Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Kehormatanku Untukmu
Bukannya mereda gosip manis tentang kedekatan Sagara dengan Alunar. Justru gosip berhembus semakin kencang. Hal itu yang dirasakan oleh Alunar saat berjalan melewati barak jaga atau koridor kantin.
"Dokter Aluna, mau ke ruang logistik?”
“Emm,” jawab malas Alunar sambil berlalu.
“Apakah perlu kami kawal atau saya panggilkan komandan untuk mengawal?" tanya seorang prajurit piket sambil tersenyum saat Alunar melintas di halaman tengah.
Alunar menghentikan langkah kakinya. merapikan letak hijab instan berwarna navy yang ia kenakan dengan gerakan sedikit kesal.
"Tidak usah, terima kasih banyak. Saya bisa jalan sendiri. Lanjutkan tugas jaga kalian saja," jawab Alunar dengan nada suara sedikit kesal.
"Siap, dok! Tapi komandan berpesan agar kami selalu melaporkan setiap pergerakan dokter Alunar," goda prajurit itu lagi, membuat wajah Alunar seketika merona merah muda.
"Terserah kalian sajalah!" cetus Alunar ketus, langsung mempercepat menuju ruangannya.
Tekanan dari gosip di seluruh penjuru markas akhirnya membuat Alunar mengambil keputusan ekstrem, yaitu menghindar dan menjauh total dari Sagara. Alunar sengaja mengubah seluruh jadwal pemeriksaannya menjadi lebih pagi atau justru sangat larut demi memastikan dirinya tidak berpapasan dengan bayangan Sagara.
“Dok, sudah jam 9 malam. Lebih baik kita pulang sekarang.”
Suara Irma mengalihkan perhatian Alunar. Meskipun sudah masuk malam. Namun, rasa lelah sama sekali tidak tergambar di wajah cantik Alunar.
“Kakak pulang duluan saja. Aku masih ingin menyelesaikan ini semua.”
“Besok saja dikerjakan, dok. Biar saya bantu.”
Alunar menggelengkan kepalanya. Sebagai tanda kurang setuju.
“Mumpung belum ngantuk dan masih jam 9 malam. Saya selesaikan saja. Takut kalau tiba-tiba ada sidak mendadak dari kementrian pusat karena kasus demam masal yang terjadi kemarin.”
“Berarti saya bantu dokter.”
“Tidak perlu, Kak. Lebih baik kakak pulang saja. Kakak sudah jaga mulai tadi siang. Saya gak mau kakak kecapean.”
Atas permintaan Alunar, akhirnya Irma pulang ke barak untuk istirahat. Meninggalkan Alunar yang masih menghitung sisa botol sampel obat.
"Kalau aku pulang sekarang bisa-bisa aku berpapasan dengan dia yang sedang melakukan patroli malam. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan ini saja," gumam Alunar lirih.
Keputusan Alunar untuk pulang tengah malam justru membuat situasi di ruang komando utama menjadi tidak tenang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Sagara masih setia mengawasi ruang medis yang lampunya masih menyala.
"Kenapa perempuan itu belum juga kembali ke baraknya jam segini?" gumam Sagara yang masih bisa didengar oleh Arisandhi yang sedang merapikan dokumen patroli.
"Lapor, Ndan. Berdasarkan laporan Suster Irma, dokter Alunar sengaja mengambil lembur malam ini. Tampaknya beliau sedang berusaha keras untuk tidak bertemu dengan Anda akibat gosip pacaran yang sedang heboh di kantin bawah," jawab Arisandhi yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Gosip konyol itu benar-benar mengganggu efisiensi kerja satgas kita!" ketus Sagara dengan nada suara keras yang dipaksakan demi menutupi salah tingkahnya.
"Siap, mengganggu atau justru membuat komandan menjadi tidak bisa tidur karena merindukan omelan beliau?" goda Arisandhi lagi tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Diam kamu, Sandhi! Amankan ruang komando ini, saya akan melakukan inspeksi perimeter luar sekarang!" perintah Sagara tegas. Sambil melangkah keluar meninggalkan Arisandhi.
***
Tepat jam 12 malam Alunar akhirnya memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Ia mematikan lampu ruang medis bawah, mengunci pintu kayu dengan rapat, dan melangkah keluar menuju halaman markas yang sudah sangat sepi dan gelap gulita.
"Sepi sekali,” keluh Alunar.
“Ternyata agak menyeramkan juga kalau jalan sendirian jam segini," lirih Alunar sambil berjalan cepat menuju barak kamarnya.
Namun, baru berjalan beberapa meter menjauh dari gedung medis. Alunar mendadak menangkap langkah kaki mendekat. Dirinya langsung mengambil kuda-kuda jika ada serangan mendadak.
DEG!
Jantung Alunar langsung berdegup sangat kencang saat menyadari ada yang mengikutinya. Karena sudah tidak tahan serta diliputi perasaan tidak tenang. Alunar menghentikan langkahnya.
"Siapa disana? Jangan macam-macam ya! Keluar kalau berani! Jangan hanya bersembunyi sambil menguntit!” geram Alunar kencang.
Dari balik pohon palem yang gelap di sudut halaman. Sosok bayangan gelap dengan postur tubuh tinggi, tegap, dan gagah melangkah maju perlahan keluar menembus cahaya lampu.
"Kecilkan suaramu, dokter Alunar. Ini saya.”
