Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17: Bukan Pilihan Kedua
____🌺
Kalimat itu menggantung di udara, berbenturan dengan dinding kamar utama, yang tiba-tiba terasa semakin sempit.
Nayara menatap wajah suaminya dengan kedua mata membelalak. Ia mencari jejak keraguan atau penyesalan di sana.
Namun, yang ditemukannya hanyalah raut keras kepala seorang pria yang tidak mau melepaskan apa pun yang dianggapnya sebagai milik sendiri.
"Kamu ... kamu mau mempertahankan dua-duanya, Mas?"
Suara Nayara bergetar. Kali ini, bukan semata-mata karena kesedihan, melainkan karena rasa jijik yang semakin meluap.
"Kamu sadar tidak, dengan apa yang baru saja kamu katakan, Mas?" tanya Nayara dengan suara parau.
"Itu jalan keluar paling masuk akal sekarang, Nay!" balas Adrian cepat, berusaha terdengar logis. "Aku mencintai kamu, dan kamu adalah istri sah ku. Tempat kamu di sini. Tapi di sisi lain, Selena sedang mengandung darah dagingku. Aku tidak mungkin membuang anak itu begitu saja. Itu tidak mungkin"
"Tidak mungkin?"
Nayara tertawa hambar.
"Lalu, mengkhianati istrimu selama enam bulan, membiarkan selingkuhanmu hamil, dan sekarang menyuruh istrimu menerima anak itu ... apa itu masuk akal?"
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tampak frustrasi karena merasa Nayara tidak mau memahami posisinya.
"Dengar, Nay. Dengarkan aku dulu."
Ia maju selangkah, mencoba meraih lengan istrinya.
Namun, Nayara segera mundur untuk menghindarinya.
"Aku tidak mau disentuh oleh kamu, Mas," tolak Nayara dingin.
Adrian menurunkan tangannya. Rahangnya mengeras, menahan kekesalan yang semakin sulit ia kendalikan.
"Oke. Terserah. Tapi tolong dengarkan aku, dengarkan dulu rencanaku."
Ia menarik napas sebelum melanjutkan.
"Aku akan mengurus Selena. Aku akan membelikannya tempat tinggal yang jauh dari lingkungan kita. Aku akan membiayai semua kebutuhan kehamilannya sampai anak itu lahir, termasuk biaya pendidikannya nanti."
Nayara memandang suaminya seolah pria itu baru saja berubah menjadi sosok asing yang mengerikan.
"Lalu?"
"Lalu, rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa!" katanya tegas.
Adrian menegaskan ucapannya. Matanya menatap Nayara dengan penuh keyakinan, seakan-akan rencana tersebut merupakan solusi terbaik bagi mereka.
"Kamu tetap istriku. Kamu tetap menantu keluarga Mahendra. Tidak ada yang akan berubah. Keluarga besarku tidak perlu tahu, teman-temanmu juga tidak perlu tahu. Aku berjanji Selena tidak akan pernah mengganggumu secara langsung."
Nayara menggelengkan kepala perlahan. Ia masih sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya dari mulut pria yang menikahinya dua tahun lalu.
"Jadi, kamu mau aku duduk manis di rumah ini, menyiapkan makananmu, tersenyum menyambut mu pulang kerja, sementara di luar sana kamu punya keluarga lain?"
Nada suaranya pelan, tetapi setiap kata yang diucapkannya terasa tajam.
"Kamu mau aku pura-pura buta setiap kali kamu pergi ke rumah perempuan itu dengan alasan menjenguk anakmu?"
"Itu anakku, Nay! Darah dagingku!"
Suara Adrian meninggi, seolah ingin menegaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan.
"Aku ini laki-laki. Laki-laki tidak akan lari dari tanggung jawab kalau dia membuat perempuan hamil!"
"Laki-laki sejati tidak akan mengkhianati istrinya dan tidur dengan mantan pacarnya, Adrian!"
Bentakan Nayara mematahkan ucapan suaminya. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara kedua tangannya mengepal erat.
"Jangan pakai kata 'tanggung jawab' untuk menutupi ego kamu! Kalau kamu mau bertanggung jawab penuh kepada dia, maka lepaskan aku!"
"Sudah kubilang, aku tidak mau melepaskan kamu!" balasnya.
Adrian membentak balik. Ia meninju telapak tangan kirinya sendiri dengan kepalan tangan kanan, menunjukkan betapa frustrasinya dirinya menghadapi penolakan Nayara.
"Kenapa kamu egois sekali, sih, Nay? Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja berbesar hati? Ini cuma masalah membagi waktu dan urusan finansial. Aku punya cukup uang untuk membiayai kalian berdua tanpa mengurangi hak kamu sedikit pun!"
