Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 13
Suara gemercik air masih terdengar. Hujan belum reda hingga larut malam ini. Beberapa menit yang lalu hujan sempat berkurang sejenak, namun pukul sembilan tadi hujan bertambah deras.
Di dalam unit nomor tiga, Dave masih berjuang untuk tidur. Ia ditemani lampu tidur yang nyala temaram. Pria itu sudah mencoba untuk berganti posisi tidur—miring ke kanan, miring ke kiri hingga telungkup—rasa kantuknya tak kunjung datang.
"Aaarggh kenapa sulit sekali tidur," ucap Dave frustasi. Ia kembali menelungkupkan tubuh dan menutupi kepalanya dengan bantal. Lalu memejamkan mata.
Beberapa detik berlalu ia masih bertahan di posisinya. Namun, rasa kantuknya juga tak kunjung datang, melainkan rasa sesak napas yang didapat. Dengan penuh emosi, ia membanting bantal yang menutupi kepalanya.
Dave membalikkan tubuhnya, lalu bangkit. "Kenapa kasur ini terlalu keras ? Membuat tubuhku semakin sakit," ucapnya.
Sup daging sapi pemberian Emma telah ia makan. Beberapa jam kemudian, Dave berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang tersiksa dengan pekerjaan barunya. Ia lalu berbaring ke atas kasur dikamar.
Saat tubuhnya terjatuh ke atas kasur, rasanya tidak nyaman. Kasur itu tidak empuk, sangat jauh berbeda dengan kasur yang ada dirumah mewahnya.
Dikamar mewahnya, kasurnya sangat lembut dan wangi. Saat berbaring, nyaman sekali ditubuh. Dave tak bisa lupakan sensasi itu.
"Lagian, kenapa hujan juga belum reda ? Aku jadi sulit tidur malam ini." Dave sekarang menyalahkan hujan. Entah langit apakah mendengar perkataannya, tiba-tiba muncul kilatan petir dan suara gemuruh halilintar, pertama kalinya terdengar diantara hujan yang turun sejak sore tadi. Seketika kejadian itu mengejutkan Dave yang terduduk diatas kasur. Ia terdiam cukup lama hingga detak jantungnya kembali normal.
"Aku heran pada ayah," gumamnya. "Kenapa ayah bisa menyewa apartemen ini untuk anaknya ?. Kenapa ayah tega menyewakan apartemen yang rasanya seperti penjara ini ?. Aku tidak menyangka ayah setega ini."
Dave menjatuhkan kembali tubuhnya. Ia menatap langit kamar yang tersinari cahaya temaram lampu tidur. Bayangan kejadian dikantor saat dimarahi ayahnya hingga kejadian tak terduga pagi ini—saat ia terpaksa menjadi kurir pengantar pizza —terputar dipikirannya.
"Aku menjadi sangat menderita sejak ayah pulang," gumam Dave. "Memang seberapa besar salahku hingga aku harus diasingkan ke sini," lanjutnya.
Dave memikirkan penyebab dirinya harus menjauh dari rumah dan meninggalkan kenyamanannya. Jika pria itu sadar akan kesalahannnya, pasti semuanya akan terjawab saat itu juga. Ia tidak perlu menyesal dan masalahnya tidak akan sampai sepanjang ini.
Keangkuhan dan kesombongannya sudah terlalu besar di hatinya. Dave sulit mengakui kesalahan. Tak ada celah penyadaran yang mampu menembus tembok kokoh kesombongan yang berdiri kuat menutupi hatinya. Ia selalu merasa benar.
Dave kembali teringat momen meeting saat ia memecat Pak James. "Hanya karena memecat karyawan yang tidak becus bekerja. Ayah tega melakukan ini denganku," ucapnya. "Tujuanku kan baik. Untuk menaikkan penjualan perusahaan. Seharusnya ayah mengapresiasiku, karena aku mampu menjalankan perusahaan. Aku benar-benar tak habis pikir dengan ayah," lanjutnya.
...----------------...
Tiba-tiba ponsel Dave diatas nakas berdering. Ia lalu meraihnya. Ternyata panggilan dari ibunya.
"Kenapa ibu malam-malam telpon," ucap Dave. Ia lalu menerima panggilan itu. Ponsel, ia dekatkan ke telinga sambil berbaring dikasur.
Beruntung Dave dilahirkan oleh Bu Eveline yang sabar dan lemah lembut. Waktu kecil, pria itu sangat nakal. Bahkan ada satu kejadian ia terlibat perkelahian dengan temannya waktu SMP. Ibunya, orang pertama yang tahu kejadian itu. Ia pun rela menutupi kejadian itu, agar Dave tak dimarahi ayahnya. Hingga kini kejadian itu masih menjadi rahasia Dave dan Bu Eveline.
