Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abi pulang
Pagi ini Annisa bangun ketika dia mendengar suara adzan. Annisa mengambil air wudhu. Setelah menunaikan sholat subuh, Annisa memeriksa suaminya. Annisa menaikkan selimut Abi dan mengecilkan AC.
Wanita itu tidak tahu ingin melakukan apalagi pagi ini di rumah sakit. Biasanya kalau di rumah dia akan memasak usai sholat subuh. Sesaat kemudian Abizar bangun. "Mas Abi mau minum?" tanya Annisa saat melayani suaminya. Abizar mengangguk.
"Kamu kok udah bangun?" tanya Abizar pada istrinya.
"Aku tidak bisa tidur. Biasanya kalau jam segini aku kan masak," jawab Annisa.
"Duduk sini!" Abizar menepuk tepi ranjang yang kosong di sebelahnya.
"Sempit, Mas. Nggak muat," protes Annisa. Abizar pun bergeser. Annisa duduk di samping suaminya dengan ragu. Tiba-tiba Abizar memeluk perut Annisa. Annisa kaget.
"Mas nanti kalau ada dokter atau perawat yang masuk kan malu," protes Annisa merasa tidak nyaman.
"Sebentar saja!"
"Kenapa sih? Pasti ada maunya ya?" goda Annisa.
"Aku ingin pulang. Nanti bilang sama dokter ya kalau aku sudah sembuh," rengek Abizar. Annisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini seperti anak kecil saja, Mas," ledek Annisa.
"Aku tidak betah berada di sini. Lagi pula seharusnya kita buka kafe mulai hari ini. Gara-gara aku semuanya tertunda," kata Abizar sedikit menyesal.
"Ini di luar rencana kita. Tidak ada yang tahu kalau Mas Abi akan kena musibah seperti ini bukan? Sebaiknya Mas Abi istirahat, sebentar lagi makanan datang. Nanti aku suapi." Abizar menurut kata-kata Annisa.
Ketika jam kunjungan dokter, Abizar mulai berulah. "Dok, saya mau pulang hari ini."
"Belum bisa, Pak. Tangan Anda masih bengkak, tunggu hingga mengempis dulu," jawab Dokter. Abizar terlihat kecewa.
"Obatnya jangan lupa diminum!" pesan dokter itu sebelum keluar dari ruangan Abi. Annisa mengangguk hormat.
Abizar dirawat selama dua hari di rumah sakit. Annisa mencurahkan perhatiannya secara penuh pada Abi. Tak pernah sedetik pun Annisa pergi tanpa izin.
"Alhamdulillah hari ini kita bisa pulang ke rumah," ucap Annisa.
"Nanti kalian mama antar saja," seru Safa.
"Tidak usah, Ma. Kami bisa naik taksi saja," tolak Annisa yang merasa tidak enak.
"Baiklah, terserah kalian. Annisa mama titip Abi ya," pesan Safa pada menantunya.
"Tenang saja, Ma. Annisa sangat pandai menjagaku," sela Abizar.
"Ingat ya Abi, hal semacam ini jangan sampai terjadi lagi," kata Safa memberi peringatan pada anak bungsunya.
"Siap yang mulia ratu," goda Abizar. Safa pamit meninggalkan ruangan anaknya.
Setelah itu Annisa mengemasi barang-barang suaminya. "Kita pulang sekarang ya, Mas." Abizar mengangguk setuju.
Annisa memesan taksi online terlebih dulu. Mereka menunggu di pinggir jalan. Di saat yang bersamaan Raihan melihat Annisa dan Abi sedang berdiri di pinggir jalan. "Kenapa Annisa dan Abi ada di rumah sakit?" gumam Raihan di dalam mobil.
Sementara itu taksi yang dipesan oleh Annisa telah sampai. Annisa dan suaminya masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, Abizar tampak melamun.
"Mas Abi sedang memikirkan apa?" tanya Annisa.
"Ah, tidak. Aku baru kepikiran kenapa waktu itu aku tidak bekerja sebagai driver online saja," ungkapnya agak sedikit menyesal karena mengingat pekerjaan paling rendah yang pernah dia lakukan.
