Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenyata Hanyalah Harapan
Malam menjadi hening. Hanya embusan angin terdengar lirih dan terasa mulai dingin. Rasa tak nyaman menyelimuti keduanya.
Kemudian....
"Kalo nggak ada lagi yang Mas mau sampaikan, apa boleh saya kembali ke kamar?" tanya Jihan, memecah suasana. Jujur berdekatan dengan Hansen, hatinya merasa tak gundah, karena dalam pikirannya Hansen tidak menyukainya. Jihan hanya ingin menghormati perasaan Hansen.
"Ya, kamu boleh istirahat. Besok pengacara ku akan ke sini, dia akan kasih tau apa saja yang perlu kamu siapkan untuk perceraian kita," jawab Hansen, sebelum Jihan beranjak dari tempat duduknya.
"Baik." Jawaban yang cukup singkat, namun Hansen tidak bisa berbohong, bahwa jawaban itu justru seperti jarum yang menusuk ulu hati.
Tak lama berselang, Jihan mencoba bangkit, tampak sedikit kesusahan. Dengan cepat Hansen menolong, memegang tangan Jihan.
"Nggak usah, Mas, saya bisa... " Jihan mendorong pelan tangan Hansen. Lalu kembali tersenyum dan berdiri tegak. Sedangkan Hansen, sentuhan telapak tangan Jihan terasa dingin, dia bisa merasakannya meski sekilas.
Dan Hansen tidak bisa berbohong, jika sentuhan tangan itu seperti membangunkan sisi lain dari dirinya. Hansen bisa menyadari itu.
Tak lama berselang, Jihan melangkah. Langkah yang tak sempurna, langkah pincang dan tertatih.
Di detik yang sama, Hansen tersentak sadar, bahwa dialah orang yang membuat wanita itu pincang. Dialah orang yang membuat wanita itu tak lagi bisa melangkah sempurna. Hansen sadar, kenapa orang tua Jihan meminta dirinya untuk menikahi putri mereka, karena ini... karena mereka tau Jihan punya kekurangan. Mereka takut Jihan tak bisa menjaga dirinya sendiri. Namun ia juga tak bisa membohongimu dirinya sendiri, bawa ia keberatan tentang tugas itu. Hansen ingin bebas. Bebas dari Jihan dan janji yang telah ia penuhi. Hansen... dilema dalam keputusan ini.
***
Setelah percakapan yang menghancurkan hati, Jihan pun masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Beberapa detik ia hanya berdiri, matanya menatap sekeliling. Di saat yang sama, air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah lagi.
Demi Tuhan, ia masih tidak menyangka, bahwa apa yang ia jalani selama sepuluh tahun ini hanyalah khayalan sia-sia.
Setiap malam ia selalu berharap sang suami menatapnya, berharap sang suami berubah dan jadi sayang padanya.
Jihan tidak memungkiri harapannya tersebut. Namun percakapan yang terjadi malam ini antara dirinya dan sang suami, nyatanya malah menghancurkan semua harapannya itu.
Sakit sudah pasti...
Sedih, jangan ditanya...
Tak lama berselang, tatapan mata Jihan berhenti di sebuah foto yang terpajang rapi tujuh tahun silam. Foto pertama bahkan terakhir bersama dengan sang suami.
Foto tersebut di ambil saat Raka, putra mereka berusia dua tahun. Saat itu fotografer meminta mereka foto keluarga. Hansen tak menolak, bahkan dia dengan semangat merangkul pundak Jihan, lalu foto itu pun jadi.
Sayangnya itu menjadi foto terakhir mereka. Karena sejak saat itu, mereka tak pernah punya moment seperti itu lagi.
Saat ulang tahun, Raka lebih suka menginap dan merayakan ulang tahunnya di apartemen papinya. Sedangkan Jihan, ia akan merasakan ulang tahun sang putra keesokan harinya.
Tidak apa, bagi Jihan yang penting putranya bahagia.
