Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru dan Gelar Baru
"Sekarang kita berpamitan ke Ibu Panti, lalu menuju ke rumah kita," ucap Rian datar namun tegas saat mereka kembali ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Kirana mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Mobil sedan mewah itu bergerak membelah jalanan kota kembali menuju Panti Asuhan "Lentera Kasih". Di sepanjang jalan, Kirana sesekali melirik cincin emas putih yang melingkar sempurna di jari manisnya. Semuanya terasa berjalan begitu cepat, seperti mimpi yang dianyam di tengah hembusan angin siang.
Setibanya di panti, Ibu Ratna menyambut mereka dengan mata berkaca-kaca. Rian dengan penuh rasa hormat menyampaikan langsung bahwa Kirana kini telah sah menjadi istrinya. Ibu Ratna menatap Kirana dengan pandangan haru yang mendalam. Ia memeluk anak asuhnya itu amat erat, memberikan wewangian doa dan pesan agar Kirana selalu menjadi istri yang berbakti, bijaksana, serta tetap rendah hati.
Setelah prosesi pamitan yang dipenuhi rasa haru, mobil mewah itu kembali melaju meninggalkan pelataran panti asuhan. Kali ini, tujuannya adalah kawasan perumahan paling elit di pusat kota, tempat kediaman utama keluarga Wijaya berdiri.
Kendaraan itu melintasi gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, menyusuri jalan setapak beraspal mulus yang diapit taman bunga tertata rapi. Di ujung jalan, berdiri sebuah mansion megah bergaya arsitektur modern minimalis. Bangunan itu jauh lebih luas dan megah dibanding rumah milik keluarga almarhum ayah Kirana yang semalam menolaknya.
Pak Eko dan para pengawal bergerak sigap membantu Rian turun ke atas kursi rodanya. Pintu utama yang tinggi dan kokoh terdorong terbuka, menyambut kedatangan sang pemilik rumah.
Di dalam lobi utama yang berlantaikan marmer mengilap, puluhan pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi di sisi kiri dan kanan. Seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun—Bi Asih, kepala pengurus rumah tangga—melangkah maju dan membungkuk penuh hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Rian," puji Bi Asih dengan suara santun.
Rian menghentikan pergerakan kursi rodanya di tengah ruangan. Ia memutar posisinya sedikit ke samping, menatap Kirana yang berdiri anggun di sebelah kursi rodanya dengan balutan blouse sederhana dan jeans cantiknya.
"Mulai hari ini, kenalkan," suara Rian berwibawa menggema lembut di aula lobi yang megah itu. "Ini Kirana Wijaya. Dia adalah istriku dan nyonya muda baru di rumah ini. Perlakukan dia dengan tingkat penghormatan tertinggi, sama seperti kalian mematuhiku."
Seluruh pelayan membungkuk serentak dengan penuh hormat. "Selamat datang, Nyonya Kirana."
Kirana terpaku sejenak. Gelar Nyonya Wijaya terngiang lembut di telinganya. Malam kemarin ia diusir bagai sampah dari pintu rumah megah keluarganya sendiri, namun siang ini, ia berdiri tegak di mansion yang jauh lebih megah sebagai seorang nyonya rumah.
"Mari, saya antarkan Nyonya melihat kamar utama," ucap Bi Asih ramah, tersenyum hangat menyambut nyonya barunya.
Kirana menoleh ke arah Rian, dan pria tegap di atas kursi roda itu mengangguk pelan, menyiratkan bahwa dunia baru Kirana kini telah resmi dimulai.
Kamar utama itu terletak di lantai dua mansion. Langkah kaki Kirana terasa begitu ringan namun kikuk saat memasuki ruangan yang luasnya menyerupai apartemen mini tersebut. Desain interiornya memadukan warna monokrom elegan dengan pencahayaan hangat dari lampu gantung kristal. Di atas meja rias besar berbingkai emas, beberapa kantong belanjaan bermerek dunia serta set lengkap produk makeup dan rangkaian pakaian baru tertata rapi. Ternyata, usai dari Kantor Catatan Sipil tadi, Rian diam-diam telah memerintahkan asisten pribadinya untuk menyiapkan segala keperluan sandang sang istri baru.