Kesabaran luar biasa selalu ditunjukkan Bu Eveline kepada putranya. Ia tak seperti suaminya, yang ketika anaknya salah akan menjadi marah. Wanita itu lebih mengutamakan tutur kata yang lembut dan selalu memberikan kesempatan kedua putranya untuk memperbaiki diri.
"Halo, Bu. Ada apa malam-malam telpon ?"
"Apakah ibu mengganggumu Dave ?"
"Tidak. Ini aku lagi istirahat dikamar."
"Sebenarnya ibu kepikiran kamu. Sampai ibu tidak bisa tidur. Gimana kondisimu disana ?"
"Aku baik. Ibu tidak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri disini."
"Ibu lega dengar kamu baik-baik disana. Oh iya gimana pekerjaan di toko pamanmu ? Pasti menyenangkan bukan ?"
"Sama sekali tidak menyenangkan. Ternyata aku disini bekerja sebagai kurir pengantar pizza yang harus rela panas-panasan dan kena debu. Seandainya aku tahu sejak awal, aku akan menolak mentah-mentah permintaan ayah, meskipun jabatan CEO ku yang jadi taruhannya."
"Maaf ya Dave. Ibu sebenarnya juga sudah tahu kalau kamu akan dipekerjakan sebagai kurir. Setelah kamu bicara sama ayah di ruang tamu kemarin malam, ibu ingin sekali memberitahumu. Tapi ayahmu melarang untuk mengatakannya. Kamu tahu sendiri, kalau ayah sudah memutuskan, ibu tidak bisa membantahnya."
"Ibu jangan merasa bersalah. Ini bukan salah ibu. Ini semua salah ayah, aku benci ayah."
"Dave, kamu jangan membenci ayahmu. Dia melakukan ini karena ada tujuan baik untukmu."
"Kalau ayah memiliki tujuan yang baik, kenapa ayah tega mempekerjakanku jadi seorang kurir ?. Dan kenapa juga ayah menyewakan apartemen sangat tidak nyaman untukku ?. Semestinya ayah memberikan yang terbaik untukku, kalau memang bermaksud baik denganku."
"Dave, coba kamu ingat-ingat apa kesalahanmu dan coba pahami diri kamu ?"
"Memang selama ini salahku apa dan diriku memang seperti ini."
"Itulah penyebab kamu diasingkan dari rumah. Kamu terlalu angkuh untuk menyadari kesalahan dan selalu merasa benar."
"Memang kenya—"
"Dengarkan ibu dulu Dave. Kamu harus belajar menghargai orang lain. Coba kamu renungkan perkataan ibu. Selama ini sudah berapa banyak karyawan yang kamu berhentikan ?. Pasti sudah lumayan banyak kan ?. Kamu tidak tahu kalau mereka punya tanggung jawab yang lebih besar diluar kerjaan—harus menghidupi anak istri dan kebutuhan keluarga lainnya. Setelah kamu berhentikan, apakah mereka bisa memenuhi tanggung jawabnya ?. Pasti mereka sangat kesusahan.
Sementara kamu, terus menekan mereka dengan ancaman akan diberhentikan. Memang apa salahnya kamu beri kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki ?. Sikap aroganmu inilah yang harus kamu hilangkan. Sekarang mulai pahamkan tujuan ayahmu ?."
Dave tak langsung menanggapi perkataan ibunya. Ia masih memahami dalam-dalam maksudnya. Namun, entah kenapa, ada perasaan yang campur aduk dihatinya.
Semua sikap yang Dave anggap wajar, seketika saling berbenturan di pikirannya. Semakin lama, itu membuatnya pusing.
"Dave, kamu masih disana kan ?"
"Dave ?"
Beberapa kali Bu Eveline memanggil dari sambungan telpon yang belum terputus. Ia bingung kenapa putranya tak kunjung menanggapinya.
"Dave, kamu masih dengar ibu kan ?"
"Maaf, maaf, aku mulai merasa ngantuk."
"Ibu pikir kamu tidak ada disana. Kalau begitu, ibu akhiri panggilan ini. Ibu lega bisa dengar kabar kamu baik-baik saja. Jaga diri baik-baik ya, Dave."
"Iya. Ibu tidak perlu khawatir."
"Selamat malam."
"malam."
Sambungan telpon terputus, obrolan lewat ponsel pun berakhir. Dave lalu meletakkan ponselnya ke kasur.
Pria itu masih pusing. Perkataan ibunya masih terngiang jelas dikepalanya. Sekarang semua saling bertabrakan, ia ragu apakah memang yang ia lakukan selama ini benar ?. Padahal sebelumnya ia sangat percaya diri kalau semua tindakannya pasti benar.
Semakin lama kepalanya terasa berat. Dave pun bangkit sejenak. Ia mencoba menenangkan situasi batinnya sambil ditemani suara rintik hujan.