Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Akuarium Di Tangga Kanan
"Jauh sekali..." Rei mengeluh ketika sudah menaiki tangga selama lebih dari 20 menit.
Ternyata tangga di sebelah kanan melengkung berputar-putar ke atas atap gedung yang gelap.
Gedung bioskop itu tingginya sama dengan gedung ungu di depannya... Untuk apa bioskop dibangun sampai 18 lantai? Apa tidak mencolok?
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah kelelahan menaiki tangga yang ujungnya masih tidak kelihatan. Neko duduk, beristirahat di tangga... Staminanya masih jauh dibawah manusia, karena dia seekor kucing.
"Aku mau tanya..." Rin berkata dengan terengah-engah, "Kenapa kamu masuk ke dalam kotak kardus dan menaruhnya di tengah gang? Bukankah itu hanya kotak kardus biasa yang bisa saja dikira barang rongsokan?"
"Menurut informasi dari alat penyadap, mereka melakukan transaksi dengan cara seperti itu..." Jawab Neko, "Mereka sengaja menaruh kotak lusuh berisi barang transaksi ditengah gang sempit agar dikira barang rongsokan... Biasanya anak buah mereka yang mengambil sehingga tidak pernah membuka kotaknya... Sebenarnya kami juga tidak terlalu percaya, tapi tak ada salahnya di coba."
"Lalu? Kenapa kau tidak melompat lari ketika kami membuka kotak? Bisa saja kau balik lagi saat kami sudah pergi... Bukankah masalah tidak akan rumit begini?" Tanya Rei.
Rei duduk di anak tangga yang lebih tinggi dari Rin dan Neko...
"Karena kau menyentuh kotaknya, tertinggal sidik jarimu disana..." Jawab Neko singkat, menghela nafas, "Mereka tidak akan mau lagi mengambilnya, semua salahmu."
"Ohh, baiklah... Aku tanggung jawab." Kata Rei datar, merasa tidak bersalah, bersandar di palang tangga yang karat...
Mereka istirahat selama beberapa menit lagi, kemudian melanjutkan perjalanan mendaki tangga itu.
Tak lama kemudian, Neko yang memimpin jalan melihat sebuah pintu berwarna hitam di ujung tangga. Neko, Rei dan Rin mendekati pintu itu.
Rei maju dan membuka pintunya, sama sekali tidak di kunci... Mencurigakan...
CKLEK!
Tampaklah sebuah kolam, seperti akuarium yang di lapisi kaca. Dibawah kaca itu terdapat air jernih yang bening... Di dalamnya terdapat ikan yang berenang ke segala penjuru kolam.
Neko maju duluan, dia menginjak secara hati-hati kaca yang melapisi kolam itu... Diujung kolam terdapat sebuah pintu berwarna hitam, sama seperti yang ini.
"Ini kokoh, sepertinya terbuat dari kaca liminated setebal 3 inci..." Neko menghentak-hentakan kakinya diatas kaca kolam itu.
"Ini ikan nila, ya?" Tanya Rin, masuk ke dalam ruangan itu dan berjongkok, memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam kolam di bawah kaca itu.
"Ya, ukurannya sekitar 10 - 15 cm." Jawab Neko, ikut memperhatikan ratusan ikan nila yang tersebar disepanjang kolam itu.
"Dari tadi kau bisa mengetahui segala hal secara akurat, bagaimana caranya?"Tanya Rei, juga sudah masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan-jalan di sekelilingnya... Sebuah wahana ikan yang bagus...
"Tentu saja karena aku punya ini..." Neko menutup sebelah matanya yang bewarna kuning, dan membiarkan sebelah matanya yang bewarna biru tetap terbuka...
"Dan kau jangan keliling-keliling didalam sini, siapa tahu ada lubang jebakan dan kau mati tenggelam."
Neko memimpin jalan menuju pintu hitam di ujung kolam itu...
Mereka berjalan sangat hati-hati... Tidak terjadi apa-apa, mereka sampai di pintu hitam itu tanpa halangan.
Neko berdiri dan membuka pintu hitam itu. Dan tampaklah lagi sebuah kolam nila berlapis kaca, sama persis dengan yang tadi.
Terdapat pula sebuah pintu hitam di ujung kolam...
Mereka kembali berjalan dengan hati-hati, sama seperti sebelumnya, mereka sampai tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Apa hanya aku yang curiga kalau di sini ada sebuah perangkap yang be—sar?" Rin bertanya saat mereka tiba di pintu hitam yang kedua.