Kirana baru saja menyentuh salah satu gaun tidur satin yang lembut di atas tempat tidur berukuran king size ketika suara roda kursi bergulir memecah keheningan.
Ia menoleh. Rian masuk menyusulnya ke dalam kamar. Dengan gerakan tangan yang tenang, pria itu menutup pintu kamar rapat-rapat hingga terdengar bunyi klik, lalu memutar kunci dari dalam.
Jantung Kirana berdegup kencang seketika. Manik matanya melebar, dan ia refleks mundur selangkah, mendekati tepi ranjang. Pikiran-pikiran liar tentang malam pertama pernikahan mendadak ini berkelebat di benaknya.
Rian yang melihat ekspresi tegang dan gugup di wajah Kirana langsung menghentikan kursi rodanya. Pria itu mengangkat kedua tangannya pelan seraya menatap lurus dengan sorot mata yang tenang dan meyakinkan.
"Aku tahu kamu masih shock dengan semua kejadian ini," ucap Rian dengan suara berat yang terdengar begitu berwibawa dan menenangkan. "Tapi tenanglah. Aku tidak akan melewati batas, meskipun secara hukum aku telah sah menjadi suamimu."
Kirana mengerjap, merasa kebingungan sekaligus sedikit lega menyusup di dadanya. "Maksud... maksud Anda, Mas?"
Tanpa menjawab langsung, Rian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah map biru tua berbahan kulit sintetis. Ia meletakkan map itu di atas meja kecil di hadapannya, lalu mendorongnya perlahan ke arah Kirana.
"Baca itu," perintah Rian singkat.
Kirana melangkah ragu, mengambil map tersebut, dan membukanya. Sepasang matanya menelusuri lembar demi lembar isi dokumen di dalamnya. Ternyata, itu adalah sebuah surat perjanjian pranikah atau kontrak pernikahan privat yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Di dalam surat kontrak tersebut tertulis dengan jelas bahwa pernikahan ini bersifat kontraktual. Alasan utama di balik keputusan mendadak Rian menikahi Kirana bukanlah didasari oleh cinta kilat, melainkan sebuah permintaan terakhir yang sangat mendesak dari sang Eyang—nenek buyut sekaligus matriark keluarga besar Wijaya. Eyang Rian dikabarkan tengah sakit-sakitan dan memiliki satu keinginan terbesar sebelum menutup mata: melihat cucu kesayangannya, Rian, menikah dan membawa pendamping hidup ke rumah.
"Eyang sangat ingin melihatku menikah sebelum beliau tiada," jelas Rian melanjutkan, suaranya melunak perlahan. "Kesehatan Eyang terus menurun, dan aku tidak ingin mengecewakannya di sisa hari-hari hidupnya. Saat aku melihatmu di tengah hujan kemarin, aku tahu kamu adalah gadis cerdas yang bisa diandalkan untuk sandiwara ini."
Kirana terpaku membaca poin-poin kontrak tersebut. Di sana juga tertulis bahwa sebagai imbalan atas kesediaannya menjadi istri sah di hadapan Eyang dan hukum, Rian akan menjamin penuh seluruh biaya kuliah Kirana di universitas impiannya, memberikan fasilitas hidup yang layak, serta membebaskan Kirana untuk memilih jalannya sendiri setelah kontrak pernikahan ini selesai nantinya atau setelah kondisi Eyang membaik.
"Jadi... ini semua hanya demi Eyang?" tanya Kirana pelan, menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa lega, namun ada pula sisa keterkejutan di dadanya.
"Ya," jawab Rian tegas. "Tapi di hadapan keluarga besar dan publik, pernikahan ini nyata dan sah. Tidak ada seorang pun yang boleh tahu isi kontrak ini, termasuk para pelayan di rumah ini."
Rian mendongak, menatap manik mata Kirana dengan sungguh-sungguh. "Selama kita terikat dalam perjanjian ini, aku akan memenuhi seluruh kewajibanku sebagai pelindungmu. Kamu bisa fokus pada kuliahmu, dan aku akan memastikan tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani merendahkanmu lagi. Bagaimana, Kirana? Apakah kamu setuju?"