hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
Setelah tiba di mansion, entah bagaimana Damian langsung memutuskan untuk pergi ke kantornya. Namun, saat hendak melangkah pergi, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada kaki Emma.
Langkahnya seketika terhenti.
"Tunggu! Kaki kau kenapa?" tanya Damian dengan kening berkerut sambil menunjuk kaki Emma yang terluka.
Emma yang menyadari arah pandangan suaminya langsung tersenyum manis. Ia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha meyakinkan Damian bahwa dirinya baik-baik saja.
"Nggak apa-apa, kok. Kakiku cuma terkena pecahan vas. kemarin aku berjalan sambil tidak melihat ke bawah," jawab Emma santai.
Damian menatap luka di kaki istrinya dengan rahang mengeras. Wajahnya yang semula biasa saja kini berubah dingin.
"Sialan!" gerutunya kesal.
Ia segera menoleh ke arah Vandes yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Bukankah sudah aku perintahkan kau, Vandes, untuk menjaga wanita cerewet ini? Aku tidak mau melihat satu goresan pun di tubuhnya!" bentak Damian dengan tatapan tajam.
Vandes langsung menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak menyangka Nyonya akan terluka seperti ini," jawab Vandes dengan nada bersalah.
Emma yang mendengar bentakan Damian langsung mengerjap. Ia tidak menyangka pria itu akan semarah ini hanya karena luka kecil di kakinya.
"Hei, kenapa malah Vandes yang dimarahi? Aku sendiri yang tidak melihat jalan, tahu!" sela Emma sambil mengerucutkan bibirnya.
Damian mengalihkan pandangannya kepada Emma."Diam. Siapa yang menyuruhmu membela dia?" tegurnya dingin.
Emma langsung mengigit bibir bawah nya
Dasar vampir galak! Sudah tahu aku terluka, bukannya bertanya baik-baik malah marah-marah.
Sementara itu, Damian kembali menatap kaki Emma, lalu menghela napas panjang.
"Vandes, panggil dokter untuk memeriksa lukanya," perintah Damian tegas.
"Baik, Tuan," jawab Vandes sebelum segera pergi melaksanakan perintahnya.
Damian kembali menatap Emma dengan sorot mata tajam.
"Dan kau, mulai sekarang, jangan berjalan sembarangan. Mengerti?"
Emma mengangguk cepat, lalu tersenyum manis.
"Siap, Tuan Vampir Galak!"
Damian memejamkan mata sesaat, seolah sedang menahan kesabarannya menghadapi tingkah sang istri.
"Dasar wanita cerewet," gumamnya sebelum akhirnya berbalik menuju kantornya.
Namun, jauh di dalam hatinya, Damian merasa lega karena luka Emma tidak terlihat terlalu parah. Meski ia tidak pernah mengatakannya secara langsung, melihat istrinya terluka adalah hal yang paling tidak ingin ia alami.
"Damian hati hati !!"teriak Emma melambaikan tangannya " Damian tunggu kau ingin aku berdosa" ucap Emma sambil berlari pelan
"apakah kau tidak memiliki otak dasar perempuan bodoh kaki mu sedang terluka "ucap Damian kesal
Emma tersenyum manis, lalu tiba-tiba mengangkat tangan Damian yang sedang digenggamnya. Tanpa ragu, ia mengecup punggung tangan suaminya dengan lembut.
" hati-hati di jalan" ucap Emma manja sambil tersenyum lebar.
Damian terdiam sesaat. Ia menatap Emma yang terlihat begitu bahagia hanya karena hal sederhana itu.
"Dasar wanita aneh," gumamnya pelan.
Namun, alih-alih menarik tangannya, Damian justru mengangkat tangan yang lain untuk mengusap kepala Emma. Sesaat kemudian, ia menunduk dan mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Jangan membuat masalah selama aku pergi," pesannya dengan suara rendah.
Emma membeku.
Matanya membulat, sementara pipinya perlahan memerah. Ia sama sekali tidak menyangka Damian akan membalas ciumannya dengan cara seperti itu.
"I-iya...." jawab Emma terbata-bata.
Damian tersenyum tipis sebelum melepaskan tangannya dan berbalik menuju mobil.
"Jaga dirimu baik-baik, Emma."
Emma berdiri mematung, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh Begitu Damian masuk ke mobil, Emma langsung memegang kedua pipinya yang terasa panas.
"YA AMPUN! VAMPIR GALAK ITU BARUSAN MENCIUM PUNCAK KEPALAKU!" bisiknya heboh sambil menahan senyum.
Ia melompat kecil, tetapi langsung meringis ketika kakinya yang terluka terasa nyeri.
"Aduh! Astaga, Emma, jangan sampai kakimu tambah parah cuma gara-gara ciuman!"
Meski begitu, senyum di wajahnya tak kunjung menghilang.
Hari itu, Damian mungkin hanya memberikan sebuah kecupan sederhana. Namun, bagi Emma, hal kecil itu cukup membuat hatinya berbunga-bunga sepanjang hari.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