Mata Alunar melotot sempurna. Detak jantung yang berdetak tidak karuan tentang sosok bayangan misterius. Kini berubah menjadi getaran dan wajah merah menahan malu.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Kapten? Mengapa Anda berjalan mengintai di belakang saya seperti seorang penguntit?" cecar Alunar dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi ketus dan penuh kejengkelan demi menutupi rasa salah tingkah yang kembali menyerang.
Sagara berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang punggungnya. Berjalan mendekat sambil menatap dalam mata indah Alunar.
"Tugas saya malam ini adalah melakukan inspeksi perimeter keamanan pos darurat, dokter. Kebetulan saya melihat ada seorang warga sipil yang nekat berjalan sendirian di tengah markas pada jam tengah malam tanpa pengawalan," jawab Sagara dengan kalimat kaku yang sengaja ia buat dingin, berusaha keras membentengi rasa gengsinya.
"Saya sedang lembur untuk merapikan kebutuhan serta dokumen kesehatan warga yang terkena demam massal. Lagipula saya bisa ilmu beladiri. Saya tidak butuh pengawalan ketat dari Anda maupun tim!” jawab ketus Alunar.
“Jadi, silahkan lanjutkan tugas Anda dan biarkan saya pulang ke barak sendiri!" balas Alunar sengit dengan nada mengusir yang sangat jelas.
Tanpa menunggu balasan dari Sagara. Alunar langsung membalikkan badannya dengan cepat. Lalu menghentakkan kakinya sebagai tanda kesal.
Namun, baru berjalan tiga langkah. Suara langkah kaki berat Sagara kembali terdengar bergerak mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Tentu saja membuat Alunar merasa kesal.
"Kapten Sagara terhormat! Sudah saya katakan tidak butuh dikawal! Berhentilah mengikuti saya!" bentak Alunar dengan volume suara yang ditekan agar tidak memicu kehebohan di barak sebelah.
"Saya tidak sedang mengawal Anda, dokter Alunar. Saya hanya sedang berjalan pulang menuju barak komando yang kebetulan jalurnya searah dengan rute barak tempat tinggal Anda.”
Entah sudah kesekian kalinya, Sagara kembali mencari alasan militer konyol. Hingga membuat Alunar menyipitkan matanya.
"Alasan macam apa itu? Barak komando Anda itu arahnya di sebelah utara, sedangkan barak dokter ada di sebelah selatan! Jalurnya sama sekali tidak searah, Kapten!" cecar Alunar berturut-turut, merasa sangat gemas dengan kebohongan pria di depannya.
Sagara membuang muka sekilas ke arah rimbunnya pohin. Wajah tampannya yang terkenal garang, kini mendadak merona merah padam sampai ke leher karena salah tingkahnya yang tertangkap basah oleh argumen logis Alunar.
Ahem…!
“Jalan kaki saja dan jangan banyak protes, Alunar," ujar Sagara dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut, parau, dan sangat tulus.
"Hutan perbatasan di sekitar pos kita malam ini sedang sangat dingin dan rawan. Berjalanlah di depan dengan tenang! Aku akan tetap menjaga dan menemanimu berjalan pulang dari posisi belakang sini, sampai kamu benar-benar masuk ke dalam pintu barak dengan aman," tambah Sagara yang kini berhasil membuat detak jantung Alunar tidak baik-baik saja.
"Baiklah... terserah Anda saja, Kapten Keras Kepala," balas Alunar dengan suara yang sangat lirih dan pelan, tidak ada lagi nada kemarahan atau kebencian di dalamnya. Melainkan rasa kesal karena sifat keras kepala Sagara.
Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan malam yang sunyi itu dengan ritme langkah kaki sangat lambat. Mata Sagara yang menatap Alunar mulai kedinginan karena angin malam, langsung membuka jaketnya dan memasangkan ke tubuh Alunar.
“Eh, apaan ini?” tanya Alunar kaget.
“Pakailah!”
“Gak mau. Nanti kamu minta lagi kayak kejadian pulang dari hutan,” sindir Alunar yang kembali teringat kejadian menyebalkan itu.
“Buat kamu,” potong Sagara cepat.
Alunar langsung membalikkan tubuhnya. Menatap tajam ke arah Sagara.
“Saya tidak butuh jaket Anda, Kapten. Saya tidak masalah kedinginan,” tolak Alunar sambil melepas jaket loreng milik Sagara.
“Ini.”
“Pakai! Kamu tidak memiliki jaket besar dan tebal. Akhir-akhir ini udara di Nunukan lebih dingin dan hujan sering turun. Aku tidak ingin karena perubahan cuaca ini Anda menjadi sakit.”
Alunar terus menatap Sagara. Dirinya benar-benar merasa aneh dengan sosok laki-laki di hadapannya.
“Terus nanti Anda ambil jaket ini kembali?” sindir Alunar.
Sagara menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. Langsung mengambil jaket loreng miliknya dari tangan Alunar. Lalu memasangkan ke tubuh tubuh Alunar.
“Jaket ini untuk kamu.”
“Dasar gak jelas.”
Alunar langsung membalikkan badannya. Dengan keadaan masih mengenakan jaket loreng milik Sagara, dirinya berlari menuju barak kamarnya. Meninggalkan Sagara yang terus mengawasi Alunar hingga perempuan yang telah berhasil mencuri hatinya masuk ke barak dengan aman.
“Selamat malam. Selamat istirahat Alunar,” gumam Sagara sambil tersenyum karena merasa dirinya lepas kendali setiap kali di hadapan Alunar.
Untuk pertama kalinya Sagara memberikan barang pribadinya kepada perempuan lain. Jaket loreng itu bukan barang sembarangan. Karena Sagara mendapatkannya dengan penuh perjuangan.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi