NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alya Mengingat Kejadian Malam Itu

Pemotretan berlanjut hingga menjelang siang.

Beberapa kali Hannah meminta Faz berganti posisi, memindahkan cangkir kopi, atau menggunakan buku sebagai properti. Arif pun sesekali membantu menata ulang meja agar sesuai dengan konsep yang diinginkan.

“Han, kalau mau, kita bisa pakai area dekat rak buku juga,” tawar Arif. “Cahayanya cukup bagus sekarang.”

Hannah menoleh ke arah yang ditunjuk Arif.

“Boleh. Sepertinya cocok untuk konsep kedua.”

Arif tersenyum, lalu membantu memindahkan beberapa kursi.

“Kalau ada yang kurang, bilang saja.”

“Terima kasih, Rif.”

Percakapan sederhana itu berlangsung begitu alami, seolah keduanya sudah terbiasa bekerja bersama.

Faz yang sedang menunggu arahan berikutnya sempat memperhatikan mereka. Entah mengapa, ia kembali teringat pada kejanggalan yang dirasakannya saat rapat kemarin.

Arif tampak begitu mengenal Hannah. Sebaliknya, Hannah juga tidak terlihat sungkan meminta bantuan laki-laki itu.

Namun, Faz segera mengalihkan pikirannya. Ia tidak punya alasan untuk mencampuri urusan pribadi mereka.

“Faz, kita pindah ke dekat rak buku, ya,” panggil Hannah.

Faz beranjak dari tempatnya. “Baik.”

Ketika melewati meja tempat Alya duduk, Faz berhenti sejenak.

“Kamu enggak bosan menunggu?”

Alya menggeleng sambil tersenyum. “Enggak. Aku justru senang melihatmu bekerja.”

“Kalau begitu, tunggu sebentar lagi, ya. Sepertinya tinggal beberapa konsep.”

“Iya. Santai saja.”

Faz tersenyum tipis, lalu mengikuti Hannah.

Alya kembali mengarahkan pandangannya kepada mereka. Namun, perlahan senyum di bibirnya memudar.

Hannah.

Nama itu kembali bergaung dalam benaknya.

Sejak pertama kali melihat nama Studio Akira pada berkas pemotretan, Alya sebenarnya sudah memiliki firasat. Ketika akhirnya berhadapan langsung dengan perempuan bercadar itu, firasatnya semakin kuat.

Terlebih lagi, cara Hannah memperkenalkan diri tadi terasa begitu asing.

Kini Alya yakin.

Perempuan itu adalah Hannah, teman SMA-nya dahulu.

Namun, mengapa Hannah seolah tidak mengenalinya? Mengapa ia memilih diam, bahkan ketika mereka berdiri begitu dekat?

Apakah karena kejadian malam itu?

Alya menunduk. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara pikirannya kembali melayang pada sebuah malam yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan.

Malam ketika ia keluar dari sebuah diskotek dalam keadaan sempoyongan.

Di depan tempat itu, ia melihat seorang laki-laki sedang membopong seorang perempuan. Tubuh perempuan itu tampak lemas, sementara isak tangisnya terdengar samar. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup posisi kepala dan rambutnya.

Alya sempat menghentikan langkah.

“Ada apa dengan temanku?” tanyanya kepada laki-laki itu.

Laki-laki tersebut menoleh. “Dia temanmu?”

Alya mengangguk, berusaha memusatkan pandangannya.

“Apakah kamu tahu rumahnya?”

Alya menyebutkan alamat rumah Hannah.

Tanpa banyak bicara, laki-laki itu membawa Hannah pergi menggunakan taksi.

Saat itu Alya tidak terlalu memikirkannya. Kepalanya pening, tubuhnya lelah, dan ia hanya ingin segera pulang.

Namun, keesokan harinya, ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Hannah tidak pernah lagi menghubunginya.

Pesan-pesannya tak kunjung mendapat balasan. Hubungan yang sebelumnya terjalin di antara mereka perlahan terputus, hingga akhirnya tak ada lagi kabar tentang Hannah.

Alya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Siapa laki-laki yang membawa Hannah pergi? Apa yang membuat Hannah menangis sedemikian rupa? Dan mengapa setelah malam itu Hannah seolah menghilang dari kehidupan mereka?

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ingatan itu kembali muncul dengan begitu jelas.

Laki-laki yang membawa Hannah malam itu ....

Alya memejamkan mata sejenak.

Faz.

Semakin ia mengingat-ingat, semakin kuat keyakinannya bahwa laki-laki itu adalah Faz, tunangannya sendiri.

Namun, ada satu hal yang membuat Alya merasa gelisah.

Faz tampak sama sekali tidak mengenali Hannah yang dahulu.

Apakah Faz benar-benar tidak ingat? Ataukah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan laki-laki itu darinya?

---¤---

Menjelang pukul dua belas, Hannah akhirnya menurunkan kameranya.

“Alhamdulillah, untuk hari ini cukup. Nanti saya seleksi hasilnya terlebih dahulu, lalu saya kirimkan beberapa foto terbaik untuk diperiksa.”

Faz mengangguk puas.

“Baik. Terima kasih, Hannah. Sejauh ini hasilnya bagus.”

“Alhamdulillah. Semoga sesuai dengan yang Anda harapkan.”

Faz tersenyum tipis. “Saya percaya kamu sudah melakukan yang terbaik.”

“Han.”

Suara Alya membuat Hannah tersentak kecil.

Perempuan itu sudah berdiri di dekatnya sambil membawa tas.

