedua tangannya di dada.
Keenan tertegun dengan penjelasan Clara. Baru kali ini ia dinasehati seperti ini. Bahkan orang tuanya pun tak ada yang menasehatinya seperti ini. Hal itu membuat hati Keenan jadi senang, entah mengapa.
“Terima kasih atas saranmu. Aku akan mendengarkannya,” balas Keenan yang kembali fokus pada makanannya.
“Kenapa kau mengenakan kemeja ini? Bukankah kau sudah mengenakannya kemarin?” tanya Clara yang sudah penasaran sejak tadi.
Keenan langsung menatap ke arah Clara.
“Kau mau tau alasannya?” tanya Keenan menatap Clara dengan senyum misterius.