Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Cahaya hijau kebiruan dari liontin kristal itu memantul di kacamata Miranda Adibrata.
Nafas wanita paruh baya itu terdengar sedikit tertahan karena terkejut.
Keheningan di ruang kerja mewah itu terasa sangat mencekam selama beberapa detik.
"Jadi kau belum mati." Miranda menggumamkan kalimat itu dengan suara yang sangat dingin dan pelan.
Astiana tetap berdiri tegap dengan tangan yang masih menggenggam liontinnya erat-erat.
"Katakan padaku sekarang, siapa orang tuaku sebenarnya."
Astiana menuntut jawaban dengan tatapan mata yang tidak kalah tajam dari wanita di depannya.
Tiba-tiba Miranda tertawa terbahak-bahak memecah keheningan ruangan tersebut.
Hahaha.
Tawanya terdengar sangat meremehkan dan dipenuhi oleh aura kejahatan yang kental.
"Kau pikir aku ini ibu kandungmu, gadis bodoh." Miranda menghentikan tawanya dan menatap Astiana dengan sorot mata yang penuh rasa jijik.
"Aku tidak sudi memiliki anak dari darah kotor pengkhianat klan seperti ibumu."
"Kalau begitu Anda pasti orang yang mencoba membunuhku sembilan belas tahun lalu."
Astiana menyimpulkan fakta itu dengan sangat cepat dari reaksi penolakan Miranda.
"Tebakanmu sangat tepat, Astiana." Miranda berjalan perlahan mundur mendekati kursi di balik meja kerjanya kembali.
"Ibumu adalah kakak perempuanku, pewaris sah dari seluruh kekayaan dan kekuasaan Keluarga Adibrata."
"Lalu kenapa Anda membuangku ke hutan jika ibuku adalah pewaris sah."
"Karena ibumu adalah wanita bodoh yang memilih kawin lari dengan pria rendahan dari luar klan."
Miranda menjawab dengan nada suara yang bergetar menahan kebencian masa lalu.
"Kakekmu sangat murka dan langsung mencoret nama ibumu dari daftar silsilah malam itu juga."
"Tapi ibumu berhasil membawa lari liontin air mata naga itu sebagai bukti pewaris satu-satunya yang sah."
Astiana mendengarkan setiap kepingan masa lalunya itu dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak.
"Jadi Anda membunuh mereka berdua hanya demi merebut kekuasaan dan melenyapkan bukti."
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nama baik keluarga ini."
Miranda meletakkan tangan kanannya di bawah meja kerjanya dengan gerakan yang sangat pelan.
"Aku mengirim ratusan pembunuh bayaran untuk menghabisi mereka berdua di lereng gunung."
"Kudengar mobil mereka jatuh meledak di dasar jurang, tapi mayat bayinya tidak pernah ditemukan."
Miranda menyeringai licik menatap wajah Astiana yang masih berusaha terlihat datar.
"Ternyata bayi haram itu dipungut oleh orang desa dan sekarang kembali kepadaku untuk mencari mati."
"Aku tidak datang untuk mencari mati, Bibi Miranda."
Astiana sengaja memanggilnya bibi untuk memancing emosi wanita arogan tersebut.
"Aku datang untuk melihat sendiri wajah iblis yang sudah menghancurkan keluarga kecilku."
Miranda mendengus kesal mendengar panggilan bibi yang keluar dari mulut Astiana.
"Kau memang mewarisi lidah tajam dan kesombongan ibumu, tapi kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup."
Klik.
Jari Miranda menekan sebuah tombol merah yang tersembunyi dengan rapi di bawah meja kerjanya.
Tet tet tet.
Suara sirine alarm yang sangat memekakkan telinga tiba-tiba meledak dari seluruh penjuru mansion.
Lampu kristal di ruangan yang tadinya terang benderang kini berkedip-kedip dengan warna merah darurat.
"Nona Astiana, ada apa ini, semua sensor keamanan di mansion mendadak menyala merah."
Suara Raka terdengar sangat panik berteriak menembus earpiece di telinga Astiana.
"Pintu gerbang utama baru saja ditutup paksa dan ratusan penjaga bersenjata sedang menuju ke lantai dua."
"Bibi Miranda baru saja menekan tombol panik di mejanya, Tuan Muda Raka."
Astiana menjawab dengan sangat tenang sambil merapikan kembali jas hitamnya yang sedikit kusut.
"Aku sudah mendapatkan jawaban yang aku butuhkan dari wanita ini."
