Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.
Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.
Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.
Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.
Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.
Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kesalahan
...Beberapa hari kemudian...
Beberapa hari berlalu. Elisa diperbolehkan pulang dari klinik dan dibawa kembali ke mansion.
Mario duduk di balik mejanya, mengisap rokok di sela bibirnya. Bau tembakau yang tajam memenuhi setiap sudut ruang kerja itu.
"Kami sudah memeriksa rekaman kamera pengawas berulang kali. Pelakunya Nona Maura," ujar Teguh sambil berdiri di sisi meja. Ia menunjukkan bukti-buktinya kepada Mario.
Mario mengambil kartu memori yang berisi rekaman pagi itu. Ia menyambungkannya ke perangkatnya lalu mulai menyaksikan semua yang dilakukan Maura. Mulai dari saat gadis itu masuk ke kamarnya sampai ketika ia mengambil almond dari tempat sampah.
Dengan kesal, Mario menutup laptopnya.
"Bos, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Teguh. Bagaimanapun, perbuatan Maura tak termaafkan.
"Bawa dia ke sini."
Teguh berbalik dan keluar dari ruang kerja Mario. Tak lama kemudian gadis itu masuk, melangkah pelan menuju tempat kakaknya duduk.
"Halo, Kakak. Aku dengar soal apa yang menimpa istrimu. Ia begitu baik kepadaku, aku ingin menjenguknya ke klinik, tapi Nenek melarangku," kata Maura tanpa berani menatap mata Mario.
Mario bangkit, berjalan memutari meja, lalu berhenti di depan Maura tanpa ekspresi apa pun.
"Benar, Elisa memang sangat baik kepadamu. Kalau begitu, aku tak paham bagaimana kau bisa menaburkan bubuk almond ke gaunnya. Padahal kau tahu betul ia alergi terhadap itu!"
Mata Maura terbelalak lebar. Rasa dingin yang menusuk menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia sudah melakukan segalanya begitu rapi hingga mustahil Mario bisa mengetahuinya.
Air mata mulai membasahi pipi Maura. Ketakutan karena ketahuan menguasai seluruh tubuhnya. Mario mengulurkan tangan dan mencengkeram dagu gadis itu.
Ia mendorong Maura ke atas meja tanpa belas kasihan. Setiap otot di tubuh Maura yang rapuh membeku, tak mampu bergerak.
Rasa sakit di wajahnya tak tertahankan.
"Beraninya kau membahayakan nyawa istriku!"
"Aku... aku... mencintaimu," ucap Maura terbata.
Perlahan Mario melepaskan tangannya dari dagu gadis itu.
"Aku sadar Nenek selalu benar. Sekarang juga, Teguh akan membawamu ke salah satu vila di luar kota."
Jantung gadis itu seolah berhenti berdetak beberapa saat. Ia menatap Mario, tak percaya. Pria itu menunjukkan wajah dingin.
Maura terjatuh berlutut di kaki kakaknya, tangannya mencengkeram kuat kaki Mario.
"Maafkan aku, Kakak. Aku bersumpah aku tak tahu ia alergi!" Maura menangis pilu di kaki Mario.
"Kau kira aku tolol!"
"Maura, sementara kau baru melangkah, aku sudah bolak-balik ribuan kali! Bukan tanpa alasan aku ada di posisi ini..."
"Kau kira mudah membohongiku. Tak seorang pun bisa melakukannya! Kau masih belum mengerti juga," geram Mario.
"Aku... aku..." Maura tak tahu lagi harus berkata apa.
Pikirannya kacau balau. Ia tak percaya betapa mudahnya Mario membongkar perbuatannya.
Menatap Maura dengan benci, Mario mengibaskan tangan gadis itu dengan jijik. Ketika ia diberi tahu dan melihat rekaman kamera pengawas, Mario tak percaya Maura tega berbuat begitu terhadap istrinya, padahal ia tahu perbuatan itu bisa membunuhnya.
Ayahnya pernah membuatnya bersumpah akan selalu melindungi Maura dan menjaganya. Satu-satunya yang bisa Mario lakukan hanyalah menjauhkannya, atau menikahkannya dengan seorang rekan bisnis. Untuk sekarang, ia akan mengirimnya ke sebuah vila di pinggiran kota, tempat ia bisa mengawasinya.
"Maafkan aku, Kakak!"
"Maafkan aku!"
Mario sedikit membungkuk, mencengkeram bahu Maura, dan dengan sekali tarikan mengangkatnya dari lantai.
Ia tak peduli apakah ia menyakiti adiknya, saat itu kebencian membutakan akal sehatnya. Ia mengerahkan tenaga besar pada wajah gadis itu. Hanya memikirkan bahwa ia bisa saja kehilangan Elisa, ada api yang berkobar di hati Mario. Api yang membakar habis segala isi dalam dirinya.
"Kau tahu betul aku tak pernah memaafkan, apa pun keadaannya... Kemasi barangmu dan enyah dari rumah ini. Aku tak mau melihatmu lagi selamanya."
"Jangan pernah berani mencoba berbuat apa pun terhadap istriku, karena aku tak akan seringan ini lagi memperlakukanmu!"
Mario melepaskan Maura, dan gadis itu jatuh berlutut ke lantai. Rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan sakit di hatinya.
Maura menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan air matanya. Sederas apa pun ia menangis, itu tak mampu meluluhkan hati Mario yang dingin dan kejam.
"Teguh akan membawamu ke salah satu vila di utara kota. Kau akan tinggal di sana sampai aku memerintahkan sebaliknya. Jangan coba-coba berbuat apa pun, aku pasti tahu, dan hukumanmu akan sangat kejam."
Gadis itu sedikit mengangkat pandangannya, ketakutan terpancar jelas di wajahnya. Ia menggigit bibir, lalu menggelengkan kepalanya sedikit.
Semua ini salahmu!
Ini salahmu.
"Teguh! Teguh!"
Seketika, asisten Mario masuk. Melihat Maura berlutut, tak sulit menebak apa yang telah terjadi.
"Bos, ada yang bisa saya bantu?"
"Bawa dia. Aku tak mau melihatnya lagi di hadapanku," Mendengar perintah Mario, Teguh mendekati Maura dan membantunya berdiri.
Gadis itu tak mau menyerah, ia kembali menjatuhkan diri ke kaki Mario.
"Kumohon, beri aku kesempatan sekali lagi, aku berjanji tak akan berbuat apa pun terhadapnya!"
"CUKUP!"
"Jangan buat aku kehilangan kesabaran lagi. Bawa dia pergi!"
Teguh menyeret Maura keluar dengan paksa, kalau tidak, Mario akan semakin murka.
"Claudia, cegah mereka membawaku pergi," Maura memohon begitu melihat Claudia.
Sekalipun ingin, Claudia tak bisa mencampuri perintah Mario. Ia mundur selangkah, lalu berkata.
"Maaf, Nak. Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu, tapi kau tak mau mendengarkanku."
Wajah Maura berubah saat menyadari kali ini tak ada yang akan menolongnya. Ia menyeka air matanya, dan mengukir seulas senyum di bibirnya.