NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romantis / Time Travel / Mantan / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasiakan Itu!!!

Temennya udah siuman tolong di temenin, perawat lagi siapin kamar buat rawat inap," kata dokter itu. Ia menjelaskan, Digta sudah sadar dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap.

"Ada keluarganya?"

"Sementara keluarganya belum bisa di hubungi..."

"Ooh.."

"Gimana kodisi teman saya dok?" Bambang bertanya untuk memastikan keadaan Digta. dia ingin tahu, apa yang menyebabkan Digta pingsan.

"Kita udah ambil sample darah, trus kita juga udah periksa rekam medisnya di tunggu aja hasil pemeriksaannya," ungkap dokter itu coba menjelaskan.

"Iya baik dok," sahut Bambang. dokter itu pun kemudian berlalu dari hadapan mereka.

"Raisa!" Suara Digta terdengar gundam. Ia menyebut nama Raisa dengan nada lirih.

"Ya ta," sahut Bambang. dia mendekati Digta, mencoba menenangkannya.

Mata Digta berlahan terbuka.. Ia menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung.

"Gue inget semuanya! gue inget semua!"

Hiks... hiks ... hiks...

Digta menangis sekarang, dia mengingat semua kejadian yang selama ini terlupakan.

Bambang cuma menghela nafas bukan pertama kali dia melihat Digta seperti ini.

"Tenang, Ta, tenang. Lu lagi di rumah sakit," ucap Wawan, suaranya lembut namun tegas, berusaha menenangkan Digta yang meronta-ronta di ranjang rumah sakit.

Bambang menggenggam erat tangan Digta yang dingin dan berkeringat, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri rasakan begitu tipis.

"Gue mau ketemu Raisa," ungkap Digta, suaranya parau dan bergetar hebat, nyaris tak terdengar di antara hiruk pikuk suara peralatan medis di sekitarnya.

Matanya memerah, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Ia berusaha mencabut selang infus yang menempel di tangannya, seolah benda itu adalah rantai yang mengikatnya.

"Gue harus ketemu dia! Harus!"

"Tenang, Ta, tenang," Wawan mulai memegangi tangan Digta, dibantu oleh Bambang yang dengan sigap menahan tubuh Digta agar tidak terjatuh dari ranjang.

Mereka berdua berusaha menahan Digta agar tidak melukai dirinya sendiri, namun kekuatan Digta seolah berlipat ganda karena panik dan rasa bersalah yang menghantuinya.

"Nanti lu bisa ketemu dia, tapi lu sehat dulu, Ta," Yanto mulai agak sewot, sedikit memarahi Digta.

Dia merasa frustrasi dengan sikap Digta yang keras kepala dan tidak memikirkan kesehatannya sendiri.

"Jangan bikin kita makin repot, bisa gak sih?"

"Gua bunuh anaknya Raisa!" kata Digta, kali ini dia menangis histeris, air mata membasahi wajahnya yang pucat pasi.

Dia mengigau tidak jelas, menyebut nama Raisa dan seorang anak kecil bernama Adam, dengan nada penuh penyesalan dan ketakutan.

"Gue gak sengaja... gue gak mau..."

"Heuuuhh..."

Wawan, Bambang, dan Yanto seketika saling beradu pandang, tatapan mereka dipenuhi kebingungan, kekhawatiran, dan sedikit rasa ngeri.

Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Digta, namun mereka tahu, ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi di masa lalu Digta.

"Heuh, jadi yang di bilang Yanto waktu itu bener," celetuk Wawan, mulai salah paham, mencoba menghubungkan ucapan Digta dengan gosip yang selama ini beredar di antara mereka. Ia menatap Yanto dengan tatapan menyelidik.

"Jadi gosip cewek lu hamil itu bener, Ta?" kata Yanto lagi, semakin penasaran, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia mendekati Digta, mencoba mendapatkan jawaban yang jelas.

Wawan kemudian menyeret Yanto menjauh dari Digta, menjauhkannya dari ranjang rumah sakit. Ia khawatir, pertanyaan Yanto akan memperburuk kondisi Digta dan membuatnya semakin histeris.

"Jangan sekarang, To! Gak liat dia lagi kayak gini?"

Sedang Bambang hanya bengong, terpaku di tempatnya, dia teringat kejadian 6 bulan yang lalu, saat Digta mengalami serangan panik yang serupa. Keadaan Digta persis seperti ini, meracau tidak jelas, menyebut nama Raisa dan seorang anak kecil, lalu pingsan tak sadarkan diri.

