Benar kata pepatah, penyesalan memang selalu datang terakhir (belakangan).
Hal serupa terjadi kepada Evan satria.
Dengan gelap mata Evan tega mentalak tiga Byanca Almahera. Istri yang baru beberapa hari ia persuntingnya.
Ke salah pahaman Evan terhadap Byanca, membuat rumah tangga yang baru saja akan di mulai tersebut hancur sekatika.
Akan kah mereka bisa kembali bersama?
Mampukah takdir merubah semuanya?
Ikuti cerita selengkapnya : SESAL USAI TALAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naffia Inthan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 SIAPA YANG MELAKUKAN INI?
Masalah perceraian antara Evan dan Byanca, keluarga Evan sengaja menutupinya, karna memang itu aib keluarga dan juga jika sampai berita ini tersebar ke publik, maka nama Evan akan menjadi sorotan pertama.
Siapa yang tak mengenal Evan Satria, hampir semua kalangan mengenal laki-laki itu.
Hari ini Evan sudah kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa, walau pun pikiranya masih kacau balau, Evan tidak mau hal tersebut membuatnya tidak konsisten dalam pekerjaan.
Evan sudah berada di dalam ruangan-nya, setumpuk berkas terlihat bertumpuk di atas meja Evan, hari ini banyak berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani.
Satu persatu Evan mulai memeriksa berkas-berkas tersebut.
"Cih, apa ini?" Evan menatap kesal, salah satu berkas yang berada ditangannya, data di berkas tersebut salah.
Evan memanggil sekretarisnya, lalu menyuruh sekretarisnya itu untuk memanggilkan salah satu karyawan-nya, yang mengerjakan berkas yang salah itu.
"Selamat siang pak! Ada yang bisa saya bantu?" ucap karyawan laki-laki tersebut.
Evan beranjak dari duduknya, berdiri mengahampiri karyawannya itu, lalu melemparkan selembar map berkas tersebut.
"Apa ini?" Tanya Evan penuh amarah. "Kamu sudah berapa lama kerja disini hah? kenapa membuat laporan seperti ini saja salah?" pekik Evan, dengan nada suara tinggi.
"Ma--a--f pak" jawab laki-laki tersebut, terbata-bata sambil menundukan kepalanya, tak berani menatap atasannya itu.
"Sa-ya akan se--gera memperbaikinya pak!" lanjutnya.
"Keluar!" Titah Evan. "Dan selesaikan laporan itu sekarang juga. Kalau ada kesalahan lagi, saya tidak segan-segan untuk memecat kamu, paham." jelas Evan, penuh penekan.
laki-laki itu menganggukan kepalanya, segara keluar dari ruangan atasannya tersebut, kembali keruangan-nya untuk mengerjakan laporannya kembali.
"Arrrggg....." teriak Evan frustasi. "Kenapa semua orang menyebalkan" pekiknya.
Tiba-tiba ponsel Evan berbunyi. Evan mengambil ponsel miliknya yang berada diatas meja itu.
Lalu mengangkat telpon tersebut.
"Hallo, ada apa?" Tanya Evan.
"Apa?" Wajah Evan tiba-tiba berubah seperti orang yang tengah terkejut.
"Sialan, cari tau siapa yang melakukan itu, sekarang juga!" Titah Evan, didalam sambungan telpon tersebut.
Sambungan telpon pun terputus, Evan memutuskan sambungan telpon tersebut. Yang menelpon Evan barusan adalah salah satu anak buahnya, yang mengabarkan berita buruk.
"Sialan, siapa yang melakukan ini?" pekik Evan.
"Apa papah Jonathan, tapi tidak mungkin!" Evan ber--agrumen dengan dirinya sendiri, memikirkan siapa yang sudah membocorkan tentang perceraiannya dengan Byanca.
Ya anak buah Evan mengabarkan bahwa media sepertinya sudah tau dengan masalah tersebut, karna kini di rumah Evan sudah di penuhi wartawan yang menunggu konfirmasi dari Evan mengenai hal tersebut.
Sepertinya ada seseorang yang telah membocorkan hal tersebut, tapi siapa? Keluarga Byanca? Tidak mungkin, tidak mungkin orang tua Byanca melakukan hal itu, membuka aib anaknya sendiri.
Evan semakin di buat pusing, dengan adanya kabar tersebut. Ia menyuruh seluruh anak buahnya untuk menjaga ketat kantornya agar tidak ada wartawan yang masuk ke dalam kantor, karna Evan yakin wartawan-wartawan itu pasti menuju kesini.
"Sial-sial kenapa jadi seperti ini hah?" gerutu Evan.
***
Di tempat lain.
Byanca dan kedua temannya, Sesil dan Dara mereka kini tengah berbincang hangat di sebuah restoran di ruangan privat.
Byanca sengaja memesan ruangan khusus itu karena ia ingin menceritakan tentang masalahnya kepada dua sahabatnya itu.
Byanca tau itu aibnya, tapi Byanca binggung ia harus berbicara kepada siapa, selain mereka berdua.
Byanca yakin kedua sahabatnya itu bisa memegang janji tidak membocorkan kepada siapa pun tentang masalah Byanca tersebut.
Panjang lebar, Byanca menceritakan kejadian tersebut kepada Sesil dan Dara, sambil bercerita Byanca tak kuasa menahan air matanya, byanca menumpahkan kembali kesakitan-nya itu.
Kedua sahabat Byanca, Sesil dan Dara ikut serta menangis, ikut serta merasakan apa yang dirasakan Byanca.
Mereka mencoba menenangkan Byanca dan memberinya semangat.
"Sumpah ya by, gw gak habis pikir dengan jalan pikiran si Evan itu?" ucap Sesil, dengan kesal dan penuh amarah.
"Iya bener gw juga gak nyangka, pokoknya by. Lo harus bangkit dan buktikan pada laki-laki berengsek itu kalau kamu bisa hidup tanpa dia!" timpal Dara.
Byanca memaksakan senyumannya, dan menganggukan kepalanya.
"Terima kasih ya, kalian sudah menyemangati gw." ujar Byanca.
Kedua sahabatnya itu mengangguk, lalu mereka memeluk Byanca.
"Tenang aja by, kita akan selalu ada buat lo," ucap Sesil, dan di angguki oleh dara.
Mereka pun melepaskan pelukannya. Lalu mereka melanjutkan kembali memakan makanan mereka yang sedari tadi sudah tersaji diatas meja mereka.
Bersambung...
Jangan lupa like, comen dan Votenya sayang-sayangku.
Terima kasih.
ada satu dua tipo itu biasa, tidak mengurangi alur ceritanya
semangaaat Thor 🙏