Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta
Makam mamanya Argani tak jauh dari panti asuhan. Keduanya cukup berjalan kaki saja, menuruni perbukitan dan sampai di daerah pemakaman.
Kehadiran Aithan di sana cukup menarik perhatian. Bule tampan yang berbadan atletis. Beberapa diantara mereka bahkan dengan sengaja memanggil Aithan. Cowok itu jadi sedikit malu.
"Kenapa mereka memanggilku bule?" tanya Aithan.
"Itulah sebutan kami untuk orang dari luar negeri, terutama yang dari dataran Eropa dan Amerika."
Aithan yang sedang menggenggam tangan Argani semakin erat menautkan jari-jari mereka.
"Ada apa?" tanya Argani heran dengan Aithan yang semakin erat menempel padanya.
"Mereka harus tahu kalau aku sudah dimiliki olehmu."
"Ih... Aithan. Ada-ada saja." Argani merasa lucu dengan tingkah Aithan. Cowok itu menjadi semakin posesif padanya. Akhirnya, mereka pun sampai di kompleks pekuburan umum. Argani cukup terkejut saat memperhatikan kalau kompleks perkuburan ini sudah agak padat pada hal ia baru 2 tahun tak pulang.
Kuburan mamanya Argani ada di tengah-tengah. Banyak bunga yang mengelilingi kubur itu.
"Makam mamamu terlihat berbeda dengan yang lain." ujar Aithan saat keduanya sudah tiba di sana.
"Mamaku sangat menyukai bunga. Semua bunga yang ada di panti asuhan, dialah yang menanamnya. Ketika mama meninggal, dan kuburnya selesai dibuat, salah satu anak di panti asuhan mengatakan kalau ia ingin kubur mama seperti surga. Lalu mulailah bunga-bunga ini ditanam. Semuanya terpelihara indah karena setiap minggu mereka pasti datang untuk membersihkannya."
Aithan berjongkok di samping makam itu. Ia menatap batu nisan di sana yang bertuliskan : BERISTIRAHATLAH DALAM DAMAI
MAMA, SAHABAT, BUNDA TERBAIK
GANDIS SUSIANTI ABISADA
"Nama mamamu sangat cantik. Secantik orangnya." ujar Aithan.
"Memangnya kau pernah melihat mamaku?" tanya Argani heran.
"Ada foto di ruang tamu. Seorang wanita yang agak mirip denganmu namun matanya berbeda. Wajahnya terlihat penuh kasih dan lemah lembut. Aku yakin kalau itu adalah mamamu."
"Di foto itu ia menggunakan baju merah?"
Aithan mengangguk. Argani pun langsung tersenyum. "Itu memang mama."
Argani ikut berjongkok. Ia mengambil air yang sudah diisinya di sebuah botol.
"Kamu mau apa?" tanya Aithan.
"Mencuci nisan mama."
"Aku aja, ya?" Aithan mengambil botol air itu dari tangan Argani. Ia mulai menumpahkan airnya di atas batu nisan itu.
"Mama Gandis, perkenalkan nama ku Aithan Cainio. Aku ini adalah pacar anakmu, Argani. Aku sungguh jatuh cinta pada Argani dan berniat untuk menikah dengannya. Aku mencintainya dan ingin mempersuntingnya. Aku memohon restu mu, mama. Aku berjanji akan menyayangi Argani seumur hidupku. Aku akan menjaga dan melindunginya dari apapun juga." Kata Aithan sambil terus membersihkan nisan itu.
Argani terkejut mendengar perkataan Aithan. Ia menatap pria itu sangat dalam membuat Aithan ikut menatapnya juga. "Kenapa?" tanya Aithan.
"Ai, kita baru 10 bulan pacaran. Kenapa kamu begitu yakin ingin mempersunting ku?"
"Karena aku mencintaimu. Aku tak ingin kamu dimiliki oleh orang lain. Aku ingin meresmikan hubungan kita."
"Tapi bagaimana dengan keluargamu? Apakah restu mereka tak perlu?"
"Aku bukan anak tertua. Aku bebas menentukan dengan siapa aku akan menikah dan menjalani hidupku. Aku hanya ingin kamu, Ar. Tak ada yang lain."
