Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Penawaran Tak Terduga
Sementara itu, di belahan kota berbeda, Reza tengah berada di ruangan CEO Queen's Cosmetic. Duduk pada kursi putar, berhadapan dengan Queen—CEO sekaligus pemilik perusahaan tersebut.
“Gimana, Za? Ini penawaran terakhir. Dipecat tidak hormat atau menjadi suami saya!” ucap Queen menyandarkan bokongnya di tepian meja, menatap Reza dengan tatapan penuh damba.
“Maaf, Bu. Tapi saya masih memiliki istri,” sahut Reza membalas tatapannya dengan sorot yang tegas.
“Ck! Aku nggak pernah tuh, lihat istri kamu. Lagian nih ya, minggu kemarin kamu absen selama satu minggu. Kerjaan keteteran, di mana tanggung jawab kamu? Jika saja itu orang lain, udah aku pecat dari dulu, Reza,” ucap Queen membungkuk, sembari membelai bulu-bulu halus pada dagu Reza.
Pria itu sontak memundurkan kursi, menoleh ke arah lain agar terlepas dari jerat wanita bermake up tebal, sekaligus berpakaian sexy itu.
Queen memang sudah lama menaruh hati pada Reza. Kesalahan apa pun yang dilakukan pria itu, selalu dimaafkan karena memang ia tidak ingin kehilangan Reza.
“Tapi saya memang sudah memiliki istri, Bu. Bahkan saya memiliki anak. Ibu tahu, Rayyanza El Nino? Dia putraku,” sahut Reza meyakinkan.
Ia sadar semua kesalahannya. Kekacauan yang sering ia lakukan sewaktu ditinggal Sofia, kemudian meninggalkan pekerjaan tanpa alasan jelas beberapa waktu terakhir, hingga pekerjaan yang tidak pernah beres akhir-akhir ini. Akan tetapi, ia tidak menduga mendapat penawaran mencengangkan ini.
Queen tersenyum sini, kakinya yang berbalut high heels bergerak naik turun di kaki Reza. “Kamu pandai sekali mengarang cerita, Za. Apa sih kurangnya aku? Sampai segitunya kamu menolakku,” cebik wanita itu masih gencar menggoda.
Reza menahan napasnya sesaat. Ia membuang muka, wajahnya memerah, jakunnya pun naik turun dengan kasar. Sebagai laki-laki normal, digoda seperti itu tentu mampu membuatnya panas dingin. Apalagi, ia sudah lama tidak menjamah sang istri.
“Ayolah, Za. Jangan munafik!” Queen tersenyum sinis melihat Reza salah tingkah.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\= ...
“Bu, hasil pemeriksaan darah, Ananda Nino positif demam berdarah. Saat ini, sedang berada di fase kritis. Trombositnya sangat jauh dari angka normal. Sehingga ia membutuhkan transfusi darah secepatnya,” papar dokter setelah membaca hasil pemeriksaan darah Nino.
“Lakukan yang terbaik, Dok. Tolong selamatkan anak saya!” seru Sofia dengan hati hancur berkeping-keping.
“Masalahnya, rumah sakit ini kehabisan stok darah golongan o, Bu. Kami juga sudah menghubungi bank darah, tetapi kebetulan sedang kosong juga. Apakah ada keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?” tanya dokter tersebut dengan ramah.
Tubuh Sofia melemas seketika. Golongan darah o, tentu hanya bisa menerima pendonor yang memiliki golongan darah o pula. Sedangkan ia sendiri, memiliki golongan darah B.
“Bu, ini darurat. Mohon secepatnya menghubungi saudara yang memiliki golongan sama,” pinta dokter tersebut.
“Baik, saya usahakan secepatnya!” sahut Sofia meraih ponselnya di dalam tas.
Tangannya gemetar mencari kontak Reza. Ia tahu, lelaki itu memiliki golongan darah yang sama dengan putranya. Setelah beberapa saat menekan panggilan, terdengar suara Reza di ujung telepon.
“Halo, Sofia!”
“Assalamu’alaikum, Mas. Tolong Ke Rumah Sakit Sejahtera sekarang juga. Nino membutuhkan transfusi darah secepatnya!” ucap Sofia tanpa basa-basi. Bahkan suaranya terdengar parau sekarang.
“Apa? Nino kenapa?” pekik Reza khawatir.
“Nino positif DBD, Mas. Buruan! Aku takut Nino kenapa-napa!” teriak Sofia frustasi. Tangisnya pecah, ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan buah hatinya.
