Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan jam istirahat pertama di SMA Pelita Bangsa. Naura melangkah keluar kelas dengan ekspresi ceria yang sempurna, membawa kotak bekal di tangannya. Namun, matanya tetap memindai setiap sudut koridor, mencari titik buta kamera CCTV.
Langkahnya terhenti saat ia melewati area kantin belakang yang agak sepi. Di sana, ia melihat pemandangan yang membuat "mode sekolahnya" terusik.
Tiga orang siswa bertubuh besar, kelompok yang dikenal sebagai tukang rundung di sekolah, sedang mengerumuni seorang siswa berkacamata yang tampak ketakutan.
"Woi, mana uang jajan lu? Katanya bokap lu baru dapet bonus?" gertak salah satu dari mereka sambil mendorong bahu siswa kecil itu hingga tersungkur.
Naura mengepalkan tangannya di samping tubuh. Satu serangan ke ulu hati, satu sapuan kaki, dan mereka semua akan berakhir di ruang UKS, pikirnya secara otomatis. Namun, ia teringat peringatan Madam Elena tentang penyamaran. Jika ia bergerak terlalu efisien, identitasnya terancam.
"Hentiin!" teriak Naura dengan suara yang dibuat sedikit melengking, khas siswi yang sedang panik namun berani.
Ketiga perundung itu menoleh dan tertawa. "Wah, ada pahlawan kesiangan. Mending lu pergi deh, cantik, sebelum lu juga kena."
Naura tidak mundur. Ia berjalan mendekat, pura-pura gemetar namun tetap berdiri di depan siswa yang terjatuh itu. "Gue bakal laporin ke guru piket kalau kalian nggak berhenti sekarang!"
Salah satu perundung kehilangan kesabaran dan mencoba menarik paksa kotak bekal Naura. Saat itulah Naura bergerak. Ia menggunakan teknik "kecelakaan yang disengaja". Ia pura-pura tersandung, namun sikunya menghantam saraf di lengan pria itu dengan presisi tinggi, membuat tangannya mati rasa seketika.
"Aduh! Maaf, gue nggak sengaja!" seru Naura sambil memasang wajah panik, padahal ia baru saja melumpuhkan kekuatan cengkeraman lawan.
Di saat yang sama, ia melihat siluet seseorang dari balik pilar gedung olahraga. Itu Arkan. Pria itu berdiri di sana, mengamati dengan tatapan tajam yang seolah sedang membedah setiap gerakan Naura.
Arkan tidak langsung maju. Ia ingin melihat bagaimana "gadis lemah" ini menangani situasi. Ia melihat bagaimana Naura bergerak; meskipun tampak kikuk dan berantakan, setiap posisi tubuh Naura selalu berada di titik yang paling menguntungkan untuk bertahan.
"Sialan, tangan gue sakit banget!" teriak perundung itu. Saat mereka hendak merangsek maju lagi, Arkan akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang.
"Cukup," ucap Arkan pendek. Suaranya yang rendah namun penuh otoritas langsung membekukan suasana.
Para perundung itu mengenali Arkan. Mereka tahu Arkan bukan orang yang bisa diajak bercanda. Tanpa banyak bicara, mereka segera pergi meninggalkan area tersebut sambil menggerutu.
Naura segera membantu siswa berkacamata itu berdiri. "lo nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanyanya dengan nada sangat lembut dan tulus.
"G-nggak apa-apa, makasih ya..." jawab siswa itu sambil gemetar.
Naura tersenyum manis, lalu ia menoleh ke arah Arkan yang masih berdiri diam menatapnya. "Makasih lagi ya, Arkan. lo selalu muncul di waktu yang pas."
Arkan berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Naura. Ia mengabaikan ucapan terima kasih itu dan justru menatap dalam ke arah mata Naura. "Tersandung yang sangat tepat sasaran, Naura. Kamu punya keberuntungan yang luar biasa... atau teknik yang sangat terlatih."