"Tidak, aku juga merasakan hal yang sama..." Neko menjawab, menoleh ke belakang, memperhatikan jalan yang mereka lewati tadi.
"Sudahlah, lurus saja terus, kita sudah sampai sini..."
CKLEK!
Rei membuka pintu hitam yang kedua dan tampak lagi sebuah kolam nila berlapis kaca dan di ujung kolam terdapat pula sebuah pintu berwarna hitam...
"Mereka nggak kreatif, pemandangannya sama melulu, persis." Ujar Rei, berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan itu.
"Tidak, kacanya menipis menjadi 2,37 inci..." Sambung Neko, melangkah masuk ke dalam ruangan itu diikuti oleh Rin.
Mereka kembali berjalan kearah pintu hitam itu dan membukanya. Terlihat pemandangan yang sama, bahkan kami sudah bosan melihat ikan.
Mereka berjalan dan terus berjalan, semakin penasaran dengan apa yang ada setelah kolam nila...
Ruangan ke-empat, "2 inci..."
Ruangan ke-lima, "1,54 inci..."
Ruangan ke-enam, "1,16 inci..."
Ruangan ke-tujuh, "0,84 inci..."
Neko bergumam setiap berganti ruangan, rasanya ketebalan kaca semakin parah.
Dan semua pemandangannya sama, kolam ikan dengan lapisan kaca yang semakin menipis.
Saat sampai di pintu ruangan ke-delapan, Rei membuka pintunya dan akan melangkah masuk.
"Tunggu!" Tahan Neko, "Kacanya tidak lebih dari 0,21 inci! Kurang dari 5,334 milimeter! Itu sangat tipis, dan apa kau tidak memperhatikan ikan-ikan di ruangan yang kita lewati? Memang awalnya nila... Tapi coba sekarang perhatikan baik-baik, ini piranha."
Neko menahan Rei dan Rin di pintu masuk ruang ke-delapan, suasana jadi sangat tegang.
"Benar! Ini piranha!" Seru Rin, berjongkok memperhatikan ikan yang ada di ruang tujuh, tempat mereka berdiri sekarang.
"Di ujung ruangan itu ada pintu, mungkin yang terakhir..." Gumam Rei, memperhatikan ruang ke-delapan yang sudah berada di depan mata.
"Kau bodoh?! Tidak ada tanda-tanda orang pernah melangkah ke sini! Ini jebakan! Ayo putar balik!" Neko menarik jubah Rei dengan mulutnya, memaksa agar mereka segera pergi dari sini.
"Kita tidak bisa kembali, lihat ikan-ikan piranha itu berkumpul..." Rin mundur beberapa langkah ke arah pintu ruang delapan.
Benar saja, piranha-piranha itu berkumpul di tengah kolam sambil mengatup-ngatupkan giginya dengan ganas. Kaca di atas kolam tempat mereka berdiri itu hanya 21,33 milimeter.
"Kalau mereka melompat bersamaan, mungkin bisa menghancurkan kaca tipis yang tidak sampai 1 inci ini..."
Neko mengerutkan keningnya, tampak jelas wajah seekor harimau buas yang marah karena tidurnya di ganggu.
"Seharusnya kita tidak meneruskan perjalanan saat di ruang ke-enam, setidaknya disitu masih aman..." Geram Neko dengan kesal.
"Jadi bagaimana? Maju tidak bisa, mundur tidak bisa... Mungkin ini yang namanya terperangkap jebakan jerangkong." Ujar Rei, menatap serius ikan piranha yang berkumpul di tengah-tengah kolam, bergantian antara ikan di ruang tujuh dan ruang delapan.
"Oke, ayo voting... Mau maju atau mundur?" Tanya Neko dengan nada frustasi.
"Kupikir karena tidak bisa maju dan tidak bisa mundur, kita maju saja. Siapa tahu ada keajaiban, kita tidak tahu apa yang ada dibalik pintu itu." Rin memberikan usul sambil menunjuk pintu diujung kolam ruang ke-delapan.
"Aku setuju dengan Rin..." Sambung Rei, dia mengeluarkan senjata Amunisi F-5, siap bertempur.
"Baiklah, kita maju ke depan... Kaca itu mungkin menahan beban maksimal 20 kg... Sedangkan kalian masing-masing 23 kg... Berarti kita harus berlari tanpa peduli lagi bisa keluar atau tidak."
