"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boom Nuklir
Selamat membaca!
Keesokan harinya, pagi buta sekali Ryan sudah terbangun dan seperti biasanya ia sedang berolahraga di ruang gym. Hal yang memang rutin Ryan lakukan di saat pagi sebelum memulai rutinitas kantornya. Namun, hari ini Ryan sudah mengosongkan semua jadwalnya karena ia sudah membuat janji akan mengajak Viona untuk berkunjung ke makam Bella.
"Semoga saja Viona dapat mengerti dengan apa yang dilihatnya nanti. Aku tidak bisa terus-terusan menutupinya, Viona harus mengetahui semua kenyataan ini." Ryan memutuskan dengan penuh keraguan.
Setelah dua jam berkutat dengan aktivitasnya. Pria tampan yang masih terlihat awet muda walau usianya sudah memasuki 42 tahun itu, kini sudah terlihat duduk di atas sofa untuk beristirahat. Pikirannya kala itu langsung tertuju akan sosok wanita yang entah bagaimana hadir dalam mimpinya.
"Nisa sedang apa ya jam segini? Pasti dia sudah menyiapkan sarapan untuk Viona atau bahkan sedang main bersamanya." Ryan pun melangkah keluar dari ruangan gym untuk mencari keberadaan Viona.
Setelah menuruni anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat kedua manik matanya melihat Viona kini sudah berada di meja makan ditemani Rodri yang berada didekatnya. Viona terlihat sedang menikmati sarapan paginya. Namun, tak ada Nisa di sana, membuat pria itu mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya.
"Kemana Nisa? Jangan bilang dia kesiangan seperti kemarin saat aku menunggu kedatangannya," batin Ryan menebak setelah ingat kejadian kemarin, saat ia diminta oleh Mia untuk menunggu keponakannya datang. Namun, karena Nisa datang terlambat, akhirnya Ryan memutuskan untuk berangkat ke kantor.
Ryan menghampiri Viona dengan senyum manis di wajahnya. "Honey, selamat pagi." Ryan mencium pucuk rambut putrinya itu yang sedang melahap dua lembar roti.
"Pagi juga, Ayah." Viona menjawabnya dengan penuh ceria, karena di dalam pikiran gadis kecil itu, ia akan bertemu dengan ibunya yang sudah sangat ia rindukan.
"Viona tampak berbeda sekali hari ini, dia begitu bahagia karena ingin bertemu dengan Ibunya. Ya Tuhan, bagaimana jika dia tahu bila ternyata Ibunya sudah meninggal?"
Ryan menatap dalam wajah putri cantiknya itu dengan manik mata yang kini tampak berkaca-kaca. Ryan sejenak memalingkan wajahnya untuk mengusap bulir kesedihan, yang hampir saja menetes dari kelopak matanya.
"Kenyataan ini tidak boleh ditutupi terus, Viona berhak tahu," batin Ryan memutuskan dan mencoba untuk tegar.
"Ayah, kemana Aunty? Bukannya nanti dia ikut bersama kita, karena Aunty berjanji padaku akan membawa Ibu untuk pulang bersama kita."
Perkataan Viona sontak membuat Ryan terkejut setengah mati. Pikirannya langsung berputar dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Berarti Nisa mengiri bahwa istriku masih hidup, padahal aku sudah memberitahu padanya. Mungkin dia tak mempercayaiku, jadi wajar saja bila ia berkata demikian," gumam Ryan sembari memutar kedua bola matanya, seolah memahami bahwa memang dia sendirilah yang membuat kesan buruk di mata Nisa.
"Biar Ayah lihat dulu ya sayang, kamu lanjutkan saja sarapan pagimu dan jangan lupa minum susunya."
Ryan berlalu meninggalkan Viona dan menitip pesan pada Rodri. "Jaga Viona sampai Nisa datang oke, Rodri!" titah Ryan pada pelayannya itu yang langsung disambut dengan sebuah anggukan kepalanya.
Ryan pun kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju kamar Nisa.