"Heeeh..."

"Bang, Digta aborsi anaknya..." celetuk Wawan, berbisik pada Bambang, mencoba menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.

Dia merasa kasihan pada Digta, namun juga sedikit jijik dengan perbuatannya.

"Nggak gitu..." kata Bambang, membantah kesimpulan Wawan dengan nada pelan namun tegas. Ia tahu betul, kejadian sebenarnya jauh lebih rumit dan tragis dari sekadar aborsi.

"Lu nggak denger tadi dia ngomong apa?"

"Nanti gw jelasin," ucap Bambang, berjanji akan menjelaskan semuanya nanti, setelah Digta tenang dan mereka memiliki waktu untuk berbicara dengan tenang. Ia menatap Wawan dan Yanto dengan tatapan memohon pengertian.

Bambang mencoba menenangkan Digta dengan menepuk bahunya dengan lembut. Ia menatap Digta dengan tatapan iba dan penuh pengertian.

"Tenang, Ta. Kita di sini. Lu gak sendirian."

2025! sebelum Digta mengalami kecelakaan dan secara misterius kembali ke tahun 2004.

"Masyaallah, Digta makin keren aja lu," seru Bambang, memeluk Digta erat setelah sekian lama tidak berjumpa. Ia menepuk-nepuk punggung Digta dengan penuh kehangatan. "Kayak gak pernah tua aja nih anak."

"Akh, bisa aja mas,"

Digta sengaja menghubungi Bambang, kakak kelas sekaligus teman kosnya, untuk bertemu di sebuah coffee shop di Bandung.

"Apa kabar, Mas?" sapa Digta sambil memeluk Bambang erat.

"Baik, Alhamdulillah, Ta," jawab Bambang, tersenyum lebar.

Mereka duduk, suasana langsung akrab.

"Gimana anak istri, Mas?" tanya Digta basa-basi.

"Anak-anak dan istri sehat walafiat," sahut Bambang.

"Anakku yang gede udah kelas 2 SMP, yang kecil kelas 4 SD. Istri ya... masih satu," tambahnya, dengan nada bercanda khas.

"Hehehe, Mas Bambang masih lucu kayak dulu," balas Digta, tertawa kecil.

"Itu yang bikin pernikahan awet, Ta," ujar Bambang, terkekeh.

"Wah, yang paling kecil udah kelas 4 SD, Mas?" Digta terkejut.

"Iya, waktu cepat banget berlalu ya?"

"Iya, makanya, kamu kapan nyusul? Betah banget sendirian," goda Bambang.

"Nggak tahu, Mas. Sedikasihnya Tuhan aja, deh," jawab Digta, tersenyum tipis.

"Ya, mesti usaha juga, lah! Kalau kerja terus, kapan ketemu jodohnya?" Bambang menasihati. Digta hanya mesem.

"Banyak uang buat apa, toh? Anak nggak punya, istri nggak punya," lanjut Bambang.

"Nggak ada yang mau sama gue, Mas," keluh Digta.

"Lu-nya aja yang nggak mau," balas Bambang, membuat Digta nyengir.

"Gw kenalin mau nggak? Gw punya tetangga, janda cantik, anaknya baru satu," Bambang mulai beraksi sebagai mak comblang.

"Apaan, sih, Mas," Digta malu-malu.

"Lihat dulu, sumpah cakep, Ta! Kapan-kapan lu main ke rumah, nanti gue kenalin," Bambang meyakinkan. Digta hanya menggeleng-gelengkan kepala, geli.

Hari itu, mereka asyik ngobrol sampai lupa waktu.

Seminggu kemudian, Digta akhirnya berkunjung ke rumah Bambang.

"Iya, Mas, sebentar lagi aku sampai," ucapnya sambil mengemudikan mobil.

"Alamatnya sesuai Google Maps, ya, Mas?"

Tiba-tiba, Digta dikejutkan oleh seorang anak kecil yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

BRUUUK ...

Digta terlambat menginjak rem. Anak itu terpental ke trotoar.

Digta sempat mendengar teriakan histeris.

"ADAM!"

Dia melihat seorang wanita, Raisa, berlari ke arah anak itu.

Sampai akhirnya...

BRUUUKKK ...

Sebuah truk menabrak mobil Digta. Truk tersebut tak bisa menghindar ketika mobil Digta berhenti mendadak.

Mobil Digta ringsek parah. Kondisi Digta kritis. Dia tak ingat apa pun, hanya suara yang menggema di telinganya.

