Syal merah yang dikenakan saat melamar pekerjaan membuat Rara menjadi sasaran balas dendam CEO nya sendiri, alih-alih ingin mendapatkan kebahagiaan namun Rara malah mendapatkan siksaan yang pedih dari Sean suaminya serta atasannya di kantor.
Alasan apa Sean melakukan hal itu? ikuti ceritanya yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
"Brengsek, kan aku sudah bilang kalau akan tiba di bandara tiga puluh menit yang lalu kenapa ponsel kamu malah tidak aktif?" seorang pria memarahi David.
Melihat uncle nya dimarahi oleh pria asing, membuat Albert geram, dia yang tidak terima memarahi Sean balik.
"Hey paman, kenapa datang dengan marah-marah? mengganggu kami makan saja," maki Albert.
Sean menatap anak kecil yang berada di depannya, baru kali ini ada anak kecil yang berani padanya.
"Siapa kamu, beraninya memarahi aku?" tanya Sean dengan kesal.
"Saya Albert," jawab Albert.
Sean menggelengkan kepala, lalu mengubah tatapannya ke David yang masih menikmati santapannya.
"David!" teriak Sean yang membuat Albert semakin kesal.
"Hey paman, anda ini punya sopan santun nggak sih, ada orang lagi makan seharunya anda jaga sikap bukannya malah berteriak," sahut Albert.
"Kamu tau dia lupa tidak menjemput aku di Bandara," timpal Sean.
Kini Albert yang menepuk dahinya, heran sekali dengan sikap Sean yang seakan membesarkan masalah.
"Astaga, orang dewasa sungguh rumit sekali, bisa menggunakan jasa taksi online kenapa harus memerahi uncle? lagian sudah ketemu disini," pungkas Albert.
Sean diam seribu bahasa, anak kecil ini selalu punya jawaban atas apa yang diucapkannya?
David hanya tertawa melihat Sean tak berkutik karena setiap ucapannya selalu dibantah oleh Albert.
"Mampus," batin David.
Sean yang kesal meminta David untuk mengantarnya ke hotel, tadi dia meminta sopir untuk mengantarnya ke restoran yang menjual steak daging karena Sean sangat lapar.
David serba bingung tentu tidak mungkin mengajak Sean untuk mengantar Albert terlebih dahulu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengantar Sean ke hotel setelah itu baru mengantar Albert ke rumahnya.
"Saya mengajak keponakan saya ya pak?" tanya David.
"Iya tapi suruh dia diam," jawab Sean.
Sean sebenarnya heran dengan David, bagaimana bisa David memiliki seorang keponakan di negara Inggris, perasaan dia tidak memiliki keluarga di Inggris namun Sean juga enggan mempertanyakan hal itu pada David.
Sepanjang perjalanan Albert nampak terus mengoceh dengan David sehingga membuat Sean yang duduk di bangku belakang jadi kesal.
"David bisakah keponakan kamu ini diam, telinga aku sangat sakit mendengar ocehannya," protes Sean.
Albert menoleh kebelakang, dia memberi kode Sean untuk diam tentu hal ini membuat Sean semakin kesal.
"Keponakan darimana sih, sungguh menyebalkan sekali," umpat Sean.
David hanya tersenyum sembari menatap siang dari kaca spion, ya itulah cerminan diri Sean, sangat menyebalkan, tapi Albert bukanlah anak yang semena-mena.
"Adik saya tinggal di negara ini pak." David berbohong.
Sean nampak menghela nafas lalu melemparkan pandangannya keluar jendela, kekesalannya pada Albert tiba-tiba memudar setelah dia sadar wajah Albert nampak tidak asing.
"Wajah anak ini mengapa mirip aku?" tanya Sean.
"Mana mungkin, memangnya anda yang menyumbang benih pada adik saya," sahut David.
Tak hanya Sean, Albert juga merasakan hal yang sama di mana wajahnya memang mirip dengan atasan David, Tak hanya itu tingkah serta gerakan tubuhnya persis seperti Sean.
David yang melihat Albert nampak berpikir pun bertanya.
”Mikir apa?" tanya David.
"Mikir paman jahat itu Uncle, memang benar apa yang dikatakannya kalau wajah saya mirip dengannya," jawab Albert.
