"Lah? Kalo nggak mau bunuh diri ngapain duduk di situ?"
"Emang kalo duduk disini harus orang yang mau bunuh diri?"
"Iyalah, orang yang duduk disini tuh artinya pengen didorong setan biar jatoh, jadi alesannya meninggal bukan karna bunuh diri, tapi karena didorong setan terus mati"
"Gila Lo!! Jaman gini masih percaya sama tahayul..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wati kesetanan
Pukul 16:58 WIB
Waktu berjalan begitu cepat. Sebelumnya saat Ila akan kabur dari hukuman, matahari masih bersinar terang bahkan masih sinarnya masih bisa membakar kulit manusia. Namun, belum tepat 1 jam, matahari sudah merubah warnanya menjadi jingga yang menyejukkan.
Pulang sekolah dengan memandangi pemandangan sunset, ini pertama kali Ila rasakan. Setelah bertahun-tahun tidak melihat pemandangan ini, ia sadar kenapa tidak sedikit orang didunia menyukainya.
Angin sejuk ditambah remang-remang dari lampu jalanan menyempurnakan penampilan sunset sore ini.
"Gw nggak yakin Lo bakalan dibiarin aja sama Nyokap Lo. Lo harus kuat La, meskipun Lo nggak pernah cerita sama Gw, tapi dengan ngeliat sikap dia sama Lo, Gw sama yang lain juga tau gimana dia dibelakang kita"
"Enggak, dia baik kok. Palingan juga besok disuruh nyuci piring sama nyuci baju sebagai hukumannya"
"Iya, percaya aja Gw mah"
"Yaudah Gw turun dulu ya, thanks atas tumpangannya"
"Heleh kek sama siapa aja Lo, yaudah Gw lanjut jalan ya, bye"
Ila tidak langsung masuk kedalam rumah, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya nanti, sebab Wati dari dulu akan memarahinya jika ia pulang terlambat dan tidak peduli alasannya apa.
Terakhir kali ia pulang terlambat, ia dipukul, dicubit dan juga harus membersihkan seluruh rumah sebelum ia berangkat ke sekolah. Hukuman itu diberikan saat ia masih menginjak kelas 6 SD. Sekarang ia sudah SMA, jika dulu saat kecil saja hukuman yang ia dapatkan seperti itu, lantas sekarang akan mendapatkan hukuman seperti apa?
Pintu terbuka memperlihatkan Wati yang sedang berdiri diambang pintu.
"Oh sudah pulang? Dari mana tadi? Dari GOR tempat ngegodain cowo ya?"
"Bukan Bu, Ila tadi dihukum sama Pak Citro buat ngebersihin halaman sekolah makanya pulang terlambat"
"Alah alesan saja kamu!! Sini kamu, masuk!!"
Wati menyeret Ila untuk masuk kerumah. Wati sangat tidak suka Ila pulang terlambat, entah apa alasannya, Ila pun tidak mengerti.
"Mau jadi apa kamu pulang terlambat?
"Kamu mau jadi cewek yang tukang godain Om Om?"
"Bukan Bu, Ila tadi dihukum sama Pak Citro. Lepas Bu, sakit.."
Tangan Wati sudah berubah tempat ke rambut Ila dan menjambaknya. Ia menarik dengan kuat rambut itu agar Ila mendongak melihatnya yang sedang berbicara.
Wajah merah dengan air mata yang bercucuran itu berhasil melihat wajah sang Ibu.
"Kamu.. Jangan sekali-kali pulang terlambat... Bukankah aku sudah pernah bilang itu ke kamu? Kau budek? Atau tidak mengerti bahasa manusia?"
Plak... Plak... Plak...
Krek... Krek... Krek..
Cekit......
"Iiya Ibu, maa Aff... Sakit Bu..
"Ahh....
"Ssttt..."
Pukulan, jeweran, tamparan serta cubitan dari tangan Wati berbekas dibadan Ila. Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal tersebut sekarang, namun ini adalah pukulan ke 5 kali yang Ila dapatkan dalam waktu kurang dari 5 menit.
"Awas kalau kamu sampai berani pulang terlambat lagi, Ibu pastikan hukuman ini masih belum seberapa. DENGAR TIDAK?!!"
Ancam Wati dengan mencengkeram kedua pipi ila dengan kencang karena Ila tak kunjung menjawabnya.
"Iiya Bu"
Ila menjawab dengan suara sesegukan karena menahan tangis dan juga dari ditubuhnya. Wati menghempaskan Ila sesaat setelah mendengar jawaban tersebut.
"1 bulan kedepannya, kamu harus membersihkan seluruh rumah sebelum berangkat ke sekolah, dan membersihkan seluruh halaman depan dan belakang rumah. Mengerti?"
"Iya"
"Kalau begitu, sana ganti baju dan selesaikan pekerjaanmu sekarang juga!!"
Ila kembali ke kamarnya untuk mengganti baju, setelahnya ia membereskan kamar tersebut.
Kriet..
Suara pintu terbuka membuat perhatian Ila teralihkan kepada orang yang sedang berdiri disana. Axel, ya manusia itulah yang sedang berdiri disana.
Ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam, dan menanyakan keadaan Ila. Namun, sebelum ia mengeluarkan sepatah kata, Ila sudah terlebih dahulu mengucapkan keinginannya saat ini.
"Nan, Lo mendingan jangan ganggu Gw dulu deh, Gw nggak mood buat ngomong sama siapapun"
"Gw bakalan pergi setelah Gw ngomong satu hal ini..
"La, sorry Gw nggak bisa jagain Lo sebagaimana mestinya"
"Udah kan? Yaudah sana pergi"
Axel meninggalkan kamar Ila tanpa sepatah kata lagi, ia tahu mungkin Ila masih membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini, apalagi setelah Wati memperlakukannya seperti Ila ini bukanlah anak kandungnya.
Ini adalah pertama kalinya Axel melihat sang Ibu memukul Kakaknya tanpa ada rasa kasihan. Ia seperti ..membabi-buta kepada Ila, dan telinganya seakan tuli terhadap penjelasan yang diberikan oleh Ila.
Ila menatap kepergian Axel dibalik pintu kamarnya, ia merasakan ada sedikit rasa simpati Axel terhadapnya.
Bersambung....
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen, dan vote/gift, terimakasih:)