Elvan begitu mencintai istrinya. Begitu juga istrinya yang sangat mencintainya. Namun, setelah menikah tiga tahun lamanya, Clara yang merupakan istri Elvan mulai berubah sikap. Di sela-sela rumah tangganya yang tak baik-baik saja, Elvan terjebak satu malam bersama Rania yang merupakan office girl yang bekerja di kantornya.
Akankah Elvan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Ataukah dia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia dengan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.18
Karena tidak mau Clara curiga, jadi Elvan memutuskan untuk pulang lebih cepat. Padahal dia masih betah tinggal di apartemen. Apalagi setiap hari dia selalu memakan masakan Rania yang membuat semangatnya bertambah. Tapi dia memang harus pergi karena keadaan.
Saat ini Elvan berdiri di depan rumahnya. Dia hendak membuka pintu. Namun ternyata pintunya di kunci dari dalam. Elvan langsung saja mengetuk pintu itu.
Tok tok
''Cla, buka pintunya!'' uca Elvan dengan cukup keras.
Tak lama Clara membuka pintu itu. Kebetulan tadi dia sedang duduk bersantai sendirian.
''Mas Elvan, akhirnya kamu pulang juga,'' Clara tersenyum menatap suaminya.
''Hm ... '' hanya itu yang keluar dari mulut Elvan.
Melihat suaminya cuek, Clara jadi ingin bertanya apa yang terjadi. Atau mungkin saja suaminya sudah pindah ke lain hati. Karena jika marah kepadanya, dari dulu tidak pernah berlarut-larut seperti itu.
''Mas, semakin hari sikapmu semakin berubah kepadaku.''
Ucapan Clara menghentikan langkah Elvan. Elvan membalikan badannya sehingga kini dia menatap istrinya.
''Apa maksudmu, Cla? Aku memang sedang marah padamu karena perselingkuhanmu itu,'' ucapnya.
''Tapi dari dulu Mas Elvan tidak pernah marah terlalu lama kepadaku. Pasti ini ada apa-apanya. Atau jangan-angan Mas Elvan kepincut sama pembantu muda yang bekerja di apartemen. Buktinya hanya pembantu saja pakaiannya branded. Jangan-jangan Mas Elvan kena guna-guna sama dia,'' ucap Clara penuh selidik.
''Jaga ucapan kamu, Clara! Dalam masalah rumah tangga kita ini, kamu jangan kaitkan dengan orang lain. Semua kesalahan itu ada pada diri kamu, Cla.''
''Jujur saja, Mas! Aku masih ingat kok raut wajah kalian kemarin saat aku datang tiba-tiba. Kalian itu terlihat panik.''
''Kalau aku memang ada hubungan sama dia, kamu mau apa? Lagian kamu juga berhubungan dengan lelaki lain.''
''Tapi aku sudah meninggalkan lelaki itu demi kamu, Mas.
''Ah ... Aku lagi malas berdebat,'' Elvan berlalu pergi dari hadapan istrinya. Karena jika berbicara dengan istrinya hanya membuatnya emosi saja.
Clara menatap kepergian suaminya sambil mengepalkan satu tangannya.
'LIhat saja, aku akan bikin perhitungan dengan wanita itu,' batin Clara.
Elvan yang baru sampai di kamar, dia langsung saja merebahkan diri di atas kasur dan mulai memejamkan matanya.
Clara yang baru membuka pintu kamarnya, dia melihat suaminya yang sudah tertidur. Clara memilih untuk membereskan pakaian suaminya yang masih ada di koper. Dia ingin terlihat seperti istri yang baik.
Clara yang sudah membuka koper, langsung mengamabil semua isinya. Ternyata pakaian dari dalam koper itu bersih semua, tidak ada yang kotor. Clara langsung saja memasukannya ke dalam lemari.
Tiba-tiba tak sengaja dia melihat ada dalaman waita yang ada di dalam koper. Sejenak dia memperhatikan dalaman itu yang ternyata bukan miliknya. Sekarang Clara yakin jika suaminya itu punya wanita lain.
'Ini tidak bisa di biarkan lagi, secepatnya aku harus bikin perhitungan dengan wanita itu,' batin Clara.
Clara melempar dalaman itu ke tong sampah.
............
Pagi ini Clara pergi ke apartemen milik suaminya. Dia mengambil kesempatan ini mumpung suaminya sudah pergi ke kantor.
Saat ini Clara sudah berdiri di depan apartemen. Dengan tidak sabaran, dia memencet bel berulang kali. Tak lama, Rania membukakan pintu itu. Dia sedikit bingung saat melhat ada Clara yang berdiri disana.
