Athanasia, gadis yang akrab disapa Athi, adalah murid Sekolah Menengah Atas di salah satu sekolah yang cukup mumpuni di kotanya. Ia adalah gadis dari keluarga sederhana, yang sangat tangguh. Karena ia tidak pernah memperhatikan penampilannya, ia sampai terkena bullying pada masa itu. Semua permasalahan yang melandanya, tidak sampai membuat Azekeil dan Lucas, yang merupakan sahabatnya, berpaling darinya. Karena kebaikan Azekeil, Athi baru menyadari kalau dirinya ternyata menyukai Azekeil, lebih dari yang ia bayangkan. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya, karena ia sangat malu dengan kondisi dirinya yang jauh dari kata sempurna, berbanding terbalik dengan Azekiel yang sangat sempurna di matanya. Hingga akhirnya hari perpisahan itu tiba, sehingga membuat Athi harus merelakan kepergian Azekeil untuk kembali ke Negara asalnya, karena sesuatu yang tidak bisa Azekeil jelaskan. Apakah Athi bisa menjalani kehidupannya, setelah Azekeil meninggalkannya jauh di sana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Rival
Senin pagi yang cerah ini, Athi berangkat ke sekolah terlalu pagi, sehingga teman-temannya pun belum sampai di sekolah.
Athi hanya duduk diam, sembari memandangi jendela kelasnya.
"Aku kepagian, ya?" gumam Athi, yang kesal karena dirinya sudah terlalu pagi untuk sampai ke sekolah.
Tak ada yang bisa ia lakukan, selain memandangi jendela kelasnya. Lama-kelamaan, Athi menjadi sangat bosan dengan keadaan.
"Huft ...."
Athi beberapa kali menghela napasnya dengan panjang, menghilangkan rasa sesak yang melandanya, saking terlalu jenuh ia duduk di kelas ini.
Athi yang merasa jenuh, segera membuka buku catatannya. Matanya mendelik seketika, karena tak sengaja melihat foto dirinya dan juga Keil, yang kemarin mencoba photo boot di mall tempat mereka menonton bioskop kemarin.
Athi memandangi foto mereka dengan empat gaya yang berbeda, membuatnya merasa kesal karena Keil yang sangat kaku, dan tidak bergaya sama sekali di hadapan kamera.
"Apanya yang ganteng? Foto aja udah kayak foto KTP begini. Gayanya, juga udah kayak lagi nahan boker! Kaku, kayak daleman baru!" bentak Athi, sembari memandang kesal ke arah foto mereka.
"Huft ...."
Athi menghela napasnya, mencoba menghilangkan rasa kesal di hatinya.
"Sabar ...," gumam Athi sembari mengelus dada.
..."Tring ...."...
Satu notifikasi masuk ke ponsel Athi. Dengan cepat, ia segera membuka isi pesan tersebut.
"FILMNYA SERU!"
Isi pesan yang tak lain dari Azekeil.
Athi memandangnya dengan sangat tak percaya.
"Kok dia ngetik pakai capslock begini, sih? Apa jebol touch screen dia?" gumam Athi yang tidak mengerti dengan sikap Keil yang aneh itu.
^^^"Haha, seru dari Hongkong! Setiap ada adegan hantu, kamu pasti tutup mata!"^^^
Athi mengirimkan pesan, membalas pesan singkat yang dikirimkan Azekeil padanya.
..."Tring ...."...
"Jangan mengarang bebas, deh!"
Athi menghela napas membaca chat darinya. Ia teringat dengan kata-kata Keil, yang memintanya untuk tidak menghubungi saat tidak ada kepentingan.
"Gak ada yang ngarang, tuh! Udah deh, jangan chat aku kalau gak ada yang penting!"
..."Tring ...."...
Keil menerima balasan dari Athi. Ia membacanya dengan tatapan sinis.
"Sial, anak ini!" geram Keil, yang kesal dengan Athi karena sudah menirukan perkataan dirinya saat Athi meminta nomor teleponnya.
"Pagi, semua," sapa seorang wanita paruh baya, membuat Keil menoleh ke arahnya.
Keil melihat gurunya yang sudah berada di kursinya, membuatnya bergegas meletakkan ponselnya di tasnya kembali, dan mempersiapkan perlengkapan untuk pembelajaran kali ini.
...***...
Siang itu, Athi segera menuju ke arah kantin bersama dengan teman-temannya, untuk sekadar mengisi perutnya. Dengan sangat terpaksa ia harus ikut bersama dengan teman-temannya, karena merasa sudah sangat lapar.
"Tumben mau ikut?" tanya Imel, membuat Athi merasa sangat malu mendengarnya.
"Ya, habisnya ... aku lapar, karena tadi pagi buru-buru berangkat, jadinya aku gak sempat sarapan deh!" jawab Athi dengan nada yang terdengar sangat sendu.
"Haha, tumben kamu rajin. Ada apa gerangan?" tanya Sua, yang hendak meledeknya.