Neko kembali berubah menjadi seekor kucing, bersiap lari. Rin juga mengeluarkan senjata Amunisi F-8 miliknya.
"Oke... Dalam hitung ketiga, kita berlari secepat mungkin ke dalam ruang delapan... Mari mulai, 1... 2..."
PRANKK!
Belum selesai Neko menghitung, kaca pelapis kolam tempat mereka berdiri pecah, ikan piranha yang berkumpul di tengah kolam menerjang kaca secara bersamaan. Para piranha berlompatan keluar dari kolam.
"Lari!!!"
Dengan panik Neko memberi aba-aba, dan tanpa di suruh dua kali, Rei dan Rin berlari ke dalam ruang delapan.
PRANKK! PRANKK!
Kaca yang di pijak mereka pecah setiap kali mereka melangkahkan. Ikan piranha di ruangan tujuh mengejar mereka masuk ke dalam ruangan delapan...
Ikan piranha di ruangan delapan pun berloncatan, mengejar Neko, Rei, dan Rin sambil mengatup-ngatupkan gigi, memamerkan giginya yang putih tajam.
DRAP! DRAP! DRAP!
Mereka berlari cepat dan semakin cepat, nampaknya ruangan delapan jauh lebih panjang dan ikan piranha-nya jauh lebih banyak.
KRAUK!
Seorang piranha melompat dan menggigit jubah Rin. Jubah Rin langsung robek karena ditarik piranha itu... Piranha yang lain ikut mengoyak jubah Rin yang sobek, sangat ganas dan lapar.
Rei menembak ikan piranha yang juga sudah merobek jubahnya.
DOR! DUARR!
"Jangan! Terus fokus berlari!" Teriak Neko yang memimpin di depan, memberi peringatan pada Rei yang menembak piranha dengan senjata Amunisi F-5.
PRANKK! PRANKK!
Kaca ruangan delapan semakin banyak pecah dan ikan piranha yang melompat-lompat semakin banyak, seperti ada beribu-ribu ikan dalam kolam itu... Padahal pintu keluarnya masih cukup jauh.
Mereka menambah kecepatan... Disaat yang bersamaan, stamina Neko sudah mencapai batas, kecepatan Neko berkurang dan melambat.
GREB!
Rei menangkap dan menggendong Neko di pundaknya.
Mereka terus berlari... Cepat... Makin cepat... Tapi ikan piranha itu lebih cepat. Jarak piranha dari mereka tinggal 30 cm lagi.
"Lempar mobil es milikmu dan atur titik beku yang paling tinggi!!" Neko berseru panik.
Dengan cepat, Rei mengeluarkan mobil es sambil berlari, mengatur titik beku tertinggi dan timer mobil itu. Time-nya 2 detik setelah lepas landas.
"Kau pegang! Beri aba-aba kalau mau lempar! Kami akan berlari dengan kecepatan penuh di saat-saat terakhir!"
Rei menyerahkan mobil es itu pada Neko, napas mereka sudah terengah-engah.
Jarak piranha dari mereka tinggal 20 cm. Pintu keluar tinggal 10 meter di depan.
"Baik!... Satu! Dua! Tiga...! LARI!!!"
Neko melempar mobil es ke dalam kolam piranha. Rei dan Rin berlari dengan kecepatan penuh, kecepatan maksimum yang dapat mereka keluarkan.
Mobil tersebut bereaksi dan membekukan seluruh kolam beserta piranha-nya dalam waktu 2 detik... Mereka pun akan beku kalau masih berada di ruang delapan itu.
"Ayo... Cepat!" Rei menarik tangan Rin yang kecepatannya menurun. Es sudah membekukan kaca pijakan mereka.
"Sedikit lagi!"
Rei mengulurkan tangannya pada kenop pintu yang ada 3 meter di depan. Es sudah membekukan bagian bawah sepatu mereka.
"Tiarap!!!"
Rei menembak es yang membekukan sepatu mereka dengan senjata Amunisi F-5.
DUARR!
Es di sepatu mereka meleleh, pecah dan berhamburan ke segala arah.
BRAKK!
Rei mendobrak pintu dan segera menutupnya. Es membekukan seluruh ruangan delapan... Pintunya pun tak bisa dibuka lagi, ruangan itu sudah menjadi gletser.
To be continued...
Gubrak!