“Iya! Iya. Kamu tenang, aku segera ke sana. Tunggu ya,” sahut Reza berusaha menenangkan.
“Cepetan!” rengek Sofia.
“Iya, Sayang.”
Klik!
Sofia langsung mematikan ponselnya seketika. Tanpa berkata apa-apa. Ia bergegas kembali ke ruang rawat Nino. Di sana sudah ada Bi Sri yang tadi menyusul membawakan pakaian ganti untuk sang nyonya.
Sesampainya di ruangan, Sofia duduk di kursi, menggenggam jemari kecil Nino. Matanya berkabut, tangan lainnya membelai puncak kepala Nino.
“Kamu anak hebat, Sayang. Kamu pasti kuat,” ucap Sofia mengecup punggung tangan Nino bertubi-tubi.
...\=\=\=\=°°°\=\=\=\= ...
“Maaf, Bu. Saya harus ke luar kota sekarang juga.” Reza dengan lancang mendorong tubuh sexy yang berada di pangkuannya.
Wanita itu sengaja duduk di atas paha Reza ketika pria itu sedang menerima telepon dari wanita lain. Ia geram dan melingkarkan lengan di leher kokoh Reza.
Ingin langsung mendorong, rasanya tidak mungkin. Sebab, takut jika jeritannya membuat Sofia salah sangka. Ia tidak ingin semakin sulit mendapatkan Sofia kembali.
“Kamu kira perusahaan ini milik bapakmu apa? Seenaknya saja keluar masuk di jam kerja!” sentak Queen tidak terima karena Reza berani menolaknya. Ya, itu alasan utamanya. Bukan karena keluar masuk di jam kerja semaunya.
“Maaf sekali lagi, Bu. Tapi ini darurat. Permisi,” ujar Reza berlari keluar.
“Sialan, beraninya dia." Queen mengumpat kesal sembari mengepalkan kedua tangannya kuat. "Reza! Kalau kamu berani keluar aku akan pecat sekarang juga!” teriak Queen mengancam.
Reza tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya dan berlari keluar ruangan yang membuatnya sesak napas sedari tadi.
Tanpa membawa persiapan apa-apa, Reza langsung bergegas ke Bandung siang itu juga. Dadanya berdebar sedari tadi, khawatir dengan keadaan Nino. Namun, ia tetap fokus berkendara bahkan mematikan ponselnya karena Queen menghubunginya sedari tadi.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\= ...
Senja mulai membias di ufuk barat. Jalanan mulai memadat. Reza masih berkutat dengan setir mobil. Ingin segera sampai rumah sakit yang ditunjuk Sofia, seingatnya berada tak jauh dari rumah wanita itu.
Benar saja, setelah tiga jam lamanya membelah padatnya jalan raya, mobil yang dikendarai Reza mulai memasuki pelataran rumah sakit.
Barulah Reza menyalakan ponsel dan menghubungi Sofia. Sayangnya, tidak dijawab. Reza berlari menuju resepsionis, menanyakan keberadaan kamar Nino.
Langkah tergesa Reza akhirnya sampai di ruangan Nino. Tanpa mengetuk, Reza membuka pintunya perlahan. Netranya langsung menangkap punggung Sofia yang ambruk, kepalanya bersandar di tepian ranjang sambil memeluk Nino.
Beralih pada wajah pucat Nino, yang kini memejamkan mata dengan selang oksigen yang membantu pernapasannya.
Perlahan, Reza menjulurkan tangan pada pundak Sofia. Sentuhan itu membuat Sofia terperanjat dan membuka mata seketika.
“Mas!” Sofia refleks memeluk pria itu, menumpahkan segala kegundahan hati yang melingkupinya sedari tadi. Isak tangis pun mulai menggema.
Reza mematung debaran jantung yang seolah lari maraton. Ia membalas pelukan itu, bahu Sofia masih bergetar. “Tenanglah, Nino pasti akan sehat kembali. Di mana aku bisa mendonorkan darah?” Suara itu segera menyadarkan Sofia.
Buru-buru ia menjauh dan menyeka air matanya. “Maaf,” ucapnya beranjak lalu menekan tombol nurse call.
“Enggak perlu minta maaf, aku malah seneng kok. Sini peluk lagi,” sahut Reza merentangkan kedua lengannya. Akan tetapi Sofia justru membelakanginya, memusatkan perhatian pada Nino, mencoba mengabaikan Reza.
Bersambung~
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.