Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Di Gerbang Hijau Bab 14: Goresan Pena Di Balik Badai
Sore itu, langit di atas desa berubah menjadi kanvas kelabu yang muram, dicoreng oleh gumpalan awan hitam yang berat. Angin bertiup kencang dan dingin, membawa aroma tanah basah sebuah janji alam akan turunnya hujan lebat.
Ibu baru saja kembali dari pasar. Langkah kakinya dipercepat oleh ancaman badai yang kian nyata. Ia memegangi topi capingnya erat-erat agar tidak terbang terbawa angin yang menderu. Ia tiba di depan pintu rumah kayu panggung mereka bertepatan dengan Ayah, Valaria, dan Raka yang baru saja kembali dari sawah. Tubuh mereka tampak letih, dibalut debu dan lumpur kering yang mulai mengeras, namun ada binar puas di wajah mereka setelah menyelesaikan tugas menanam bibit padi.
"Cepat masuk! Hujannya sebentar lagi tumpah!" seru Ratri, sang Ibu, dengan nada tegang.
Mereka bergegas menaiki tangga rumah. Begitu semua kaki berpijak di dalam, hujan turun dengan derasnya. Suara air yang menghantam atap seng tua menciptakan irama gemuruh yang memekakkan telinga, seolah ribuan kerikil jatuh dari langit secara bersamaan.
Valaria berdiri di dekat jendela kaca yang mulai berembun. Di luar sana, hujan membentuk tirai tebal yang memutus pandangan ke dunia luar. Hawa dingin mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu, membuat kehangatan di dalam rumah terasa seperti kemewahan yang tak ternilai harganya.
Ayah dan Ibu duduk berdampingan di balai-balai kayu. Mereka diam, menatap ke arah jendela dengan sorot mata penuh perenungan. Dalam kesunyian itu, seolah mereka sedang menghitung tantangan hidup yang akan datang: tentang panen yang harus berhasil, hutang yang harus dilunasi, dan kebutuhan yang tak pernah berhenti menuntut. Ada ketenangan yang lahir dari kebersamaan, sebuah ikatan tanpa kata-kata yang menguatkan mereka.
Di sudut ruangan yang lebih terang, Raka menarik ujung baju Valaria, memecah lamunan kakaknya.
"Kak, ayo kita hitung lagi! Aku sudah hafal yang kemarin!" seru Raka penuh semangat.
Valaria tersenyum. Ia mengambil batu-batu kecil yang tadi mereka kumpulkan dari pinggiran sawah. Baginya, batu-batu ini adalah alat peraga yang berharga; mereka bisa melambangkan kacang-kacangan, ayam, atau apa pun yang bisa dihitung di desa ini.
"Tiga batu ditambah dua batu. Jadi, totalnya ada...?" tanya Valaria lembut.
"Lima!" jawab Raka bangga, matanya berbinar.
Valaria mengangguk tulus. "Pintar. Lihat, Raka. Angka itu bukan hanya soal hitungan di atas kertas. Angka itu mengatur hidup kita. Kalau kita pandai menghitung, kita akan tahu mana yang membawa untung dan mana yang membawa rugi. Jangan biarkan orang lain mencurangi hitunganmu nanti."
Sambil mendampingi Raka, pandangan Valaria beralih pada Ibunya yang sedang duduk menekur, menjahit kemeja Raka yang koyak. Jemari Ibu sangat terampil. Ia menambal kain yang sudah lusuh itu dengan benang yang warnanya dipilih sedemikian rupa hingga nyaris tak terlihat bedanya.
Melihat ketekunan itu, insting Valaria sebagai mantan desainer ternama di kehidupan sebelumnya mulai berdenyut. Ia melihat lebih dari sekadar tambalan; ia melihat potensi tekstil, struktur kain, dan peluang ekonomi.
"Ibu," panggil Valaria pelan di sela deru hujan.
Ibu mendongak, matanya sedikit menyipit karena kelelahan menatap lubang jarum yang kecil. "Ya, Nak?"
Valaria beringsut mendekat. "Kalau di pasar, berapa harga kain yang kualitasnya bagus dan benang yang kuat untuk membuat baju, Bu?"
Ibu meletakkan pekerjaannya di pangkuan, mencoba mengingat-ingat harga di toko kota kecil terdekat. "Kain yang sedikit halus itu sekitar sepuluh ribu rupiah ke atas per meternya, Nak. Benang memang murah, tapi kalau dihitung-hitung untuk satu kemeja utuh Raka, biayanya cukup besar bagi kita. Kenapa kamu bertanya?"
