Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Setelah sampai di rumah Dion, Silvi duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah. Dia merasa sangat ketakutan setelah bertemu dengan Andika. Rasa trauma itu muncul lagi. Kekerasan yang dilakukan Andika terngiang-ngiang di dalam otaknya. Bagaimana jika Andika memaksanya lagi?
"Silvi, sudah, lo jangan takut. Ada gue yang akan selalu jagain lo." kata Dion yang kini juga duduk di sebelah Silvi.
"Gimana kalau Pak Dika maksa gue lagi buat ikut bersamanya. Gue takut banget, Yon." Silvi meremat tangannya sendiri. Dia benar-benar trauma.
"Silvi, ada gue. Gue akan selalu jaga lo." Dion menggenggam tangan Silvi. Dia berusaha memberi ketenangan pada Silvi.
Silvi akhirnya terdiam. Dia kini menundukkan pandangannya. Teriakan Andika tadi masih terngiang di telinganya.
Silvi, bagaimanapun juga kamu masih istri aku.
Silvi menggelengkan kepalanya. "Nggak!"
"Kenapa?" tanya Dion. Kemudian dia usap keringat yang mengalir di pelipis Silvi.
"Dion, sebenarnya gue udah menikah dengan Pak Dika. Sepertinya gue benar-benar gak bisa lepas dari Pak Dika."
Meski kenyataan itu sangat menyakitkan bagi Dion, Tapi dia harus bisa menerimanya. Dia juga sudah tahu kondisi Silvi yang sebenarnya. Toh, Silvi melakukan ini semua karena terpaksa. Tidak ada rasa cinta di antara mereka dan pernikahan itu hanya berdasarkan dari pelunasan hutang semata. "Silvi, lo menikah dengan Pak Dika hanya siri kan?"
Silvi menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, itu tandanya tidak ada ikatan resmi secara hukum antara lo dan Pak Dika."
"Tapi tetap saja Yon, secara agama gue masih istrinya Pak Dika."
Dion hanya menghela napas panjang. Dia kini mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah e-mail masuk untuknya.
Silvi, lo tenang aja. Gue akan buat Pak Dika ceraikan lo.
Kemudian Dion berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hanya sebentar, dia kembali keluar dan membawa sebuah ponsel. "Ini hp gue yang udah gak kepakai. Masih bisa hidup. Lo pakai aja, buat hubungi Ayah lo. Biar lo gak bosen, dan lo juga bisa bermain game atau bermain media sosial."
Silvi menerima ponsel itu lalu mencoba menyalakannya. "Makasih. Lo baik banget sama gue. Semoga suatu saat nanti gue bisa balas semua kebaikan lo."
Dion menggelengkan kepalanya. "Lo tidak perlu merasa berhutang budi. Karena gue hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang sahabat."
Sahabat? Iya, sahabat. Gue hanya berharap, lo bisa membalas perasaan gue suatu saat nanti. Bukan hanya sekadar sahabat seperti ini.
"Gue mau mandi dulu, kalau lo lapar langsung makan saja." kata Dion lalu dia membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamarnya.
Silvi menganggukkan kepalanya. Dia kini fokus dengan ponsel itu. Untunglah, dia hafal dengan nomor selular Ayahnya. Dia segera menghubungi Ayahnya dan beberapa saat kemudian Ayahnya sudah mengangkat panggilannya.
Senyuman itu kini merekah di bibir Silvi saat mendengar suara Ayahnya di seberang sana.
...***...
Malam itu, Andika sudah membuat janji dengan Pak Handoko untuk bernegosiasi tentang pembatalan proyek secara sepihak. Dia datang ke sebuah restoran ternama sesuai keinginan Pak Handoko. Dia harus mendapatkan proyek itu lagi, karena jika tidak perusahaannya akan mengalami masalah keuangan lagi.
