Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Perasaanku tetap sama, aku tidak ingin melukai dirimu terlalu dalam. Melukai tanpa bisa mengobati itu laksana anak panah yang langsung menancap di jantungmu, yang akan membuatmu hancur berkeping-keping dalam seketika
______________________________________
"Ini gajih terakhirku loh Mas. Jadi, kita nikmati saja dulu untuk hari ini sebelum aku mendapatkan gajih yang baru ditempat yang baru juga." Angga menatap kearah Rika yang sekali lagi tersenyum manis yang juga menatap kearahnya. Tangannya sudah merulur menyerahkan piring yang sudah di isinya dengan nasi, sayur dan juga lauk pauk kesukaan suaminya.
"Apa!? kamu dipindah tugaskan?" tanya Angga sekali lagi dengan agak kencang, ia melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kali ini ia benar-benar terkejut mendengar kabar yang tidak sesuai ekspetasinya. Bukankah Asra mengatakan kalau Rika sudah dipecat, lalu apa ini? tidak mungkinkan kalau Asra membohonginya.
Rika tampak terkekeh melihat ekspresi suaminya yang terlihat lucu dimatanya. Ia tahu kalau Angga sangat mengkhawatirkannya sehingga bertingkah seperti itu. Bahkan ia juga tidak pernah meragukan rasa sayang dan cinta Angga padanya walaupun tidak ditunjukkannya seperti pasangan pada umumnya. "Sudahlah Mas, kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir begitu. Sekarang kita makan dulu. Habiskan makanan yang ada dulu, baru aku akan cerita," ucap Rika yang sudah mulai menyendok makanannya.
"Tentu saja aku sangat khawatir," balas Angga. "Tapi bukan itu yang membuatku khawatir," sambung Angga didalam hatinya. Ia menatap lekat istrinya yang kembali terlihat sangat lahap memakan makanannya.
"Ma'af Mas, aku sudah membohongimu. Aku hanya tidak ingin kamu merasa sedih sekaligus kecewa karena aku." gumam Rika didalam hatinya. Bahkan pekerjaan ditempat baru pun itu hanyalah bualannya sendiri, ia tidak ingin membebani suaminya dengan beban yang berat, apalagi hingga kini suaminya sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Aku benar-benar tidak berselera makan sekarang. Brengsek, wanita ini sudah menghancurkan moodku hari ini, menjadi lebih buruk. Kupikir ia akan sedih setelah mendapatkan semua itu. Tapi coba lihat dirinya, ia bahkan selalu mengukir senyumnya setiap kali aku menatap kearahnya," geram Angga didalam hatinya sambil mengukir senyum terpaksanya untuk membalas senyuman yang dilayangkan oleh Rika padanya.
Selama makan berlangsung, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka berdua. Bahkan mereka terlalu sibuk bergelut dengan perasaan dan pikiran mereka masing-masing. Angga dengan rasa marah dan kecewanya mendengar semua ini, ia tidak dapat menampiknya. Namun, sebisa mungkin ia menahan hatinya agar dapat sedikit lebih bersabar. Sedangkan Rika dengan kesedihan dan kerisauannya mengenai hari esok, namun ia menutup rapat-rapat semua itu dengan terus-menerus mengukir senyum manisnya dibibir. Ia yakin suasana hatinya akan membaik seiring menjalarnya senyuman hangat yang juga di berikan oleh Angga untuknya.
Kini Rika mengajak suaminya untuk bersantai sejenak diruang keluarga. Ia ingin bermanja sesaat untuk menuangkan rasa rindunya pada suaminya karena tidak pulang selama satu malam satu hari. Tempo itu, suaminya yang sangat marah padanya karena ia yang salah membelikan makanan untuk suaminya. Beruntungnya ia karena keadaan suaminya baik-baik saja bahkan tak kurang satupun darinya. Ditambah lagi dengan sikap Angga yang terlihat mengkhawatirkannya sekarang ini. Rika tidak ingin lagi membuat suaminya marah dan kecewa padanya, apalagi sampai meninggalkan rumah seperti waktu itu. Walau bagaimanapun keadaan rumah tangganya, ia tetap wajib berbakti pada suaminya terlepas dari keadaan suaminya yang masih berjalan di jalan semestinya.
"Coba kamu ceritakan tentang maksud ucapanmu yang tadi," pinta Angga yang sudah merasa tidak sabaran lagi untuk mendengar kabar yang akan disampaikan oleh istrinya. Ia benar-benar tidak tenang sekarang, bahkan saat makan tadipun selera makannya menghilang entah kemana. Beban berat rasa menindih hatinya, ia benar-benar merasa terkekang.