Valaria hanya mengangguk paham tanpa menjelaskan lebih jauh. Pikirannya bekerja cepat bagai mesin hitung. Ia menghitung modal, potensi keuntungan, dan kebutuhan dasar masyarakat desa. Masyarakat mungkin miskin, tapi mereka akan selalu butuh pakaian. Keahlian menjahit Ibu dan bakat desainnya adalah kombinasi maut yang bisa mengubah nasib mereka. Namun, ia tahu ia butuh modal besar untuk memulai itu.
Malam tiba, namun hujan tak kunjung reda. Suara rintik yang konstan menciptakan atmosfer melankolis yang mendalam. Setelah makan malam sederhana, seluruh keluarga bersiap untuk istirahat.
Valaria masuk ke kamar kecilnya yang hanya diterangi cahaya lampu minyak yang bergetar. Di atas meja belajarnya, ia mengeluarkan simpanan kertas dan pulpen barang langka pemberian orang kota yang ia simpan dengan sangat hati-hati. Kertas yang masih kosong itu terasa begitu suci sekaligus berharga.
Dorongan untuk menciptakan sesuatu sangat kuat malam ini. Ia duduk, mendengarkan irama hujan yang menenangkan, dan membiarkan kata-kata mengalir dari hatinya. Ia ingin menyalurkan ide dan observasinya ke dalam bentuk yang bisa menjangkau dunia luar. Ia memutuskan untuk menulis puisi dan syair yang bisa ia kirimkan ke surat kabar atau stasiun radio nasional di kota.
Ia menulis sebuah puisi berjudul, "Pada Pagi yang Menyapa".
Di ufuk timur, mentari menyungging senyum, Membelah kabut yang masih enggan bergeming. Kau bangkit, wahai perempuan desa, Membasuh wajah di dinginnya air mata embun.
Telapak kakimu hafal jalan setapak, Yang mengantar pada ladang yang setia menanti. Tanganmu terampil, merawat tunas-tunas padi, Menyirami janji akan panen yang berlimpah.
Bukan emas yang kau cari, bukan permata, Hanya butiran jagung, hanya singkong di tanah renta. Namun di wajahmu, terpancar ketulusan, Yang lebih berharga dari seluruh harta dunia.
Di senja hari, saat burung-burung pulang, Kau bersenandung, menganyam cerita. Tawa anak-anak menjadi musik di telinga, Menjadi obat lelahmu yang tak terucap.
Kau adalah tiang yang tak terlihat, Yang menyangga langit keluarga. Di balik kesahajaanmu, ada jiwa yang perkasa, Pemberi hidup, penabur cinta, penjaga asa.
Puisi itu adalah sebuah penghormatan emosional untuk Ibunya sebuah pengakuan tulus atas perjuangan tanpa henti yang ia saksikan setiap hari.
Setelah itu, ia beralih ke format yang lebih edukatif namun tetap puitis, terinspirasi dari pelajarannya bersama Raka. Ia memberi judul, "Syair Tentang Angka-Angka".
Dengarlah kawan, sebuah cerita, Tentang angka yang tiada habisnya. Dari satu hingga tak terhingga, Menjadi dasar ilmu di dunia.
Satu dan satu, jadilah dua, Seperti sepasang merpati jelita. Dua dikali dua, empatlah hasilnya, Fondasi kuat membangun rumah tangga.
Kurangi lima dengan dua, Tinggallah tiga, bagai rukun agama. Tambah sepuluh dengan seratus, Maka seratus sepuluh yang tulus.
Angka nol, tiada punya arti, Namun hadirnya beri makna pasti. Di belakang angka, ia berharga tinggi, Jadi penambah nilai, tak terperi.
Berhitung itu bukan hal yang susah, Asal kau tekun, tak mudah menyerah. Setiap angka punya makna dan arah, Menuntun kita pada jalan yang cerah.
Selesai menulis, Valaria membaca ulang karyanya di bawah cahaya lampu yang redup. Hatinya berdebar kencang. Ini adalah senjata barunya. Bukan cangkul, bukan sabit, melainkan pena. Sebuah cara untuk mendapatkan uang tanpa harus melumuri tangannya dengan lumpur setiap saat; sebuah cara untuk menyentuh kehidupan orang lain dengan idenya.
Ia melipat kertas-kertas itu dengan sangat rapi dan menyimpannya di dalam lemari kecil yang paling kering. Itu adalah aset paling berharga yang ia miliki saat ini.