Harap bijak dalam memilih bacaan
Iblis Cinta Satu Malam, begitulah julukan yang diberikan oleh Rania pada pria playboy bernama Kaaran Dirga tersebut.
Dengan kekuasaannya, Kaaran bisa meniduri wanita mana pun yang dia mau dan dia tunjuk, tapi tidak dengan Rania. Karena penolakannya, gadis itu terpaksa harus berurusan dengan Kaaran dan para pengawalnya. Sampai-sampai Rania harus rela kehilangan pekerjaan yang sangat dia butuhkan karena gadis itu harus terus bersembunyi dan tidak ingin ditangkap oleh orang suruhan Kaaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Kaya Baru
1 Minggu kemudian.
Dalam waktu singkat, hidupku berubah 180° berkat pria itu. Aku tidak lagi berani mengatainya brengsyek atau segala macam makian lainnya. Karena berkat dia, aku tidak lagi menganggap diriku sebagai perempuan murahan setelah aku menjual mahkotaku padanya. Justru aku malah merasa sebaliknya. Siapa coba yang berani membayar seorang perempuan dengan uang 1 T hanya dalam 2 kali ronde permainan? Tidak ada bukan.
Padahal, tadinya aku hanya meminta uang 100 M padanya, tapi dia malah memberikan aku 10 kali lipat dari jumlah yang aku minta. Dia benar-benar sudah gila.
(Mentang-mentang ini dunia halu, author ngehalunya gak tanggung-tanggung ya. Wkwkwk)
Bertemu dengannya benar-benar mampu merubah takdirku dalam waktu singkat. Sekarang aku sudah membeli rumah sebesar istana, membeli mobil mewah untukku, untuk ibu, juga untuk Rina. Kami bahkan memiliki sopir pribadi dan bodyguard kami masing-masing.
Sekarang ini, aku benar-benar ingin membahagiakan ibu dan adikku dengan segala apa yang aku punya.
Serta para kerabatku yang pernah membantuku secara cuma-cuma saat aku meminta bantuan mereka, aku sudah membalas kebaikan mereka 20 kali lipat. Terutamanya tante Sinta yang sudah memberikan aku uang 50 juta secara cuma-cuma.
Oh iya, saat ini ibu sudah keluar dari rumah sakit dan kondisinya sudah jauh membaik pasca menjalani operasi usus buntu. Dan sekarang, kami semua sudah tinggal dengan nyaman di rumah baru rasa istana kami.
"Bu, Nia boleh minta ijin keluar?" tanyaku pada ibuku.
Saat ini aku tidak begitu khawatir untuk meninggalkan ibu. Selain karena kondisinya sudah jauh membaik, juga karena ada beberapa orang pelayan beserta perawat yang aku tugasnya untuk menjaga dan menemani beliau saat aku tidak ada di rumah.
"Memangnya kamu mau ke mana, Nak?" tanyanya.
"Nia mau refreshing dulu Bu. Biasa, pergi ke salon dan spa, setelah itu belanja." Aku menjawab sambil tersenyum, karena itu dulu kebiasaanku bersama ibu saat ayah masih belum bangkrut.
"Ya sudah, pergilah Nak. Ibu tahu, selama ini kamu sudah sangat tertekan karena terlalu banyak berkorban untuk kami." Beliau berkata seraya mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
"Ibu ini bicara apa sih? Bukankah Nia sudah bilang, kalau sekarang itu semua adalah tugasnya Nia yang menggantikan posisi mendiang ayah."
Ibu tersenyum hangat. "Iya, Nak. Ibu tahu. Pergilah. Jangan terlalu khawatirkan Ibu saat kamu di luar, kareba di sini banyak yang bisa membantu keperluan ibu. Bersenang-senanglah."
...***...