"Tidak mirip sama sekali dengan Daddy," sambungnya kemudian.
Mendengar ucapan Albert membuat Sean menyahut.
"Tuh kan, anak kecil saja tahu kalau wajahnya mirip denganku."
David hanya diam, dia tidak menggubris ucapan Albert maupun Sean, sebenarnya David juga takut kalau sampai Sean bertemu Rara.
Sesampainya di depan loby hotel, David meminta Sean untuk mengambil kartu akses lalu menuju kamarnya sendirian karena dia harus mengantar Albert pulang.
"Nggak," sahutnya.
Mau nggak mau David mengantar Sean ke dalam, dirinya sungguh kesal sekali karena Sean sangat manja padanya.
Dengan menggendong Albert, David meminta kartu akses kamar Sean kemudian mengantar Sean ke kamarnya.
Siapa sangka, Albert yang kekenyangan malah tertidur dalam gendongan, setibanya di depan kamar Sean, David segera meminta izin untuk mengantar Albert pulang.
Melihat Albert yang memejamkan mata di bahu David membuat Sean iba kemudian dia memanggil David.
"Kemari lah," titah Sean sembari melambaikan tangannya pada David.
David menghela nafas lalu kembali lagi ke kamar Sean.
"Ada apa Pak?" tanya David.
"Tidurkan di dalam saja, kasian keponakan kamu," jawab Sean.
David sempat menolak namun Sean tetap bersikeras supaya David menidurkan Albert di kamarnya, apakah Sean mulai merasakan ikatan batin dengan Albert?
Setelah menidurkan Albert di kamar Sean, David diminta Sean untuk mengambil berkas di kantor cabang, yang akan mereka resmikan besok pagi.
"Tapi bagaimana dengan keponakan saya Pak?" tanya David.
"Aku akan menjaganya," jawab Sean.
David nampak tidak tega, dia bernegosiasi pada Sean untuk membawa Albert pulang namun lagi-lagi Sean tidak mengizinkan David untuk membawa Albert pulang, entah mengapa Sean ingin bersama Albert.
Akhrinya David mengalah dan pergi untuk mengambil berkas di kantor, setelah kepergian David, Sean merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia menatap wajah Albert yang terlelap di sampingnya.
"Anak ini sangat mirip denganku bahkan pose tidurnya juga mirip, siapakah dia?" Sean bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak hanya mata yang terus memandangi Albert, tangan Sean juga tergerak untuk mengelus pipi Albert.
Matanya membasah, Dia teringat kembali tentang Rara dan juga anaknya, andaikan Rara dan anaknya masih hidup pasti anaknya seusia Albert.
"Maafkan aku Ra."
Untuk kesekian kalinya Albert meminta maaf, penyesalan kini masuk kembali ke dalam jiwanya, andaikan waktu bisa diulang tentu dia tidak akan menyia-nyiakan Rara istinya.
Namun nasi telah menjadi bubur, tentu tidak mungkin membuat bubur itu menjadi nasi kembali yang bisa dilakukan saat ini hanyalah merubah sikap untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sean yang lelah memejamkan matanya entah berapa lama dia tertidur, saat bangun tangannya telah memeluk Albert yang masih tidur di sampingnya.
"Ini pak berkas yang anda minta," kata David yang sudah kembali sedari tadi.
Sean beranjak dari tempat tidurnya lalu dirinya duduk di samping David sembari meminta berkas yang dibawa David.
Dia nampak tersenyum, karena kantor yang akan diresmikan besok pagi sudah memiliki banyak investor yang ngantri untuk bekerja sama.
"Mari kita bekerja keras David," kata Sean dengan tersenyum.
"Kalau kerja keras terus kapan saya memiliki istri Pak," sahut David dengan tertawa.
Sean dan David mengobrol soal wanita, Sean mengejek David yang menurutnya cemen
Mendengar obrolan David dan Sean membuat Albert terbangun.
"Uncle ini dimana?" tanya Albert.
"Kita lagi ada di kamar paman ini sayang," jawab David.
Sebenarnya melihat Sean memeluk Albert saat tidur tadi membuatnya senang, namun dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Sean.
ya ampun aqu sampek nanges
gk sanggup baca nya
yg bikin cerita yg di salah kan jngn rara