Andika kini duduk di sebuah meja yang sudah dipesan. Dia menunggu Pak Handoko sampai 30 menit tapi belum juga datang. Minuman yang dia pesan pun sudah habis setengahnya
Dia menatap jam tangannya berulang kali. Jika saja Pak Handoko bukan orang penting, Andika pasti sudah meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang duduk di hadapannya. Andika yang sedang memainkan ponselnya seketika meluruskan pandangannya dan menatapnya terkejut.
"Mau apa kamu duduk disitu?!" tanya Andika pada Dion.
Dion hanya tersenyum miring. Malam itu, dia terlihat sangat rapi dengan memakai blazer hitamnya. Dia terlihat lebih dewasa daripada umurnya yang baru 18 tahun.
Dion mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Dion Perwira, putra tunggal dari Handoko Perwira."
Seketika, Andika melebarkan matanya. Dia tidak menyangka, Dion adalah putra dari seorang pengusaha sukses dan salah satu orang terkaya yang masuk ke dalam lima besar di negri ini.
"Gak mungkin!" Andika ingin menepis kenyataan ini.
"Mungkin. Buktinya, aku bisa mengirim e-mail ke perusahaan Pak Dika."
Andika mengepalkan tangannya. Dia tahan emosinya agar tidak meluap. Mengapa semua kebetulan ini terjadi di hidupnya.
"Apa yang kamu mau?" tanya Andika. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa mau Dion. Pasti dia menginginkan Silvi. Kali ini Andika merasa kalah saing dengan Dion.
"Gampang. Kalau Pak Dika mau meneruskan kontrak kerjasama kita, lepaskan Silvi."
"Gak akan!"
"Pilih mana, Anda mendapatkan proyek ini tapi kehilangan Silvi atau Anda tidak mendapatkan proyek ini dan Anda juga akan tetap kehilangan Silvi."
Andika mengeraskan rahang bawahnya sambil menatap tajam Dion.
"Pikirkan ini, waktu Anda tidak banyak, sebelum proyek besar ini jatuh ke orang lain."
Andika hanya terdiam. Dia tidak mungkin melepaskan proyek itu begitu saja, tapi dia juga tidak mau melepaskan Silvi.
"Bagaimana? Atau begini saja, aku beri keringanan. Silakan Anda membawa Silvi jika itu keinginan Silvi sendiri tanpa paksaan dari Anda."
Andika menghela napas panjang. Rasanya dia sangat kesal ketika harus merendah seperti ini.
"Baiklah, aku lebih memilih proyek itu."
"Bagus pilihan yang tepat sekali. Jika Anda memaksa Silvi sekali lagi, proyek itu akan langsung aku hentikan. Permisi!" Dion berdiri dan meninggalkan Andika.
Andika terus mengumpat kesal dalam hatinya. Mengapa harus Dion yang menjadi saingannya. Bocah yang dia anggap masih ingusan itu ternyata justru memiliki kuasa.
Andika berdiri dan keluar dari restoran. Setelah masuk ke dalam mobilnya, dia sengaja mengikuti Dion yang masih terlihat di jalan. Dia ingin tahu, dimana rumah Dion sebenarnya. Apakah memang Silvi ada di sana?
Dion kini masuk ke dalam sebuah gerbang rumah yang mewah, Andika menghentikan mobilnya beberapa meter sebelum gerbang, lalu dia urun. Dia melihat pos satpam saat itu tidak ada orang.
Diam-diam dia masuk dan lewat taman samping. Dia bersembunyi di antara pohon-pohon kecil sambil mengintip Silvi yang saat itu sedang duduk seorang diri.
Ternyata benar Silvi ada di sini. Apa sekarang Silvi juga menjadi simpanannya Dion?
Andika akan menghampirinya tapi langkahnya tertahan saat ada Dion yang kini duduk di sebelah Silvi.
Andika sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Sil, gue cinta sama lo."
Satu kalimat itu seolah berhasil meluluh lantah hati Andika. Dia belum pernah merasakan sakit hati dan takut kehilangan seperti ini.
Ingin dia hampiri Silvi dan menariknya secara paksa tapi kali ini dia benar-benar menekan egonya.
ditgg karya selanjutnyaaaa