Jantung Naura berdegup, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Dia benar-benar memperhatikan detail sekecil itu, batin Naura.
Arkan tidak melepaskan pandangannya dari Naura. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik pergelangan tangan Naura dan menuntunnya menuju tangga darurat yang menuju ke atap sekolah (rooftop).
"Eh, Arkan? Kita mau ke mana? Kelas sebentar lagi mulai," tanya Naura dengan nada cemas yang dibuat-buat, meski di dalam kepalanya ia sudah menghitung kemungkinan jalur pelarian jika Arkan tiba-tiba menyerangnya.
Begitu pintu besi rooftop tertutup, angin kencang menerpa rambut mereka. Suasana sunyi, jauh dari kebisingan kantin. Arkan berbalik, wajahnya sedingin es. Ia mulai berjalan maju, langkahnya lambat namun penuh tekanan intimidasi.
Naura mundur perlahan, memasang wajah pucat. "Arkan, lo kenapa? lo nakutin gue..."
Arkan terus mendesak. Setiap langkah maju Arkan dibalas dengan langkah mundur Naura.
"Tersandung yang tidak sengaja, kapalan di tangan, dan cara lo memposisikan kaki saat dikepung tadi... itu bukan gerakan warga sipil, Naura. Siapa lo sebenarnya?"
"Gue nggak ngerti maksud lo!" seru Naura, suaranya sedikit bergetar. Ia terus mundur hingga punggungnya membentur dinding pembatas atap yang cukup rendah.
Arkan tidak berhenti. Ia menumpukan kedua tangannya di dinding, mengurung Naura di antara lengan kekarnya. Ia mendekatkan wajahnya, mencoba mencari celah kebohongan di mata gadis itu. "Berhenti bersandiwara. Gadis SMA biasa tidak akan setenang ini saat dipojokkan."
Naura, yang terlalu fokus memainkan peran "takutnya", terus mencoba memundurkan tubuhnya demi menghindari jarak yang terlalu dekat dengan Arkan. Namun, ia lupa bahwa ia sudah berada di tepian tembok.
Tiba-tiba, kaki Naura terpeleset kerikil di pinggir pembatas. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan limbung ke belakang, menuju jatuh bebas dari ketinggian lantai empat.
"Aaah!" Naura menjerit refleks. Matanya terpejam, dan secara insting tangannya bergerak untuk melakukan recovery jatuh, namun ia menahannya di detik terakhir demi menjaga penyamarannya, meski nyawa taruhannya.
Set!
Dalam sepersekian detik, tangan Arkan melesat secepat kilat. Ia menyambar pinggang Naura dan menariknya kuat-kuat kembali ke arahnya. Karena tenaga tarikan yang terlalu besar, tubuh Naura menghantam dada bidang Arkan dengan keras.
Napas mereka berdua memburu. Tangan Arkan masih memeluk pinggang Naura dengan erat, sementara tangan Naura tanpa sadar mencengkeram erat seragam Arkan di bagian bahu.
Arkan menunduk, menatap Naura yang berada di dekapannya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena hampir melihat seseorang jatuh, tapi karena ia merasakan sesuatu yang aneh. Tubuh gadis ini tidak lemas karena ketakutan; otot-ototnya justru terasa kencang dan siap bertindak.
"Hampir saja," bisik Arkan tepat di telinga Naura, suaranya kini tidak lagi dingin, tapi penuh selidik yang lebih dalam. "Kalau lo benar-benar agen, lo baru saja mempertaruhkan nyawa lo hanya demi sebuah peran."
Naura mendongak, matanya bertemu dengan mata Arkan. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyembunyikan kilatan tajam di matanya. "Dan kalau kamu benar-benar siswa biasa, refleksmu barusan terlalu cepat untuk ukuran seorang remaja, Arkan."
Keduanya terdiam di posisi itu, saling mengunci tatapan di tengah angin kencang rooftop, menyadari bahwa masing-masing dari mereka sedang memegang kartu as yang belum dibuka.