NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

**Jam istirahat**

Megan, Stella, Rey, dan Mike berdiri di depan pintu gudang sekolah yang jarang sekali dibuka. Suasana di sekitar tempat itu sepi, hanya terdengar suara angin menerpa dedaunan. Mereka bersiap menjalankan rencana yang sudah disusun Stella dan Megan sejak kemarin.

“Apa langkah pertama yang harus kita lakukan?” tanya Mike dengan nada penasaran, tapi matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.

Stella tersenyum menyeringai. “Tenang saja, Mike. Langkah awal sudah aku atur. Orang suruhanku akan membawa Alice ke sini.”

Mike mengangkat alis. “Tapi… apa si cupu itu mau keluar dari kelas?”

“Orang suruhanku punya cara memancingnya keluar. Mau tidak mau, dia akan datang,” jawab Stella dengan nada percaya diri.

Rey, yang bersandar di dinding, menatap Stella dengan raut sedikit khawatir. “Kau yakin rencana ini bakal berhasil?”

“Tentu saja, Rey. Kau meragukanku?” Stella menatapnya balik, matanya berkilat menantang.

Rey tersenyum tipis. “Tidak, sayang. Mana mungkin aku meragukan gadis licikku ini,” godanya sambil mengedipkan mata.

Ia lalu mendekat, menipiskan jarak di antara mereka. “Buktinya aku dan Mike bersedia membantumu… dengan penuh cinta.”

Stella tersenyum kecil dan melingkarkan kedua tangannya di leher Rey. “Kalau begitu, kenapa kau terdengar seolah ragu, hmm?”

“Sekadar bertanya, apa salahnya?” Rey makin memajukan wajahnya, senyumnya nakal.

“Khmm… ingat rencana kita, Rey! Stella!” suara Megan memotong, tegas tapi terdengar geli.

Rey melepaskan Stella, lalu menatap Megan dengan tatapan menggoda. “Apa kau cemburu, Megan?”

Stella ikut terkekeh. “Kalau mau, kau bisa menjalin hubungan bersama Mike.”

Megan memutar bola matanya malas.

Mike, yang sedari tadi diam, langsung mengangkat tangan. “Jangan bawa-bawa aku ya!”

“Oh, dan soal membantu Stella ‘dengan penuh cinta’—jangan seret aku ke drama kalian, Rey,” tambah Mike.

Rey tertawa sambil menepuk bahu Mike. “Ayolah, Mike. Siapa tahu jodohmu teman sendiri.”

Mike menggeleng cepat. “Maaf, Rey. Aku tidak tertarik. Megan sama Stella itu… lebih mirip preman sekolah. Seleraku  gadis baik, cantik, seperti dewi Yunani.”

Megan langsung mendelik. “Apa?! Kau bilang aku preman sekolah?” Tanpa aba-aba, ia menyikut perut Mike.

*Bughh!* Mike meringis, meski pukulannya tidak keras, tapi cukup membuatnya terkejut.

“Kau juga bukan seleraku, Mike. Memang sih, kau tampan, tapi sayangnya… sedikit bodoh dan lemah,” sindir Megan.

Rey terbahak, Stella tersenyum puas. “Masih mau ngomong soal seleramu yang seperti dewi Yunani, Mike?”

“Dewi Yunani tidak pantas untuknya,” timpal Megan. “Lebih cocok dewi kematian.”

Rey semakin tertawa tergelak, nyaris kehabisan napas.

 Mike hanya menghela napas “Oke, oke… maaf.”

Rey mengangkat kedua tangannya. “Cukup. Kita punya rencana yang lebih besar untuk dijalankan.”

Stella menegaskan, “Betul. Fokus pada target kita… Alice.”

---

Sementara itu, teman sekelas Alice yang sebenarnya adalah suruhan Stella mendekatinya dengan pesan mendesak. "Alice, Danzel menyuruhmu menemuinya di gudang sekolah. katanya penting."

Alice mengerutkan kening, hatinya langsung dipenuhi tanda tanya. Gudang sekolah bukanlah tempat yang lazim untuk bertemu, apalagi untuk hal penting. Terlebih lagi, Danzel biasanya akan menemuinya langsung, bukan lewat pesan seperti ini.

Namun rasa penasaran dan sedikit cemas membuatnya mengangguk. Dengan hati yang campur aduk, ia berjalan menuju gudang sekolah, langkahnya terasa semakin berat saat mendekat.

Setibanya di depan pintu gudang yang jarang dibuka itu, Alice berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu mendorong pintu pelan-pelan.

Begitu masuk, pandangannya langsung disambut kegelapan samar dan bau debu. Namun yang membuatnya benar-benar terkejut adalah, bukan Danzel yang menunggunya di dalam… melainkan wajah-wajah yang sama sekali tak ia harapkan.

Tiba-tiba, suara tawa nyaring dan mengejek bergema di ruangan itu.

Rey melangkah mendekat tatapannya penuh ejekan."kau benar-benar percaya Danzel yang menyuruhmu datang kesini? seperti biasa, Alice yang lugu dan mudah di permainkan."

Alice berusaha menatap mereka dengan kebingungan dan ketakutan, namun ia berusaha tetap tenang."A-apa yang kalian inginkan?"

"Kita hanya ingin bersenang-senang sedikit. bukankah itu yang selalu terjadi Alice?" ucap Stella tertawa kecil

Megan melangkah maju, tangannya terlipat di dada. Tatapannya dingin menusuk ke arah Alice. “Kalian terlalu membuang waktu untuk basa-basi,” ucapnya pada Stella dan Rey, nada bicaranya penuh ketidaksabaran.