Kini, kenyataan pahit yang sering ia tampil, nyatanya menampar keras ulu hatinya. Mereka bukan tidak mengaja menolaknya, tapi mereka berdua memang benar-benar menolaknya.
Di detik berikutnya, rasa tak ingin menjadi beban suami dan sang putra, Jihan pun segera membuka lemari pakaiannya.
Menatap semua yang ada di sana. Baju baju hariannya, baju kerjanya dan baju bepergian semua tersusun rapi di sana. Ada juga tas dan satu dompet, barang Jihan tidak banyak, karena selama ini ia memang tidak suka berbelanja.
Selama ini, Jihan tidak pernah punya pikiran akan meninggalkan rumah ini, itu sebabnya ia pun tak punya koper untuk pergi.
Menyadari hal itu, segera ia mencari ponselnya, lalu segera membeli tas baju dan juga satu koper yang ukurannya cukup besar untuk ia gunakan mengemas baju bajunya.
"Syukurlah, besok koper dan tasnya bisa datang. Aku bisa segera mengemasnya," gumamnya.
Lalu setelah ia selesai memesan barang yang ia butuhkan, Jihan segera mengambil tas make upnya, memasukkan semua peralatan make upnya di sana.
Setelah semua make up yang ia punya masuk ke dalam tas, Jihan kembali menatap sekeliling.
Dadanya kembali merasa sesak. Ia pikir, kesabarannya menanti, suatu hari nanti akan membuat Hansen membuka hati untuknya.
Ia pikir, selama mereka masih bersama, pasti akan ada kesempatan bagi cinta untuk tumbuh di antara mereka.
Namun, percakapan malam ini membuat Jihan sadar bahwa harapan itu tidak akan pernah terwujud. Tenyata selama ini ia hanya berpegang pada harapan yang tidak dijanjikan oleh siapapun.
Selama ini, ia tidak pernah menuntut Hansen pulang setiap hari. Ia juga tidak pernah menuntut Hansen selalu ada untuknya. Anehnya, sikap Hansen yang terlalu dingin, cuek dan tidak peduli padanya, justru malah membuat Jihan tak pernah berhenti berharap.
Jihan mengusap kasar pipinya, ia tak ingin menangis. Sayangnya, semakin ia berusaha menahan air matanya, justru air mata itu semakin deras mengalir.
Isaknya lolos dan bersamaan dengan itu Jihan mendengar suara langkah kaki. Ia tahu, itu adalah suara langkah kaki Hansen. Dengan cepat ia pun membekap mulutnya. Tentu saja agar Hansen tidak mendengar tangisannya.
Cukup sudah ia menanggung malu di hadapan pria itu selama sepuluh tahun. Ia tak mau malu lagi hanya karena hatinya terluka. Perjanjian mengerikan itu sudah cukup membuatnya di pandang rendah oleh Hansen. Jihan tak ingin mengulanginya dengan memperlihatkan kesedihannya.
Tidak, Hansen tidak boleh tau bahwa saat ini dia berantakan. Hansen tidak boleh tau bahwa dia rapuh. Jihan malu.
***
Di kamar sebelah, Hansen masih duduk di tepi tempat tidur.
Sejak percakapannya dengan Jihan berakhir, ia belum juga bisa memejamkan mata. Ponsel di tangannya bahkan sudah beberapa kali ia letakkan dan ambil kembali tanpa alasan yang jelas.
Sesekali, ia melirik jam dinding.
Sudah hampir tengah malam.
Seharusnya ia merasa lega. Setelah sepuluh tahun, akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan yang sejak awal dijalaninya demi menepati janji kepada kedua orang tua Jihan.
Ia sudah melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia sudah memenuhi perjanjian itu.
Tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Namun, entah mengapa, sejak mendengar jawaban Jihan tadi, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.
Hansen mengembuskan napas panjang, kemudian menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur.
Ia kembali mengingat percakapan mereka.
Jihan tidak marah.
Jihan tidak memprotes keputusannya.
