Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 10
HAMPIR SAJA TERJERUMUS
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang berat di meja makan setelah beberapa menit selesai. Keadaan menjadi sepi, ia menyusuri lorong yang luas dan sunyi, berbelok menuju dapur — satu-satunya tempat yang terasa lebih manusiawi di antara dinding dingin ini.
Di dapur, beberapa pelayan sibuk bergerak mengatur piring dan peralatan, suara piring porselen yang beradu pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Laura melangkah mendekat kepada salah satu pelayan yang tampak lebih muda, berdiri di dekat meja persiapan.
"Boleh aku bertanya?"
Pelayan itu berhenti sejenak, menatapnya ragu dan penuh hormat lalu mengangguk pelan. "Tentu, Nyonya."
"Di pagi hari seperti ini, ke mana biasanya Tuan Killian pergi?" tanya Laura, berusaha terdengar biasa saja.
Pelayan itu menunduk sedikit, tangannya meremas ujung celemek. "Maaf, Nyonya... saya tidak begitu tahu. Kegiatan Tuan Killian sangat bersifat pribadi. Kami tidak berani bertanya."
Laura mengangguk paham, meski hatinya terasa semakin sempit. "Aku mengerti. Terima kasih. Dan... apakah ada telepon rumah yang dapat kugunakan di kediaman ini?"
Belum sempat pelayan itu menjawab, suara lain terdengar tegas dari sisi ruangan yang lain — tajam dan penuh kewaspadaan.
"Ada telepon rumah, Nyonya. Namun penggunaannya sangat diatur dan ketat."
Laura menoleh. Seorang pelayan yang nampak masih segar berdiri di sana, menatapnya lurus tanpa menunduk. Namanya Melly (33th) — Laura pernah mendengar seseorang memanggilnya demikian.
"Jika Nyonya ingin menelepon seseorang," lanjut Melly dingin, "harus disebutkan terlebih dahulu kepada siapa anda akan menelepon. Kami akan mencatatnya dan melaporkannya."
Darah Laura terasa mendidih, namun ia menahannya. Ia menatap wanita itu tenang. "Bukankah setiap orang berhak atas privasi?"
Melly menyeringai tipis — senyum yang tak ramah, melainkan senyum kemenangan kecil seakan dialah yang memegang kendali di sini. Ia tidak menjawab, hanya kembali bekerja seakan keberadaan Laura tak lagi penting. Laura tahu siapa pelayan setia itu — orang kepercayaan Sandra, tak diragukan lagi. Di rumah ini, bahkan pelayan pun memiliki tuannya sendiri.
Laura berbalik pergi tanpa menambahkan sepatah kata pun. Ia tak memiliki ponsel, tak memiliki surat, tak memiliki apa pun yang dapat menghubungkan dirinya dengan dunia luar. Nomor telepon Lily mungkin masih aktif, namun ia tak dapat menjangkaunya.
Langkah kakinya terasa berat saat kembali menuju kamar. Di lorong yang sepi, tepat di depan pintunya, seseorang sudah berdiri di sana — bersandar pada dinding di samping kusen pintu, menunggunya.
Muchus tersenyum saat melihat Laura, senyum yang tak sampai ke matanya.
"Mencari seseorang, Nyonya Marcano?" sapanya pelan, melangkah maju sedikit menutup jalan.
Laura menatapnya dingin, berusaha meloloskan diri. "Ini bukan kamarmu."
"Ya," Muchus tertawa pelan, nada suaranya merendah dan menyindir. "Seorang putri dari keluarga musuh yang tiba-tiba berada di sini... tentu saja mencari cara untuk pulang, bukan?"
"Aku bukan..." Laura berhenti seketika. Kata-katanya menggantung di udara. Ia tak dapat menyelesaikannya — tak dapat berkata bukan putri McManaman tanpa mengungkapkan kebohongan yang justru akan membahayakannya.
Muchus mendekat selangkah. Laura secara refleks mundur, punggungnya hampir menyentuh pintu.
"Mundurlah," peringatnya tegas, meski suaranya bergetar halus.
Pria itu berhenti, namun tak menjauh. Tatapannya menelusuri wajah Laura seakan ia dapat membaca apa yang tersembunyi di baliknya.