"Ah ... paling juga biar bisa curi-curi pandang sama Azekeil," celetuk Imel, membuat Athi mendelik kaget mendengarnya.
"Heh, jangan nyebar gosip!" bentak Athi yang ketakutan jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Mereka sudah tiba di kantin. Athi dan yang lainnya segera memesan daging asap kesukaan mereka.
"Bi, daging asap 3 porsi," gumam Imel.
Mereka menunggu pesanan siap, sembari mengambil minuman yang mereka inginkan.
"Kamu mau apa?" tanya Imel pada Sua.
"Air mineral aja," jawab Sua, membuat Imel mendelik kaget.
"Yah, kok air mineral sih? Apa kek gitu ... es jeruk kek, jus alpukat, terserah. Beli aja, nanti aku bayarin!" ucap Imel, yang tak terima dengan jawaban Sua.
Sua mendelik ke arahnya, "Heh, jangankan jus alpukat, kedai ini pun aku sanggup beli. Sampai moncong kau itu juga aku sanggup bayar kontan," ucap Sua, membuat Athi menyeringai mereka yang tidak pernah akur.
"Heh, kok kasar?" tanya Imel, mendadak sendu mendengar ucapan sahabatnya itu.
Sua mendelik, "Bukan gak mampu beli. Air mineral lebih sehat dibandingkan yang lain-lain," gumam Sua, membuat Imel menyeringai ke arahnya.
"Ya udah, air mineral kamu beli ya satu kedai ini!" tantang Imel, membuat Sua mendelik kembali.
"Kau gila? Siapa yang mau habiskan?" tanya Sua.
"Katanya sanggup beli kedai ini? Katanya juga air mineral sehat? Ya udah, kamu beli aja sekalian air mineralnya satu kedai ini!" ledek Imel, membuat Sua mendelik kesal ke arahnya.
Athi hanya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Udahlah, jangan pada ribut," lerai Athi, membuat Imel seketika melihat ke arahnya.
"Hey, Thi. Sejak kapan kamu jadi dekat sama Keil?" tanya Imel, membuat Athi jadi canggung mendengarnya.
"Hah? Ngomong apa kamu?" tepis Athi yang malu dengan pertanyaannya.
"Alah, aku baca kok chat kalian berdua tadi. Boleh dong ... aku minta id line si Keil?" ucap Imel, membuat Athi menyeringai.
Dengan membawa nampan berisi makanan, seseorang pun tiba-tiba saja menabrak Athi.
"Prangg ...."
Athi mendelik kaget, karena makanan yang ia bawa, dan juga makanan yang gadis itu bawa, sampai terjatuh ke lantai. Gadis itu pun terjatuh juga ke atas lantai, membuat Athi tidak enak dengannya.
Athi membantunya berdiri, "Kamu gak apa-apa? Maafin aku ya, aku gak lihat kamu," gumam Athi merasa sangat bersalah dengan keadaan.
"Gak apa-apa," jawab gadis itu, bersikap seolah-olah Athi lah yang menabraknya lebih dulu.
Sua memandang ke arah Athi dengan tatapan malas, "Apa sih, Thi? Kamu gak salah! Jelas-jelas dia yang nabrak kamu duluan!" bentak Sua yang tak terima dengan perlakuan bunga sekolah itu, kepada sahabatnya.
"Udah, gak apa-apa," ucap Athi pada Sua membuatnya mendelik tak percaya, "maaf ya, ya ampun aku beneran gak sengaja," gumam Athi yang masih merasa salah dengan gadis itu.
Walaupun teman-teman Athi memperingati dirinya kalau dirinya tidak bersalah, namun Athi tetap meminta maaf pada gadis asing itu, yang sama sekali tidak ia kenal, tapi mereka semua mengenalinya dengan baik.
"Beneran kok, gak apa-apa. Aku cuma mau minta tolong, beresin makanan aku yang berantakan, ya?" gumam gadis itu dengan nada manja, membuat Sua tidak bisa menerimanya.
Sua ingin sekali menghajar gadis ini, tetapi Imel menghalanginya sehingga Sua tidak bisa berbuat apa-apa.
Athi pun segera membereskan makanan yang sudah tumpah di atas lantai, membuat Imel dan Sua tak tega melihatnya.
Dengan tatapan jengkel, Sua dan Imel segera membantu Athi untuk membereskan makanan yang sudah terjatuh di atas lantai.
Setelah selesai, Athi pun berdiri di hadapan gadis itu, "Sekali lagi, maaf, ya?" gumam Athi, membuat gadis itu tersenyum ke arahnya.
maaf ya saya mau komplen nih..pas baca bab pertama okelah.. kedua.. koq banyak banget kata"mendelik"nya..trs pas baca athi menahan sakit knpa "brrr"🤭🤭..
maaf ya saya mah hnya penikmat cerita saja 😁😁
klo disuruh bikin cerita mah kaga bisa ..
lanjut baca marathon nih..
😘😘😘😘😘Saya sdh habis membaca nya.....GOOD LUCK....untuk cerita yg lain lg....hppy 4u...