"Sekarang siapkan jalur pelarianku dan arahkan aku ke pintu keluar terdekat."
"Keluar dari ruangan itu sekarang dan lari secepat mungkin ke lorong sayap timur."
Raka memberikan instruksi sambil mengetik keyboard laptopnya dengan sangat brutal.
Tak tak tak.
"Aku sudah meretas sistem kunci jendela di lorong ujung sana, kau bisa melompat ke arah taman belakang."
"Baiklah, aku akan segera menuju ke sana."
Astiana menoleh menatap Miranda yang kini berlindung aman di balik meja kayu jati raksasanya.
"Kita belum selesai, Bibi, aku akan kembali untuk menagih sisa hutang darah ini nanti."
"Bunuh gadis itu sekarang juga, jangan biarkan dia lolos dari ruangan ini."
Miranda berteriak keras memberikan perintah pada puluhan pengawal yang baru saja tiba di depan pintu.
Brak.
Pintu ganda ruang kerja itu didobrak hingga hancur oleh sekelompok pria bersenjata laras panjang.
Moncong senjata api mereka langsung diarahkan lurus ke posisi Astiana berdiri.
Namun Astiana tidak diam saja menunggu tembakan mematikan itu meletus.
Dia menendang salah satu kursi kulit di dekat meja dengan tenaga dalam yang disalurkan penuh.
Wush.
Kursi besar seberat puluhan kilogram itu melayang deras menghantam barisan depan para penjaga tersebut.
Brak.
Beberapa penjaga elit itu terjengkang ke belakang hingga tembakan mereka meleset ke arah langit-langit.
Dor dor dor.
Serpihan semen dan debu putih berjatuhan menimpa karpet merah di lorong.
Astiana menggunakan momentum kekacauan berdebu itu untuk melesat maju menerobos pintu.
Dia bergerak sangat lincah menghindari peluru nyasar yang mendesing di dekat kepalanya.
"Minggir kalian semua dari jalanku."
Astiana menghantamkan siku kanannya dengan telak ke rahang salah satu penjaga yang menghalangi jalan.
Krak.
Penjaga bertubuh besar itu langsung pingsan dengan rahang yang bergeser dari posisinya.
Astiana terus berlari cepat menyusuri lorong sayap timur sesuai dengan instruksi Raka tadi.
Suara langkah kaki puluhan sepatu bot tentara bayaran terus mengejarnya dari arah belakang.
Tap tap tap.
"Berhenti di sana atau kami akan menembak kakimu sampai hancur."
Seorang komandan penjaga berteriak mengancam dari jarak sepuluh meter di belakang Astiana.
Astiana sama sekali tidak mempedulikan ancaman itu dan justru semakin menambah kecepatan larinya.
"Nona Astiana, di depanmu ada pertigaan lorong, belok ke kanan sekarang."
Raka terus memandu arah pelarian Astiana dengan suara yang sedikit bergetar karena tegang.
"Jendela raksasa yang tidak terkunci ada di ujung lorong itu."
Astiana membelokkan tubuhnya dengan tajam ke arah kanan tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali.
Sret.
Sepatu pantofelnya bergesekan dengan lantai marmer licin menimbulkan suara decitan yang cukup keras.
Di ujung lorong, Astiana bisa melihat sebuah jendela kaca memanjang yang sedang terbuka lebar.
Namun di depan jendela itu, ada tiga orang penjaga berbadan kekar yang sudah bersiap menghadangnya.
Mereka tidak memakai senjata api melainkan memegang tongkat pemukul besi yang sangat solid.
"Gadis ini tidak boleh lewat, Nyonya Besar meminta kepalanya dibawa ke ruang kerja."
Suara hati ketiga penjaga itu terdengar sangat serempak dan penuh niat membunuh di telinga Astiana.
Mereka mengayunkan tongkat besi itu secara bersamaan ke arah kepala dan perut Astiana.
Syut syut.
Angin berhembus kencang seiring dengan ayunan tongkat besi yang sangat mematikan itu.
Astiana merendahkan tubuhnya hingga dadanya hampir menyentuh lantai untuk menghindari ayunan pertama.
Dia lalu memutar kakinya ke bawah dan menendang pergelangan kaki penjaga di tengah dengan sangat keras.
Bugh.
Penjaga itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh berlutut menahan sakit di lantai marmer.
Astiana menggunakan pundak penjaga yang jatuh itu sebagai pijakan untuk melompat tinggi ke udara.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