Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal Rahasia dan Cemburu Sang Alpha King
Pendaran cahaya merah redup dari dalam saku jubah pelayan Ceisya kian berpendar cerah di dalam temaramnya kamar utama sang Alpha King. Cahaya itu berdenyut lirih seirama dengan suara dengung halus, memancarkan bau sengatan sihir hitam yang pekat dan menusuk hidung.
Di atas tempat tidur empuk bertiang empat, kehangatan posisi tidur mereka mendadak membeku.
Fenrir Volkov membuka matanya secara perlahan. Iris mata merah darah sang Raja Serigala menyala tajam dalam kegelapan kamar, memancarkan aura ancaman predator murni. Tanpa melepaskan rengkuhan lengan kekarnya di pinggang Ceisya, tangan kiri Fenrir terulur tanpa ragu, merogoh saku jubah pelayan gadis itu dan menarik keluar sebuah lencana besi tua berukirkan kepala serigala hitam berdarah—lambang kebanggaan Klan Blackwood, klan musuh abadi Kerajaan Valesia.
Ceisya mengerjap pelan, mengusap matanya yang agak mengantuk lalu menatap lencana besi di tangan Fenrir dengan wajah tanpa dosa.
"Lho? Benda itu masih ada di kantong baju saya?" celetuk Ceisya santai, sama sekali tidak memperlihatkan kepanikan. "Kirain tadi udah jatuh di jalan pas saya lagi sibuk silat sama tiga pembunuh bayaran di hutan salju."
Fenrir memiringkan kepalanya, menatap Ceisya dari jarak yang sangat dekat. Aura intimidasi dari tubuhnya naik satu tingkat, namun ada rasa ingin tahu yang sangat dalam di balik mata merahnya.
"Kau menyimpan lencana sihir milik Klan Blackwood di sakumu, Ceisya?" suara bariton Fenrir terdengar rendah dan berbahaya, menggetarkan dada Ceisya. "Kau tahu... siapa pun di Valesia yang menyimpan benda ini tanpa izin dari Raja akan langsung dihukum gantung atas tuduhan mata-mata?"
Ceisya memutar bola matanya malas, lalu mendesah panjang.
"Aduh, King Alpha yang terhormat... tolong deh, prasangka buruknya dikurangi dikit," cerocos Ceisya blak-blakan sambil menahan dada bidang Fenrir dengan tangannya. "Kalau saya ini mata-mata klan musuh, buat apa saya simpan benda ginian di kantong baju tidur? Mending saya umpetin di bawah lantai marmer atau diselipin di balik baju Anda sekalian! Itu tuh murni keteledoran saya gara-gara baju pelayan ini nggak ada sakunya yang pakai risleting!"
Mendengar omelan santai dan istilah risleting yang asing di telinganya, sudut bibir Fenrir terangkat sedikit. Rasa curiganya menguap begitu saja, berganti dengan rasa gemas pada keberanian gadis di bawah dekapannya ini.
"Lalu dari mana kau mendapatkan lencana ini?" tanya Fenrir pelan, jari-jarinya meremas pelan pinggang Ceisya, menikmati sensasi kelembutan tubuh gadis itu di balik kain kaku.
"Dari pembunuh bayaran yang diutus Mbak Bianca buat penggal leher saya tadi malam," jawab Ceisya jujur, mengibaskan tangannya dengan gaya sok keren. "Pas saya patahin leher pembunuhnya, lencananya terlempar terus saya amankan buat kenang-kenangan. Lumayan kan, bahannya dari besi tua, kalau dijual ke tukang loak di pasar bawah pasti dapet beberapa keping perak!"
Fenrir terkekeh rendah—sebuah tawa yang dipenuhi kegelapan namun terdengar sangat intim. "Menjual artefak klan musuh ke tukang loak? Hanya kau satu-satunya wanita di dunia ini yang memiliki jalan pikiran segila itu, Ceisya."
