Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 18
Di malam terakhir, anak-anak The Lion mengadakan pesta api unggun. Mereka duduk melingkari api yang tengah menyalah-nyalah di hadapan mereka. Tidak lupa pula dengan beberapa camilan dan soda di depan masing-masing.
Bagus duduk di samping Krystal juga Aluna walau ada Devan di samping cewek itu. Di depan mereka ada Alka dan juga Meira yang tampak tengah melihat sesuatu dari ponsel cewek itu sembari tertawa kecil.
"Bang, Al, nyanyi dong buat Mei. Biar romantis gitu," seru Dimas mengganggu moment kedua pasangan bucin itu.
Alka hanya menatapnya datar kemudian kembali pada Meira tanpa membalas ucapan Dimas. Meira sendiri tidak ambil pusing pada ucapan Dimas sebab ia tahu pacarnya tidak suka bernyanyi.
"Ya, elah. Kalo mau pacaran jangan di depan yang jomblo, kali!" celetuk Ezra yang dibalas cibiran oleh yang lainnya.
Beberapa anak-anak The Lion memang ada yang tidak membawa cewek untuk menemani mereka. Salah satunya adalah Arnold, cowok bermulut tajam itu sejak kemarin hanya asik mengabiskan waktu bersama teman-temannya.
"Makanya cari cewek, Ja." Bagus membalas Ezra sembari meneguk minuman sodanya.
Ezra mencebikkan bibir. "Nyadar kali, mau gue beliin kaca?"
Bagus hanya tertawa begitupun yang lain. Acara malam terakhir di puncak ini berlangsung ramai ketika Tian maju ke depan menantang mereka untuk adu panco.
"Berani gak lawan gue?" seru cowok ber-hoodie abu-abu dengan kupluk hitam itu.
"Gue, Bang. Gue gak takut sama lo!" salah satu junior di dalam The Lion berdiri menantang Tian. Sorakan yang lain menyusul saat cowok berkaos lengan panjang coklat itu duduk di depan Tian.
Sebuah meja kecil terbuat dari kayu ditaruh Malik di tengah-tengah Tian dan cowok tersebut.
"Siapa yang kalah wajib joget sambil nyanyi, deal?"
"Deal!"
Tian tersenyum miring begitupun cowok tersebut. Sorakan mendukung dan menyemangati kubu yang berbeda terdengar bersahut-sahutan, Bagus berada di kubu juniornya itu, malas mendukung Tian yang songongnya sudah kelas atas.
"Gaya lo, Bang. Gue menang!" sorak junior The Lion itu, Tian mendengus sebal. "Lo punya mantra, kan? Yakali gue kalah segampang itu!" kilah Tian tidak terima.
"Heh, monyet!" Adnan menoyor kepala Tian, "Lu kalah, kalah aja, nyet. Gak usah ngalibi."
"Iye-iye!"
"Joget-joget!"
"Joget-joget!"
Teriakan-teriakan mulai melempari indra pendengaran Tian, semua orang yang mendukung juniornya itu berteriak keras padanya untuk menyuruh dirinya berjoget. Dan yang paling keras teriakannya adalah seorang Bagus kampret Baskara.
"Iye-iye, gue joget, ah! Rusuh lo pada!" ujar Tian kesal.
"Musik, Nan!" teriak Bagus pada Adnan yang langsung diacungi jempol oleh cowok ber-hoodie putih itu.
Tian mencibir diam-diam. Sialan, ini namanya senjata makan tuan, gerutunya dalam hati.
Suara lagu dangdut yang Tian tahu berjudul 'Goyang Nasi Padang' mulai terdengar.
Dengan tampang malas-malasan Tian menggerakkan tubuhnya sesuai alunan musik.
"Woi, yang bener dong! Timpuk, nih!" teriak Devan sembari mengangkat sendal jepitnya. Tian mengacungkan jari tengahnya pada Devan, dijawab oleh gelak tawa cowok itu.
Tian mengangkat tangannya dengan pinggul yang bergerak-gerak. Derai tawa anak The Lion semakin keras berpadu dengan suara tawa cewek-cewek di sana. Alka yang seja tadi sibuk dengan Meira pun akhirnya tertawa saat melihat sahabatnya itu.
Tian tidak masalah, selagi ia bisa membuat teman-temannya tertawa, ia rela dinistakan seperti ini.
Semoga Tuhan menempatkannya di surga, aamiin.
####
Krystal memilih menjauh dari ajang pertunjukan tawa itu sebab deringan dari ponselnya terdengar. Ia saat ini berada di dekat pohon besar di tepi danau, mendudukkan dirinya di sebuah akar yang bercabang besar ke tanah.
"Ngapain nelfon gue?" tanyanya tanpa basa-basi untuk si penelfon.
"Kakak apa kabar? Gak sakit, kan, karna kedinginan di puncak?"
"Lo mau bilang gue cewek yang gampang sakit?"
Sempat hening beberapa saat di seberang sana sebelum telinga Krystal menangkap helaan napas berat. "Plis, Kak. Aku mau ngomong sama Kakak baik-baik. Gak ada maksud lain."
"Lo gak pernah ada hak buat bicara sama gue."