“Aku pulang dulu, ya. Faz, nanti kabari aku kalau sudah selesai.”

“Iya,” jawab Faz singkat.

Alya kemudian menoleh kepada Hannah.

“Han, boleh minta nomor WhatsApp-mu?”

Hannah terdiam sesaat.

Mengapa Alya tiba-tiba meminta nomor teleponnya?

Apakah perempuan itu sudah mengetahui siapa dirinya?

Jantung Hannah berdegup lebih cepat. Namun, ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik sikap tenang.

“Oh, iya. Aku ingin kenal lebih dekat denganmu,” ujar Alya, seolah baru teringat sesuatu. “Aku juga belum memperkenalkan diri dengan benar. Aku Alya, tunangannya Faz.”

Tunangan?

Hannah merasa seolah baru saja kehilangan pijakan.

Jadi, perempuan yang sejak tadi menunggui Faz adalah tunangannya. Dan bukan orang lain, melainkan Alya, teman SMA yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.

Hannah melirik Faz sekilas. Laki-laki itu tampak sedikit kikuk, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

“Baiklah,” jawab Hannah pelan.

Ia menerima ponsel Alya, kemudian mengetikkan nomor WhatsApp-nya.

“Ini.”

“Terima kasih, Han.”

Alya melangkah mendekat, lalu memeluk Hannah singkat.

Tubuh Hannah seketika menegang.

Sudah bertahun-tahun ia tidak berada sedekat ini dengan teman lamanya. Bahkan sentuhan sederhana itu cukup untuk membangkitkan kenangan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

Aroma parfum Alya, hangatnya pelukan itu, dan suara perempuan yang dahulu begitu akrab dengannya seakan menarik Hannah kembali ke masa lalu.

Masa lalu yang ingin ia lupakan.

Alya melepaskan pelukannya.

“Jaga diri baik-baik, ya, Han.”

Hannah mengangguk pelan. “Kamu juga.”

Alya berbalik menuju pintu. Namun, sesaat sebelum keluar, ia kembali menoleh.

Senyumnya masih sama ramahnya.

Akan tetapi, kali ini Hannah tidak mampu membalas senyum itu dengan tulus.

Ia hanya bisa berdiri diam, menyaksikan Alya menghilang di balik pintu.

Hannah tahu, ia bisa saja berpura-pura bahwa pertemuan tadi tidak berarti apa-apa. Ia juga bisa meyakinkan dirinya bahwa masa lalu itu sudah selesai.

Namun, jauh di dalam hati, ia tahu tidak sesederhana itu.

Sebab, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang dari masa lalunya kembali hadir.

Dan seseorang itu ternyata adalah tunangan Faz.

---¤---

Malam harinya, Hannah baru saja selesai menyalin hasil pemotretan ke laptop ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang baru saja disimpannya.

Alya.

Hannah menatap layar selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan tersebut.

Han, aku tahu kamu adalah Hannah, temanku waktu SMA.

Napas Hannah tertahan.

Pesan berikutnya muncul.

Sejujurnya, aku sedikit kecewa waktu kamu bersikap seolah-olah tidak mengenaliku tadi. Tapi, aku yakin kamu pasti punya alasan. Apalagi sekarang kamu sudah bercadar.

Hannah menggenggam ponselnya lebih erat.

Belum sempat ia membalas, sebuah pesan baru kembali masuk.

Han, aku tahu kamu selama ini berusaha melupakan kejadian malam itu. Setelah malam itu, kamu enggak pernah lagi menghubungi kami. Kamu juga menghilang begitu saja dari kehidupan kami.

Jari-jari Hannah mendadak terasa dingin.

Malam itu.

Dua kata yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam-dalam.

Malam yang mengubah hidupnya.

Malam yang membuatnya kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, menjauh dari banyak orang, dan akhirnya memilih menutup sebagian besar kehidupannya dari dunia luar.

Hannah menatap layar dengan mata berkaca-kaca.

Bagaimana mungkin Alya masih mengingatnya?

Bukankah selama ini ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua orang sudah melupakan kejadian itu?

Ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan baru muncul.

Hannah membacanya dengan dada semakin sesak.

Han, aku cuma ingin tahu satu hal. Malam itu, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?

Air mata Hannah jatuh tepat di atas layar ponselnya.

Ia ingin menghapus pesan itu. Ia ingin mematikan ponselnya, menutup laptop, lalu berpura-pura bahwa hari ini tidak pernah terjadi.

Namun, sebelum sempat melakukan apa pun, sebuah pesan terakhir dari Alya muncul.

Dan satu lagi, Han. Laki-laki yang membawamu pergi malam itu ... bukankah dia Faz?

Hannah membeku.

Ponsel itu nyaris terlepas dari tangannya.

Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang menyimpan ingatan tentang malam tersebut.

Ternyata Alya juga mengingatnya.

Dan yang lebih menakutkan, Alya mulai menghubungkan Faz dengan kejadian yang selama ini Hannah rahasiakan dari siapa pun.

Hannah menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris pecah.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Sebab, jika Alya terus bertanya, cepat atau lambat, rahasia yang selama ini ia jaga mungkin akan terbongkar.

Dan jika Faz sampai mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya ....

Hannah memejamkan mata rapat-rapat.

Untuk pertama kalinya, ia takut bukan hanya pada masa lalunya, tetapi juga pada kemungkinan bahwa masa lalu itu akan menghancurkan satu-satunya kesempatan yang baru saja ia miliki untuk memulai hidupnya kembali.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!