*Sudah direvisi
*Audio Book menggunakan naskah lama
Baru saja memulai kehidupan mandiri, Putri sudah dikejutkan oleh sosok hantu yang mengikutinya dari rumah sakit. Hantu rese yang membuatnya ketakutan dan tidak tahan untuk menyingkirkannya dengan cara apapun. Sampai insiden itu membuat Putri hampir kehilangan kehormatannya jika hantu itu tidak menyelamatkan tepat waktu.
Haruskah Putri tetap menyingkirkan hantu itu agar tidak mengganggu hidupnya? Atau membiarkan hantu itu terus berada di dekatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liszzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Keberadaannya
“Hei, Jhon!” panggil Putri pada seorang pria yang tengah memarkirkan motor vespa miliknya.
"Hai, kenapa?” tanya Jhon.
Putri tersenyum kikuk. “Ah, enggak apa-apa. ayok! bareng masuknya.” ajak Putri.
Mereka berdua berjalan bersama menuju pantry.
“Jhon, dia ada di kosanku.”
“Dia siapa?”
“Aduh... itu lohh. Sahabat kamu, Alfi."
“Alfi udah balik lagi? syukur deh kalau gitu.”
Jhon melirik Putri sekilas. Ada yang berbeda pada gadis di sebelahnya. Terlihat cerah dengan bibir yang terus tersungging, membuatnya tidak tahan untuk menggoda.
“Kenapa tuh bibir kok senyum-senyum gitu? lu udah gak takut lagi sama dia?” ledeknya dengan cengiran bodoh.
“Iya. Aku udah ngilangin rasa takutku.” Jawab Putri berbangga diri.
Mendengar itu Jhon merasa sangat lega.
“Nah gitu dong. Lu jangan takut-takut sama dia. Alfi itu baik cuma rada rese, kan gue udah pernah bilang. Tapi, lu harus cukup tegas berhadapan sama dia. Karena dia suka seenaknya sendiri.” Putri terkekeh mendengar ocehan Jhon. “O, iya. Kenapa lu enggak bawa dia ke sini?” lanjutnya.
Putri tersenyum tipis.
“Enggak bisa Jhon. Bisa gawat kalau aku bawa dia ke sini.”
“Lah kenapa emang?”
Putri menatap Jhon datar. “Kalau dia ikut, aku jadi enggak konsen kerjanya.”
Jhon tersenyum. “Masa gitu aja enggak konsen sih? Jangan-jangan kalian... ” Jhon sesekali mencolek-colek dagu Putri.
“Apa sih, enggak lucu tau.” Rajuk Putri kemudian berjalan lebih cepat.
Jhon terkekeh geli seraya mengejar dan menyamakan langkahnya kembali.
“Nanti pulangnya bareng gue ya.” Ucap Jhon tiba-tiba.
Putri menghentikan langkahnya menatap Jhon tanpa bicara.
“... Emm gue mau main ke kosan lu, sekalian nengokin si Alfi.” lanjut Jhon.
Pekerjaan membuat waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa jam pulang kantor pun sudah tiba. Langkah mereka berdua beriringan menuju parkiran. Para pegawai yang memakai kendaraan pun satu persatu mengambil kendaraan mereka pulang.
“Nih, pake!” titah Jhon sambil menyodorkan sebuah helm berwarna hijau.
Putri menerimanya lalu memakai ke atas kepalanya. “Tumben kamu bawa helm?”
“Gue dapet info dari teman. Katanya ada rajia di deket kosan lu.” jelas jhon.
Putri hanya ber-oh ria. Ia kemudian menaiki jog belakang. Setelah siap, Jhon menancapkan gas motornya berlalu pergi.
***
“Selesai!” ucap Andrian yang menyelesaikan pekerjaannya lebih awal.
Hari ini, ia berniat untuk mengajak Putri makan bersama di sebuah restoran cepat saji. Ia beranjak dari duduknya seraya mengambil jas yang ada di senderan kursinya. Namun saat matanya mengalih pada jendela besar, ia menangkap sosok Putri yang tengah dibonceng oleh Jhon melesat pergi meninggalkan perusahaan ini.
“Sial!”
Ternyata dirinya sudah ke duluan oleh Jhon dan rencana yang sudah dibuatnya gagal total.
Melemparkan jas yang tadi ia ambil. Wajahnya merah padam. Geram. Ia harus menyusun rencana agar bisa mendekati Putri. Karena hanya gadis itu yang bisa membuatnya kacau.
"Aku udah berusaha menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Tapi ternyata sia-sia."
***
Putri sekarang sudah berada di kamarnya bersama Jhon yang sekarang tengah duduk beralaskan lantai.
“Mana Alfi?” tanya Jhon tidak sabaran.
“Sebentar, Jhon. Baru juga sampai. Kamu enggak capek apa abis kerja seharian?” ketusnya.
“Gue mah udah biasa kerja yang berat-berat, jadi segini mah enggak ada apa-apanya.”
Putri mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alfi.
“Dia, enggak ada Jhon.” Kata Putri mulai cemas.
Jhon bangun dari duduknya menghampiri Putri.
“Masa dia ngilang lagi? Coba lu panggil.”
Putri mengangguk mengerti.
“Alfi! Kamu di mana?” Panggilan yang Putri lontarkan seakan bergema pada kamar ini.
Sedetik kemudian Alfi menampakan dirinya menggantung di langit-langit dengan badan yang terbalik. Putri menoleh ke atas dan ....
“Aaaa!!” Ia berteriak memegang dadanya kaget.
Alfi hanya tertawa di sana, melihat ekspresi yang selalu membuatnya gemas.
“Alfi! kamu ngagetin tau!”