Setibanya di depan pintu kamar, ia mulai mengetuk pintu sembari terus memanggil nama Nisa berulang kali. Awalnya Ryan mengetuk dengan pelan. Namun, sudah sepuluh menit itu ia lakukan, Nisa masih tak juga menjawab panggilannya.
"Apa jangan-jangan dia kabur dari rumah ya? Tapi sepertinya tidak mungkin karena penjagaan di rumah ini mustahil untuk bisa dilewatinya, kecuali dia seorang Ant-Man yang bisa mengecilkan tubuhnya," gumam Ryan dengan penuh tanda tanya.
Ryan coba berpikir keras, sampai akhirnya sebuah ide terbesit dalam pikirannya. Sebuah ide untuk membuka pintu kamar dengan menggunakan kunci cadangan yang memang tersedia di setiap kamar. Pria tampan itu mulai melangkah menuju sebuah nakas yang lumayan jauh dari tempatnya berada saat ini, untuk mengambil kunci cadangan. Sesampainya kembali di depan kamar, Ryan yang saat ini sudah menggenggam sebuah kunci, mulai membuka pintu kamar itu. Pintu pun terbuka dan Ryan melangkah masuk dengan perlahan.
"Nisa," seru Ryan dengan suara yang tak terlalu keras.
Ryan terus merangsek masuk, pikirannya saat ini sudah dipenuhi rasa penasaran yang kini berkutat di dalam pikirannya.
"Apa yang terjadi dengan wanita itu? Kenapa gedoran pintu itu tak juga membuatnya terbangun?"
Kedua manik mata Ryan mulai menatap jauh ke arah ranjang, ia sudah melihat sosok Nisa masih tertidur pulas dengan suara alarm dari ponselnya yang terdengar berdering beberapa kali. Namun, tetap saja tak mampu membangunkan wanita cantik itu.
"Apa dia harus dibangunkan dengan suara bom nuklir? Kenapa alarm itu masih membuatnya bergeming?" gerutu Ryan dengan apa yang dilihatnya.
Ryan mendekat ke arah ranjang dengan langkah yang perlahan. Kini posisinya sudah berada tepat di samping ranjang, pandangan mata pria tampan itu tak teralihkan dengan terus menatap dalam wajah Nisa.
"Wanita ini benar-benar mirip dengan Bella," lirih Ryan kembali mengingat sosok istrinya, ketika melihat wajah Nisa saat masih terlelap.
Lewat tatapan mata inilah, Ryan mulai mengetahui bahwa rasa yang ada di dalam hatinya kepada Nisa, hanyalah sebuah kerinduannya akan sosok Bella istrinya yang sudah meninggal satu tahun lalu.
"Ternyata aku sangat merindukanmu Bella, bahkan saat ada wanita yang sangat mirip dengan wajahmu, aku kesadaranku menganggapnya itu adalah kamu," batin Ryan dengan raut wajah yang sendu.
Ryan masih menatap dalam wajah Nisa dan ia menjadi tak tega membangunkan wanita yang saat ini masih sangat terlelap.
"Lebih baik aku berikan waktu untuknya tidur sejam lagi." Ryan melihat ke arah ponsel yang terus berdering dengan suara alarmnya. Pria tampan itu pun merapatkan tubuhnya, hingga menempel pada badan ranjang, untuk mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Namun, ia harus melewati tubuh Nisa yang saat ini berada didekatnya.
Tiba-tiba kedua tangan Nisa melingkar pada tubuh Ryan, seolah sebuah guling Nisa langsung mendekapnya dan membuat Ryan terjatuh tepat di sampingnya. Pria itu tercekat sangat kaget, sambil menahan suara keterkejutannya rapat-rapat. Kini wajah Nisa dan Ryan saling berhadapan sangat dekat, hingga embusan napas wanita itu terasa hangat menerpa wajahnya.
"Ya Tuhan, kenapa ritme jantungku jadi tak karuan begini?" tanya Ryan dalam hatinya sambil terus menatap wajah cantik Nisa.
Bersambung✍️