Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Menyentuhnya
Tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang melakukan malam pertama. Malam ini, Fadli dan Amara tidak melakukan apapun.
Bahkan keduanya tidur secara terpisah. Amara di atas ranjang, Sementara Fadli tidur diatas sofa. Amara yang selaku seorang istri cukup memahami, Dan mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja Fadli sedang lelah atau apa. Sehingga sikap suaminya itu datar. Tapi semua itu tidak seperti biasanya..
Ia paham mungkin Fadli tengah lelah, Capek atau apa. Tapi kenapa harus tidur di atas sofa? Kenapa tidak ditempat tidur saja. Walaupun tidak melakukan apapun, Amara tidak masalah sama sekali.
Namun satu pertanyaan yang membuat Amara merasa heran. Sejak Abi nya meminta keduanya menikah, Sikap Fadli padanya berubah. Sikap pria itu terbilang dingin dan datar. Fadli juga tampak begitu menjaga jarak dengannya.
"Ada apa dengan Kak Fadli? Dia seperti tidak suka denganku.." Batin Amara. Bahkan sampai larut malam pun Wanita itu sulit untuk memejamkan matanya. Akan tetapi, Amara hanya diam saja tak ada pergerakan sama sekali.
Begitupun dengan Fadli yang tak kunjung nyenyak malam ini. Dia tidak menyangka kalau hari ini dia dan Amara telah sah menjadi suami dan istri. Padahal, Fadli hanya menganggap Amara sebagai adik, Dan itu tidak lebih.
Tapi apa mau dikata, Dia tidak mampu menolak permintaan Abi nya. Sejak kecil, Pria itulah yang merawatnya dengan sepenuh hati.
Abi Rafa dan Umma Zakia, Sepasang suami istri yang merawat Fadli selama puluhan tahun usai kedua orangtuanya meninggal dunia. Peran ayah dan ibu kandungnya yang Fadli rasakan hanya sebentar saja.
Fadli bahkan sudah lupa seperti apa kasih sayang mereka. Karena selebihnya, Peran orangtua digantikan oleh Abi Rafa dan Umma Zakia.
Fadli mendapatkan kasih sayang penuh dari mereka. Fadli tak pernah dibeda-bedakan, Semuanya ditakar sama.
"Begini, Kamu kan udah dewasa.. Dan di usiamu yang sudah dewasa ini, Abi perhatikan kamu belum punya keinginan untuk berubah tangga...
"Memang belum, Bi.. Fadli masih fokus sama kantor..
"Sebenarnya, Abi punya satu keinginan.. Tapi, Kalau kamu setuju. Kalau kamu tidak setuju, Abi juga tidak bakalan keberatan... Kamu berhak menolak...
"Apa keinginan Abi terhadap Fadli?
"Menikahlah dengan Amara.. Abi tahu, Mungkin kamu terkejut dengan apa yang Abi sampaikan, Fadli.. Tapi menurut Abi, Ini juga yang terbaik.. Toh kalian tidak punya hubungan darah sama sekali, Kan? Daripada Amara menikah dengan pria lain, Bukankah lebih baik kalau Abi satukan kalian berdua saja.. Abi sangat percaya sama kamu.. Tapi, Abi tidak memaksa.. Kalau kamu setuju, Kalau tidak juga tidak apa-apa..
"Fadli bersedia kok, Bi.. Apapun keputusan Abi. Itulah yang terbaik... Tapi, Apakah Amara setuju? Fadli sih, Tergantung sama Amara..
"Bagaimana Amara? Kamu setuju sama keputusan yang Abi ini?
"Amara setuju kok Abi..
"Alhamdulillah kalau begitu...
Fadli menghela nafas panjang. Sejujurnya ia tak pernah menginginkan pernikahan ini. Karena sebenarnya, Fadli sendiri tertarik pada wanita lain..
Wanita itu bernama Lidya, Seorang sekretaris Fadli sendiri dikantornya. Keduanya cukup sangat dekat, Namun Fadli belum punya niat mengutarakan semua itu. Fadli merasa belum yakin akan perasaannya yang sesungguhnya.
Dan sekarang, Ia sudah menikah. Semakin tak punya harapan apapun lagi Fadli, Dengan begini ia tak bisa memastikan perasaannya.
...****************...
Pagi harinya, Amara turun dari kamarnya. Wanita dua puluh empat tahun itu melangkah menuju ruang makan.
Sejak bangun tidur subuh tadi, Amara sudah tak melihat Fadli dikamarnya. Entah kemana pria itu, Mungkin saja tengah berada didalam kamarnya.
"Selamat pagi.." Sapa Amara pada seluruh keluarganya yang telah berkumpul.
"Selamat pagi sayang.." Amara tersenyum, Ia duduk disalah satu kursi yang sudah tersedia disana.
"Amara, Kamu kesini cuma sendiri aja? Suamimu mana?" Amara terdiam, Dia baru sadar kalau diruang makan itu tidak ada Fadli. Hanya ada Abi, Umma, Dan kedua kakak kembarnya, Yaitu Gabriel dan Ghazi. Sementara Fadli? Entahlah..
"Kamu kesini sendiri?" Tanya Ghazi, Amara bingung harus jawab apa.
"Eum, Itu kak.. Tadi, Kak...
"Aku disini.." Semua mata mengarah pada Fadli yang baru saja datang. Amara tersenyum tipis, Untung saja suaminya ini segera datang.
"Maaf, Telat..