"Aku kembalikan kamu ke masa paling bahagia mu, temui dia yang kamu cintai..."

Haaah...

Digta terbangun di kosannya, di tahun 2004. Dia syok berat.

Tap... tap... tap...

Dia berlari keluar kamar dan menabrak Bambang.

Bhuk...

"Bambang!" seru Digta terkejut, menatap Bambang dengan seksama.

"Heuh..." Bambang bingung.

"Digta, lu kenapa?" tanya Bambang, heran melihat Digta yang tampak ketakutan.

"Gue balik lagi ke 2004!" ucap Digta gemetaran.

"Ta, lu baik-baik aja, kan?"

"Bang, ini tahun berapa?"

"Ini tahun 2004, emang kenapa?"

"Jangan bilang lu datang dari masa depan kayak Doraemon," Bambang mulai bercanda.

Wkwkkwkwkwk

Bambang tertawa terbahak-bahak.

"Iya, gue datang dari tahun 2025," celetuk Digta, membuat mata Bambang melotot.

"Ah, gila lu, Ta!" sahut Bambang. Wajahnya tampak ngeri.

"Emang kuliah di UTB sesusah itu, ya, sampai lu stres begini?"

"Lu nggak percaya sama gue?" ucap Digta frustrasi.

"Wah, sawan nih anak," timpal Bambang santai.

"Terserah," ucap Digta, beranjak meninggalkan Bambang.

"Mau ke mana lu?" tanya Bambang khawatir melihat keadaan Digta yang kelihatan nggak beres.

"Gue mau nemuin Raisa," ucap Digta.

"Siapa Raisa?" tanya Bambang penasaran.

Belum juga Digta berjalan, sebuah genteng melayang jatuh dari atas, lepas dari tangan tukang yang sedang bekerja di sekitar kosan Digta.

Bruk ...

Prank ...

Gedebuk ...

Genteng itu mengenai kepala Digta. Seketika, Digta ambruk pingsan.

"Heuh..."

Digta disarankan untuk dirawat inap karena riwayat kecelakaan enam bulan lalu. Bagian kepala dan seluruh tubuhnya harus dicek-up.

"Gimana, Ta?" tanya Bambang penasaran dengan hasil pemeriksaan Digta.

"Kata dokter sih baik-baik aja, otak gue cuma syok aja," jawab Digta, menatap Bambang.

"Lu inget semua kejadian enam bulan yang lalu?" tanya Bambang lagi.

Digta mengangguk.

"Omongan lu yang halu juga?" Tanya Bambang, Digta mengangguk sekali lagi.

"Emm, entah mengapa gue lebih suka sama Digta yang hilang ingatan," ungkap Bambang serius.

"Lu nggak percaya sama gue?"

"Ya, nggak, lah!"

"Lu mau tahu nggak yang jadi presiden siapa abis Pak SBY?" Digta mulai nyerocos membicarakan masa depan.

"Apaan, sih, Ta? Jangan suka membocorkan takdir, pasti ada konsekuensinya," sahut Bambang.

"Anak lu dua, laki-laki semua," ucap Digta lagi.

"Wah, gila nih anak," Bambang mulai kesal.

"Terus, lu mau bilang lu yang bunuh anak Raisa di masa depan?" ungkap Bambang, sedikit meledek.

"Iya, waktu itu gue mau ke rumah lu, terus tiba-tiba anak itu lari ke tengah jalan," Digta mulai nyerocos kali ini sambil terisak.

"Gw nggak peduli itu bener atau nggak. Saran gue, lu rahasiakan semua itu, karena nggak akan ada orang yang percaya, termasuk gue," Bambang mulai menceramahi Digta.

Hiks...

Digta menatap Bambang sekilas, dia mulai memikirkan ucapan Bambang dengan serius.

"Mungkin ucapan lu ada benernya."

"Mungkin dunia paralel itu ada, tapi itu cuma teori," ungkap Bambang lagi.

1
kalea rizuky
sama sama balik ternyata
kalea rizuky
jd inget cerita sebelah yg persis ini abis cerai trs balik ke masa lalu ngejar cinta pertama ny.. judulnya aku ingin. jodohku cinta pertama ku.. mantan suami nya kaku cuek gt lah makanya cerai
lin sya
pemeran utama nya bodoh, lemah gmpng ditindas kyk sidarma cowok satu satunya didunia pdhl GK hrs kyk gtu ngadepin suami kejam yg gk tau trimakasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!