Jihan bahkan tidak berusaha mempertahankan pernikahan mereka.
Perempuan itu hanya menerima semuanya dengan tenang, meskipun sesekali suaranya terdengar bergetar. Yang paling membuat Hansen heran adalah ketika Jihan langsung memutuskan untuk pergi malam itu juga.
Ia masih ingat bagaimana perempuan itu mengatakan tidak ingin menjadi beban lagi baginya.
Beban?
Hansen mengerutkan kening.
Selama ini, ia memang tidak pernah benar-benar memperhatikan apa yang dirasakan Jihan. Ia mengira perempuan itu sudah terbiasa dengan sikap dinginnya. Ia juga mengira Jihan akan merasa aman selama kebutuhan hidupnya tercukupi. Namun, ketika Jihan mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi merepotkannya, entah mengapa Hansen merasa seolah ada sesuatu yang sedang diambil dari kehidupannya.
Padahal, bukankah ini yang ia inginkan? Ia ingin bebas dari pernikahan itu. Ia ingin menjalani hidup tanpa harus memikirkan statusnya sebagai seorang suami. Lalu, kenapa sekarang ia justru merasa tidak tenang?
Hansen bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai sedikit dan menatap halaman rumah yang gelap.
Pikirannya kembali tertuju pada Jihan.
Perempuan itu selalu menyambutnya dengan sopan. Tidak peduli seberapa larut ia pulang, Jihan tidak pernah memarahinya. Bahkan, ketika Hansen hanya menjawab seperlunya, perempuan itu tetap berbicara dengan nada lembut.
Dulu, Hansen menganggap sikap itu biasa saja. Ia bahkan tidak pernah merasa perlu mencari tahu apakah Jihan bahagia atau tidak.Namun, malam ini, untuk pertama kalinya, ia teringat senyum perempuan itu. Senyum yang muncul ketika Jihan mengatakan akan mencari kontrakan sendiri. Senyum yang terlihat begitu manis, tetapi entah mengapa terasa menyakitkan saat Hansen mengingatnya kembali.
Hansen mengusap wajahnya.
"Apa-apaan ini?" gumamnya.
Ia tidak mengerti kenapa pikirannya terus kembali kepada Jihan. Bukankah mereka baru saja sepakat untuk berpisah?
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada drama.
Jihan bahkan menerima keputusannya tanpa mempersulit keadaan.
Seharusnya ia senang. Seharusnya ia bisa tidur dengan tenang malam ini. Namun, justru sebaliknya. Dadanya terasa sesak oleh kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.
Hansen kembali duduk di tepi tempat tidur, lalu mengambil ponselnya. Ia membuka layar, menatapnya beberapa saat, kemudian meletakkannya lagi.
Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak tahu apa. Ingin keluar kamar, tetapi untuk apa? Ingin menemui Jihan, tetapi apa yang harus ia katakan? Bukankah ia sendiri yang meminta perempuan itu melepaskannya?
Hansen menghela napas panjang.
"Mungkin aku cuma belum terbiasa," katanya, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Sebentar lagi juga biasa."
Ia mematikan lampu kamar, kemudian berbaring.
Namun, baru beberapa menit memejamkan mata, pikirannya kembali dipenuhi bayangan Jihan yang duduk menunduk di hadapannya. Wajah perempuan itu terlihat tenang, tetapi jari-jarinya terus meremas satu sama lain.
Hansen membuka mata lagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa malam berjalan begitu lambat.
Sementara itu, di kamar sebelah, Jihan masih sibuk melipat pakaian dengan mata sembap.
Dua orang yang berada di bawah satu atap itu sama-sama belum bisa tidur.
Jihan menangisi pernikahan yang harus berakhir, sedangkan Hansen gelisah menghadapi perpisahan yang justru ia inginkan sendiri.Mereka dipisahkan oleh sebuah dinding.
Namun, malam itu, jarak di antara keduanya terasa jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Bersambung....