"Tapi kita masih sangat muda, Ai."
"2 bulan lagi kamu akan genap 20. Dan 2 bulan setelah ulang tahun mu, aku akan genap 24. Apanya yang salah?"
Argani berdiri. "Jangan mengucapkan suatu janji di hadapan makam seseorang. Itu nggak baik."
Aithan ikut berdiri. Ia mengeringkan tangannya dan langsung menggenggam kedua tangan Argani. "Tujuanku ikut denganmu ke sini bukanlah untuk liburan. Melainkan aku ingin melamarmu di depan makam mamamu. Aku juga setelah ini ingin berbicara dengan ibu Wulan."
"Tapi aku masih ingin kuliah, Ai. Aku ingin menjadi dokter."
"Kau akan tetap kuliah, Ar. Aku akan mendampingi mu sampai kau menjadi dokter."
"Bagaimana jika aku hamil?"
Aithan tersenyum. "Bukankah kita dapat menundanya sampai kau benar-benar siap? Ar, kamu ingatkan bagaimana aku dan kamu beberapa kali hampir melanggar batas yang sangat kamu jaga saat kita bermesraan?" Tangan Aithan yang satu memegang pipi Argani. "Jujur aku sangat menginginkan dirimu. Sebagai pria dari dunia barat, memang hal ini dianggap biasa bagi kami. Namun aku sendiri belum pernah melakukannya dengan gadis lain. Karena aku ingin melakukannya dengan perempuan yang sangat aku cintai. Dan itu adalah kamu."
"Ai, aku nggak tahu harus bagaimana. Aku bingung. Aku belum siap berumah tangga." Argani melepaskan tangan Aithan yang memegang tangannya. "Sebaiknya kita pulang saja!"
Aithan nampak kecewa namun ia mengangguk dan segera mengikuti langkah Argani. Sepanjang jalan menuju ke panti asuhan keduanya saling diam.
***********
Wulan mendekati Argani yang sedang membersihkan sayuran di dapur. Sudah 3 hari ini ia melihat Argani seperti sedang memikirkan banyak hal. Ia juga melihat kalau antara Aithan dan Argani seperti ada jarak. Mereka bicara seadanya, dan setelah itu sibuk dengan urusan masing-masing.
"Argani..., ada apa, nak?" tanya Wulan sambil duduk di depan Argani.
"Maksud ibu?" tanya Argani sambil mengangkat wajahnya.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Argani berusaha tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Bu."
"Apakah tentang lamaran Aithan?"
Argani terkejut. "Ibu tahu dari mana?"
"Kemarin Aithan berbicara dengan ibu. Dua meminta ijin untuk menikahi mu."
Argani menunduk. "Aku bingung, bu. Aku memang mencintainya. Namun aku belum siap menikah."
"Ibu tak akan memaksamu. Semuanya kamu yang putuskan. Ibu hanya berdoa semua yang terbaik untukmu. Namun, niat Aithan itu sangat baik. Ibu tahu kalau Aithan bukan keturunan biasa. Ibu tahu kalau dia anak biliuner dengan kekayaan yang tak akan habis dimakan tujuh turunan. Dia sudah turun sejauh ini dari tempatnya yang tinggi hanya untuk bersamamu. Niatnya sangat baik, nak. Mungkin kalau pria barat lainnya hanya ingin tinggal bersama tanpa ada status yang jelas. Tapi dia ingin menjalin hubungan denganmu dengan niat yang tulus."
"Kami masih sama-sama muda, bu."
Wulan tersenyum. "Cinta dan gairah adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Ibu bukannya tak percaya kalau kau bisa menjaga diri, namun ibu percaya dengan Aithan yang ingin serius menikahi mu. Apakah kamu tak akan menyesal kalau Aithan akhirnya tertarik dengan wanita lain karena kau mengabaikan niat tulusnya?"