"Ini bukan soal uang!"
Jeritan Nayara terdengar di antara isak yang berusaha ditahannya. Air matanya menetes satu per satu, tetapi ia segera menghapusnya dengan punggung tangan.
"Ini soal harga diriku sebagai seorang istri! Kamu pikir kesetiaan bisa dibeli pakai uang belanja bulanan? Kamu pikir aku ini apa, Mas? Pilihan keduamu? Pajangan rumah yang bisa kamu bayar supaya diam dan menerima kalau suaminya selingkuh?"
"Kamu bukan pilihan kedua, Nayara! Kamu istri utamaku!"
"Istri utama?"
Nayara tertawa getir.
"Bahasa apa itu, Mas? Sejak kapan pernikahan kita punya istilah istri utama? Dalam pernikahan kita, hanya ada satu suami dan satu istri! Begitu kamu membawa perempuan lain masuk ke dalam hidupmu dan memintaku berbagi, pernikahan ini sudah tidak ada artinya lagi!"
Adrian menatap istrinya dengan napas memburu. Ia kemudian memalingkan wajah ke arah jendela, mencoba menekan emosinya yang mulai tidak terkendali.
"Banyak laki-laki di luar sana yang punya anak dari perempuan lain, tapi istri mereka tetap bisa bertahan, Nay. Kenapa kamu tidak bisa? Kenapa kamu harus merusak semuanya dengan meminta pisah?"
"Karena aku bukan perempuan seperti itu!"
Nayara melangkah maju sambil menggenggam erat gagang kopernya.
"Aku menolak dijadikan bagian dari tindakan kotor kamu, Mas. Aku menolak berbagi suami. Kalau kamu memilih memberikan ruang untuk dia dan bayinya dalam hidupmu, berarti ruang untukku sudah habis."
Adrian kembali memutar tubuhnya menghadap Nayara.
"Aku tidak menyuruh kamu berbagi kasih sayang, Nay. Perasaanku kepada Selena sudah selesai. Hubungan kami murni cuma demi anak itu nanti."
"Pembohong."
Nayara menatap langsung ke mata suaminya tanpa gentar.
"Kamu mengiriminya bunga yang sama denganku. Kamu memeluk dan menciumnya di lobi hotel. Kalian bertingkah seperti sepasang kekasih, bukan dua orang yang terpaksa berhubungan karena anak. Berhenti untuk terus menipuku, Mas!"
Adrian terdiam.
Ia kehabisan kata-kata untuk membantah karena semua bukti yang disebutkan Nayara adalah fakta yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Nayara menarik kopernya. Roda koper itu berdecit pelan di atas lantai keramik.
"Minggir, Mas. Aku mau keluar dari sini."
Namun, Adrian tidak bergeser sedikit pun. Ia justru merapatkan tubuhnya ke ambang pintu dan merentangkan tangan kiri, menempelkannya pada bingkai kayu untuk menghalangi jalan keluar.
Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup rapat.
"Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah ini membawa koper malam-malam begini," ucap Adrian dingin.
"Kamu tidak berhak menahanku, Mas! Menyingkir, atau aku benar-benar berteriak sekarang!" ancam Nayara dengan mata berkilat marah.
"Teriak saja!" tantang Adrian dengan suara berat. "Biar semua tetangga dengar. Biar besok pagi berita soal rumah tangga kita menyebar ke seluruh perumahan ini. Kamu pikir aku peduli? Kalau namaku hancur, kamu pikir kamu akan tenang?"
"Aku tidak peduli dengan nama baikmu lagi, Mas. Kamu sendiri yang menghancurkannya!"
Nayara mencoba mendorong dada suaminya dengan sebelah tangan. Namun, Adrian berdiri begitu kokoh sehingga tenaga Nayara sama sekali tidak cukup untuk memindahkannya dari ambang pintu.
"Mas, lepaskan!"
Nayara memukul bahu Adrian ketika pria itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
"Dengar, Nayara."
Adrian mendesis tepat di depan wajah istrinya. Cengkeramannya mengerat, membuat Nayara kesulitan bergerak bebas.
"Kamu sedang dikuasai emosi. Keputusan kamu malam ini, karena kamu marah. Besok pagi, saat kepalamu sudah dingin, kamu akan sadar kalau pergi dari rumah ini adalah kesalahan besar."
"Kesalahan terbesarku adalah mengalah saat ibumu menghina keluargaku, dan membiarkan kamu menginjak-injak harga diriku malam ini, Mas!"
Adrian
emang lu doang yang bisa 🤣🤣