Aku menghabiskan waktuku di dalam salon dan spa selama berjam-jam. Setelah itu, untuk pertama kalinya aku akhirnya bisa shoping dengan tenang dan sepuasnya di dalam mall, karena kemarin-kemarin aku tidak bisa karena ibu masih ada di rumah sakit. Dan setelah beliau keluar, aku ingin benar-benar menikmati kehidupanku yang baru sebagai OKB alias orang kaya baru. Haha.
Eh, sebenarnya bukan OKB juga sih, karena sebelumnya orang tuaku juga sangat kaya raya sebelum akhirnya jatuh bangkrut. Mungkin lebih tepatnya ... orang kaya yang pernah beristirahat menjadi orang kaya kemudian akhirnya menjadi orang kaya lagi.
(Eh, apa sih? Kok aku malah bingung gimana cara jelasinnya😅)
Setelah memasuki beberapa stand barang-barang branded, aku akhirnya keluar dengan membawa banyak sekali belanjaan di tangan kedua bodyguardku. Aku berbelanja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk ibu dan adikku.
Melihatku selalu dikawal oleh dua orang pria berbadan besar dan berwajah sangar ke mana pun aku pergi, sepertinya tidak ada laki-laki yang berani mendekatiku, kecuali pria yang satu ini.
"Hai, kamu Rania, 'kan?" tanyanya.
"Iya benar. Ada apa ya?" tanyaku balik. Aku kenal siapa dia, jadi aku memberi kode pada kedua bodyguardku untuk tidak mengusirnya. Dia adalah pengusaha muda paling sukses di kotaku. Namanya Evan Wijaya.
Dulu, saat ayah masih hidup. Dia sering datang ke rumah kami saat ayah merayakan berbagai macam pesta. Seperti pesta ulang ayah, ibu, ulang tahun pernikahan mereka, ulang tahunku, ulang tahun Rina, juga pesta ulang tahun perusahaan ayah. Jadi bisa dibilang dalam jangka waktu satu tahun, paling tidak kami akan bertemu sebanyak 6 kali.
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyapamu. Kebetulan, kita sudah lama tidak pernah bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Evan.
"Oh begitu. Kabarku sangat baik," jawabku.
Evan tersenyum lalu melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Oh iya, apa aku boleh mengajakmu makan?"
"Mm ... boleh. Kebetulan aku juga belum makan," jawabku. Huft ... gara-gara keasyikan belanja, aku jadi lupa makan.
Evan pun kemudian mengajakku untuk makan di luar, di sebuah restoran mewah yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Evan mengajak aku untuk ikut dengan mobilnya, sementara mobilku beserta para pengawalku mengikuti kami dari arah belakang.
.
1 Jam kemudian. Aku dan Evan akhirnya selesai makan.
"Terima kasih atas traktirannya," ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama." Evan berkata sambil balas tersenyum padaku. "Mm ... Rania. Apa lain kali kita masih bisa bertemu lagi?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Dari cara Evan menatapku, aku curiga, dia tertarik padaku.
"Ah ... mm ... bo-leh." Aku menjawab dengan sedikit ragu-ragu. Entah kenapa? Padahal, saat ini aku tidak memiliki pasangan.
Evan kembali tersenyum. "Kalau begitu, apa aku boleh meminta nomor kontakmu?"
"Boleh."
Setelah aku dan Evan saling bertukar nomor kontak, Evan pun pamit duluan setelah membayar tagihan makanan kami. Katanya, dia ada urusan penting.
Begitu aku keluar dari restoran. Aku sangat terkejut saat tiba-tiba langkah kami dihadang oleh dua orang pria bertubuh kekar mengenakan setelah jas hitam lengkap dengan kacamata hitam.
"Eh, ada apa ini? Siapa kalian?" tanyaku.
Tanpa menjawab pertanyaanku, kedua pria kekar tadi hanya bergeser ke arah samping seperti sedang membuka jalan lalu tampaklah seseorang yang aku kenal berdiri di belakang mereka.
B e r s a m b u n g ...
...________________________________________...
...Jangan lupa untuk terus mendukung, biar aku makin semangat nulis.😊...