NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENTUHAN YANG TERLARANG

"Apa maksudmu lima tahun, Aris? Kamu... kamu bicara apa?"

Bisikan Sora tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap Aris yang berdiri begitu dekat dengannya.

Sentuhan jemari Aris di leher jenjang Sora terasa membakar setiap inci saraf di kulitnya. Hawa panas dari napas Aris merayap menyelimuti wajah Sora, mengikis seluruh pertahanan diri dan akal sehat yang berusaha ia pertahankan.

Aris tidak segera menjawab. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Sora yang bergetar. Ibu jarinya bergerak pelan, mengusap lembut garis bibir bawah Sora yang sedikit terbuka.

"Lima tahun lalu, sewaktu Rian pertama kali membawamu ke acara reuni kampus dan mengenalkanmu sebagai tunangannya. Sejak detik itu, Sora... kamu nggak pernah benar-benar keluar dari pikiranku."

Pengakuan itu berhembus bagai petir di siang bolong. Sora merasakan dadanya bergemuruh hebat. Tubuhnya bersandar makin rapat pada tepi kabinet dapur marmer yang dingin, berbanding terbalik dengan panas tubuh Aris yang seolah siap melahapnya.

"Aris, stop..." bisik Sora lirik. "Kamu sahabat Rian. Dan aku... aku istrinya. Ini gila."

"Yang gila itu Rian!" potong Aris dengan nada bariton yang ditekan rendah namun sarat akan emosi mendalam. "Dia punya wanita seindah dan seanggun kamu di rumah, tapi dia malah membiarkanmu kesepian. Dia membiarkan matamu redup kehilangan cahaya!"

Aris melangkah satu tapak lebih maju. Kedua paha mereka kini saling bersentuhan tipis. Sora bisa merasakan denyut nadi dan ritme napas Aris yang memburu.

Jemari Aris yang tadinya berada di leher Sora kini bergerak turun perlahan, menyusuri tulang selangka Sora yang terekspos dari kerah gaun hijaunya. Sentuhan itu sangat halus, bagaikan beludru, namun efeknya sanggup membuat Sora merinding dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sora memejamkan matanya rapat-rapat. Bibirnya mengeluarkan desahan napas yang halus saat jemari Aris mengusap lembut pangkal lehernya, memberikan kehangatan yang sudah berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—tidak pernah ia dapatkan dari Rian.

"Aris... jangan..." cegah Sora, meski tangannya yang terangkat ke dada tegap Aris bukannya mendorong pria itu menjauh, melainkan meremas pelan kain kemeja biru tua milik Aris.

Aris menundukkan kepalanya. Bibirnya berjarak hanya seperseribu milimeter dari daun telinga Sora. Ia membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan moral Sora makin runtuh.

"Katakan padaku, Sora... kapan terakhir kali Rian menyentuhmu seperti ini? Kapan terakhir kali dia membuatmu merasa diinginkan sebagai seorang wanita?"

Air mata hangat lolos dari sudut mata Sora yang terpejam. Pertanyaan Aris tepat menancap di lukanya yang paling dalam. Rian tidak pernah menyentuhnya dengan kehangatan seperti ini. Bagi Rian, hubungan mereka hanya sebatas rutinitas formalitas yang dingin.

Merasakan getaran di tubuh Sora, hati Aris makin tergerak. Usapan tangannya berpindah perlahan ke pinggang Sora, menarik tubuh wanita itu dengan lembut agar makin merapat ke dalam pelukannya.

Lengan tegap Aris merengkuh pinggang kecil Sora. Sentuhan telapak tangan Aris yang hangat membelai punggung Sora di balik kain gaun sutranya, mengirimkan gelombang gairah yang asing dan memabukkan ke seluruh tubuh Sora.

Sora mendongak, matanya terbuka dan beradu langsung dengan tatapan Aris yang membara oleh gairah dan rasa protektif.

"Aris..." bisik Sora pasrah. Tangannya yang melingkar di dada Aris kini merayap naik ke bahu tegap pria itu.

Aris menatap bibir merah alami Sora yang gemetar. Tanpa ragu lagi, Aris mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat dan lembut di sudut bibir Sora. Kecupan yang penuh kepedulian, rasa rindu yang tertahan, dan gairah yang membakar.

Sora melenguh pelan. Sensasi dari ciuman lembut itu menjalar cepat ke dadanya, membuat lututnya terasa lemas. Ia berpegangan erat pada bahu Aris, membiarkan Aris menyesap rasa manis di bibirnya dengan lembut namun semakin dalam.

Tangan Aris yang berada di pinggang Sora bergerak naik, mengusap lembut rusuk dan punggung atas Sora, memberikan belaian-belaian halus yang membuat Sora terbuai dalam zona terlarang. Di dalam dapur bersih yang sepi itu, hanya ada suara napas mereka berdua yang makin memburu dan detak jantung yang saling beradu cepat.

Setiap belai Aris terasa begitu nyata, begitu menghargai keindahan tubuh Sora, dan mengisi setiap celah hampa di hati wanita itu. Sora menyerahkan dirinya sejenak pada rasa hangat yang meluap-luap ini, melupakan fakta bahwa pria yang sedang membelainya adalah sahabat suaminya sendiri.

Bip... Bip... Bip...

Suara nyaring dari panggangan oven otomatis di sudut dapur mendadak berbunyi, memecahkan atmosfer intim yang membakar di antara mereka.

Sora tersentak bagai tersengat listrik. Akal sehatnya mendadak ditarik paksa kembali ke realita. Dengan napas memburu dan wajah merona merah padam, Sora mendorong dada Aris pelan.

Aris melepaskan rangkulannya di pinggang Sora secara perlahan, meski matanya masih enggan berpaling dari wajah cantik Sora yang tampak begitu menggoda dengan helaan napas terengah-engah.

Sora membelakangi Aris dengan cepat, memegang tepi meja dapur sambil berusaha menetralkan dadanya yang bergemuruh heboh. Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa hangat dan basah oleh ciuman Aris.

"Aku... aku harus mematikan oven," ucap Sora dengan suara yang sangat bergetar.

Aris menghela napas panjang, merapikan sedikit kerah kemejanya yang agak kusut. Namun, alih-alih merasa bersalah, senyuman tipis dan penuh keyakinan justru terukir di bibirnya.

Ia melangkah mendekat kembali ke belakang Sora, menyisipkan beberapa helai anak rambut Sora ke belakang telinganya dengan usapan jari yang sangat lembut.

"Ini baru permulaan, Sora."

Sora membeku di tempatnya, menahan napas saat mendengar bisikan hangat Aris tepat di samping telinganya.

"Dan kalau malam ini Rian nggak pulang lagi ke rumah... kamu tahu nomor teleponku, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!