NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mundur Tunggang Langgang

Di bawah dahan-dahan pohon purba yang masif, situasi berubah menjadi kekacauan total yang mengerikan bagi para penunggang kuda. Hutan yang semula mereka kuasai dengan sorak-sorai penuh berahi, kini menjelma menjadi neraka hijau yang siap menelan mereka hidup-hidup.

Kuda-kuda hitam bertubuh kekar itu tidak bisa dikendalikan lagi oleh para pemiliknya, sekeras apa pun tali kekang ditarik.

Hewan-hewan besar tersebut meringkik histeris dengan suara melengking memecah malam, berdiri tegak dengan dua kaki belakang mereka di udara, lalu saling bertabrakan satu sama lain karena ketakutan yang teramat sangat terhadap pergerakan akar-akar purba yang terus mencuat dari tanah merah.

Beberapa obor minyak terlepas dari genggaman tangan para pria klan, jatuh membentur lantai hutan yang basah. Apinya sempat berkobar sesaat, membakar tumpukan dedaunan kering sebelum akhirnya padam ditelan oleh gulungan kabut malam yang tebal, lembap, dan dingin.

Kegelapan pekat kembali menyapu sebagian besar area pertempuran, menyisakan keremangan merah dari sisa obor yang bergoyang liar di tangan para pemburu yang panik.

"Roh Hutan! Penjaga Alas Purba sedang murka pada kita!" jerit pria berambut kepang kasar dengan suara bergetar hebat penuh ketakutan yang primitif.

Niat menji-jikkan untuk membawa pulang tawanan eksotis dari kota seketika lenyap dari kepalanya.

Keselamatan nyawanya kini menjadi satu-satunya hal yang penting. Tanpa memedulikan formasi atau nasib teman-temannya, dia memutar paksa kepala kudanya, menghantamkan cambuk dengan membabi buta, dan memacu hewan itu melesat menjauh, menerobos kegelapan semak belukar tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Pohon ini hidup! Tempat ini telah dikutuk oleh kekuatan gaib leluhur!" teriak penunggang kuda lainnya yang berada di barisan belakang.

Wajah beringas mereka kini telah digantikan sepenuhnya oleh topeng ketakutan murni mahluk fana yang menyadari betapa kecilnya kekuatan mereka di hadapan kemarahan alam gaib.

Mereka saling berdesakan, mengumpat, dan memacu kuda masing-masing untuk keluar dari celah-celah pepohonan raksasa sebelum akar-akar merambat itu melilit tubuh mereka.

Suro sendiri berdiri terpaku di atas pelana kudanya selama beberapa detik yang menegangkan.

Matanya yang liar menatap lurus ke atas langit-langit kanopi hutan yang hitam pekat, tempat di mana jalinan akar raksasa tadi membawa tubuh Hera Grahansa menghilang dari pandangannya.

Dia bisa mendengar suara gemuruh kayu yang patah dan bergesekan dengan sangat keras dari jantung batang pohon purba tersebut. Bunyinya begitu dalam dan bergetar, merayap di sepanjang tulang belakang Suro seperti ancaman kematian dari entitas penguasa hijau yang tidak senang dengan kehadiran manusia beringas di wilayah terlarangnya.

"Dia, dia telah mengambil wanita itu! Roh Hutan menginginkan tumbal dari dunia luar untuk meredakan amarahnya!" seru Suro dengan bibir yang gemetar hebat di bawah temaram sisa cahaya obor.

Ketakutan yang teramat sangat mengalahkan seluruh hasrat berahi dan kesombongan berburu yang tadinya meluap-luap di dadanya. Pria kekar itu tahu, jika dia tetap bertahan di tempat ini sedetik saja, dia tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi.

"Mundur! Semuanya mundur! Tinggalkan tempat terkutuk ini sekarang juga jika kalian masih ingin hidup!" teriak Suro dengan suara menggelegar, memberi komando terakhir sebelum dirinya sendiri bertindak.

