Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Jakob
Sampai di mansion, hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke kamar Salvatore, tempat ia tertidur di boksnya sementara pengasuh berbaring di sofa. Kudekati ia dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Beberapa menit kemudian aku berjalan ke kamarku, dipenuhi rasa tak sabar ingin melihat istriku yang kucintai dan menggoda itu. Empat hari di Amerika Serikat, tak ada satu momen pun aku tidak memikirkannya. Tubuhnya, bibirnya yang merah muda, semua tentang dirinya membuatku gila. Aku sangat merindukannya. Sampai di kamar, kubuka pintu perlahan. Lewat cahaya bulan yang masuk dari jendela besar, kusadari Adelina tak ada di ranjang. Kutuju kamar mandi, tak ada juga. Kupikir ia mungkin sedang di dapur. Aku duduk di ranjang menunggunya, tapi menit demi menit berlalu tanpa kedatangannya, jadi kuputuskan turun mencarinya ke dapur, tapi ia tak di sana. Aku berjalan ke tempat para pengawal berjaga. Salah satu dari mereka menyadari kehadiranku.
"Selamat malam, Bos. Ada yang bisa saya bantu?"
"Di mana istriku?"
"Bos, istri Anda keluar bersama adik Anda."
"Apa maksudmu mereka keluar? Ke mana mereka pergi dan kenapa aku tidak diberi tahu soal ini?"
"Bos, istri Anda memerintahkan kami untuk tidak memberi tahu Anda. Selain itu..." Pengawal itu gugup, mencoba mengatakan sesuatu tapi tergagap.
Kudekati ia, kucengkeram lehernya, kuremas. Kesabaranku mulai habis.
"Selain itu apa? Kenapa kau tergagap? Bicara sekarang."
Kulepaskan cengkeramanku. Ia terbatuk sampai bisa bernapas lagi.
"Bos, mereka pergi tanpa pengawal. Istri Anda melarang kami menemani mereka."
Kucengkeram lagi lehernya, kuremas kuat-kuat. Kulihat wajahnya membiru karena kehabisan napas.
"Siapa yang membayar gajimu, dia atau aku? Dasar tak becus. Aku cuma memberimu satu perintah: keamanan istriku dan adikku, dan bahkan itu pun tak bisa kau lakukan?"
Kucabut senjataku dan kutembak kepalanya dua kali. Pengawal satunya membeku. Beberapa pria berlari ke arahku.
"Inilah yang terjadi kalau kalian tak menjalankan tugas dengan benar. Sekarang katakan, di mana Adelina dan Emma?"
"Bos, istri Anda dan Emma berada di diskotek Theatron. Saat ini anak buah yang saya kirim pasti sudah dalam perjalanan."
"Bagus, Oscar. Urus mayat si tak becus itu. Cari orang terpercaya yang bisa menangani keamanan istriku dan Emma."
"Baik, Bos."
Saat masuk ke mansion, aku menuju ruang tamu, mengambil sebotol minuman keras dan sebuah gelas. Aku duduk di sofa yang menghadap tangga dan mulai minum. Kulihat jam sudah pukul 3:50 pagi, mereka tak juga muncul. Kegelisahanku memuncak. Kudengar mobil datang, jadi kubayangkan itu pasti mereka. Beberapa menit berlalu, lalu kulihat mereka menaiki tangga. Kunyalakan lampu. Kulihat mereka mengenakan kostum. Emma, entah kostum apa itu, tapi Adelina berkostum pelayan lolita. Dengan wig hitam itu ia tampak lebih cantik, menegaskan warna matanya yang biru, dan gaun itu menonjolkan dadanya yang indah. Ia terlihat begitu menawan hingga membuatku ingin menjadikannya milikku. Tapi begitu membayangkan banyak pria mengingininya dan berfantasi tentangnya gara-gara kostum sialan itu, amarahku memuncak.
"Ini jam empat pagi. Ke mana saja kalian berdua, dan berpakaian seperti itu?"
Emma bersembunyi di belakang Adelina.
"Halo, Jakob. Bagaimana perjalananmu?"
"Adelina, aku bertanya."
"Kami menghadiri pesta kostum, makanya kami berpakaian begini, tapi lupa waktu. Tapi yang penting kami sudah pulang. Kami lelah dan sangat mengantuk. Kita bicara besok."
Adelina menggandeng tangan Emma dan berjalan menaiki tangga.
"Besok? Adelina, ini jam empat pagi, kita sudah masuk pagi. Siapa yang memberi kalian izin pergi ke pesta itu dengan kostum yang mengumbar segalanya, dan lagi kalian pergi tanpa pengawal. Apa yang ada di pikiran kalian?"
"Jakob, kau bukan ayahku sampai aku harus minta izin padamu. Kami sudah di sini, apa masalahnya? Tak ada apa pun terjadi pada kami. Aku sangat mengantuk, jadi aku mau tidur. Kita bicara nanti."
Ia berjalan bersama Emma menaiki tangga. Emma menatapku sambil berjalan, memberiku senyum gugup. Aku mulai berteriak pada mereka bahwa mereka tak boleh pergi, percakapan ini belum selesai, tapi mereka terus berjalan, mengabaikanku, sementara kekesalanku membesar. Siapa wanita ini merasa berhak bicara padaku seperti itu? Apa ia lupa aku suaminya!