Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 U-17 - Tawaran Dari Persija dan Sinar Mira Yang Mau Dijual
Umur 16 tahun 8 bulan. Bima sudah bukan anak remaja lagi. Tinggi badan 172 cm. Kumis tipis sudah mulai tumbuh.
Medali AFF perak itu sekarang tergantung di dinding rumah panggung Tuminting , sebelah foto Bapak waktu muda yang masih jadi nelayan tuna.
Setelah dari Thailand , Bima tidak balik ke Manado United. Dia dipanggil ke Garuda Select di Inggris. Tapi dia tolak. Dia bilang ke Coach Bima Sakti , "Saya mau selesaikan sekolah dulu , Coach."
Jadi sekarang dia sekolah di SMA Negeri 1 Manado , kelas 2. Paginya dia sekolah , sorenya latihan sendiri di Tikala sama Yudi yang sekarang sudah jadi kernet angkot , tidak lagi main bola setiap harinya.
Sampai surat kedua datang.
Bukan dari PSSI. Dari Jakarta.
Kop surat Persija Jakarta - Elite Pro Academy U-18.
Isinya : Bima diminta ikut trial 1 minggu di Sawangan. Kalau dia lolos , dia akan dikontrak selama 3 tahun , dengan gaji Rp 7 juta per bulan. Ada mess , sekolah , dan bonus lainnya.
Rp 7 juta.
Bapak Yosua membaca surat itu sampai 4 kali. Tangannya yang sudah sembuh total dari infeksi , tapi sekarang sudah tidak kuat tarik jaring besar lagi , gemetar.
"7 juta Bima. Kita melaut sebulan paling dapat 2 juta kalau mujur."
Ibu diam. Ibu tahu , kalau Bima pergi ke Persija , Bima tidak akan pulang selama 3 tahun lamanya.
Paman Stenly yang sekarang jual es di depan Indomaret , bukan di stadion lagi , berkata "Pergi Bima. Jangan jadi seperti Paman yang cuma lihat Jakarta dari tv."
Tapi pada malam itu , masalah lain datang.
Bapak duduk di bale - bale , kasih lihat Bima buku tabungan BRI yang sudah kosong. Dan ada satu surat lagi.
Surat dari koperasi nelayan Tuminting.
*Sinar Mira mau disita. Karena Bapak pinjam Rp 15 juta waktu Bima di Thailand untuk perbaiki perahu dan untuk berobat kaki. Sekarang bunganya jadi Rp 22 juta. Jatuh tempo minggu depan. Kalau tidak dibayar , perahu akan dilelang.*
Perahu yang sudah ditambal. Perahu tempat bola jelek itu disimpan. Perahu tempat janji Bima waktu berumur 8 tahun itu diucapkan.
Bima pegang dua surat itu di tangan kiri dan kanan.
Kiri : Persija - Rp 7 juta per bulan - Masa depan.
Kanan : Koperasi - Rp 22 juta - Masa lalu yang mau hilang.
Dia tidak tidur semalaman.
Besok pagi , dia ambil keputusan.
Dia telepon nomor di surat Persija. Nomor Manager Akademi.
"Selamat pagi Pak. Saya Bima Arka Pradipta dari Manado."
"Iya Bima , kami tunggu. Kapan bisa ke Jakarta ?"
Bima tarik napas panjang. Di depan dia , Bapak lagi perbaiki jaring yang robek , pakai kacamata baca yang dia pinjam dari tetangga.
"Pak , boleh saya minta gaji pada bulan pertama di muka ?"
Di seberang telepon , hening sejenak.
"Untuk apa Bima ? Ini tidak biasa terjadi."
Bima melihat perahu Sinar Mira di pantai.
"Untuk tebus perahu Bapak saya , Pak. Kalau tidak , saya tidak bisa tenang main bola di Jakarta. Kaki saya ada di Jakarta , tapi hati saya masih ada di perahu itu."
Manager itu terdiam lama. Lalu tertawa.
"Baru kali ini ada anak U-17 yang minta kasbon untuk tebus perahu. Bukan untuk beli iphone. Kamu unik , Bima."
Lalu manager bilang "Kami kasih Rp 10 juta dulu sebagai uang tanda jadi. Tiket kamu kami belikan. Tapi kamu harus lolos trial dulu. Kalau kamu gagal , anggap itu utang."
Bima mengangguk , walaupun tidak terlihat di sambungan telepon.
"Tidak akan gagal , Pak. Anak Tuminting tidak akan pernah gagal kalau urusan perahu."
Hari itu juga , Bima dan Bapak ke koperasi. Bawa Rp 10 juta cash , masih bau bank.
Lunas Rp 22 juta ? Belum. Kurang Rp 12 juta. Tapi Ketua koperasi , yang juga teman melaut Bapak dulu , melihat surat Persija itu.
Dia bilang "Yosua , perahu ini jangan dilelang. Saya kasih waktu 3 bulan lagi untuk sisanya. Karena anak ini bawa nama Tuminting ke Jakarta."
Bapak tanda tangan surat penundaan pakai jempol , karena pulpennya macet.
Perahu Sinar Mira aman. Untuk 3 bulan.
Minggu depannya , di bandara Sam Ratulangi.
Kali ini yang mengantar Bima cuma Bapak dan Paman Stenly. Ibu tidak ikut , karena dia masih menangis terus di rumah. Yudi tidak ikut , karena dia sudah kerja , tidak bisa izin.
Bapak tidak pakai kemeja kancing 2 lagi. Tidak pakai kemeja baru kancing 6 juga. Dia pakai kaos oblong putih yang Bima kasih dari Thailand , tulisannya "THAILAND AFF U-16".
Bapak peluk Bima cukup lama. Pertama kalinya dia peluk lama sejak Bima berumur 8 tahun.
Bapak berbisik di telinga Bima , pakai bahasa Manado yang paling dalam
"Kalau ngana di Jakarta nanti dapat tendangan bebas , jangan ngana ingat utang perahu. Ngana ingat angin. Angin Tuminting yang bawa ngana sampai ke Jakarta. Tendang seperti angin."
Bima naik pesawat JT 748 lagi. Tujuan Jakarta.
Tapi kali ini di dalam tasnya bukan cuma ada surat dari PSSI. Ada foto Sinar Mira yang sudah lunas setengah , ada bola jelek yang tidak jadi disimpan di dalam perahu lagi , dia bawa ke Jakarta , dan ada kemeja kancing 2 Bapak yang Bapak titip
"Bawa ini. Kalau kangen , cium. Masih bau laut."
Di bawah , Bapak berdiri sampai pesawat hilang di atas awan.
Perahu Sinar Mira di rumahnya , tidak lagi terikat menunggu. Sudah siap melaut lagi besok pagi. Karena utangnya sudah ditunda.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya
Happy reading