Argani tak bicara. Ia hanya diam mendengar kata-kata ibu Wulan. Sampai akhirnya perhatiannya beralih pada Aithan yang sedang bermain basket bersama anak-anak. Kemarin Aithan membeli ring dan bola basket. Ia dan pak Santo, suaminya ibu Wulan yang membuat ring itu dibantu oleh beberapa anak lelaki yang sudah besar.
Kini, mereka asyik bermain bersama Aithan. Cowok itu bahkan mengajarkan dasar-dasar bermain bola. Sebenarnya Argani rindu untuk duduk dan bercerita dengan Aithan. Namun dia bingung jika Aithan akan kembali bercerita tentang pernikahan. Ia bingung harus mengatakan apa. Sejujurnya Argani pun takut kehilangan Aithan. Tapi Argani sendiri belum mengenai siapa keluarga Aithan. Bagaimana jika mereka memang tak menginginkannya?
***********
Hujan turun sangat deras malam ini. Selesai makan malam, anak-anak langsung masuk ke kamar mereka masing-masing. Aithan pun setelah makan malam tak keluar lagi dari kamarnya.
Argani tak tahu apakah selama satu Minggu Aithan tidur di kamar itu ia bisa tidur nyenyak atau tidak. Argani tahu, kamar pembantu di rumahnya Aithan, seribu kali lebih bagus dari kamar tamu di panti asuhan ini.
Dinginnya malam yang hujan tak dapat membuat Argani mampu memejamkan matanya. Ia begitu gelisah memikirkan hubungannya dengan Aithan. Perlahan Argani keluar dari kamar dan melangkah ke ruang tamu. Ia terkejut melihat Aithan ada di teras rumah, nampaknya ia sedang menelepon seseorang. Perlahan Argani mendekat dan mencoba menguping pembicaraan itu.
"Aku baik-baik saja di sini. Awalnya memang agak kesulitan karena kamarnya kecil dan kasurnya juga agak keras. Namun aku mencoba menjalaninya dengan senang hati. Buktinya, aku bisa tidur dengan nyenyak. Kamu sama Tio tenang saja. Kota ini tenang dan damai."
Dada Argani terasa sesak. Ia sungguh merasa bangga kalau Aithan mau merendahkan dirinya seperti ini hanya karena ingin membuat Argani senang. Tanpa sadar gadis itu mundur beberapa langkah dan menyebabkan kakinya menyambar salah satu kursi dan menyimpulkan bunyi. Aithan segera membalikkan badannya. Ia langsung tersenyum saat melihat Argani ada di sana. Ia memasukan ponselnya di dalam saku celananya dan mendekati gadis pujaannya.
"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Aithan.
Argani menggeleng. Selama beberapa hari ini mereka hanya bicara seadanya saja.
"Ini sudah jam 11 malam. Ayo masuk lagi ke kamarmu."
Argani menatap Aithan. "Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Aku sebenarnya sudah tidur namun bangun saat ditelepon oleh Darren. Ia menanyakan kabarku."
"Ai, mengapa kamu mau melakukan semua ini untukku? Kamu mau datang ke desa ini, mau tidur di kamar sempit itu. Kamu mau makan makanan sederhana yang disiapkan di sini walaupun aku tahu kalau kamu sering sakit perut jika makan nasi dan makanan yang pedas."
Aithan mendekat. Ia memegang pipi Argani. "Untuk membuktikan padamu, bahwa sekalipun aku sudah terbiasa hidup dalam kemewahan namun aku masih bisa hidup dalam kesederhanaan. Aku turun tangga sejauh ini hanya untukmu."
Argani tak dapat menahan dirinya lagi. Ia langsung memeluk Aithan. Menangis di dada cowok itu.
"Hei..., jangan menangis."
Argani mendongak. "Aithan, aku bersedia menikah denganmu."
Mata Aithan terbelalak. Ia tak mengira kalau Argani akhirnya setuju.
"Benarkah?"
Argani mengangguk.
"Terima kasih, sayang." Aithan mencium dahi Argani dengan perasaan yang sangat bahagia.
*********
Duh, mampukah mereka bahagia? Bisakah Argani menjalani pernikahan yang sebenarnya?
Mba Amanda, untuk episode-episode manis mereka, aku serahkan di tanganmu 😘😘😘