Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh panas dan cerita pahit
Malam itu, hujan gerimis turun perlahan.
Suara tetesan air di atap ruko berirama seperti lagu pengantar tidur,kalau saja perut Kirana nggak keroncongan karena kelaparan akibat terlalu sibuk masak seharian.
Siska memutuskan tidur diruko ,karena hujan ,lagi pula besok pagi mereka harus menyiapkan orderan untuk besok
Siska masih di dapur, membersihkan wajan terakhir sambil nyanyi-nyanyi kecil lagu dangdut lawas. Kirana duduk di lantai, bersandar ke dinding, memegang cangkir teh hangat yang sudah agak dingin.
“Eh, kamu belum makan, ‘kan?” tanya Siska sambil menyalakan kompor kecil lagi. “Aku goreng sisa ayam buat kamu.”
Kirana menggeleng pelan. “Nggak usah, nanti Gio bangun minta juga. Biarin aja perutku latihan puasa dadakan.”
Siska nyengir. “Puasa ala Kirana: nahan lapar demi anak, tapi tetap senyum kayak bintang iklan susu.”
Kirana tertawa, tapi tawanya cepat redup. Matanya menerawang ke arah jendela kecil yang berkabut.
Siska diam sebentar, lalu duduk di sebelahnya. “Ada apa, Kir? Kamu kayak… ada beban berat di kepala.”
Kirana menarik napas dalam. “Aku cuma… mikirin masa lalu. Soal mas Aris.”
Nama itu disebut pelan, tapi terasa berat seperti batu bata.
Siska langsung berhenti minum teh. “Mantan suamimu? Yang katanya ‘kerja di perusahaan besar’ tapi ngasih kamu uang cuma cukup buat beli mie instan sebulan?”
Kirana tersenyum getir. “500 ribu. Itu semua yang dia kasih tiap bulan. Katanya, ‘Itu udah lebih dari cukup buat ibu rumah tangga.’ Padahal, untuk bayar listrik dan susu gio nggak cukup .” ucap Kirana dengan senyum getirnya
Siska mengerutkan dahi. “Tunggu… jadi selama menikah, kamu hidup dengan 500 ribu? Buat makan, bayar listrik, beli popok Gio waktu bayi, plus bayar air,dan listrik ?”
“Plus bayar obat kalau Gio demam,dan makan sehari hari ,” tambah Kirana pelan. “Aku sering pinjam uang tetangga. Kadang pura-pura sakit biar nggak malu minta tolong,bahkan aku menjadi kuli dipasar pagi ,agar semua bisa tercukupi .”
Siska menatapnya, matanya mulai memerah. “Dan dia… nggak pernah nanya? Nggak pernah lihat kondisi kalian?”
Kirana menggeleng. “Dia sibuk. Katanya meeting, presentasi, dinner sama klien. Tapi aku tahu… dia dinner bareng cewek lain. Di restoran mahal. Aku lihat fotonya di medsos,dia pamer makan steak, pakai kalung emas, caption-nya: (‘Terima kasih, sayang, atas hadiah ulang tahunku.’”)
Siska langsung meletakkan cangkirnya keras. “Astaga. Dia ngasih hadiah mahal buat selingkuhannya, tapi buat istri dan anak cuma 500 ribu?!”
“Lebih parah lagi,” lanjut Kirana, suaranya mulai bergetar. “Waktu Gio umur satu tahun, demam tinggi sampe kejang. Aku nelpon Aris berkali-kali. Nggak diangkat. Pas akhirnya diangkat, dia bilang, ‘Jangan ganggu, aku lagi dinner penting.’ Aku harus jual gelang emas pemberian nenekku buat bayar UGD.”
Air mata pertama akhirnya jatuh. Tapi Kirana buru-buru mengusapnya, malu.
Siska nggak bicara. Dia cuma merangkul Kirana erat-erat, seperti pelukan yang ingin bilang: (Kamu nggak sendiri lagi.)
Setelah beberapa detik, Siska tarik napas dalam-dalam,seperti sedang menahan amarah yang siap meledak.
“Kalau aku ketemu Aris sekarang, aku bakal siram mukanya pake kuah soto panas! Terus bilang, ‘Ini buat kamu yang nggak tahu bedanya keluarga sama mainan!’”
Kirana tertawa lewat isak. “Jangan, nanti catering kita dikira tempat balas dendam.”
“Serius, Kir! Orang kayak gitu pantasnya… digoreng bareng ayam mentega, terus dikasih label: (Ayam Mantan Jahat – Pedas Banget!”)
Mereka tertawa lagi, tapi kali ini lebih lega. Seperti ada beban yang akhirnya boleh diturunkan.
“Tapi kenapa kamu mau nikah sama dia dulu?” tanya Siska pelan.