"Kau butuh sesuatu?" ucapnya lembut, seakan menawarkan kemudahan. "Siapa pun yang kau cari, apa pun yang ingin kau hubungi... katakan saja padaku. Aku bisa membantumu, dan lebih berguna daripada Killian."
Mata pria itu menatapnya lekat — sepasang mata berwarna perak yang tampak licik dan penuh perhitungan.
Laura menatapnya kembali, jantungnya berpacu kencang antara keinginan memohon dan naluri menjauh. Muchus tersenyum lebar, lalu berbalik melangkah pergi seakan membiarkan gagasan itu meresap sendirian di kepala gadis itu.
Wanita itu berdiri terpaku. Ia tak menyukai pria itu — sama sekali. Setiap tatapannya membuat kulitnya merinding. Namun ia juga tahu: di rumah ini, tak ada yang akan membantunya tanpa alasan. Tawaran itu pasti ada harganya.
Dia menoleh melihat punggung Muchus yang menjauh, napasnya tertahan. Kemudian, tanpa disadari, ia melangkah mengejarnya.
"Tunggu!" panggilnya.
Muchus berhenti seketika, berbalik perlahan, senyum liciknya semakin melebar seakan ia sudah tahu gadis itu akan berubah pikiran.
"Kau butuh sesuatu?" tanyanya pelan.
Laura menegakkan tubuh, berusaha tampil kuat meski hatinya gemetar. "Aku... aku membutuhkan bantuanmu."
Muchus tertawa rendah, penuh kemenangan. "Istri dari Killian Marcano sendiri meminta sesuatu padaku? Sungguh pemandangan yang menarik."
"Jika kau tidak mau, aku tidak memaksamu," jawabnya tegas, berusaha menutupi keraguannya.
"Tentu saja," jawabnya pelan, mendekat hingga wajahnya hampir menyentuh wajah Laura. "Tapi tidak ada yang gratis di sini. Apa yang akan kuterima sebagai gantinya?"
Laura menghela napas panjang, keraguan kembali merayap di hatinya. Ia tahu jawabannya sebelum mengucapkannya. Ia menggeleng pelan, menarik diri mundur.
"Lupakan saja. Aku tidak jadi."
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kamarnya, menutupnya rapat di belakangnya. Muchus hanya berdiri di lorong, menatap kepergiannya, matanya menyusuri punggung Laura perlahan hingga gadis itu hilang di balik pintu.
Di dalam kamar, Laura bersandar pada pintu yang tertutup itu, menarik napas panjang berusaha menenangkan dirinya.
"Jangan bodoh..." bisiknya pelan pada dirinya sendiri, menekan punggungnya ke permukaan kayu yang dingin. "Jangan pernah meminta pertolongan pada para bajingan itu. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan mereka minta sebagai gantinya."
Ia melangkah perlahan menuju jendela, menatap ke halaman yang luas namun terasa seperti penjara. Ia harus mencari cara lain — yang lebih aman, yang tidak mempertaruhkan dirinya pada orang yang tak dapat dipercaya.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain, Killian berdiri di dekat jendela yang menghadap ke arah pelabuhan. Nico berdiri di belakangnya, menunggu perintah.
"Berangkatlah lebih dulu ke Irlandia," ucap Killian tanpa menoleh, pandangannya tertuju pada kapal-kapal yang tampak kecil di kejauhan. "Pantau gerak-gerik keluarga McManaman dari dekat. Catat siapa yang datang, siapa yang pergi, dengan siapa mereka bertemu. Aku akan menyusulmu besok malam."
"Baik, Tuan," jawab Nico singkat, lalu mundur perlahan keluar dari ruangan.
Pintu tertutup, meninggalkan Killian sendirian. Ia tetap berdiri diam, tak beranjak dari tempatnya. Ada sesuatu yang harus ia pastikan sebelum pergi — sesuatu yang tak dapat ia tinggalkan begitu saja.
Laura McManaman.
Ia harus memastikan gadis itu tidak berbuat sesuatu yang akan membahayakan rencana mereka — atau dirinya sendiri.
Vincenzo benar. Darah tidak begitu mudah hilang, dan musuh tidak selalu menampakkan wajah yang diwaspadai. Namun saat memikirkan gadis itu, ada sesuatu yang lain juga — sesuatu yang tak ingin ia akui: keinginan untuk memastikan ia tetap di sini, di tempat ia dapat mengawasinya.