"Tap-"
Krystal segera memutuskan sambungan telepon hingga suara Dita tidak lagi terdengar. Krystal bukannya membenci cewek itu, hanya saja hatinya selalu sakit tiap kali mendengar suara Dita ataupun melihat cewek itu.
Di mata Dita, ia bisa melihat bagaimana Mamanya dulu menangis-nangis dan memohon agar rumah tangganya tidak diusik oleh Mama Dita.
Di suara Dita, Krystal bisa mendengar suara tawa kemenangan dari wanita yang sudah merebut papanya. Wanita yang tidak lain adalah ibu kandung Dita sendiri.
Mengakrabkan diri dengan adik kelasnya itu sama saja membunuh dirinya sendiri secara perlahan.
"Lo seharusnya dengerin dia dulu, jangan egois kayak gini."
Kepala Krystal otomatis menoleh ke belakang ke arah suara itu. Di sana ada cowok berjaket rajut hitam yang berdiri dengan dua tangan sembunyi di saku celana.
"Egois?" ulang Krystal pada kata-kata Bagus yang terdengar tidak enak di telinganya. Bohong jika Krystal tidak sakit hati mendengar cowok yang sudah mencuri hatinya mengatakan ia adalah seseorang yang egois.
Ya, Krystal akui ia sudah jatuh ke dalam pesona cowok gondrong itu, hanya saja Krystal memilih bungkam untuk tidak membuat hatinya lebih sakit lagi. Karena ia tahu, rasanya hanya sepihak.
Anggukan cowok itu memperkeruh mood Krystal. "Iya, lo egois. Lo pernah gak mikir kalau lo ada di posisi Dita? Lo kira Dita juga mau ada di posisi sekarang?"
Krsytal berdiri, memutar tubuhnya agar sepenuhnya berhadapan dengan Bagus. "Maksud lo?"
"Coba lo pikir, di sini bukan cuma lo yang terluka, Tal. Ada hati lain yang juga ngerasain hal yang sama kayak lo." Bagus memberi jeda beberapa saat sebelum melanjutkan, "Dita gak pernah berpikiran buat ngehancurin keluarga lo, dia gak pernah mikir buat ngerebut bokap lo. Dia cuma anak gak tau apa-apa yang gak bisa ngelawan mamanya."
Mata Krystal kian menajam menghunus netra Bagus. "Gak tau apa-apa lo bilang?" Krystal terkekeh sinis, "asal lo tau, Dita gak sepolos yang lo kira, Gus. Lo kira dia pacaran sama Rio dan ninggalin lo itu karna apa? Karna dia tau kalau Rio bisa ngebuat perusahaan orang tuanya jaya!"
Bagus terdiam mendengar ucapan Krystal yang meninggi. Bohong jika ia tidak kaget akan hal itu, namun ada sisi lain dalam hatinya yang mengatakan bahwa tidak semua yang Krystal katakan benar.
Iya, tidak semua. Berarti ada sedikit yang benar. Dan Bagus tidak tahu yang mana.
"Gue bukan maksud mau ikut campur urusan keluarga lo, Tal. Tapi gue juga gak bisa diam aja ngeliat lo bersikap kayak gitu ke Dita. Lo gak nyadar kalau dengan bersikap dingin ke dia, lo terlihat kayak pemeran orang jahat?"
Krystal mengangkat sudut bibirnya remeh. "Jahat?" beo Krystal yang diangguki Bagus. "Justru itu yang gue mau. Gue mau orang taunya gue jahat, dengan begitu gak ada yang berani deketin gue!"
Krystal melangkahkan kakinya hendak pergi melewati Bagus, namun cekalan di pergelangan tangannya membuat langkah cewek berkaos lengan panjang maroon itu terhenti.
"Sampai kapan lo mau jadi orang lain, Tal? Gue tau lo orangnya baik, lo cuma dikuasai benci yang gak beralasan."
Krystal menepis tangan Bagus dengan kasar, mata cewek itu sudah memerah antara menahan airmata yang ingin jatuh, dan amarah yang ingin meledak.
"Lo gak usah sok tau tentang gue. Lo cuma orang asing yang belagak sok deket sok kenal sama gue." Krystal mengambil jarak dari Bagus. "Tolong sadar diri, siapa lo, dan siapa gue."
Krystal berlari menuju tendanya, tidak lagi mengindahkan teriakan Bagus yang memanggil namanya. Krystal sebenarnya tidak ingin mengatakan kalimat kejam pada Bagus, seolah cowok itu tidak ada artinya dalam hidup Krystal.
Bagus sudah jauh melangkah masuk ke kehidupan dan hatinya, membuat tanpa sadar Bagus masuk ke dalam daftar orang-orang penting bagi Krystal selain mamanya.
Hanya saja, mendengar kalimat-kalimat pembelaan cowok itu pada Dita membuat Krystal tidak tahan. Ia masih bisa melihat dengan jelas rasa cinta itu di mata Bagus ketika membicarakan Dita.
Krystal juga tahu, bahwa selama ini ....
Bagus diam-diam masih memperhatikan Dita.
.
.
.
JANGAN LUPA VOTE , KOMEN DAN LIKE.
CERITAIN DONG KISAH CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN KALIAN KALAU ADA😂
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..