''Maaf, cari siapa ya?'' tanya Rania ramah
''TIdak usah so ramah. Lebih baik sekarang mengaku saja. Benar kan kalau kamu ini selingkuhan Mas Elvan?'' Clara menatap Rania dengan tatapan tajam.
''Bukan, Tuan Elvan itu suami yang setia. Tidak mungkin jika berselingkuh di belakang ibu,'' ucap Rania. Sebisa mungkin Rania tidak boleh terlihat panik di depan Clara.
''Tidak usah menutupi semuanya! Saya sudah curiga sama kamu setelah saya datang kemarin. Karena mana ada pembantu yang memakai pakaian branded. Saya ingatkan ya, jangan pernah berani menggoda suami saya. Atau kamu tahu sendiri akibatnya jika sampai itu terjadi,'' Clara mengancam Rania.
Perasaan Rania mendadak tak karuan. Dia sangat takut jika Clara menyakitinya. Apalagi jika menyakiti anak yang ada di dalam kandungannya.
''Saya tidak menggoda Pak Elvan. Saya memakai baju branded karena memang saya mengoleksinya beberapa,'' ucap Rania
''Ah sudahlah! Aku malas mendengarkan alasan kamu. Lebih baik sekarang kamu pergi dari kehidupan suamiku. Aku pergi dulu, awas saja kalau besok aku datang, tapi kamu masih ada disini,'' setelah mengatakan itu Clara berlalu pergi dari hadapan Rania.
Rania merasa jika Clara tidak main-main dengan ancamannya. Dia sngat takut jika Clara menyakitinya. Sejenak dia berpikir, apakah pergi adalah jalan yang terbaik.
Rania menutup pintu apartemen. Lalu dia segera pergi ke kamarnya. Tak sengaja dia berpapasan dengan Bi Darmi yang baru muncul dari arah dapur.
''Non, di luar ada siapa? Kok tadi saya mendengar seperti ada suara ribut-ribut?'' tanya Bi Darmi.
''Bukan apa-apa kok, Bi. Tadi tetangga sedang ribut dengan suaminya," ucapnya berbohong. Rania tidak mau jika Bi Darmi tahu jika yang datang itu Clara. Takutnya jika Bi Darmi mengatakannya kepada Elvan, dan nantinya hubungan Elvan dan Clara tidak baik. Rania tidak mau jika dia yang di salahkan karena di kira mengadu.
Untuk saat ini Rania mencoba mengabaikan ancaman Clara. Dia harus berhati-hati dengannya. Jika perlu, dia tidak usah membukakan pintu lagi jika suatu saat Clara datang menemuinya.
°°°°°°
Elvan yang baru ingin memulai pekerjaannya, tiba-tiba dia teringat Rania. Dia mencoba untuk menghubunginya.
Kini mereka sudah saling berteleponan.
📞"Hallo, Rai. Bagaimana tidurmu semalam? Apa kamu dan anak kita tidur nyenyak?" tanya Elvan dari balik telepon.
📞"Kami tidur nyenyak kok," ucapnya.
📞"Syukurlah. Jika ada yang di inginkan, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku pasti akan membelikannya."
"Iya, Mas. Namun untuk saat ini aku belum menginginkan sesuatu.
📞"Nanti hubungi aku saja jika suatu saat kamu menginginkan sesuatu. Jangan lupa makan dengan baik. Kamu harus menjaga kandungan kamu loh."
📞"Iya, Mas. Aku tahu kok apa yang harus aku lakukan," ucapnya.
Hanya sebentar mereka berteleponan. Kini keduanya sudah mengakhiri panggilan itu.
Reno yang masuk ke ruangan Elvan secara tiba-tiba, dia melihat Elvan yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memegangi ponselnya.
"Ekhem ... ekhem ... sepertinya ada yang sedang berbahagia nih. Aku jadi penasaran, apa yang membuat bosku ini senyum-senyum seperti ini," ucap Reno yang saat ini berdiri di depan meja kerja Elvan.
"Mau tahu saja deh, ini urusan pribadi," ucapnya.
"Apa menyangkut Clara?"
"Bukan. Jangan bahas dia di hadapanku. Aku lagi malas sama dia."
"Wah wah roman-romannya sudah ada wanita lain nih," Reno menatap Elvan penuh selidik.
"Hus, apa sih yang kamu katakan," Elvan berpura-pura fokus menatap layar laptopnya, agar Reno tidak bertanya lagi karena melihatnya sibuk.
Tokoh2nya kuat karakternya...
Tokoh2nya kuat karakternya...