"Apapun pekerjaan Mas Abi, yang penting uang yang Mas Abi berikan padaku itu uang halal." Annisa menasehati suaminya. Abizar merasa bersalah telah menyembunyikan rahasia pada Annisa.
"Meskipun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang menurut kamu tidak masuk akal untuk aku kerjakan?" tanya Abizar pada istrinya. Annisa mengangguk sambil berkaca-kaca. Lagi-lagi dia merasa tidak tega jika mengingat Abi yang sedang memanggul karung berukuran besar.
"Aku percaya Mas Abi hanya ingin yang terbaik untukku." Abizar terharu mendengar ucapan Annisa.
"Terima kasih banyak karena telah percaya padaku," ujar laki-laki yang sebentar lagi usianya genap tiga puluh tahun itu.
Kini mobil taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Saat itu Bu Rohmah dan Bu Siti tengah berada di sana.
"Lho Mbak Annisa dari mana saja? Saya perhatikan rumahnya sepi selama dua hari tiga malam," ujar Bu Rohmah.
"Kami habis dari rumah sakit, Bu. Mas Abi sakit," jawab Annisa. "Maaf, saya mau susul suami saya." Annisa masuk ke dalam rumah setelah suaminya masuk lebih dulu.
"Mas, mau aku buatkan apa?" tanya Annisa.
"Kopi susu dingin ya," perintah Abi.
"Kalau begitu aku beli es batu di warung depan," kata Annisa. Biasanya ada stok es batu di rumah sisa jualannya. Tapi dia tidak pernah menyetok es batu karena mereka tidak memiliki kulkas.
"Kalau begitu tidak usah, sayang. Seadanya saja."
Hati Annisa berdesir kala Abizar memanggil dirinya dengan sebutan sayang. 'Apa pendengaranku salah?' gumam Annisa di dalam hati. Dia senyam-senyum ketika berjalan ke dapur.
Setelah memberikan minuman yang diminta suaminya, Annisa pamitan pergi ke warung sebentar untuk membeli nasi dan lauk pauknya.
"Hati-hati, Nisa," teriak Abi.
Anisa berjalan untuk mencari penjual makanan yang buka siang itu. Kemudian Annisa menemukan sebuah warteg tak jauh dari rumahnya. "Mbak Annisa nggak jualan lagi?" tanya salah seorang warga yang mengenali dirinya.
"Saya harus mengurus suami saya yang baru pulang dari rumah sakit, Bu," jawab Annisa.
"Owh, suaminya sakit apa, Mbak?" tanya salah seorang tetangganya.
"Lengannya terluka ketika bekerja," jawab Annisa memikirkan jawaban yang pas untuk menghindari pertanyaan lain.
"Owh, semoga suaminya cepat sembuh."
"Terima kasih untuk doanya. Kalau begitu saya duluan ya, Bu," pamit Jingga. Annisa berjalan dengan perasaan riang menuju ke rumahnya.
Di jalan dia tak sengaja bertemu Rosmala. "Mbak Mala anaknya kenapa?" tanya Annisa.
"Yang kecil sedang sakit. Saya mau bawa dia ke dokter," jawab Rosmala.
"Owh, kasian sekali. Semoga setelah mendapatkan obat, kamu cepat sembuh ya Dek. Oh ya mbak, secepatnya saya mau buka kafe. Kami udah dapat ruko dan perabotan. Kemungkinan saya akan beroperasi setelah Mas Abi sembuh."
"Baik, Mbak."
Sebelum Rosmala pergi, Annisa memberikan sisa uangnya pada Rosmala. "Mbak, maaf ya cuma bisa kasih segini."
Rosmala berkaca-kaca. "Terima kasih banyak Mbak."
"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya pulang dulu."
Dari kejauhan seseorang mengawasi langkah Annisa. "Aku akan mendapatkan kamu, Annisa."
💛💛💛
Aku punya rekomendasi novel terbaik nih
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