"Gapapa.. Kamu duduk dulu, Gih.. Sarapan.." Kata Umma Zakia. Fadli tersenyum sebelum akhirnya pria itu duduk disamping Amara.
Melihat sang Umma yang melayani Abinya, Amara pun ikut meniru apa yang Umma nya lakukan.
Wanita itu melayani Fadli dengan mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk sang suami. Pria itu hanya diam saja, Membiarkan Amara melakukan apa yang ingin wanita itu lakukan.
"Ini kak, Sarapannya...
"Hm..
Amara ikut duduk, Sikap Fadli yang seperti tadi menarik perhatian si kembar yang duduk dihadapannya.
"Aku perhatikan sejak kemarin, Kak Fadli selalu bersikap dingin, Kenapa? Apa kakak tidak suka dengan pernikahan ini?" Ucapan Ghazi secara langsung membuat semua yang ada disana menatapnya. Tak ingin saudaranya di sudutkan, Gabriel pun ikut angkat bicara.
"Aku juga merasa seperti itu. Sikap kak Fadli seolah berubah.. Kalau memang kak.Fadli menikahi Amara karena keterpaksaan, Lebih baik jangan diteruskan dari sekarang.. Mumpung belum terlanjur..
Abi Rafa dan Umma Zakia saling tatap. Putra kembarnya ini memang suka sekali bicara asal ceplos.
"Gabriel, Ghazi.. Ini masih pagi, Sarapan dulu.." Tegur Abi Rafa kepada dua putra kembarnya. Pria paruh baya itu cukup tegas dalam mengambil sikap. Keduanya diam lalu melanjutkan sarapan paginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini, Fadli pamit pada kedua orangtuanya untuk mengajak Amara tinggal dirumahnya. Karena tidak mungkin kan, Fadli tinggal dirumah ini sementara pekerjaannya ada disana.
"Hati-hati sayang.. Semoga. betah ya? Jangan lupa nurut sama suami..
"Iya, Umma...
Sepasang suami dan istri itupun mulai pamit. Fadli dan Amara sama-sama masuk kedalam mobil.
Siang ini, Fadli benar-benar akan mengajak Amara untuk tinggal bersama dengannya. Mereka akan tinggal dirumah peninggalan orangtua Fadli yang pria itu tempati selama delapan tahun ini.
"Kak, Boleh mampir ke suatu tempat? Aku ingin membeli martabak.." Ucap Amara pada Fadli yang sejak tadi diam saja.
"Kak..
"Besok saja, Aku sedang tidak ingin mampir kemanapun.." Amara menghela nafas panjang..
"Owh, Baiklah.." Amara pun diam. Ia kembali bersandar sembari melihat jalan. Hingga tak terasa kendaraan roda empat itu telah sampai dikediaman pria itu.
Keduanya turun, Fadli membantu membawa koper milik Amara lalu membawanya masuk. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Bibi yang bekerja disana.
"Ini kamarnya..." Fadli mengantar Amara kekamarnya. Wanita itu mengangguk menurut saja. Sementara pria itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Amara menatap sedih suaminya itu. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa sikap pria itu berubah?
"Huuuffft.. Lebih baik beres-beres dulu saja kali, Ya.." Amara mulai membereskan pakaian yang ia bawa dari rumah. Senyumnya merekah setelah ia melihat sebuah pakaian seksi didalam koper tersebut.
"Malam ini...
Dan pada malam ini, Amara menatap pantulan dirinya dari cermin. Wanita itu mengenakan pakaian lingeri berwarna hitam, Rambutnya digerai indah.
Tepat pada hari ini, Amara akan datang pada Fadli dengan penampilannya yang memukau itu. Bukankah mereka belum melakukan malam pertama?
Amara memastikan penampilannya lebih dulu sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi. Hingga..
"Aku tidak akan menyentuhnya..
Langkah Amara terhenti, Dia mendengar suara seseorang berbicara.
"Siapa? Kak Fadli?" Perlahan kaki Amara melangkah maju kearah balkon. Disana, Ia melihat Fadli sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Entah itu siapa, Amara tidak tahu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyentuh Amara...
Deg!
"Kak Fadli, Dia....
•
•
•
TBC
Visual.....
👇 Amara Alfhatunnisa 👇
👇 Sagara Mahendra Andriano 👇
👇 Fadli Adiputra 👇
👇 Nayra Al Hisyami 👇
👇 Lidya Salviana 👇
Ini visual versi Othor ya... Kalau kalian kurang suka atau kurang sreg, Bisa bayangkan visual versi kalian masing-masing...🙏🥰
cari yg bnr2 manusia dan bisa trima km ap adanya
jadilah wanita terhormat ingin kaya ya kerja keras usaha bukan modal mengatal ngangkang dengan suami orang jadi pelakor bukanlah suatu kehormatan tapi kehinaan laknat dunia akhirat salah2 kena giling🤣🤣🤣🤣
ini lagi si Mak Ijah udah mimpi mau jadi orang kaya, kelihatan banget yah miskin nya, sampai ga tahu kalau yang kaya itu Amara dan keluarganya, tanpa Amara dan keluarganya, Fadli itu bukan siapa-siapa.... mimpi kamu ketinggian ingin jadi nyonya besar, tapi otaknya pas-pasan 🤣🤣🤭🤭
aku suka Amara 👍👍👍👍
nah sekarang Amara bukan urusan kamu lagi kan Fadli, urusan kamu sekarang itu si pelacur murahan itu dan orang tuanya, yang katanya tanggung jawab kamu 🤣🤣🤭🤭