Keysa Indira Fidelya, gadis cantik dan kaya raya, menutupi latar belakang dan kecantikannya demi melarikan diri dari pernikahan. Ia pergi ke Kota B dan menjadi seorang mahasiswa yang berpenampilan culun dan tidak menarik sama sekali di sana.
Namun, tidak pernah disangka kalau hari pertama di kota pelariannya, Keysa akan bertemu dengan seorang pria paling disegani di Kota B. Seorang pria yang berani mencium paksanya sampai dua kali.
Devano G Mahardika, lelaki sombong, orang terkaya nomor satu di kota B, bahkan di Negara X. Lelaki yang menyebabkan Keysa marah karena telah berani menciumnya secara paksa dan terjadi konflik di antara mereka. Akan tetapi, Devano juga tanpa sengaja telah menyelamatkan Keysa yang sedang dalam masalah.
Dengan hal tersebut, cerita kedua insan ini dimulai, dari yang menantang banyak masalah, latar belakang kehidupan, permusuhan menjadi percintaan serta orang ke tiga juga mewarnai cerita kehidupan mereka.
*Cerita ini mengikuti Misi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Noveltoon. Jika ada kesamaan dengan novel lain harap maklum, karena alur ditentukan oleh editor dan author hanya mengembangkannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
18
Semua orang yang ada di Aula terdiam begitu Devano mengumumkan pertunangannya. Mereka saling lirik, lalu kembali menatap panggung di mana keluarga Abraham sedang berada, mencoba mencari jawaban dari apa yang terjadi di tempat itu.
Sementara itu Keysa hanya diam dengan kepala yang terasa berdenyut. Kepala Keysa menjadi sangat sakit begitu melihat semua mata tertuju kepadanya, terlebih ada seseorang yang menatapnya dengan kesal. Dari sorot mata orang itu, terlihat jelas kalau ia menyimpan segudang amarah untuk Keysa yang siap meledak.
'Kepalaku semakin pusing saja,' gumam Keysa dalam hati dengan mata yang melirik sekilas kepda orang itu yang tidak melepaskan pandangannya dari Keysa.
Di panggung. Damar murka dengan yng telah dilakukan Devano. Wajah Damar sudah memerah dengan gigi yang bergelatuk saling beradu. Kedua tangannya mengepal erat, bahkan urat-uratnya tangannya sampai timbul. Ia sangat murka kepada lelaki yang bernotabene sebagai anaknya itu.
"Dev, apa yang kau lakukan? Berani sekali kau mengacaukan pernikahan daddymu!" Suara berat Damar menggema di Aula, memarahi Devano. Membuat semua orang yang hadir tersentak dengan kemarahan Damar.
Akan tetapi, Devano terlihat santai dan bersikap acuh. "Siapa yang mengacaukan pernikahanmu, Dad? Pengumuman pertunanganku tidak ada kaitannya sama sekali dengan pernikahan Daddy," sanggah Devano.
"Kau benar-benar, ya!" Damar menggertakkan giginya. "Batalkan acara pertunanganmu, karena ini adalah hari pernikahanku!" titah Damar tanpa mau ada penolakan.
"Tidak akan. Pertunangan adalah acaraku dan pernikahan adalah acaramu. Semuanya dilakukan terpisah. Kenapa Daddy begitu terganggu?"
"Sekali Daddy bilang batalkan, ya, batalkan!"
"Sekali aku bilang tidak, ya, tidak!"
Percakapan dari keduanya dipenuhi kobaran api. Keduanya yang sama-sama keras kepala terlibat adu mulut yang sengit. Hingga konflik ayah dan anak itu beralih kepada Keysa.
'Kenapa ayahnya Dev, menatapku seperti itu?'
Mata elang Damar beralih menatap tajam Keysa. Tidak bisa membujuk Devano yang sama keras kepalanya. Damar memilih opsi lain. Ia menghampiri Keysa dengan tatapan yang siap membunuh.
"Aku tahu kamu tidak keras kepala seperti anak nakal itu. Jadi, aku minta padamu batalkan pertunangan ini. Jangan membuat kekacauan di acara pernikahanku!" pinta Damar dengan suara dingin.
Devano yang ada di samping Keysa pun tidak tinggal diam. Ia langung menggenggam erat tangan Keysa dengan sedikit tekanan. "Key, kau ingat janjimu padaku, kan? Jika kau berani melanggarnya kau tahu sendiri akibatnya," ancam Devano dengan suara yang tak kalah dingin dari suara Damar.
Suara kedua orang itu berhasil membuat bulu kuduk Keysa berdiri semua. Ia hanya bisa terdiam sembari menelan salivanya yang terasa mengering, tanpa bisa berani berbicara.
