NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 14

Sorenya, langit di atas desa tampak seperti kanvas kelabu yang dicoreng tinta hitam. Angin bertiup dingin, membawa aroma tanah basah yang menjanjikan hujan lebat.

Ratri sudah pulang dari berjualan di pasar, langkahnya dipercepat oleh ancaman hujan akan segera turun. Topi capingnya ia pegang erat-erat agar tidak terbawa angin. Ia tiba di depan rumahnya bertepatan dengan Arjun, Valaria, dan Raka yang kembali dari sawah. Wajah mereka lelah, dipenuhi debu dan lumpur kering, tetapi ada rasa puas di sana setelah menyelesaikan penanaman bibit padi.

"Cepat masuk! Hujannya sebentar lagi tumpah!" seru Ratri, suaranya tegang.

Mereka semua bergegas masuk ke dalam rumah panggung kayu yang sederhana itu. Raka yang paling kecil, langsung meringkuk dekat ibunya.

Tepat semua sudah berkumpul, hujan turun dengan deras. Suara gemuruh air yang menghantam atap seng tua menjadi musik yang memekakkan telinga.

Valaria melihat langit berawan hitam berkumpul di balik jendela kaca yang buram. Hujan turun seolah tak sabar, membentuk tirai tebal yang memutus pandangan ke luar. Tampak hawa dingin terasa, menusuk melalui celah-celah dinding kayu. Kehangatan rumah langsung menjadi tempat perlindungan yang paling nyaman di dunia.

Semua yang masuk ke rumah, mencari posisi ternyaman. Ratri dan Arjun duduk berdampingan di balai-balai kayu, menatap jendela rumah dengan sorot mata yang penuh perenungan. Mereka berdua diam, mendengarkan irama hujan, seolah sedang menghitung tantangan hidup yang akan datang panen yang harus berhasil, hutang yang harus dibayar. Ada ketenangan yang datang dari kebersamaan, sebuah ikatan tanpa kata-kata.

Sementara itu, di sudut ruangan yang lebih terang, Raka langsung menarik perhatian Valaria.

"Kak, ayo hitung lagi! Aku sudah hafal yang kemarin!" seru Raka bersemangat.

Raka bersama dengan Valaria belajar berhitung. Mereka menggunakan batu-batu kecil yang sudah dikumpulkan dari pinggiran sawah. Batu-batu itu berharga; melambangkan kacang-kacangan, ayam, dan apa pun yang bisa mereka hitung di desa.

Valaria mengajarkan pelan-pelan, kesabarannya tak pernah habis. "Tiga batu ditambah dua batu. Jadi ada...?"

"Lima!" jawab Raka bangga.

Valaria mengangguk, senyumnya tulus. "Pintar. Lihat, Raka. Angka itu bukan hanya hitungan. Angka itu mengatur hidup kita. Kalau kita pandai menghitung, kita tahu mana yang untung, mana yang rugi."

Saat Raka sibuk mengumpulkan batunya, pandangan Valaria jatuh pada ibunya yang sedang menjahit pakaian milik Raka yang koyak. Jahitan Ratri sangat rapi, menambal kain yang sudah lusuh dengan benang yang nyaris tak terlihat perbedaannya. Ini bukan sekadar menjahit; ini adalah upaya keras untuk memperpanjang usia setiap helai pakaian yang mereka miliki.

Melihat fokus dan ketekunan ibunya, sebuah ide bisnis yang baru terlintas di benak Valaria.

"Ibu," panggil Valaria pelan, menunggu jeda di antara suara hujan.

Ratri mendongak, matanya sedikit lelah karena fokus pada jarum yang kecil. "Ya, Nak?"

Valaria merangkak mendekat. "Kalau di pasar, Bu... kain yang bagus dan benang untuk membuat baju seperti itu, harganya berapa?"

Ratri meletakkan pekerjaannya di pangkuan. Ia berpikir sejenak, mengingat harga-harga di kota kecil terdekat. "Kain yang sedikit bagus, Nak, sekitar sepuluh ribuan ke atas per meter. Benang tidak terlalu mahal, tapi kalau dihitung-hitung, untuk satu kemeja Raka yang utuh, kita butuh biaya yang cukup besar. Kenapa?"

Valaria tidak langsung menjawab. Ia hanya mengerti dan mengangguk. Pikirannya bekerja cepat, menghitung modal, potensi keuntungan, dan kebutuhan dasar masyarakat desa. Mereka miskin, tetapi mereka selalu butuh pakaian. Keahlian menjahit ibunya adalah modal. Ditambah kain adalah keahlian dia karena dikehidupan sebelumnya ia adalah seorang desainer terkenal.

"Tidak apa-apa, Bu. Hanya bertanya," ujar Valaria. Dia menyimpan ide itu dalam hatinya, membiarkannya berproses.

Hujan yang masih belum reda hingga menjelang waktu malam tiba terasa seperti sebuah penahanan. Suara hujan yang konstan kini menjadi latar belakang yang melankolis bagi rumah tangga itu. Setelah makan malam sederhana, semua beristirahat.

