Aileen Candramaya Putri Cempaka atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Cempaka. Anak dari salah satu ajudan jenderal besar di Bandung. Malang nasib di umurnya yang baru 10 tahun ia harus kehilangan orangtunya akibat pemberontakan di Papua. Cempaka yang masih kecil dititipkan pada atasannya. Muhammad Ghiza Naskala Barawijaya adalah anak dari Jendral Muhammad Toha Barawijaya. Ia adalah sosok yang selalu ada di pertumbuhan Cempaka. Ketika Cempaka baru kelas 5 SD dan dititipkan pada orangtunya ia pun menjadi sosok ajudan untuk Cempaka. Hidup Cempaka selalu terbiasa dengan Naskala meskipun Naskala selalu mengejeknya. Ketika ia beranjak dewasa Cempaka tak mengerti kenapa Naskala sangat dingin dan tak ingin berbicara padanya. Bahkan selalu menundukkan pandangan kepadanya. Pada suatu hari ada tragedi besar yang mengharuskan Naskala dan Cempaka menikah meskipun dilaksanakan dengan terpaksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Cempaka tertawa nyaring karena merasa Naskala hanya sedang bercanda dengannya.
"Apaan sih Om gak lucu tau kalau prank kaya gini. Udah ah berdiri gak malu apa diliat banyak orang?" Cempaka menatap ke arah orang-orang yang tengah memperhatikan mereka. Tapi ada yang aneh karena mereka semua mengenakan gaun yang sangat indah. Ia merasa parno sendiri dan menggaruk lehernya kebingungan.
Cempaka pun mengerutkan keningnya. Ada apa dengan suasana ini. Ia pun menatap ke arah Naskala memastikan pria itu. Cempaka malah sangat terkejut karena ia mendapatkan ekspresi Naskala yang sangat serius masih dengan mengacungkan kotak cincin di depannya. Barulah Cempaka paham jika Naskala tidak sedang bercanda.
Cempaka pun tersadar dan mundur selangkah. Ia memperhatikan sekitar lagi yang memintanya untuk menerima lamaran Naskala.
Cempaka pun menyentuh pipinya dan menamparnya untuk memastikan jika ini nyata dan bukanlah sekedar mimpinya ataupun halunya yang sudah kelewat batas.
"Cempaka lagi mimpi?"
"Kamu sedang tidak bermimpi. Saya memang tengah melamar kamu."
Cempaka tertawa sumbang, " kok bisa?"
"Apa kamu menerima saya atau tidak?" tanya Naskala dengan suara pelan berharap jika lamarannya diterima oleh Cempaka.
Seorang Cempaka sudah pasti menerima lamaran Naskala. Bodoh sekali jika dirinya menolak cinta yang sudah lama dikejarnya. Satu hal yang membuat Cempaka tak menyangka, ternyata doanya di setiap sujud dan tahajjud nya terkabul.
"Ini beneran? Cempaka jawabnya Yes." Naskala langsung tertawa bahagia. Hampir saja ia memeluk Cempaka yang belum menjadi mahramnya.
Sementara itu para undangan bertepuk tangan. Acara ini privat dan yang datang hanyalah orang-orang tertentu. Sebagai mana yang kita ketahui jika Cempaka masih kecil dan juga sedang bersekolah. Terlebih lagi Naskala seorang abdi negara yang mana jika menikah dengan orang di bawah umur adalah tindakan ilegal.
"Terimakasih kamu sudah menjawabnya."
"Seharusnya Cempaka yang berterima kasih. Cempaka tidak pernah menyangka jika Cempaka dilamar sama Om, hiks, habisnya Om tuh dingin mulu sama Cempaka." Tangis Cempaka pun pecah. Wanita itu menangis tersedu-sedu membuat Naskala yang melihat itu merasa tidak tega.
"Cempaka! Kamu kenapa menangis! Jangan nangis, maafkan saya. Kamu terpukul menerima lamaran saya? Katakan saja, saya siap mendengarnya."
"Cempaka itu lagi nangis kesenangan. Cempaka gak nyangka kalau Om bakal lamar dan juga akan menikahi Cempaka! Cempaka rasa ini adalah sebuah mimpi."
Naskala menghela napas panjang dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Ia kemudian menghapus air mata Cempaka yang mengalir deras.
"Jangan nangis lagi yah cantik. Saya akan menikahi mu secepatnya dan akan menjaga mu seusai sumpah saya ketika memutuskan untuk menjadi ajudan mu selamanya."