Namun, belum sempat tawa Fenrir mereda, dahan pendaran merah pada lencana besi itu mendadak membesar dua kali lipat! Suara dengungan halus berubah menjadi kepulan asap sihir hitam yang membentuk proyeksi suara (audio projection) di udara.
BZZZZT!
"Belva Vespera... apakah kau sudah berhasil mendapatkan sampel darah murni Fenrir Volkov?"
Sebuah suara pria yang berat, dalam, bernada dingin, dan dipenuhi pesona berbahaya mengudara dari dalam proyeksi asap tersebut. Suara itu adalah milik Kaelen Blackwood—Pemimpin tertinggi Klan Blackwood yang terkenal tampan, licik, dan berdarah dingin.
"Jawab aku, Belva. Jika kau berhasil membawanya malam ini, aku sendiri yang akan menjemputmu di perbatasan salju dan menjamin tahtamu," lanjut suara Kaelen dengan nada yang agak intim.
Mendengar suara pria asing yang menggemakan aura Alpha musuh di dalam kamar pribadinya, wajah Fenrir seketika berubah menjadi sangat mengerikan. Iris mata merah sang Raja Serigala membara hebat bagaikan lahar api, meremukkan seluruh kehangatan di dalam kamar dalam sekejap!
Ceisya yang menyaksikan proyeksi sihir itu justru tertawa geli dalam batinnya. Wah, gila! Suara bos musuhnya enak juga, tipe-tipe suara cowok anime villain yang mahal! Tapi sayang, salah sambung!
Sebelum Fenrir sempat menghancurkan lencana itu karena murka, Ceisya dengan lincah menyambar lencana itu dari genggaman Fenrir, lalu mendekatkannya ke mulutnya dengan senyuman savage.
"Halo, halo? Tes, tes... satu dua tiga dicoba!" cerocos Ceisya nyaring ke arah lencana sihir itu. "Maaf ya, Mas Bos Kaelen yang terhormat! Ini bukan Mbak Belva yang jawab. Mbak Belva-nya lagi sibuk nangis kejang-kejang di lantai bawah gara-gara kena racun bikinan sendiri! Kalau Mas Bos mau sampel darah Fenrir, dateng sendiri dong ke sini, jangan cuma berani nelfon lewat lencana bekas begini! Kualitas sinyalnya jelek banget, banyak delay-nya!"
BZZZZT!
Di seberang sana, suara Kaelen Blackwood terdiam membeku selama beberapa detik. Pemimpin klan musuh itu terperangah mendengar suara wanita yang begitu bening, berani, sarkas, dan sama sekali tidak takut pada ancamannya.
"Kau... siapa kau?!" tanya Kaelen dari seberang sana, suaranya kini dipenuhi rasa penasaran yang mendalam pada sosok wanita pemilik suara tersebut. "Suaramu... kau bukan pelayan biasa. Siapa namamu, wanita—"
KRAK!
Belum sempat Kaelen menyelesaikan kalimatnya, tangan kekar Fenrir langsung mencengkeram lencana besi itu dan meremukkannya hingga menjadi abu hitam yang berhamburan di atas lantai marmer!
Aura cemburu dan keposesifan gila yang tak tertandingi meledak dari tubuh Fenrir Volkov. Sepasang mata merah sang Alpha King menatap Ceisya dengan gairah kegelapan yang sangat pekat—sebuah dorongan dominasi liar dari seekor serigala jantan yang tidak terima ada predator lain yang mulai melirik betinanya!
"Berani-beraninya dia menanyakan namamu di hadapanku..." bisik Fenrir rendah. Suaranya terdengar begitu dalam, sarat akan ancaman pembunuhan mutlak yang membuat bulu kuduk merinding.
Ceisya yang kaget melihat lencana itu hancur jadi abu hanya bisa membelalakkan matanya.