Valaria masuk ke kamar kecilnya. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu minyak yang ditempatkan di meja belajarnya. Ia melihat ada kertas dan pulpen yang ia simpan dari sisa-sisa pemberian dari kota dulu. Kertas yang masih kosong itu terasa berharga.

Dorongan untuk menulis sangat kuat. Valaria duduk, mendengarkan irama hujan yang menenangkan, dan membiarkan kata-kata mengalir. Ia ingin menyalurkan ide, pengetahuan, dan observasinya ke dalam bentuk yang bisa menjangkau dunia luar. Ia memutuskan untuk menulis sesuatu yang bisa dijual ke surat kabar atau, lebih ambisius, dikirim ke radio nasional.

Segera dia menulis sebuah puisi dan cerita yang ia beri judul, "Pada Pagi yang Menyapa."

Ia menulis dengan hati, menggambar potret kehidupan yang ia lihat setiap hari potret Ibunya, Ratri, dan semua perempuan desa lainnya:

"Di ufuk timur, mentari menyungging senyum.

Membelah kabut yang masih enggan bergeming.

Kau bangkit, wahai perempuan desa.

Membasuh wajah di dinginnya air mata embun.

Telapak kakimu hafal jalan setapak.

Yang mengantar pada ladang yang setia menanti.

Tanganmu terampil, merawat tunas-tunas padi.

Menyirami janji akan panen yang berlimpah.

Bukan emas yang kau cari, bukan permata.

Hanya butiran jagung, hanya singkong di tanah renta.

Namun di wajahmu, terpancar ketulusan.

Yang lebih berharga dari harta yang bernama dunia.

Di senja hari, saat burung-burung pulang.

Kau bersenandung, menganyam cerita.

Tawa anak-anak menjadi musik di telinga.

Menjadi obat lelahmu yang tak terucap.

Kau adalah tiang yang tak terlihat.

Yang menyangga langit keluarga.

Di balik kesahajaanmu, ada jiwa yang perkasa.

Pemberi hidup, penabur cinta, penjaga asa."

Puisi itu adalah sebuah penghormatan yang penuh emosi kepada Ibunya sebuah pengakuan atas perjuangan tanpa henti yang ia saksikan setiap hari.

Setelah itu, ia beralih ke format yang lebih mendidik, berdasarkan pelajarannya dengan Raka. Ia tahu, di dunia luar sana, orang-orang membutuhkan hal yang lebih praktis, namun tetap puitis. Ia menulis "Syair Tentang Angka-angka."

"Dengarlah kawan, sebuah cerita.

Tentang angka yang tiada habisnya.

Dari satu hingga tak terhingga.

Menjadi dasar ilmu di dunia.

Satu dan satu, jadilah dua.

Seperti sepasang merpati jelita.

Dua dikali dua, empatlah hasilnya.

Fondasi kuat membangun rumah tangga.

Kurangi lima dengan dua.

Tinggallah tiga, bagai rukun agama.

Tambah sepuluh dengan seratus.

Maka seratus sepuluh yang tulus.

Angka nol, tiada punya arti.

Namun hadirnya beri makna pasti.

Di belakang angka, ia berharga tinggi.

Jadi penambah nilai, tak terperi.

Berhitung itu bukan hal yang susah.

Asal kau tekun, tak mudah menyerah.

Setiap angka punya makna dan arah.

Menuntun kita pada jalan yang cerah.

Mari hitung bintang di langit malam.

Hitung langkahmu menuju impian.

Berhitung ajarkan logika yang tajam.

Hidup teratur, raih kebahagiaan."

Setiap baris adalah ekspresi dari keyakinannya bahwa pendidikan, sekecil apapun itu, adalah kunci untuk mengubah nasib. Ia menulis dengan harapan, dengan semangat yang meluap-luap.

Selesai menulis beberapa puisi dan syair, Valaria membaca ulang karyanya di bawah cahaya lampu yang redup. Hatinya berdebar. Ini adalah senjata barunya bukan pisau, melainkan pena. Sebuah cara untuk mendapatkan uang tanpa harus merusak tangannya dengan lumpur, sebuah cara untuk menyentuh kehidupan orang lain dengan idenya.

Ia melipat kertas-kertas itu dengan rapi dan hati-hati. Valaria menyimpan kertas di dalam lemari kecil di kamarnya, jauh dari jangkauan air atau debu. Itu adalah aset paling berharga yang ia miliki saat ini.

Kemudian, ia berjalan menuju ke jendela kamarnya. Ia menatap ke arah jendela kamar menuju ke luar ruangan. Pandangannya menembus kegelapan, di mana hujan masih belum reda.

Di sana, di tengah suara hujan yang tak putus-putus, Valaria merasakan gairah dan tekad yang baru. Dengan kata-kata ini, ia akan menemukan jalan keluar. Ia akan membuktikan bahwa seorang perempuan desa juga bisa meraih impian yang lebih tinggi, mengurus keluarganya tidak hanya dengan tenaga, tetapi juga dengan kecerdasan dan pena.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Herwanti: terima kasih sarannya. kalau yang baru saja di revisi itu bagaimna.baru tiga bab sih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!