Putri langsung memasang wajah cemberut. Jantungnya hampir saja copot. Tingkah Alfi membuatnya geleng kepala.
Alfi melayang mendekati Putri. Dekat dan sangat dekat.
“Stop! Jangan dekat-dekat."
Jhon yang menyaksikan itu hanya bisa melongo. Yang ia lihat dan dengar hanya Putri seorang.
“Di mana Alfi?” tanya Jhon pada Putri.
Putri menunjuk ke hadapannya. “Nih, di sini! kamu enggak bisa liat ya?” ucapnya masih seperti mendorong-mendorong sesuatu.
Jhon hanya menggelengkan kepalanya.
“Alfi! Stop!” titah Putri pada Alfi.
“Alfi, lu ada di sini? Udah, jangan main-main dong sama Putri. Gu pengen ngomong sesuatu. Alfi, lu denger gue kan?”
Putri menatap Jhon. “Kamu mau ngomongin apa?” tanyanya penasaran.
“Begini. Gue mau ngejelasin apa yang sebenernya terjadi sama dia.”
Mendengar penuturan Jhon, Putri mengangguk paham.
“Ya udah. Kita duduk dulu di sana.” Tunjuk Putri pada kasurnya.
Kini Putri tengah duduk di kasurnya. Jhon berada di hadapannya, sedangkan Alfi merangkul manja pada Putri.
“Sekarang dia ada di mana?” tanya Jhon yang sedari tadi tidak melihat sahabatnya itu.
“Nih! ada di sebelah aku.” ucapnya pada Jhon seraya mencoba melepas rangkulan itu. “Alfi lepas, berat tau.” pintanya pada Alfi. Dengan berat hati Alfi melepas rangkulannya namun ia pindah pada paha mulus milik Putri.
Menyandarkan kepalanya di sana menatap wajah Putri dari bawah. “Aduh Alfi ... kita itu temen. Tapi kok, kamu manja banget sih?!”
Alfi tersenyum. “Enggak apa-apa dong, sayang. Manja sama temen sendiri bolehkan?” terangnya tanpa beban.
Putri mengembuskan napasnya pelan.
“Apalagi tuh, pakai panggil sayang segala. Aku enggak suka dan kamu harusnya selalu mengingat syarat itu.”
Putri tidak terima bila dirinya di panggil 'sayang'. Apalagi oleh hantu yang sudah memiliki kekasih.
Lagi-lagi Alfi berkelit. “Itu cuma untuk nama panggilan aja ... biar kita lebih akrab.” jelas Alfi mengukir senyum di akhir.
Putri tidak akan termakan oleh perkataan Alfi. Jhon yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Putri, mulai memahami situasi yang terjadi sekarang.
"Halahh! Lu bilang, gue otak mesum. Tapi sendirinya gak sadar. Jangan deh, lu coba-coba godain Putri. Pikirin dulu tuh, pacar lu." Sindir Jhon.
Alfi bangkit dan memelototkan matanya pada Jhon. Ia tak terima oleh perkataan Jhon dan langsung memukul kepala Jhon.
"Aduh! Kok berasa ada yang noyor kepala gue ya?"
"Itu ... Alfi yang lakuin." Celetuk Putri.
Alfi yang masih geram kembali memukul. Kali ini lebih keras.
"Aww!" Jhon meringis.
"Alfi! Sudah! Jangan pukul Jhon lagi." Putri menghampiri Jhon. "Kamu nggak apa-apa."
Melihat Putri yang perhatian pada Jhon membuat hati Alfi seperti terbakar.
"Aku enggak akan pukul lagi. Tapi, jangan dekat-dekat sama dia."
Alfi mencoba meraih lengan Putri, menariknya untuk menjauh dari Jhon.
Putri mengerinyitkan dahi. "Kamu kenapa? Apa gara-gara perkataan Jhon, kamu enggak terima?"
Alfi terdiam. Putri melepaskan lengannya perlahan. "Tapi, apa yang dibilang Jhon itu benar." Lanjutnya.
Jhon menatap Putri, "udah Putri. Gue salah ngomong tadi."
Putri menoleh pada Jhon. "Enggak. Kamu benar Jhon. Alfi memang mesum, setiap ada kesempatan, dia akan selalu menempel padaku." Netra matanya beralih pada Alfi. "Awal pertemuan kita juga. Dia udah berani menciumku."
Deg.
Alfi membeku di tempat. Bahkan Jhon pun ikut tertegun dengan ucapan Putri.
"Alfi. Kamu enggak mengingat Sisy, tapi Sisy selalu mengingat kamu. Dia ... Sangat mencintaimu. Dia juga yang membawaku ke rumah sakit untuk menjengukmu. Aku enggak bisa mengabaikan itu."
Suasana berubah menjadi canggung. Alfi terdiam seribu bahasa. Ia memikirkan semua perkataan Putri.
Jhon sedikit merasa bersalah. Harusnya dia tidak mengatakan itu, karena Alfi sudah menyukai gadis lain yaitu Putri. Hubungan ini terlihat sangat rumit.
Jhon menghargai semua keputusan Alfi. Namun di sisi lain, ia pun memikirkan hubungan Alfi dengan kekasihnya, Sisy.
"Kayaknya ini bukan waktu yang tepat buat gue cerita." Jhon bangkit dari duduknya berniat untuk pergi.
"Kamu mau cerita apa memangnya? Apa penting?" tanya Putri.
"Cukup penting. Tapi, gue nggak bisa cerita sekarang. Mungkin lain waktu."
"Soal apa?" tanya Putri semakin penasaran. Alfi pun ikut menoleh ke arah Jhon.
"Soal kecelakaan Alfi. Sepertinya itu bukan kecelakaan biasa."
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