Cempaka tertawa pelan. Ia mengibaskan matanya menghalau air mata. Ia tak ingin menangis lagi di hari yang penuh bahagia dan Naskala seorang pria yang melihat wanita tengah menangis lantas mengeluarkan sapu tangan dan menghapus air mata Cempaka. Cempaka tak sanggup dengan keuwuan ini.
Ia bisa baper sendiri dan berujung tak bisa tidur. Diam-diam ia melirik para undangan yang masih terlihat bahagia.
"Mereka siapa?"
"Mereka adalah teman-teman saya. Dan orang-orang tertentu yang saya undang."
Cempaka pun mengangguk. "Eh Om gimana Om mau menikah dengan Cempaka, kan Cempaka masih kecil gak mungkin nikah sama Om apalagi Cempaka juga lagi sekolah."
"Saya akan tetap menikahi mu. Kita akan menikah secara siri baru negara ketika kamu sudah kuliah. Lagipula di dalam agama ini adalah sesuatu yang halal jadi kamu tak perlu khawatir. Mungkin kita bisa menikah secara siri terlebih dahulu yang penting saya bisa menghalalkan mu."
"Cempaka masih bingung kenapa Om mau sama Cempaka? Bukannya Om sering banget yah larang Cempaka untuk suka sama Om. Apalagi Om sering marah kalau Cempaka ungkapkan perasaan Cempaka."
Naskala pikir belum saatnya untuk menceritakan semuanya kepada Cempaka. Ia memutuskan untuk melamar Cempaka lebih cepat dari rencana awal karena ia kerap melihat Cempaka yang menangis tengah malam hingga membuatnya berpikir untuk menikahinya secepatnya agar dia bisa menjadi sandaran Cempaka.
__________
Cempaka mengercutkan bibirnya menatap teman-temannya yang tengah sibuk bermain. Sementara ia tak diajak karena Cempaka yang tak mau memberikan mereka contekan pr.
Bukan tanpa alasan cuman Naskala melarangnya untuk memberikan contekan. Selama ini Cempaka terlalu polos hingga memberikan pr yang ia susah kerjakan sendiri kepada teman-temannya.
"Nanda maaf!" bujuk Cempaka kepada sahabatnya tersebut.
Nanda membuang muka. Ia terus bermain basket tak memperdulikan Cempaka. Cempaka merasa sangat sedih dengan sikap dingin mereka.
Sementara itu Yohana, Sinta, dan Patrica juga sama. Ia tak mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu kepadanya. Padahal Cempaka rasa mereka masih mampu untuk mengerjakannya.
Cempaka pun cemberut dan kembali ke kelas. Sesampainya di kelas Cempaka merasa bulu kuduknya meremang dan menatap kelas yang kosong dan terdapat aura horor yang sangat luar biasa.
"Kenapa kok jadi seram ya?" tanya Cempaka heran.
Ia pun ingin kembali ke luar namun Cempaka terkejut tiba-tiba lampu mati. Cempaka ketakutan dan ingin berlari namun tiba-tiba wanita itu berhenti tatkala mendengar suara sorak sorai dari teman-temannya.
Kelas yang awalnya sangat mencengkam berbuah suasana menjadi sangat indah dengan hiasan yang tersembunyi tak disadari oleh Cempaka. Cempaka tertawa pelan dan menatap teman-temannya yang bertepuk tangan.
"Ada apa ini? Aku kan belum ulang tahun!"
"CIEH!! SELAMAT KAMU MENANG LOMBA MENGGAMBAR! BARUSAN ADA PENGUMUMANNYA DI IG. CIEHHH JADI JUARA SATU TINGKAT NASIONAL NIH! KITA MAU MERAYAKAN DAN MEMBERIKAN SELAMAT."
Cempaka bahkan belum mengetahui jika ia yang keluar sebagai pemenang. Ia mengirimkan proses menggambar dan hasil gambarnya iseng-iseng untuk mewakili sekolahnya. Ia tak menyangka jika akan menang dan kini yang memberikan surprise kepadanya tidak hanya dari teman sekelasnya namun juga ada kepala sekolah.
Cempaka memeluk kepala sekolah mereka. Ia berterima kasih kepada ibu guru yang sudah memberikan surprise ini untuknya.
Cempaka menatap teman-temannya yang turut memeriahkan dan memberikan beberapa kado untuk Cempaka.
"Makasih Ibu!"
"Sama-sama cantik dan kamu sudah memberikan yang terbaik untuk sekolah ini dan membanggakan sekolah. Kita bangga kepadamu."
Cempaka merasa di atas awan mendengar segala pujian yang diberikan kepadanya.
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.