"Aduh, King Alpha! Kenapa dihancurin sih?!" protes Ceisya blak-blakan, tangannya menepuk bahu kokoh Fenrir. "Padahal tadi saya lagi coba melacak frekuensi gelombang sihirnya pakai pola sistem audio lencana itu! Kalau tahu pavelength-nya, kita bisa meretas lokasi markas rahasia Klan Blackwood tanpa perlu capek-capek nyari di hutan salju!"
Fenrir tidak memedulikan omelan logika cerdas Ceisya. Pria itu menindih tubuh Ceisya sepenuhnya ke atas tempat tidur, mencengkeram kedua pergelangan tangan Ceisya dan menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya.
"A-Apa-apaan nih?! Lepasin gak?!" seru Ceisya kaget, dadanya naik turun dengan tidak teratur karena keintiman posisi mereka yang sangat berbahaya.
Fenrir menundukkan kepalanya, menekan tubuh kekarnya rapat-rapat tanpa celah ke tubuh Ceisya. Napas panas bertemperatur tinggi milik sang Raja menyapu permukaan kulit leher dan bibir Ceisya, memancarkan aroma musk dan posesifitas murni yang memabukkan.
"Kau milikku, Ceisya," bisik Fenrir penuh gilaan posesif tepat di depan bibir Ceisya, mata merahnya menyala pekat dalam kegelapan. "Tidak akan ada pria mana pun di dunia ini—termasuk Kaelen Blackwood—yang boleh mendengar suaramu, memikirkan dirimu, atau menyebut namamu... Kau sepenuhnya terkunci bersamaku di sini."
Ceisya meneguk ludahnya yang terasa kaku, jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak wajah mereka yang kini hanya tersisa selembar kertas.
Buset... cemburu cowok ini beneran mengerikan banget! Cuma gara-gara suara di telpon sihir aja langsung kena trigger posesif tingkat dewa! Batin Ceisya merinding sekaligus berdesir aneh.
"K-King Alpha..." Ceisya mencoba menawar dengan sisa-sisa keberaniannya, mencoba memalingkan wajahnya yang memerah panas. "Tolong ya, saya ini bukan barang koleksi. Lagian jangan rapat-rapat begini napasnya, bikin gerah!"
Fenrir tidak mendengarkan penolakan halus itu. Pria itu menunduk dan mengecup leher Ceisya yang menyebarkan aroma scent-mark milik Fenrir dengan sapuan lembut namun mengikat, membuat Ceisya memekik pelan dan menggeliat di dalam cengkeraman sang Raja.
"Malam ini... kau tidak akan tidur jauh dariku, manis," bisik Fenrir posesif, lalu membaringkan tubuh mereka kembali menyamping dan memeluk Ceisya erat-erat ke dalam dekapannya, menyegel tubuh gadis itu di dalam pelukan hangatnya sepanjang malam.
Malam berganti fajar. Cahaya matahari pagi yang memantul dari padang salju Valesia mulai menerobos masuk melalui celah tirai sutra emas kamar utama sang Alpha King.
Di luar pintu kamar pribadi Fenrir yang sangat terlarang itu, tiga orang kepala pelayan istana bersama dua prajurit pengawal pribadi berdiri gemetar dengan nampan emas berisi sarapan mewah kelas Raja.
Di bawah perintah mutlak sang Alpha King yang diterima tadi subuh, mereka melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam-dalam. Namun, begitu pandangan mereka terangkat sedikit ke arah tempat tidur utama, nampan emas di tangan kepala pelayan hampir saja terlepas!
Di atas tempat tidur king-size milik penguasa Valesia yang terkenal sedingin es dan tak tersentuh, sang Raja Serigala Fenrir Volkov terlihat masih berbaring santai, merengkuh tubuh si gadis pelayan cupu Ceisya yang tertidur lelap di dalam dekapannya, sementara sang Alpha King menatap para pelayan dan pengawal dengan senyum posesif yang paling menakutkan:
"Pastikan seluruh isi istana tahu siapa yang memegang kendali di tempat tidurku saat ini."
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