"Keysa!" Tiba-tiba terdengar suara perempuan garang naik ke panggung sambil menyebut nama Keysa. Spontan Keysa mendongak dan melihat ke arah suara. Dilihat, Cheryl yang menggunakan gaun mewah dengan sepatu hak tinggi selangkah demi selangkah berjalan ke arahnya.
'Apa yang akan dilakukannya?' pikir Keysa.
'Mau apalagi dia?' Devano tampak geram melihat wanita yang sedang berjalan ke arah mereka.
Sehingga, Devano langsung berjalan menghampiri Cheryl dan mencekal tangan wanita itu memberi peringatan."Berhenti dan jangan membuat masalah," ucap Devano sangat dingin, menatap tajam Cheryl.
Akan tetapi, Cheryl tak memedulikan Devano. Ia mengabaikan ucapan Devano dan mengempaskan tangan yang mencekalnya. Dengan tangan yang memegang tas, Cheryl berjalan menuju Keysa.
"Cheryl aku bilang berhenti," ucap Devano sekali lagi dengan geram, tetapi gadis itu tetap tidak memperhatikan ucapannya.
Mata semua orang pun tertuju kepada Keysa dan Cheryl yang membuat Keysa terasa akan gila di saat itu juga. 'Kenapa orang-orang demen sekali menakut-nakutiku?' Keysa memperhatikan Cheryl yang terus berjalan ke arahnya dengan sorot mata yang siap melahapnya hidup-hidup.
Akhirnya Cheryl berhenti tepat di depan Keysa. Kedua mata mereka saling bertemu, saling menatap satu sama lain. Keysa dengan sejuta tanda tanya dan Cheryl dengan sejuta amarah yang siap memporakporandakan harga diri Keysa.
Cheryl yang masih berdiri dengan angkuhnya, tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengeluarkan setumpuk uang kertas yang sangat tebal dari dalam tas. Sejurus kemudian, ia melemparkan uang itu dengan kasar ke wajah Keysa. Berhasil membuat semua orang yang hadir tersentak, tidak percaya.
"Pergilah kau dari sini!" hardik Cheryl.
Keysa hanya mematung, menatap gadis di hadapan dengan uang yang sudah berserakan di lantai, tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Ambil semua uang itu dan cepat pergi!" hardik Cheryl lagi.
Keysa masih bergeming. Matanya masih tidak bisa teralihkan dari wajah yang sedang mengusirnya. Sementara itu, suhu tubuh Keysa mulai terasa memanas, meskipun suhu di sana termasuk dingin dari beberapa pendingin ruangan yang terpasang.
"Apa kau tuli, hah?Aku bilang pergi dari sini. Bukankah kau di sini untuk uang? Aku telah memberimu banyak uang. Jadi pergilah! Karena ini bukanlah tempatmu mencaru sensasi atau pun membuat kekacauan."
Keysa tetap bergeming, menatap tajam wanita yang sedang mengolok-oloknya. Tubuhnya sudah terlewat panas, wajahnya pun sudah memerah seperti terbakar, bahkan tangannya sudah gatal untuk segera memberikan pelajaran. Akan tetapi, Keysa masih mencoba bertahan, berharap gadis di hadapannya tidak semakin keterlaluan.
"Atau uang yang aku berikan kurang?" tanya Cheryl sinis, menatap Keysa yang masih tidak bereaksi apa-apa. "Owh, ya, aku lupa kalau kamu itu mata duitan. Kompensasi segitu mana cukup untuk wanita mata duitan sepertimu," ucapnya, menjawab sendiri pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya. "Ya, aku tahu, uang segitu pasti sangatlah kurang untuk wanita miskin mata duitan sepertimu," lanjutnya sembari mengangkat ujung bibirnya ke atas.
Cheryl lantas mengeluarkan kembali uang kertas dari tasnya dan hendak melemparkannya lagi ke wajah Keysa.
Cukup bagi Keysa terus berdiam diri tanpa melakukan perlawanan. Ia tak mau terus-terusan di hina di depan banyak orang. Ia harus memberi pelajaran bagi gadis sombong dengan mulut super pedas. Dengan sigap, Keysa mencekal lengan Cheryl, lalu mengambil dan memegang uang yang hendak dilempar Cheryl ke mukanya.
Tawa Cheryl menggema di Aula. "Lihatlah! Dia memang sangat-sangat mata duitan. Baru melihat uang segitu saja dengan cepat ia menyambarnya." Cheryl terus memaki, sehingga membuat Keysa semaki marah.
"Diam, kau!" Keysa yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara langsung menunjuk Cheryl dengan tatapan yang sulit diartikan.
ko Thor biar si Keysa mcm prmpuan murahn
msa si Thor suka sngat prgi clube