Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Perjalanan ke Jakarta
Bau minyak angin langsung menyambut Keira begitu pintu bus tertutup dengan bunyi hiss nyaring. AC di atas kepalanya bahkan meneteskan air tepat ke paha celananya yang kebesaran.
Keira memeluk kopernya di pangkuan. Resletingnya sudah rusak dan terpaksa ditahan dua peniti besar milik ibunya. Kalau sampai lepas, bisa berantakan seluruh isi kopernya.
Di sampingnya, seorang bapak berpeci miring sudah tertidur sejak bus belum meninggalkan terminal. Kepalanya sesekali terantuk bahu Keira setiap kali bus melewati jalan berlubang.
"Pak... permisi, Pak," bisik Keira sambil menggeser bahunya.
Bapak itu sempat terbangun, membetulkan posisi duduk, lalu kembali mendengkur beberapa detik kemudian. Kepalanya ganti bersandar ke kaca jendela.
Keira menghela napas. Ia mengambil kantong plastik berisi dua potong lemper pemberian ibunya. Ketannya masih sedikit hangat.
Gigitan pertama membuatnya langsung teringat rumah. Rasa gurih santan dan aroma daun pisang bakar seolah membawa kembali suasana dapur kecil mereka.
Ia mengunyah pelan, berusaha menikmati bekal terakhir dari ibunya sebelum benar-benar jauh dari rumah.
Ponselnya bergetar.
Sasa: Udah naik bus belum? Jangan ketiduran, nanti kopermu ditukar orang.
Keira: Udah. Ini lagi makan lemper Ibu, Sa.
Sasa: Oke. Yang penting sampai Kampung Rambutan jam 2. Bu Lastri orangnya nggak suka nunggu. Agak galak kalau urusan waktu.
Keira memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu menatap keluar jendela.
Sawah hijau perlahan berganti dengan deretan ruko, pabrik, dan truk-truk besar yang memenuhi jalan.
Selamat tinggal kampung halaman.
Selamat datang Jakarta.
Delapan jam perjalanan terasa melelahkan. Pukul satu siang lewat sepuluh, bus mulai memasuki kawasan ibu kota.
Sejak tadi Keira menahan kencing karena takut kehilangan kursinya. Namun, akhirnya ia menyerah dan berjalan sempoyongan menuju toilet di bagian belakang bus.
Begitu pintunya dibuka—
"BRAY!"
Aroma pesing bercampur bau racun serangga dan tembakau langsung menyerang hidungnya.
Keira buru-buru mundur, hampir menabrak kernet yang sedang membagikan air mineral.
"Napa, Neng? Mabuk?" tanya kernet itu.
"Nggak, Bang. Toiletnya... nggak kuat saya."
Kernet itu terkekeh. "Namanya juga bus ekonomi, Neng. Yang penting nyampe."
Keira mengurungkan niatnya. Lebih baik menahan kencing sampai terminal daripada harus berhadapan lagi dengan toilet beroda itu.
Terminal Kampung Rambutan siang itu ramai bukan main. Klakson bus bersahutan dengan teriakan calo, sementara udara dipenuhi bau asap kendaraan, keringat, dan gorengan.
Keira menyeret kopernya yang terasa makin berat. Salah satu rodanya bahkan mulai macet, membuat koper itu berjalan miring.
"Keira! Keira Azzalea!"
Seorang wanita paruh baya melambaikan tangan dari dekat tiang beton. Rambutnya disanggul tinggi, kacamata hitam bertengger di atas kepala, dan blus batik merah menyala membalut tubuhnya.
"Bu Lastri?" tanya Keira sambil menghampiri.
Wanita itu menurunkan kacamatanya, lalu memperhatikan Keira dari ujung kepala sampai kaki.
"Duh, kamu ini... di foto kelihatan agak tinggian." Ia menghela napas. "Ya sudahlah, yang penting mukanya bersih, nggak aneh-aneh. Mana kopermu? Cuma ini?"
Bu Lastri melirik koper Keira.
"Iya, Bu. Ini aja," jawab Keira sambil membetulkan tali ranselnya.
"Ya sudah, ayo. Mobil sudah nunggu di luar. Jangan bengong terus, di sini copetnya lebih pintar dari sarjana."
Bu Lastri langsung berjalan cepat dengan sepatu hak rendahnya yang berbunyi tak-tok-tak-tok.
Keira buru-buru menyusul sambil menyeret koper yang rodanya berdecit.
"Bu, mau tanya... anak yang bakal saya asuh namanya Mika, kan?"
"Iya. Mika, umurnya tiga tahun setengah." Bu Lastri menjawab tanpa menoleh. "Sebetulnya anaknya manis, sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, dia jadi nggak mau dekat sama orang asing."
Keira mengangguk, menyimak baik-baik.
"Pengasuh sebelumnya cuma bertahan dua minggu karena nggak kuat dianggurin sama Mika. Plus..."
Kalimat Bu Lastri menggantung.
"Plus apa, Bu?"
Wanita itu mendadak berhenti. Keira hampir saja menabrak punggungnya.
"Plus Pak Nathaniel itu tegas. Bukan tegas lagi, tapi tipe bos besar yang kalau ngomong sepatah kata, orang serumah langsung gemetaran."
Keira menelan ludah.
"Kamu jangan banyak tingkah di sana. Tugasmu cuma ngurus Mika, bikin dia mau makan dan mau main. Urusan lain di rumah itu jangan ikut campur. Paham?"
Keira mengangguk pelan.
"Paham, Bu."
Entah kenapa, perasaan nggak enak yang sempat muncul sebelum berangkat tadi kembali terasa.
Sepertinya, pekerjaan barunya di Jakarta tidak akan semudah yang ia bayangkan.
semangat Kak 💪💪