Tanpa memberi kesempatan bagi Alice untuk bergerak, Megan menjulurkan tangannya cepat dan kasar, menjambak rambut Alice hingga kepala gadis itu terpaksa terangkat ke belakang. Alice meringis menahan perih, napasnya tercekat.

Stella dengan senyum sadisnya meraih kacamata Alice kemudian melemparnya. bersamaan dengan itu, Megan mendorong Alice hingga tersungkur ke lantai yang dingin.

Alice berusaha meraih kacamatanya yang berada tak jauh darinya, ia mencoba menahan tangisnya dan juga rasa sakit akibat jambakan Megan yang terlalu kuat. Namun, Mike lebih dulu menginjak kaca mata itu hingga hancur dan rusak.

Belum selesai, Megan menarik Alice berdiri lagi. Dengan kasar, ia melepaskan kepangan rambut Alice lalu mengacak-acaknya, membuat helai demi helai berantakan.

“Kita tidak akan melakukan hal lebih, Alice… untuk sekarang cukup sampai di sini,” ucap Megan sambil mencengkeram kedua pipi Alice, kukunya menekan kulit halus itu hingga terasa perih.

"Ayo kita pergi dan lakukan langkah selanjutnya, yaitu menguncinya di gudang sampai Danzel sendiri yang menyelamatkannya.

"Setelah itu pancing Rachel agar melihat aksi penyelamatan ini. Rachel akan semakin yakin jika Alice adalah gadis yang berbahaya di dalam hubungannya setelah melihat kepedulian Danzel kepadanya."

"Dan Rachel akan semakin membenci Alice, dia pasti akan menjauhkan kekasihnya itu dari Alice selamanya. Kita juga sudah tidak perlu lagi mengotori tangan untuk membuat Alice jauh dari Danzel."

Alice terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Rambutnya acak-acakan, pipinya memerah akibat cengkeraman, dan matanya dipenuhi air mata yang jatuh satu per satu. 

Namun tiba-tiba langkah Rey terhenti, dan kembali mendekati Alice. tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menunduk dan meraih dagu Alice, memaksanya untuk menatap langsung ke matanya.

Rey terdiam beberapa detik, seolah terpesona oleh sesuatu yang baru saja ia sadari—wajah Alice yang ternyata menyimpan kecantikan luar biasa, tersembunyi selama ini di balik kacamata tebal dan penampilan sederhananya.

“Rey, ayo kita pergi,” desak Stella dengan nada tidak sabar.

“Kita sudah selesai di sini, saatnya pergi,” sambung Megan, bingung melihat tingkah Rey.

“Apa yang kau lihat, Rey?” tanya Mike heran.

“Kemarilah, Mike, dan lihat sendiri,” jawab Rey tanpa melepaskan tatapannya dari Alice.

“Gadis culun ini ternyata cantik juga jika seperti ini.” Senyum miring tersungging di wajahnya.

Alice tertegun, tubuhnya menegang. Ia mencoba memalingkan wajah, tapi genggaman Rey di dagunya semakin erat.

“Kau benar, Rey,” timpal Mike yang kini mendekat. “Sejujurnya… aku juga sudah memperhatikannya sejak tadi.”

Stella dan Megan saling berpandangan. Keduanya tampak tak terima mendengar Rey dan Mike memuji Alice, meski di dalam hati mereka pun terkejut melihat sisi lain Alice yang baru terungkap.

“Ada sesuatu yang berbeda pada dirimu, Alice… entah kenapa, sekarang kau begitu menarik,” bisik Rey dengan nada yang berubah lembut namun mengancam.

Tatapan intens itu membuat Alice semakin takut. Rey lalu meraih lengannya dan memaksanya berdiri.

“Kau tahu apa yang sedang kupikirkan, Mike?” tanya Rey, menoleh sekilas.

Mike, yang sedari tadi sulit melepaskan pandangan dari Alice, tersentak sadar. Ia menggeleng cepat. “Tidak, Rey. Kita tidak bisa—”

“Ssst… kalau kau tidak mau, biar aku saja,” potong Rey dingin.

Degup jantung Alice kian tak terkendali. Nafasnya memburu, matanya membelalak. Ia bisa membaca niat Rey, dan itu membuatnya ingin segera kabur. Alice melangkah mundur, namun Rey mendekat perlahan, mengurungnya.

“Hentikan tindakan bodohmu itu, Rey!” sergah Megan. “Kita harus pergi sekarang dan mengurung Alice, itu rencana kita!”

Namun Rey tak mengindahkan ucapannya. Ia terus memojokkan Alice, menatapnya seolah tak ada yang lain di dunia ini. Air mata mulai jatuh membasahi pipi Alice.

Megan menatap Stella, khawatir. “Bagaimana ini? Waktu kita tidak banyak, jam pelajaran sebentar lagi dimulai. Kita tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Stella mendecak kesal. “Pergilah, Megan. Lanjutkan rencana kita—pancing Danzel dan Rachel ke sini.”

“Tapi—”

“Jangan khawatir. Saat mereka tiba, aku pastikan Rey sudah pergi. Aku dan Mike akan menahannya agar tidak melakukan hal gila ini,” tegas Stella.

Megan akhirnya mengangguk, lalu bergegas meninggalkan gudang.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!