Suro menghantamkan cambuk kulitnya ke tubuh jaran hitam besarnya dengan brutal dan tanpa ampun. Kuda yang sudah panik itu langsung melesat kencang bagai anak panah yang lepas dari busurnya.

Hewan itu melompati gundukan tanah merah dan semak-semak berduri dengan serampangan, tidak lagi memedulikan arah jalan setapak yang biasa mereka gunakan untuk berpatroli.

Sisa penunggang kuda yang tersisa langsung mengikuti dari belakang, memacu tunggangan mereka dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam. Mereka meninggalkan area pohon purba itu dalam hitungan detik dengan kepanikan masal yang luar biasa.

Suara derap kaki kuda mereka yang tadinya bergemuruh penuh ancaman, kini terdengar kacau, berantakan, dan berangsur-angsur menjauh menembus kabut, hingga akhirnya lenyap total ditelan oleh keheningan malam

Alas Purba yang pekat dan dingin kembali.

Namun, di atas ketinggian kanopi hutan yang gelap, teror belum berakhir bagi Hera. Akar raksasa yang melilit pinggangnya sama sekali tidak menurunkannya.

Tumbuhan mistis itu justru terus menahannya di udara, membiarkan tubuhnya tergantung pasrah di bawah dahan raksasa yang tinggi.

Udara malam di ketinggian bertiup lebih kencang, menggoyang tubuhnya perlahan layaknya sebuah boneka yang tak berdaya.

Hera membuka matanya lebar-lebar.

Air mata ketakutan mengalir berlawanan arah karena posisinya yang limbung. Dadanya naik turun dengan cepat, mengais napas di antara kabut tebal yang menusuk hidung. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya kini mulai bercampur dengan gelombang dongkol dan frustrasi yang luar biasa.

"Sialan! Turunkan aku! Mahkluk macam apa kamu ini?!" jerit Hera sekuat tenaga.

Suaranya bergema parau menembus keheningan hutan. Tangannya mencengkeram permukaan akar yang melilitnya, mencoba merobek kulit kayu yang licin dan berlumut itu dengan jari-jemarinya. Nihil. Akar itu tetap mencengkeramnya dengan kekuatan yang mutlak namun anehnya tidak sampai meremukkan tulang rusuknya.

Sebagai seorang profesor muda berumur 28 tahun yang terbiasa mengendalikan segala hal di laboratorium steril dengan logika dan tombol digital, posisi tergantung seperti ini adalah penghinaan terbesar bagi inteleknya.

Dia merasa bodoh, tidak berdaya, dan sangat kesal pada dirinya sendiri karena telah mengabaikan peringatan Pak Danu demi rasa penasaran ilmiahnya.

Ransel di punggungnya bergoyang-goyang, bergesekan dengan kain jaket gunungnya, seolah mengejek watak keras kepalanya yang telah membawa dirinya ke dalam situasi sekonyol ini.

"Lepaskan aku! Aku ke sini cuma mau mengambil sampel tanaman, bukan jadi pajangan pohon tua!" teriaknya lagi, menendang-nendangkan sepatu bot gunungnya ke udara dengan gusar.

Mukanya memerah menahan marah sekaligus pusing akibat aliran darah yang berkumpul di kepala.

Di tengah keputusasaan dan kekesalan yang membakar dadanya, kabut di sekitar dahan pohon raksasa itu mendadak bergeser pelan. Suara gesekan kayu yang halus terdengar dari arah atas. Hera memaksakan lehernya mendongak, mencoba melihat menembus temaramnya cahaya bulan yang samar-samar menyembul di balik dedaunan rapat.

Tepat di dahan besar di atasnya, sesosok siluet tinggi seorang pria dewasa tampak berdiri tegak. Pria itu melangkah keluar dari kegelapan kanopi dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Matanya yang tajam berkilat di tengah kegelapan malam, menatap lurus ke arah Hera yang masih menggantung dengan wajah kesal sekaligus ketakutan setengah mati. Detik itu juga, napas Hera tertahan di tenggorokan, menyadari bahwa penguasa Alas Purba yang sesungguhnya kini sedang berdiri tepat di hadapannya.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!