Kirana menatap langit-langit yang retak. “Perjodohan ,Dulu dia baik. Bilang mau sekolahkan aku sampai S2, dukung aku jadi guru. Tapi begitu Gio lahir… semuanya berubah. Katanya, ‘Perempuan yang udah punya anak nggak usah cari kerja. Cukup jaga rumah.’ Aku protes, dia bilang aku nggak tahu terima kasih.”
“Padahal kamu rela keluar dari kampus demi nikah muda, ‘kan?”
Kirana mengangguk. “Iya. Tapi dia janji, ‘Nanti aku yang biayain kamu lanjut.’ Ternyata… janji itu cuma bumbu masakan—enak didengar, tapi nggak bikin kenyang.”
Siska menghela napas. “Tau nggak, Kir? Kamu itu kayak ayam goreng mentega yang sempurna. Luarnya garing, dalamnya empuk, rasanya bikin orang nagih. Tapi prosesnya… pasti panas banget, digoreng lama, kadang hampir gosong. Tapi tetap jadi juara.”
Kirana menatap Siska, lalu tersenyum lebar. “Kamu bisa jadi penulis novel romantis, tau!”
“Kalau novelnya judulnya "Cinta Setelah Dikhianati, Lalu Buka Catering", pasti best seller!” sahut Siska sambil pose dramatis.
Tapi tiba-tiba, Siska serius lagi. “Kir, kamu nggak salah. Kamu nggak bodoh, nggak lemah, apalagi ‘nggak berguna’ kayak yang dia tanam di kepalamu. Kamu itu… luar biasa. Hidup sendiri, urus anak, tetap masak enak, tetap senyum. Bahkan sekarang, kamu bikin orang lain bahagia lewat makanan.”
Kirana diam. Kata-kata itu seperti oksigen setelah lama tenggelam.
“Dan soal Aris?” Siska menyeringai. “Biarkan dia makan nasi putih polos seumur hidup. Tanpa lauk. Tanpa sambal. Bahkan tanpa kecap. Biar dia tahu rasanya hambar,kayak hatinya.”
Kirana tertawa terbahak-bahak sampai air mata keluar lagi,tapi kali ini karena lucu.
“Oke, mulai besok, kalau ada pesanan dari nama ‘Aris’, kita kasih nasi doang. Gratis!”
“Plus tagihan moral sebesar 1 miliar rupiah,” tambah Siska.
Mereka duduk berdampingan dalam diam yang nyaman. Hujan masih turun. Di sudut ruangan, Gio mendengkur pelan, mimpi tentang es krim dan mobil balap.
“Tapi kamu tahu yang paling bikin aku marah?” kata Siska tiba-tiba.
“Apa?”
“Dia nggak cuma ninggalin kamu. Dia ninggalin Gio. Anaknya sendiri! Padahal Gio itu… lucu banget, pintar, dan sayang banget sama mamanya. Kalau aku jadi Gio, aku bakal bilang ke Aris: ‘Pak, saya nggak butuh ayah yang cuma kasih uang. Saya butuh ayah yang kasih pelukan.’ Tapi… ya sudahlah. Gio punya kamu. Dan sekarang, punya aku juga—jadi pamannya yang suka masak dan nyanyi dangdut!”
Kirana menoleh, matanya berbinar. “Makasih, Siska. Beneran. Aku jarang cerita ini ke siapa-siapa. Takut dikasihani.”
“Siapa yang kasihan? Aku malah salut! Kamu itu superhero versi nyata. Capek, lapar, kesepian—tapi tetap bangun jam empat pagi buat goreng ayam demi anak. Itu namanya cinta, Kir. Bukan cuma kata-kata manis di medsos.”
Kirana menarik napas dalam. Rasanya seperti beban yang selama ini dipendam akhirnya boleh dilepas—sedikit demi sedikit.
“Besok, kita bikin menu baru,” katanya tiba-tiba, suaranya lebih teguh. “Namanya… (Ayam Bangkit). Pakai bumbu rahasia: ketekunan, harapan, dan sedikit dendam yang udah dimaafin.”
Siska tepuk tangan. “Aku yang bikin labelnya! ‘Rasanya bikin mantan nyesel seumur hidup!’”
Mereka tertawa lagi, kali ini lebih ringan. Lebih bebas.
Di luar, hujan mulai reda. Langit mulai menunjukkan warna ungu lembut menjelang subuh.
Dan di dalam ruko kecil itu, dua perempuan—satu yang baru saja menemukan teman, satu yang akhirnya berani bicara,duduk berdampingan, minum teh sisa, dengan hati yang mulai pulih.
Karena kadang, yang kamu butuhkan bukan jawaban atas masa lalu…
tapi seseorang yang mau duduk di lantai berdebu bersamamu,
dan bilang:
(“Ceritanya boleh pahit. Tapi kamu? Kamu manis banget.”)