Demi Mempertahankan perusahaan, Isabella terpaksa mengikuti wasiat mendiang ayahnya untuk bertunangan dengan putra dari koleganya. namun, percintaan itu tak berjalan mulus saat David tunangannya ternyata adalah seorang Pria hidung belang dan kasar. Hingga kemudian ia bertemu dan ditolong seorang Pria sangar yang mengaku sebagai kriminal, bernama Morgan.
Namun siapa sangka, tindakan kriminal yang dimaksud Morgan bukanlah kejahatan biasa, Melainkan misi spionase antar negara.
Bagaimana kisah cinta sentimentil, si gadis manja yang kaya dengan Pria kriminal?
follow ig author : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Morgan
Aku bangkit dari kasur, benar-benar merasa bosan. Aku belum makan seharian, karena menunggu Morgan, ingin sekali makan malam bersama. Aku membuka pintu kamar berdiri di balkon, diiringi musik yang mengalir dari Ponsel, iramanya bening menyerupai tetesan embun. Langit begitu cerah, bintang-bintang berserakan mengelilingi bulan yang bulat dan penuh. Berapa abad usia semesta ini? Angin mulai berdesir masuk, menggerak-gerakkan pakaian yang aku kenakan, rasanya segar sekali. Hilang semua suntuk. aku berpikir untuk keluar rumah, sejak tinggal disini aku hanya diam di rumah saja, tidak ada hal lain yang aku lakukan. ingin rasanya keliling, mengenal lingkungan sambil mencari Angin.
Alunan musik menemaniku mencari keputusan, begitu pula angin dan bintang-bintang, aku terdiam sejenak, lalu dengan semangat aku balik badan kembali masuk ke kamar mengunci pintu dan pergi turun ke bawah.
...****************...
Langkahku pelan menyusuri jalan, “Haa... segarnya” kataku. Aku terhanyut oleh kenikmatan alam yang menggetarkan. Kota ini, pasti sesejuk ini karena tak ada manusia yang merusaknya. Entahlah, antara bersyukur tetapi tidak juga dengan keadaan kota yang sepi ini. Aku jadi teringat dengan buku yang baru aku baca tadi, sebuah pemusnahan terhadap kelompok di daerah tertentu. “Apakah kota ini mati karena hal begitu juga? Apakah kota ini juga korban?” haha, konyol. Sepertinya aku juga sudah ikut tersesat oleh teori ilmuwan dalam buku tadi.
Semua kesenanganku buyar, seketika kulihat dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan ada di ujung jalan. Aku gemetar mendengar suaranya. Aku membisu, terdiam kaku. Suara berat yang sering aku dengar. Benar, itu adalah milik Morgan, dia bersama seorang perempuan. Perempuan itu memeluknya, inikah rekan yang dimaksud Morgan? Bahkan aku yang tinggal serumah dengannya, tidak semudah itu menggapai tubuhnya. Perempuan itu pasti memiliki posisi yang spesial di ruang hati Morgan. Mungkinkah karena perempuan ini, Morgan selalu menolak untuk menyentuhku?. Aku mencoba meragukannya, tapi yang pemandangan yang kulihat ini hidup terus menyingkirkan sanggahan ku. Oh, betapa tersiksanya aku dengan ini semua. Segera aku balik badan dengan hati-hati kemudian pergi sejauh mungkin dari mereka.
...****************...
Malam tiba-tiba terasa sunyi. Ada sebuah bintang yang menyendiri, jauh dari gugusan bintang di sekitarnya. Bintang itu begitu murung, namun tetap tegar pada orbitnya. Aku duduk di kursi taman, memandanginya.
Aku tak berani pulang ke rumah, benar-benar khawatir setelah melihat Morgan dengan perempuan itu. Jadi aku memutuskan untuk di luar saja dulu, akan sangat gawat jika Morgan membawa perempuan itu ke rumah, lalu perempuan itu melihatku di sana. Dia akan salah paham, dan hubungan mereka bisa bermasalah. Kenapa? Aku malah memikirkan hubungan mereka, bukan kah seharusnya aku senang kalau hubungan mereka kacau, lalu berakhir. Entahlah, mungkin karena aku juga seorang wanita, masih memiliki perasaan yang lembut.
“Kenapa Morgan menerimanya begitu saja? Jauh berbeda jika aku yang melakukannya.”
Hancur aku bagai segumpal batu yang meledak, menjadi kerikil-kerikil kecil yang menyebar di tanah, terus di iringi butiran manik yang keluar dari pelupuk mataku. Harusnya aku tidak peduli, kan? Kenapa, kenapa? Aku cemburu pada orang yang tidak aku kenal sepenuhnya, aku cemburu pada seorang penjahat gelandangan yang memungut ku. Aku sungguh bodoh. Aku merenung sendirian di taman, Sampai kemudian ku dengar suara yang sama memanggilku.
“Kamu tidak apa?”
Mataku membulat saat ku perhatikan orang di depanku ini. Perempuan tadi... tidak maksudku pacar Morgan.
“Sedang apa selarut ini? Bahaya, loh.”
Aku diam saja, yang kupikirkan kenapa perempuan ini ada disini? Berarti Morgan tidak membawanya pulang ke rumah.
“Yah, kamu akan aman kalau ada orang dewasa yang temani kamu. Akan ku temani sampai keluarga mu jemput. Kamu bebas kok, memikirkan apa saja!”
“Terima kasih” kataku padanya.
Dia sangat baik, wajar saja Morgan menyukainya. Dia terus mengajakku bicara, meski sempat berapa kali ku acuhkan. Aku akhirnya luluh juga, kami mengobrol-ngobrol ringan, aku juga menceritakan semua keluh kesahku padanya, tentang Morgan yang aku sukai, tetapi aku tak menyebut namanya langsung.
“Begitu ya, mungkin kamu tenggelam dalam rasa takut sampai tidak bisa bergerak. Katanya rasa takut itu hal yang merepotkan yang bisa menggerakkan dan menghentikan langkah seseorang. Aku mendengarnya dari seseorang, hehe. Tapi, bukankah lebih baik jika kamu terus melangkah?”
“...Meski akhirnya sadar bahwa segalanya percuma, kamu tetap mendapat manfaatnya. Iya kan? Maka dari itu ada yang perlu kamu lakukan.” Sambungnya
“Yang perlu aku lakukan?”
Dia lalu bangkit dari tempat duduk dan membentangkan lebar kedua tangannya, “Hal yang tidak bisa kamu katakan, serta rahasiamu, segalanya. Lakukan semua yang kamu perlukan untuk memperjuangkan diri kamu dan orang yang kamu sukai.”
“Aku adalah manusia yang seperti ini! Aku punya sifat yang seperti ini! Meski begitu, apakah kamu ingin tetap bersamaku? Mau menerimaku?” timpalnya kembali. Lalu dia menundukkan sedikit badannya, menyamai posisiku.
“Selain itu, orang baik yang kamu bicarakan tadi, pasti sangat mempercayai kamu. Makanya, lebih baik kamu lebih mempercayainya juga. Kamu menyukai dia kan? Maka kamu harus memperjuangkannya juga.”
“Kamu.... Benar. Aku akan pulang.” Kataku, aku lalu ikut bangkit dari tempat duduk dan berkata, “aku harus memperjuangkan cintaku padanya.”