"Oh itu, tapi Mas janji jangan marah padaku lagi ya. Aku sangat cinta dan juga sangat sayang pada Mas, Mas sendiri tau itukan." Angga tersenyum lembut mendengar penuturan dari istrinya tersebut. Ia mengelus puncak kepala Rika yang sudah memeluk dirinya dan bermanja disana. Angga menganggukan kepalanya saja, ia membiarkan saja Rika mempermainkan kancing kemejanya. Karena ia tahu kalau Rika sekarang sedang melimpahkan kerinduannya.
"Aku dipecat Mas dari kantorku," ucap Rika dengan lirih, ia mendongak menatap kearah atas, kearah wajah suaminya. Ia mengulurkan tangannya meraba kearah rahang Angga yang kokoh, beralih kehidung mancung Angga dan kembali lagi kerahang Angga. Laki-laki ini benar-benar nyaris sempurna. Beruntunglah ia karena memiliki suami seperti Angga. Suami yang sangat pengertian akan dirinya dan disinilah tempat ia berpulang. Menemukan kedamaian dan ketenangan seperti sekarang ini. Rasanya bebannya sedikit terangkat hanya dengan menatap wajah teduh suaminya. Wajah yang sekarang nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun disana. Suaminya bahkan hanya bungkam saja dan tetap membiarkan kelakuan Rika yang berbuat apa saja tanpa membalasnya. Rika sangat tahu apa artinya itu. "Apa Mas tidak marah padaku?" Rika tetap menanyakan perihal tersebut walaupun ia sudah tahu jawabannya. Rika sudah menegakkan badannya kembali agar ia bisa lebih jelas lagi dalam memahami situasi yang ada.
"Mas tidak marah, Mas hanya kecewa padamu. Kenapa kamu sampai dipecat dan kenapa kamu tidak bisa mempertahankan karirmu. Lalu, bagaimana dengan pemasukan kita sehari-hari kedepannya, sayang?" tanya Angga dengan suara yang terdengar memprihatinkan.
Rika terhenyak setelah mendengar penuturan suaminya. Bukan ini yang ingin didengarnya, ia ingin agar Anggalah yang berjuang untuknya, untuk mereka, bukannya malah menuntutnya dan menyudutkannya.
"Mas tenang saja, besok aku akan mencari kerja kok." ucap Rika kembali tersenyum untuk menutupi kerisauan hatinya. Rasanya ada sebagian hatinya yang sudah tercubit.
"Tapi kamu tenang saja sayang. Kita akan sama-sama berjuang, kamu tidak sendirian. Akan ada Mas yang selalu berada disampingmu," dengan perlahan Angga menarik tubuh Rika dan mendekapnya sayang, ia bahkan menghujami ciuman beberapa kali dikepala Rika. Namun berbanding terbalik dengan hatinya, ia terpaksa melakukan semua ini karena Angga tidak menyukai melihat senyum yang terus terukir dibibir Rika. Ia sangat membenci senyum itu, bahkan benar-benar membencinya. Ia hanya ingin mendengar suara rintihan kesakitan dan keputus asaan dari bibir itu, bukan sebaliknya.
Sedangkan Rika jangan ditanya lagi keadaannya. Ia merasa semakin cinta pada suaminya, bahkan ia membalas pelukan suaminya dengan tak kalah eratnya. Hatinya benar-benar menghangat setelah mendengar penuturan Angga yang persis seperti yang diharapkannya. Rika tidak pernah bisa melepas senyumnya lagi, ia benar-benar bahagia dan ia ingin agar tetap seperti ini selamanya.
"Mas percaya sama kamu sayang, kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Angga dengan datar. Ia benar-benar terpaksa menghibur wanita di dekapannya ini untuk menutupi niatnya yang sebenarnya.
"Sebaiknya kita tidur saja Mas. Mas pasti perlu istirahat karena kecapekan hari ini," ucap Rika yang sudah berdiri dan menatap suaminya. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya diluaran sana, namun ia percaya kalau suaminya tidak pernah mengkhianatinya.
Angga hanya mengangguk lemah, ia akan tidur bersama istrinya malam ini dan itu akan membuatnya sedikit tersiksa karena merasakan malam yang sangat lama.
Ia berdiri dan menggiring langkahnya untuk mengikuti istrinya yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar mereka. Ia menatap setiap pergerakan istrinya hingga Rika merebahkan dirinya disampingnya dan menutup matanya dengan perlahan.
Angga meraih handphonenya yang berada diatas nakas dan mengetikkan pesannya yang dia kirim pada asisten pribadinya, tentang rencananya yang akan dilaksanakan esok hari.
Angga terlihat senang setelah ia kembali meletakkan handphonenya. Ia sekarang akan benar-benar menghancurkan istrinya secara perlahan-lahan didepan matanya sendiri, dan itu sudah dimulai dari sekarang. Angga tersenyum sinis menatap kesampingnya, dimana keberadaan Rika yang sudah tertidur pulas.
•
•
*********
**Salam Banua 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya** :)
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot